DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SELAMAT TINGGAL, AYU

 SELAMAT TINGGAL, AYU*

 

Di suatu pagi aku terbangun

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Di suatu pagi aku terbangun

Orba t’lah bangkit lagi!

 

Ya Reformasi, bawaku pergi

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Ya Reformasi, bawaku pergi

kurasa maut menjelang

 

Dan nanti jika kutelah mati

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Dan nanti jika kutelah mati

‘kau harus kubur aku

 

Kuburkan aku di atas bukit

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Kuburkan aku di atas bukit

di bawah naungan bunga

 

Orang-orang yang akan lewat

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Orang-orang yang akan lewat

kagumi bunga itu

 

Ya inilah bunga Reformasi

Oh selamat tinggal, Ayu... selamat tinggal!

Ya inilah bunga Reformasi

mati untuk merdeka

 

*disadur dengan bebas dari lagu Bella Ciao,

lagu antifasisme dari Italia

 

Singosari, 17 Februari 2024

@KalongGedhe

Comments

  1. Jare, sistem pemerintahan kui pancen berputar... Mungkin Saiki puterane wes mbalik Nang orba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rezim Sukarno 20 tahun, Orba 32 tahun, mosok era Reformasi mung 25 tahun?! Donya ora adil!

      Delete

Post a Comment