SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

JIP TUA

JIP TUA

*untuk Cahyo, Vina, dan Argha

 

Yang satu menghuni kaki Merapi.
Yang satunya menghuni kaki Merbabu.
Yang satunya lagi menghuni kaki Arjuna.

Kami memang tidak kencang dan sudah tua.
Namun, kami mampu pergi ke mana saja.
Merayapi tanjakan, menyusuri turunan.
Naik gunung, turun ke lembah.
Terjun ke sungai atau kemping di pantai.

Namun, keinginan kami sederhana:
duduk melingkar bersama
sambil minum susu macan
di bawah Beringin Soekarno,
lalu menyanyi dan baca puisi...
seperti dahulu kala ketika muda.

 

Kami tidak cepat, tapi ke mana saja kami dapat!

20 Mei 2022

Padmo Adi

Comments