DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SEORANG PEREMPUAN DI PENGHUJUNG MALAM

SEORANG PEREMPUAN DI PENGHUJUNG MALAM

 

Seorang Perempuan di Penghujung Malam.
Dokumen pribadi

Seorang perempuan di penghujung malam

Menanti fajar, katanya

Di seberang sana ada kekasihnya

Kemarin sore mengirim sajak cinta

“Biar seribu tahun, aku akan kembali

Jika mencintaimu adalah dosa,

aku rela disiksa di neraka”

Semalaman perempuan itu matanya tak dapat terpejam

Kekasihnya hingga pagi tak jua datang

Mungkin benar dia dijebloskan ke dalam gehena,

sebab cintanya telah memporak-porandakan tatanan surga!

 

Malang, 14 Desember 2022

Padmo Adi

Comments