Thursday, October 29, 2020

WABAH

 WABAH

*kepada Jonathan dan Riwie


 


Kita akan mati,
tapi tidak hari ini!

Tetaplah hidup, Teman,
kita menyintas hingga tahun depan.

Empat segel telah dibuka.
Empat penunggang kuda menjalankan tugasnya.

Tahun ini memang keparat.
Banyak yang mati dan sekarat.

Masih tiga segel tersisa.
Kita harus terus hidup hingga tujuh segel dibuka.

Kita akan mati, Teman,
tapi hari ini kita bertahan!

Malang, akhir Oktober 2020
Kalong Gêdhé

Monday, October 19, 2020

Ujung Pandang

Ujung Pandang
 
Kopi vietnam drip dengan latar belakang Kota Batu. Dokumentasi pribadi.

melihatmu di kejauhan
mangu

tetesan vietnam tak mampu
menyembunyikan
gundah

dingin angin agustus
dua tumbang

pada ujung pandang
lampu kelap-kelip

Malang, 26 Agustus 2020
Padmo Adi

TIGA KOTA TERIKAT RASA

 TIGA KOTA TERIKAT RASA

*kepada Angkatan III DAEBBAK


Di ujung pandangku terpaku Ujung Pandangmu, Makassar.
Namun apa daya, Malang nasibku.
Surabaya tak bisa dipandang sebelah mata.
Wabah ini semakin menggila!

Namun, tak juga kita kehilangan akal.
Pada tiap bilik sunyi kita masing-masing mengudara.
Lalu, kita berjumpa di sana secara maya.

Avatarku berjumpa dengan avatarmu.
Asing pada mulanya.
Canggung pada awalnya.
Namun, benarlah kita telah bersama.
Waktu kupejamkan mataku, ada kamu di sisi.
Meski ketika kubuka, aku tengah sendiri.

Walau wajah dan suaramu cuma maya semata,
kita nyata jalani perjalanan ini bersama.
Walau kita tak pernah bersua muka,
kini kita telah jadi saudara.
Mungkin ada juga yang mulai menumbuhkan benih cinta.

Perjalanan ini akan selesai sampai di sini.
Belum juga kita sempat duduk bersama minum kopi.
Namun, percayalah... aku akan merindukanmu di sisi...

Jika wabah ini berlalu...
biarlah ujung pandangku terpaku pada Ujung Pandangmu...
dan kita akan kopi darat di Makassar...
atau nasibmu akan Malang sepertiku, sehingga kita bisa duduk bersama di Soekarno-Hatta...
atau kita malah akan berjumpa di Surabaya, kota para pemberani.

 

Malang, September 2020

Padmo Adi

SANG SUAMI - Midori no Katana Project

 SANG SUAMI - Midori no Katana Project


Midori no Katana Project 

sebuah aktualisasi dari Padmo Adi bersama para mahasiswa FIB UB

mempersembahkan sebuah dramaswara

 

SANG SUAMI 

karya Padmo Adi

 

Pemeran 

Maila Fathiyah (BaStra Prancis) - Istri 1 

Roreta Girsang (Pend. B. Jepang) - Istri 2 

Fahra Rahmah (Sastra Jepang) - Istri 3 

Nahda Dana (Sastra Jepang) - Istri 4, Anak 2 

Hardianing Trihapsari (BaStra Prancis) - Istri 5, Anak 3 

Francisca Akhidnasiwi (Sastra Cina) - Istri 6 

Titis Fadhillah (Sastra Jepang) - Istri 7, Anak 1, Narator 

Grecia Friskila (Sastra Cina) - Perempuan Muda 

 

Musik 

Alexander Chapman Campbell - Song Of The Evening

Sax Solo - Slow Blues

Longing Hal Leonard Piano Book 4

Dark Piano - Lust

 

Terima kasih kepada

KAMI-SAMA

WD-III FIB UB (Isma-sensei)

Laily-sensei 

Laila-sensei 

Mgr. Eri 

Bu Fenty 

Angkatan 3 DAEBBAK 

Prativi, Karna, dan Sena

Saturday, August 22, 2020

RASHOMON - Midori no Katana Project

RASHOMON - Midori no Katana Project




Midori no Katana Project sebuah aktualisasi dari Padmo Adi bersama para mahasiswa FIB UB mempersembahkan sebuah dramaswara RASHOMON karya Akutagawa Ryūnosuke Naskah Bahasa Indonesia oleh Djohan A. Nasution Pemeran: 1. Kanazawa no Takehiko (Suami, samurai dari Kekufu, umur 26 tahun) diperankan oleh Vito Widiharto, Sastra Jepang 2. Masage (Istri, umur 19 tahun) diperankan oleh Milennia Miki Osanai, Sastra Jepang 3. Tajomaru (Penjahat) diperankan oleh Rocky Suharlianto, Pendidikan Bahasa Jepang 4. Pendeta Buddha diperankan oleh Aisyah Bellatrix, Sastra Jepang 5. Penebang kayu diperankan oleh Siti “Baim” Khuzaima, Pendidikan Bahasa Jepang 6. Perempuan tua diperankan oleh Rizky Aulia Putri Nugrahani, Sastra Jepang Musik: 1. Beautiful Japanese Music - Tea Ceremony 2. Japanese Battle Music – Ronin 3. Wadaiko Matsuriza - Kabuki Gomen-Jyo [Japanese drums] 4. Sakura Cherry BlossomsTraditional Music of Japan, Classical Koto Music 日本の伝統音楽 5. Japanese Folk Song #9 Cherry Blossoms さくらさくらSakura Sakura 6. Melancholy of Shamisen Terima kasih kepada: KAMI-SAMA WD-III FIB UB (Isma-sensei) Laily-sensei Laila-sensei Mgr. Eri Bu Fenty Angkatan 3 DAEBBAK Prativi, Karna, dan Sena Diketik ulang oleh Kelompok Peron Surakarta 2 Desember 2007 Diedit kembali oleh Padmo Adi untuk Midori no Katana Project FIB UB 04 Agustus 2020

TEMPAT ISTIRAHAT (David Campton) - Padmo Adi & Dewi Puji Lestari

TEMPAT ISTIRAHAT (David Campton)
Padmo Adi & Dewi Puji Lestari



Padmo Adi dan Dewi Puji Lestari melakukan dramatik reading yang disiarkan langsung secara live instagram pada hari Sabtu, 20 Juni 2020, pk 20.00.

Naskah yang dibawakan berjudul Tempat Istirahat, karya David Campton.

Pentas ini merupakan wujud pencarian kemungkinan-kemungkinan baru suatu pentas teater, terutama ketika kita tidak boleh bertemu fisik oleh karena wabah covid-19. Dewi ada di Jawa Timur sementara Padmo Adi ada di Jawa Tengah; pentas bersama meretas jarak kurang-lebih 300km.

Tentu ada kendala basic di sana: sinyal internet di Indonesia yang sungguh sangat petewele... hahaha... . Bisa jadi kami salah pilih hari; kami pentas di Malam Minggu, hari di mana bisa jadi ribuan pasang kekasih sedang dimabuk asmara meluapkan kerinduan mereka lewat internet... fufufu... .

Namun demikian, pentas kali ini membuat kami menyadari akan kemungkinan-kemungkinan pentas tanpa pertemuan fisik. Salah satu kemungkinannya adalah mendaur ulang bentuk drama lawas yang mungkin sudah ditinggalkan: drama radio. Apakah akan hadir drama podcast? Drama youtube? Atau drama instagram? Atau malah drama soundcloud? Kemungkinan itu terbuka lebar.

Yang jelas, teater adalah sesuatu yang dinamis, sebab yang menghidupinya adalah manusia yang selalu menjadi, sama seperti kata Sartre: l'etre-pour-soi... Ada-bagi-dirinya.

Terima kasih kepada Ivan "Tapir" Dhimas dari Malam Sastra Solo (MaSastrO). Terima kasih pula kepada keluarga besar Gesang "Brogess" Yoedhoko. Dan, terima kasih kepada para "hadirin" yang telah menyaksikan pertunjukan kami.

Salam.

Monday, August 17, 2020

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

Nasionalismeku lebih daripada kegiatan baris-berbaris.
Nasionalismeku ada pada tiap puisiku baris demi baris.
Nasionalismeku bukan nasionalisme angkat senjata.
Nasionalismeku adalah nasionalisme angkat pena.
Nasionalismeku adalah baktiku pada Sastra Indonesia.
Nasionalismeku adalah persembahan diriku pada tunas-tunas muda.

Merdeka raganya, merdeka jiwanya.
Merdeka perutnya, merdeka pikirnya.
Merdeka karyanya, merdeka sembahyangnya.

Satu hal yang aku yakini dengan sepenuh hati:
Menjadi Jawa adalah gerak menjadi Indonesia,
tapi menjadi Indonesia janganlah jadi gerak men-Jawa.
Menjadi Katolik adalah gerak menjadi Indonesia,
namun, menjadi Indonesia adalah dinamika mem-bhinneka.

Artikulasi meng-Indonesia ini tidak selesai pada 17 Agustus tujuh puluh lima tahun lalu.
Artikulasi meng-Indonesia ini adalah aktus di sini dan kini.

Pada sahabatku yang biru itu aku menyaksikan manifestasi nasionalisme yang penuh cinta:
dia menanam sayurnya sendiri pada paralon cuma-cuma di depan rumah tumpukan bata.

Jangan ragukan nasionalisme orang-orang macam ini.
Rasa cintanya terhadap tanah-air ini semurni rasa cintanya pada kemanusiaan itu sendiri,
seperti kata Bung Besar pada pidato 1 Juni.

Dua orang jurnalis berkendara mengelilingi Indonesia mendokumentasikan realitas manusianya adalah gerak nasionalisme. Seorang sastrawan pulang ke negeri ini walau nikmat hidupnya di Negeri Kiwi adalah gerak nasionalisme. Para petani tembakau di Temanggung setia merajangi daun tembakau, itu adalah gerak nasionalisme. Seorang pengacara menjadi buangan karena membela hak asasi manusia justru adalah gerak nasionalisme. Para tenaga kesehatan berhadap-hadapan dengan wabah covid-sembilan belas yang mematikan adalah gerak nasionalisme. Seorang juragan martabak mencalonkan diri sebagai walikota, apakah itu juga gerak nasionalisme?

Semua orang bisa bilang “Aku cinta Indonesia,”
tapi berapa orang yang bisa menjawab petanda apa di balik penanda “Indonesia”?
Setiap orang bisa bilang, “Aku rela mati demi tanah-air ini,”
tapi berapa orang yang dapat dengan jitu memaknai frasa “tanah air” ini?
Semua orang bisa teriak “MERDEKA!!!”
semoga orang di Nabire sana pun dapat meneriakkannya dengan lega.

Malang, 17 Agustus 2020
kalonggedhe

Tuesday, August 4, 2020

BINCANG BINCANG SANTAI TEATER - Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?

BINCANG BINCANG SANTAI TEATER - Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?


Membicarakan Ruang Alternatif Seni Pertunjukan. Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?

Bincang-bincang santai bersama:
1. Luna Kharisma @lunakharisma (Dosen Teater ISI Solo)
2. J.B. Judha Jiwangga @judha_jiwangga (Teaterawan Jogja, mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia USD)

Sebuah Aktualisasi dari Padmo Adi.
SELASA, 28 JULI 2020 Pk. 20.00 WIB di Google Meet.

Acara ini terselenggara berkat dukungan LAN-RI dan FIB UB.

TERIMA KASIH KEPADA TEMAN-TEMAN MAHASISWA DAN REKAN-REKAN DOSEN YANG SUDAH BERGABUNG DI ACARA INI.

Angin Bulan Agustus

Angin Bulan Agustus

 

Angin Bulan Agustus dingin

menghembusi segala ingin

Waktu yang hilang jadi kemarin

akankah mengkristal jadi yakin?

 

namun aku masih di sini...

bergumul dengan diri sendiri

dan aku masih di sini...

memetakan semua hasrat ini

 

anak singa mencari sarang

anak singa nasibnya Malang

anak singa jauh dari yang disayang

anak singa mulai buram memandang

 

Angin Bulan Agustus

dari Selatan dia berhembus

menciutkan nyali dia yang diutus

Akankah segala renjana terputus?

 

namun aku masih di sini

kembali mengumpulkan diri

pelan-pelan membentuk mimpi

walau di jalanan hanya ada mati

 

Malang, 03 Agustus 2020

Padmo Adi