Monday, March 29, 2021

API PASKAH

 API PASKAH

 


Aku melihat api. Api di mana-mana.

 

Ada orang ingin mengebom gereja.

Tanpa dia tahu, gereja sudah setahun ini kosong.

Masing-masing streaming misa online dari rumah.

 

Tapi, dia nekat mendatangi gereja.

Meledakkan diri.

Ususnya terburai.

Wajahnya tersenyum.

Gosong.

 

Santo Petrus, penjaga gerbang surga, menemuinya.

Minta apimu... aku ingin udud dulu.

Lelaki itu bingung.

Tidak ada bidadari.

Hanya Petrus, lelaki Yahudi.

 

Santo Petrus kasihan padanya.

Lelaki itu tak diakui agamanya.

Terlanjur jadi arang... baunya anyir.

 

Tuhan di mana?

Tuhan adalah api.

Jadi, benar aku mati demi Tuhan?

Ini kretek. Ududlah dulu. Seminggu lagi Paskah.

Nanti kau aku permandikan... dengan air. Biar tidak gosong begitu.

Tidak. Aku mau dibakar api.

Tuhan adalah air.

 

Santo Petrus tidak paham,

sebenarnya lelaki itu hanya ingin dibaptis...

dengan api.

Seperti janji Isa pada murid-murid-Nya.

Hanya saja, dia salah baca.

Api Roh Tuhan adalah cinta, bukan mesiu.

 

Santo Petrus menghabiskan kreteknya.

Dipandanginya lelaki gosong itu...

menangis tersedu-sedu.

 

29 Maret 2021

Padmo Adi

Thursday, March 4, 2021

MENUNDA MATI

 MENUNDA MATI

Satu tahun SARS-CoV-2 hadir di Indonesia (Maret 2020-Maret 2021), kini ada varian baru B.1.1.7


Menatap ke Timur
Hanya hening diamku berseru

Kepada sang Takdir
Aku berkata "Ya" dengan deru

Lewat titik nadir
Aku jalani segala pilu

Harapan meluncur
Membangkitkan mimpi yang membiru

Pajang, 02 Maret 2021
Satu tahun covid19 di Indonesia
Kalong Gedhe

Sunday, January 17, 2021

ELI... ELI... LAMA SABAKHTANI?!

 ELI... ELI... LAMA SABAKHTANI?!

 


“Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkanku?!” Di tengah situasi semacam ini, teriakan tersebut merupakan suatu teriakan yang sangat manusiawi... sangat manusiawi. Wabah, gunung meletus, gempa bumi, banjir, kecelakaan pesawat, krisis ekonomi... kematian! Seakan-akan kita dikepung oleh kematian. Mau sembunyi di mana? Ditalenana, dikuncenana, nek wis wayahe, ameh ngapa? Di saat kematian terjadi di mana-mana, di hadapan mata, merenggut nyawa orang-orang terdekat kita, sungguh sangat manusiawi ketika kita berteriak, “Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkanku?!”

 

Segala kata-kata filosofis, kata-kata penyemangat, kata-kata puk-puk, rasionalisasi, bahkan ayat-ayat suci penenang hati yang tergesa-gesa dan terlampau dini itu... segalanya itu hanyalah pelarian! Kita melarikan diri kepada kata-kata indah itu, yang sebenarnya cuma mengalihkan kita dari realita yang ada. Kita menipu diri, bahwa kita masih kuat. Kita mendustai diri, bahwa kita tidak ambyar. Kita memalingkan muka dari jurang dalam yang hitam, tetapi dengan demikian, bukan berarti bahwa jurang dalam yang hitam itu lenyap begitu saja.

 

Menangislah jika memang harus menangis. Merataplah jika memang harus meratap. Menggugatlah jika memang harus menggugat. Nggresula’a nek pancen kudu nggresula. Nek perlu, misuh! Itu semua akan membuatmu lebih berani menatap jurang dalam yang hitam itu. Jika sudah merasa cukup menangis, jika sudah merasa cukup meratap, jika sudah merasa cukup menggugat, nek wis rumangsa cukup anggonmu nggresula lan misuh-misuh, jika kamu sudah merasa cukup membahasakan penderitaan itu... tataplah jurang dalam yang hitam itu tajam... setelah itu katakanlah ‘ya’ pada penderitaan itu.

 

Orang yang terlalu mudah melarikan diri pada kata-kata filosofis atau ayat-ayat suci terlalu dini takkan punya kekuatan untuk mengatakan ‘ya’ pada kepahitan semacam itu. Justru orang yang bisa membahasakan ketakutannya adalah orang yang punya cukup keberanian untuk mengatakan ‘ya’ pada derita. Orang yang punya keberanian untuk mengatakan ‘ya’ pada kehidupan komplit dengan segala manis-pahitnya adalah orang yang punya harapan... dan iman. Orang tersebut sungguh sangat manusiawi (sekaligus ilahi) ... sama seperti pemuda 30-an tahun gondrong brewokan yang berseru “Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkan Aku?!” pada tiang salib 2.000 tahun yang lalu. Di balik gugatan dan seruan itu terdapat harapan dan iman pada Allah-Nya. Dia tidak melarikan diri terlalu dini, melainkan menenggak cawan pahit itu hingga tetes terakhir... menghadapi kepahitan itu... hingga paripurna.

 

“Ke dalam tangan-Mu... kuserahkan diriku... ya Tuhan penyelamatku.”

 

Sukoharjo, 17 Januari 2021

@KalongGedhe

Saturday, November 28, 2020

LENYAP SAYAP SIRNA MATA

 LENYAP SAYAP SIRNA MATA

 


Tuhan, aku rindu menenggak anggur

yang tercurah dari lambung-Mu

yang robek oleh tombak itu.

 

Paskah yang lalu hanya pesta kebangkitan yang sepi dan maya.

Natal pun akan maya pula sepertinya.

Sendiri bersama-sama.

Serigala punya liang,

burung punya sarang,

aku tak punya rumah untuk pulang.

 

Bethlehem, bukakan pintumu... .

Bethlehem, lindungilah aku... .

Kyrie eleison.

Kyrie eleison.

 

Tuhan, aku rindu menenggak anggur

yang tercurah dari lambung-Mu

yang robek oleh tombak itu.

 

Namun, cawan berhias mahkota ini pahit sekali,

sudah banyak yang akhirnya mati.

Jika empat penunggang kuda harus menyelesaikan tugasnya,

bukan kehendakku yang jadi,

melainkan kehendak-Mu,

di surga dan di Bumi.

 

Bethlehem, bukakan pintumu... .

Bethlehem, lindungilah aku... .

Kyrie eleison.

Kyrie eleison.

 

Malangkuçeçvara, 25 November 2020

KalongGedhe

STREAMING TUHAN

 STREAMING TUHAN

 

Seorang perempuan tua bertemu dengan Tuhannya. Dokumen pribadi.

Seorang perempuan tua bertemu dengan Tuhannya.

Oleh karena wabah, dia tidak boleh misa di gereja.

Tuhan, kasihanilah kami.

Kristus, kasihanilah kami.

Doakan kami, ya Santa Maria.

Doakan kami, ya Santa Corona.

Lindungi kami, ya Santo Yusup.

Dia misa lewat channel youtube.

Berkat Tuhan tercurah secara daring.

Semoga Tuhan tidak buffering...

 

Mataram Merah, 05 November 2020

Kalong Gedhe

Thursday, October 29, 2020

WABAH

 WABAH

*kepada Jonathan dan Riwie


 


Kita akan mati,
tapi tidak hari ini!

Tetaplah hidup, Teman,
kita menyintas hingga tahun depan.

Empat segel telah dibuka.
Empat penunggang kuda menjalankan tugasnya.

Tahun ini memang keparat.
Banyak yang mati dan sekarat.

Masih tiga segel tersisa.
Kita harus terus hidup hingga tujuh segel dibuka.

Kita akan mati, Teman,
tapi hari ini kita bertahan!

Malang, akhir Oktober 2020
Kalong Gêdhé

Monday, October 19, 2020

Ujung Pandang

Ujung Pandang
 
Kopi vietnam drip dengan latar belakang Kota Batu. Dokumentasi pribadi.

melihatmu di kejauhan
mangu

tetesan vietnam tak mampu
menyembunyikan
gundah

dingin angin agustus
dua tumbang

pada ujung pandang
lampu kelap-kelip

Malang, 26 Agustus 2020
Padmo Adi

TIGA KOTA TERIKAT RASA

 TIGA KOTA TERIKAT RASA

*kepada Angkatan III DAEBBAK


Di ujung pandangku terpaku Ujung Pandangmu, Makassar.
Namun apa daya, Malang nasibku.
Surabaya tak bisa dipandang sebelah mata.
Wabah ini semakin menggila!

Namun, tak juga kita kehilangan akal.
Pada tiap bilik sunyi kita masing-masing mengudara.
Lalu, kita berjumpa di sana secara maya.

Avatarku berjumpa dengan avatarmu.
Asing pada mulanya.
Canggung pada awalnya.
Namun, benarlah kita telah bersama.
Waktu kupejamkan mataku, ada kamu di sisi.
Meski ketika kubuka, aku tengah sendiri.

Walau wajah dan suaramu cuma maya semata,
kita nyata jalani perjalanan ini bersama.
Walau kita tak pernah bersua muka,
kini kita telah jadi saudara.
Mungkin ada juga yang mulai menumbuhkan benih cinta.

Perjalanan ini akan selesai sampai di sini.
Belum juga kita sempat duduk bersama minum kopi.
Namun, percayalah... aku akan merindukanmu di sisi...

Jika wabah ini berlalu...
biarlah ujung pandangku terpaku pada Ujung Pandangmu...
dan kita akan kopi darat di Makassar...
atau nasibmu akan Malang sepertiku, sehingga kita bisa duduk bersama di Soekarno-Hatta...
atau kita malah akan berjumpa di Surabaya, kota para pemberani.

 

Malang, September 2020

Padmo Adi

SANG SUAMI - Midori no Katana Project

 SANG SUAMI - Midori no Katana Project


Midori no Katana Project 

sebuah aktualisasi dari Padmo Adi bersama para mahasiswa FIB UB

mempersembahkan sebuah dramaswara

 

SANG SUAMI 

karya Padmo Adi

 

Pemeran 

Maila Fathiyah (BaStra Prancis) - Istri 1 

Roreta Girsang (Pend. B. Jepang) - Istri 2 

Fahra Rahmah (Sastra Jepang) - Istri 3 

Nahda Dana (Sastra Jepang) - Istri 4, Anak 2 

Hardianing Trihapsari (BaStra Prancis) - Istri 5, Anak 3 

Francisca Akhidnasiwi (Sastra Cina) - Istri 6 

Titis Fadhillah (Sastra Jepang) - Istri 7, Anak 1, Narator 

Grecia Friskila (Sastra Cina) - Perempuan Muda 

 

Musik 

Alexander Chapman Campbell - Song Of The Evening

Sax Solo - Slow Blues

Longing Hal Leonard Piano Book 4

Dark Piano - Lust

 

Terima kasih kepada

KAMI-SAMA

WD-III FIB UB (Isma-sensei)

Laily-sensei 

Laila-sensei 

Mgr. Eri 

Bu Fenty 

Angkatan 3 DAEBBAK 

Prativi, Karna, dan Sena

Saturday, August 22, 2020

RASHOMON - Midori no Katana Project

RASHOMON - Midori no Katana Project




Midori no Katana Project sebuah aktualisasi dari Padmo Adi bersama para mahasiswa FIB UB mempersembahkan sebuah dramaswara RASHOMON karya Akutagawa Ryūnosuke Naskah Bahasa Indonesia oleh Djohan A. Nasution Pemeran: 1. Kanazawa no Takehiko (Suami, samurai dari Kekufu, umur 26 tahun) diperankan oleh Vito Widiharto, Sastra Jepang 2. Masage (Istri, umur 19 tahun) diperankan oleh Milennia Miki Osanai, Sastra Jepang 3. Tajomaru (Penjahat) diperankan oleh Rocky Suharlianto, Pendidikan Bahasa Jepang 4. Pendeta Buddha diperankan oleh Aisyah Bellatrix, Sastra Jepang 5. Penebang kayu diperankan oleh Siti “Baim” Khuzaima, Pendidikan Bahasa Jepang 6. Perempuan tua diperankan oleh Rizky Aulia Putri Nugrahani, Sastra Jepang Musik: 1. Beautiful Japanese Music - Tea Ceremony 2. Japanese Battle Music – Ronin 3. Wadaiko Matsuriza - Kabuki Gomen-Jyo [Japanese drums] 4. Sakura Cherry BlossomsTraditional Music of Japan, Classical Koto Music 日本の伝統音楽 5. Japanese Folk Song #9 Cherry Blossoms さくらさくらSakura Sakura 6. Melancholy of Shamisen Terima kasih kepada: KAMI-SAMA WD-III FIB UB (Isma-sensei) Laily-sensei Laila-sensei Mgr. Eri Bu Fenty Angkatan 3 DAEBBAK Prativi, Karna, dan Sena Diketik ulang oleh Kelompok Peron Surakarta 2 Desember 2007 Diedit kembali oleh Padmo Adi untuk Midori no Katana Project FIB UB 04 Agustus 2020