DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

ORANG-ORANG BARAT PADA PULAU PARA DEWA

 ORANG-ORANG BARAT PADA PULAU PARA DEWA

*kepada Hugo

 

Lukisan Sri Yesus Kristus bersama dengan Sri Krishna

setelah Tuhan mereka bunuh berkali-kali...

yang terjadi adalah kemanusiaan yang mati...

akhirnya menjelma jadi jiwa yang mengembara

di padang belantara... ke selatan, ke utara...

ke timur, ke barat... ke sana... entah ke mana...

mencoba menemukan Tuhan yang telah tiada

 

walaupun demikian, itu lebih baik bagi mereka

daripada mulut ngaku ikut Sang Lelaki Galilea

tapi membela anak ular beludak sampai mati

atau mewarnai semua dengan mejikuhibini

Ah, Hug, Barat itu arah terbenamnya matahari

bacalah Wahyu, semuanya sedang digenapi...

 

Malang, 07 Oktober 2024

Padmo Adi

Comments