pada tanggal
cerpen
SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...
- Get link
- X
- Other Apps
.jpg)
Reading chapter #3, brought me back to the covid-19 pandemic era. The nuance, the ambience, and the sound of the silence ... Since i know Padmo Adi, the author, the chapter enriches my vault of memories of the pandemic--of course by his perspectives--through the lenses of his concern to new media and it's derivatitives, game and it's psychoanalytic view (mostly Lacanian), and cultural studies as lived experience.
ReplyDeleteHowever, I am glad to say that Padmo's (and other authors') point and views in this book will be one of the recorded collective memory of the pandemic. A work that helps us to know ourselves better than before.
And I am waiting for your next writings ... :-)
Thank you, Mas Noel. I think I will write the left behind traces of our bitter experiences during 2 years pandemic. Maybe not in scientific way, but more in literature and/or art.
Delete