DI
TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS
Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi.
Surakarta... Surakarta...
izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau
mungkin sekadar lewat Whatsapp Story. Kapan-kapan nanti aku kembali naik
jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau
adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ...
adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa
para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu
kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma
tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau
membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu,
Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan
siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari
boga yang tak sampai ceban? Ada orang yang bilang banyak murid dudhgap
seusai menyantap ... ada yang masih amis tak tuntas ditumis ... ada yang busuk
penuh belatung terkutuk! Ah ... Surakarta ... padamu ada berapa dapur produksi?
Berapa sukarno-hatta merah yang terhambur setiap hari? Kau tahu ... jika dalam
astrofisika kita pakai satu tahun cahaya untuk menghitung jarak semesta raya
... kini untuk bisa membayangkan besarnya dana kecanggihan teknologi Iran—yang
selama empat dasawarsa dijothak Amerika—kita bisa pakai satu hari
anggaran gratis makan bocah sekolah. Konon labanya saja enam juta seharinya!
Kamu tidak ingin bikin satu saja dapur macam itu, Surakarta? Lumayan cuan untuk
modal nyalon periode depan. Semua gara-gara pria Sala main-main kuasa gaya
Machiavelli hingga sang Bulan Separuh Bayang kini jadi manusia setengah dewa di
negeri gemah ripah loh nggatheli ini ... lalu bikin segala kebijakan
yang sungguh tidak bijaksana! Ah ... Surakarta ... di tepi Brantas aku duduk
dan menangis ... jika aku ingat akan dirimu ... .
Malang, 31 Maret
2026
@kalonggedhe
Comments
Post a Comment