pada tanggal
puisi
DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...
- Get link
- X
- Other Apps
.jpg)
Reading chapter #3, brought me back to the covid-19 pandemic era. The nuance, the ambience, and the sound of the silence ... Since i know Padmo Adi, the author, the chapter enriches my vault of memories of the pandemic--of course by his perspectives--through the lenses of his concern to new media and it's derivatitives, game and it's psychoanalytic view (mostly Lacanian), and cultural studies as lived experience.
ReplyDeleteHowever, I am glad to say that Padmo's (and other authors') point and views in this book will be one of the recorded collective memory of the pandemic. A work that helps us to know ourselves better than before.
And I am waiting for your next writings ... :-)
Thank you, Mas Noel. I think I will write the left behind traces of our bitter experiences during 2 years pandemic. Maybe not in scientific way, but more in literature and/or art.
Delete