DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG

 


Musikalisasi puisi dengan suno.com.


Kala Kegelisahan melanda

Kala Mala melumat purnama

Bulan Separuh Bayang!

Bawa ... Bawa ... Bawa ...

seru orang-orang

 

Siapa yang tahan mendengarnya?!

Kata-katanya membual

lalu menyembur laksana bisa

 

Itu Rahu!

Siapa yang tahu?!

 

Mereka pukul lesung bertalu

Wulandari akan kembali

Asura tinggal kepala saja

Wisnu ada bersama kita

 

Jika asura itu akhirnya mati

atau jatuh dan tergelimpang

Cahaya Bulan meraja di bumi

Malam muram masih panjang!

 

Tuhan ... kasihanilah kami ...

 

Malang, 01 Agustus 2026

Padmo Adi


Comments