SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

TUJUH LEMBAR LIMA PULUH RIBU

TUJUH LEMBAR LIMA PULUH RIBU

 

Selembar uang Rp50.000,00 lawas.



Kalau kamu punya tiga ratus lima puluh ribu,

mau kamu pakai buat beli apa?

 

Kalau aku,

mau beli sepotong akal sehat

dan seiris hati nurani.

 

Tapi, kalau itu terlalu mahal,

aku beli buku RPUL saja,

biar paham peristiwa genosida enam lima,

komplit dengan kudeta merangkaknya,

kemudian Pulau Buru, Talangsari, dan Malari

lalu Tanjung Priok, Petrus, serta Kudatuli

pun Timor Timur, Papua, Aceh, juga Trisakti.

 

Pernah ada masa

tiga dasawarsa

segalanya murah

termasuk nyawamu!

 

Kalau kita punya tiga ratus lima puluh ribu,

kita akan bertempik sorak dan berseru...

HIDUP PAHLAWANKU!!!

 

Singosari, 10 November 2025

@KalongGedhe


Comments