DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

TUANG AIR MATAMU SECUKUPNYA

TUANG AIR MATAMU SECUKUPNYA

 

Seorang lelaki mengenakan kostum Garuda tengah beristirahat dengan sebat.



Kepada para lelaki,

menangislah jika harus menangis,

sebab hidup ini sering kali tragis.

Tuang air matamu secukupnya,

lalu kemasi dirimu kembali,

selesaikanlah hidupmu lagi.

 

Kehilangan demi kehilangan,

kekalahan demi kekalahan,

dari satu luka ke luka lain,

kita telan kepedihan-kepedihan.

Sering kali tak tertahankan.

Sering kali menghancurkan.

 

Letakkan.

Lepaskan.

Ungkapkan.

Tidak semua harus dipanggul!

Pilihlah yang berharga.

Pilihlah yang bermakna.

 

Lewat derita

kita rangkai kata

jadi cerita

balada

legenda

abadi bersama semesta!

 

Malang, 04 Oktober 2024

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments