DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

TUJUH LEMBAR LIMA PULUH RIBU

TUJUH LEMBAR LIMA PULUH RIBU

 

Selembar uang Rp50.000,00 lawas.



Kalau kamu punya tiga ratus lima puluh ribu,

mau kamu pakai buat beli apa?

 

Kalau aku,

mau beli sepotong akal sehat

dan seiris hati nurani.

 

Tapi, kalau itu terlalu mahal,

aku beli buku RPUL saja,

biar paham peristiwa genosida enam lima,

komplit dengan kudeta merangkaknya,

kemudian Pulau Buru, Talangsari, dan Malari

lalu Tanjung Priok, Petrus, serta Kudatuli

pun Timor Timur, Papua, Aceh, juga Trisakti.

 

Pernah ada masa

tiga dasawarsa

segalanya murah

termasuk nyawamu!

 

Kalau kita punya tiga ratus lima puluh ribu,

kita akan bertempik sorak dan berseru...

HIDUP PAHLAWANKU!!!

 

Singosari, 10 November 2025

@KalongGedhe


Comments