pada tanggal
puisi
TUHAN YANG TERSALIB PADA SALIB MERAH Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di atas tanah Papua. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan pada belantara hangus Kalimantan. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan bersama badak, gajah, macan, dan orangutan. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di samping anak-anak sekolah yang keracunan makanan. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di Kanjuruhan bersama 135 Aremania. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di tengah Malioboro lalu dimaki akamsi, "Kamu KTP mana?!" Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di samping koperasi merah-putih di mana para prajurit membuang undi atas jubah. Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di hadapan orang-orang Kristiani yang omong, "Jangan bawa Tuhan untuk protes demo di jalan!" Tuhan yang tersalib pada salib merah disalibkan di antara Thamrin dan Sudirman. Tuhan yang tersalib pada salib mer...
- Get link
- X
- Other Apps
.jpg)
Reading chapter #3, brought me back to the covid-19 pandemic era. The nuance, the ambience, and the sound of the silence ... Since i know Padmo Adi, the author, the chapter enriches my vault of memories of the pandemic--of course by his perspectives--through the lenses of his concern to new media and it's derivatitives, game and it's psychoanalytic view (mostly Lacanian), and cultural studies as lived experience.
ReplyDeleteHowever, I am glad to say that Padmo's (and other authors') point and views in this book will be one of the recorded collective memory of the pandemic. A work that helps us to know ourselves better than before.
And I am waiting for your next writings ... :-)
Thank you, Mas Noel. I think I will write the left behind traces of our bitter experiences during 2 years pandemic. Maybe not in scientific way, but more in literature and/or art.
Delete