KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING

  KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING   Pada suatu malam Sang Hyang bersabda, “Pergilah ke Timur, ke tanah yang Kujanjikan keluarlah dari kota ayahmu pergilah dari kota kakek moyangmu seperti halnya Isyana boyongan begitulah kamu akan mengenang moyangmu yang di Medang.”   Aku mengiya dalam kedalaman sembah-Hyang, sembari mengenang para leluhur, bapak dan eyang. Leluhurku adalah Sang Tiyang Mardika yang dengan kebebasannya menganggit sastra Jawa . Sementara eyang adalah pasukan Slamet Riyadi, ibunya Tumenggung, ayahnya Lurah! Bapak sendiri adalah pegawai negeri, guru sekolah menengah di utara Jawa Tengah.   Di sinilah aku sekarang, di tanah Wangsa Rajasa Tidak pernah aku sangka, tidak pernah aku minta Apa yang Kaumaui, Dhuh Gusti Pangeran mami ?! Apa yang Kaukehendaki kulakukan di tanah ini?   Belum genap semua terjawab, empat kali bumi kelilingi matahari! Pun baru purna enam purnama, saat aku tetirah di timur Singhasari, oh, aku

SELAMAT TINGGAL, AYU

 SELAMAT TINGGAL, AYU*

 

Di suatu pagi aku terbangun

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Di suatu pagi aku terbangun

Orba t’lah bangkit lagi!

 

Ya Reformasi, bawaku pergi

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Ya Reformasi, bawaku pergi

kurasa maut menjelang

 

Dan nanti jika kutelah mati

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Dan nanti jika kutelah mati

‘kau harus kubur aku

 

Kuburkan aku di atas bukit

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Kuburkan aku di atas bukit

di bawah naungan bunga

 

Orang-orang yang akan lewat

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Orang-orang yang akan lewat

kagumi bunga itu

 

Ya inilah bunga Reformasi

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Ya inilah bunga Reformasi

mati untuk merdeka

 

*disadur dengan bebas dari lagu Bella Ciao,

lagu antifasisme dari Italia

 

Singosari, 17 Februari 2024

@KalongGedhe

Comments

  1. Jare, sistem pemerintahan kui pancen berputar... Mungkin Saiki puterane wes mbalik Nang orba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rezim Sukarno 20 tahun, Orba 32 tahun, mosok era Reformasi mung 25 tahun?! Donya ora adil!

      Delete

Post a Comment