DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

ULANG TAHUN

ULANG TAHUN

  

Istirahat di atas kap jip.
Dokumentasi pribadi.

Mengapa kita hidup?

Mengapa kita menyadari bahwa kita hidup?

Untuk apa kita hidup?

Untuk apa kita menyadari bahwa kita hidup?

Apa hidup di hadapan kematian?

Apa hidup di hadapan kesadaran akan kematian?

 

Banyak yang hidup,

tapi tidak banyak yang menyadari hidup,

hingga akhirnya mati.

Kembali pada bumi.

 

Kita adalah debu-debu bintang

yang berkesempatan memiliki kesadaran

hidup dalam sekedipan

sebelum akhirnya kematian

mengembalikan kita jadi abu

 

Dari debu kembali ke abu

dari karbon kembali ke karbon

dari Adam kembali ke adama

dari bumi kembali ke planet ini

Materi yang menyusun kita

lebih tua dari diri kita ini

setua semesta raya itu sendiri

 

Malang, 01 Agustus 2023

Padmo Adi


Comments