PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

ALLAH SUDAH MATI

ALLAH SUDAH MATI
(Untuk menghormati sekaligus mengecam mendiang Friedrich Nietzsche!!!)

Aku mencari Allah... .
Di mana Allah? Di mana Allah?

Aku beri tahu
Allah sudah mati
Kita sudah membunuh-Nya
Kita... aku dan engkau

Bagaimana kita membunuh-Nya?
Kita mencincang-Nya
Menyesah-Nya
Menguliti-Nya
Kita menepikan-Nya dari kehidupan kita
Kita menihilkan-Nya

Tanpa Allah
kita akan bebas
tidak ada lagi peraturan
yang membelenggu

Tapi kita akan kebingungan
Apa yang harus kita perbuat
dalam kebebasan absolut itu?

Segalanya akan sia-sia
Sia-sia...
tanpa makna
sebab kita pun akan mati pula

Sssssst... .
Hey... ada suara...
warta berita...

Hey... Allah hidup lagi
Allah telah bangkit!!!
Kita bukan lagi pembunuh
Sebab yang kita bunuh
telah bangkit hidup lagi

Lalu... apa artinya ini
bagiku... bagimu... bagi kita?

Aku tak menemukan Allah di sini
Karena Allah memang tak lagi mati di sini
Allah telah bangkit di suatu tempat
Aku harus segera pergi
mencari Allah
di tempat lain
tidak di sini

Allah...
Allah...
di mana Allah?

Jogja, 08 April 2009 (Prapaska)
Jean-Paul Padmo (Kalong Gedhe)

Comments

  1. Eits... jangan salah sangka dulu ya... . Hanya menelaah filsafat Nietzsche secara puitis sekaligus mengkritisinya. Terima kasih ;)

    ReplyDelete
  2. nek jeru-jeru lehku mikir isa stress tepan aku..haha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...
      aja dipikir,
      dirasakke wae, hehe...

      Delete

Post a Comment