DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

MALAM DI SEBUAH TERMINAL

MALAM DI SEBUAH TERMINAL

Seorang pengamen bernyanyi di dalam sebuah bus antarkota. Dokumen pribadi.


Bus AKAP diam menggeram

nunggu penumpang terburu

mereka dikejar malam

hari kadung jadi lesu


Naik seorang perempuan

padanya ada ukulele

menyanyikan tembang kenangan

harga dirinya timbang nglonthe


Setelah turun itu perempuan

naik lelaki berjualan tahu

kepada penumpang dia tawarkan

dia bilang tahunya tahu baru


Lalu naik juga aki tua

Ngaji baca ayat satu dua

Tak lupa juga mengucap doa

Lalu minta duit imbal surga


Bus AKAP lari arungi malam

membawa kenangan dan harapan

disaksikan purnama yang diam

Hidup tetap harus dilanjutkan


Surabaya, 08 Oktober 2025

Padmo Adi


Comments