DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

KEPADA YANG TERKASIH DI HARI SABTU

KEPADA YANG TERKASIH DI HARI SABTU

 

Dokumen Bukit Jalil

Esok akan kubacakan puisi untukmu

Sebelum kau benar-benar meninggalkanku

Kaudatang,

mengganggu tiap Sabtuku

Lalu sebelum waktu berganti baru,

akan pergi begitu saja berlalu!

Sangkamu aku akan baik-baik saja

dan berlagak seakan tak terjadi apa-apa?

Tidak!

Satu-dua puisi perlu kubisikkan pada telingamu

Supaya kau pun selalu  ingat Sabtu-Sabtu kita!

Dan aku bisa merelakanmu... melepasmu...

menjalani takdir dan perutusanmu.

Pergilah... wahai yang terkasih di Hari Sabtu.

 

Malang, 16 Desember 2022

Padmo Adi

Comments