Thursday, September 23, 2010

MEREFLEKSIKAN KEMBALI PENCASILA, SILA KETIGA

MEREFLEKSIKAN KEMBALI PENCASILA, SILA KETIGA
Sebuah Kado untuk Indonesia Tercinta
-Padmo Adi

Kemarin saya telah merefleksikan kembali Pancasila, Sila Pertama dan Sila Kedua. Saya berjanji untuk melanjutkan refleksi saya atas sila-sila yang lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan melanjutkan untuk merefleksikan Sila Ketiga.

3. Nasionalisme

Indonesia adalah sesuatu yang abstrak jika kita tidak melihat individu-individu yang berkoeksistensi menjalin suatu hubungan yang disebut bangsa Indonesia. Individu-individu itu terdiri dari berbagai macam suku (Jawa, Batak, Dayak, Sunda, Betawi, Bali, Timor, Maluku, Komering, Asmat, Dani, warga keturunan Tionghoa, orang-orang berdarah Eropa, orang-orang berdarah Jepang, para indo, dan masih banyak lainnya), terdiri dari berbagai macam Bahasa Daerah dengan segala macam dialeknya, terdiri dari berbagai macam religiusitas (Islam, Kristianitas, Hindhu, Buddha, Konghucu, Kaharingan, Kejawen, Yahudi, dan masih banyak lainnya), terdiri dari berbagai macam usia, terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan tinggal di pulau-pulau yang berserakan dari Sabang sampai Merauke. Apa yang membuat kita, yang beraneka ragam itu, menjadi Indonesia? Apa yang membuat kita, yang sangat plural itu, sepakat pada 17 Agustus 1945 bahkan sejak 1928 menjadi Indonesia?

Kita menjadi Indonesia justru bukan karena kita satu bangsa seperti halnya Italia, Jerman, Jepang, atau Perancis yang menjadi negara justru karena satu bangsa . Kita juga tidak menjadi Indonesia karena satu agama seperti halnya negara Vatican. Yang mempersatukan kita, yang sangat beragam ini, menjadi satu bangsa adalah kenangan sejarah. Kita pernah sama-sama dijajah oleh VOC, kita pernah sama-sama diduduki Belanda, dan kita pernah sama-sama diperbudak Jepang. Kita pernah sama-sama menyandang nama “India Timur” dan kita pun pernah sama-sama menyandang nama “Hindia-Belanda”. Itulah sebabnya mengapa Timor Timur (sekarang Timor Leste) secara sejarah tidak pernah menjadi Bangsa Indonesia, itulah sebabnya mengapa Papua (dulu Irian Barat) secara historis merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Kita pada waktu itu menjadi Indonesia justru karena memiliki “musuh yang satu dan sama” dan itu yang menyatukan kita untuk menyimpan sejenak perbedaan dan berjuang bersama.

Namun, di era kemerdekaan ini haruskah kita memiliki “musuh yang sama” untuk melampaui segala keberagaman kita? Menarik bahwa serta-merta Bangsa Indonesia, yang beragam serta digerogoti konflik antaragama dan antarsuku ini, bersatu padu memekikkan “Indonesia Raya” pada saat Malaysia mengusik kedaulatan bangsa. Segala konflik antaragama dan antarsuku itu seakan reda sesaat demi untuk bersatu meneriakkan pekik perang lama “Ganyang Malaysia!!!”. Haruskah kita selalu memerlukan “musuh yang sama” untuk tetap bersatu menjadi Bangsa Indonesia? Jika memang “ya”, baik jika kita sejenak merumuskan kembali “musuh bersama” itu. Apakah “musuh bersama” itu harus selalu berupa negara asing yang tidak menghormati kedaulatan NKRI? Sutan Sjahrir pernah berkata, “Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.”



Bangsa Indonesia bersatu untuk merebut kemerdekaan. Namun, kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah tujuan final. Sjahrir berpendapat bahwa perjuangan kemerdekaan adalah batu loncatan untuk perjuangan akan kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Maka, setelah merdeka, perjuangan yang sesungguhnya justru baru dimulai. Perjuangan itu tidak lagi perjuangan fisik melawan penjajah atau negara lain yang melanggar kedaulatan atau mengintervensi Indonesia, melainkan sebuah perjuangan kemanusiaan: keadilan sosial, persamaan derajat – antifeodalisme, pemberantasan kebodohan dan keterbelakangan, mencerdaskan kehidupan bangsa, semakin membudayakan individu-individu, memperluas cakrawala, melampaui segala keberagaman Indonesia tanpa harus menegasinya, dan yang paling aktual sekarang adalah perjuangan memberantas korupsi yang bukan lagi kejahatan moral melainkan kejahatan struktural. Semua perjuangan itu jauh lebih penting dari pada “Ganyang Malaysia!!!”. Persatuan “Ganyang Malaysia!!!” adalah baik, wajar, dan tidak an sich salah sebagai bentuk perlawanan terhadap fasisme Malaysia, tetapi menurut perspektif Sjahrir persatuan semacam itu justru merusak “pergerakan”, sebuah persatuan yang sangat naif sama seperti persatuan yang hanya berdasarkan agama atau suku.

Mengapa demikian? Sjahrir menjelaskan, “Bagi zaman yang lampau nasionalisme di dalam perhubungan antara bangsa-bangsa sering hanya nasional egoisme dan imperialisme. Kita tidak demikian. Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna bukan untuk memuaskan diri sendiri kita, sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan. Kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita kepada kemanusiaan.” Merefleksikan kembali pandangan Sjahrir akan nasionalisme membuka mata kita bahwa kita mengindonesia tidak sekadar untuk mengganyang Malaysia, tetapi untuk memanusiakan manusia Indonesia sama seperti memanusiakan manusia universal.

Pernyataan di atas masih sangat ideologis dan abstrak sehingga perlu kita “postmodern”-kan. Apa itu yang dimaksud memanusiakan manusia Indonesia sama seperti memanusiakan manusia universal? Indonesia terdiri dari banyak bangsa yang memiliki bentuk legal dalam provinsi. Setiap provinsi memiliki daerah-daerah. Setiap individu Indonesia mengindonesia (meruang dan mewaktu) di dalam lingkungannya. Proses mengindonesia ini yang adalah proses pemanifestasian kemanusiaan ini merupakan pewujudnyataan nasionalisme. Apa contoh konkritnya? Johnny Sihombing belajar di kota Sibolga Sumatera Utara, Amir Abdullah mengajar di Kediri Jawa Timur, I Wayan bertani di Bali, Manceltus Meol melaut di Timor, Obeth Sagisolo mengukir patung di Nabire Papua, Bante Aryasatyani bermeditasi di Vihara Buddha Mendut, Marsekal Jono berpatroli di perbatasan, dan lain sebagainya. Masing-masing individu Indonesia berusaha mengerjakan apa yang menjadi panggilan hidupnya (vocation). Proses ini oleh Driyarkara dinamakan sebagai proses membudaya. Oleh karena panggilan hidup itu sangat beragam dan plural, kesadaran akan liyan yang berbeda itu adalah keharusan sehingga individu yang satu dapat menghormati individu yang lain tanpa menegasi eksistensinya dalam koeksistensi.

Tidakkah rumusan di atas terlalu partikular? Menjadi partikular setelah kita “postmodern”-kan. Namun, cerita-cerita kecil tidak pernah berdiri sendiri-sendiri, justru jika cerita-cerita kecil berdiri sendiri-sendiri, akan menjadi absurd dan tidak masuk akal, tetapi selalu mengarah kepada cerita besar. Semangat menghormati liyan menjadi batu loncatan untuk menghormati kebudayaan Indonesia lain. Semangat menghormati kebudayaan Indonesia yang lain menjadi batu loncatan untuk menghormati kemanusiaan universal. Justru di sinilah letak kebangsaan kita. Mengapa kita bersatu menjadi bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 atau bahkan sejak 1928? Karena kita melihat penginjak-injakkan kemanusiaan, penjajahan. Penginjak-injakkan kemanusiaan itulah yang sebenarnya dulu kita lawan dan perlawanan yang sama hendaknya masih menyatukan kita yang terdiri dari banyak bangsa ini menjadi satu Bangsa Indonesia. Penjajahan kemanusiaan yang bagaimana? Kebodohan, kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan, perbudakan, keadilan sosial, persamaan derajat, korupsi, diskriminasi, dominasi mayoritas, dan masih banyak yang lain.

Kesadaran itu menjauhkan kita dari bahaya paham nasionalisme yang sangat partikular dan sempit yaitu fasisme. Fasisme adalah suatu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Sikap Nazi-Jerman, Italia rezim Mussolini, Jepang era Perang Dunia II, KKK (Ku Klux Klan) di Amerika Serikat, bahkan sikap Bangsa Malaysia terhadap para TKI –untuk tidak mengatakan buruh Indonesia– adalah contoh historis mengenai fasisme. Kebangsaan kita tidak membuat kita membenci dan memusuhi bangsa lain, tetapi justru adalah batu loncatan menuju kemanusiaan universal.

*bersambung... .

Bibliografi
Y.B. Manunwijawa, Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan pada Hari Mendatang, dalam H. Rosihan Anwar (ed.), MENGENANG SJAHRIR, Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan, Jakarta: Gramedia, 2010

N. Driyarkara, FILSAFAT MANUSIA, Yogyakarta: Kanisius, 2010

www.facebook.com/profile.php?id=1309606161&v=wall&story_fbid=127276777322618&ref=notif&notif_t=feed_comment#!/pages/SUTAN-Sjahrir/125473950650?ref=ts

id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/1818181-fasisme/

Wednesday, September 8, 2010

Merefleksikan Kembali Pancasila, Sila Kedua

Merefleksikan Kembali Pancasila, Sila Kedua
Sebuah Kado untuk Indonesia Tercinta
-Padmo Adi

Kemarin saya telah merefleksikan kembali Pancasila, Sila Pertama. Saya berjanji untuk melanjutkan refleksi saya atas sila-sila yang lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan melanjutkan untuk merefleksikan Sila Kedua.

2. Kemanusiaan (Humanisme)
Sebagaimana saya ungkapkan dahulu bahwa sejak masa humanisme-renaissance pola pikir teosentris telah digeser menjadi antroposentris, dewasa ini tidak sedikit orang yang memulai dengan berpikir tentang manusia untuk sampai kepada renungan akan Yang Ilahi. Nilai-nilai yang diimani diatur oleh Tuhan kini menjadi nilai-nilai manusiawi yang senantiasa diperjuangkan.

Namun, manusia terkadang hanya dipandang sebagai sekelompok manusia. Hal ini mereduksi kemanusiaan. Seorang manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang mempribadi (sebagai subyek yang mengerti, menghendaki, bertindak) tetapi digeneralisasi menjadi massa/masyarakat. Dengan demikian kita tidak memandang seorang manusia sebagai manusia yang memiliki dinamika pemanifestasian kemanusiaannya dengan segala sejarah hidup dan cita-cita serta proyek hidupnya. Peristiwa holocaust dan genosida, pristiwa yang sangat memilukan dan hampir-hampir tidak masuk akal, adalah buah dari sisi terekstrim atas cara pandang ini. Kebencian dan keberangan kita, bangsa Indonesia, akan Malaysia pun karena generalisasi ini. Dengan peristiwa Sipadan-Ligitan, Blok Ambalat, kasus-kasus sado-masokisme atas para TKI dan TKW yang berada di Malaysia, peristiwa Kepulauan Riau, kita tidak memandang individu (yang adalah warga negara Malaysia) yang melakukan itu, melainkan menggeneralisasi Malaysia (seluruh penduduk Malaysia) yang melakukan itu, tanpa sedikit pun menyadari bahwa (mungkin) masih ada individu-individu yang berkewarganegaraan Malaysia memiliki kehendak untuk mencintai dan menghormati kemanusiaan sesama manusia walau berbeda negara, ras, dan kebudayaan.

Ketika aku hanya dipandang sebagai bagian dari sekelompok manusia, tanggung jawabku sebagai individu dapat kusembunyikan, bahkan kuingkari. Salah satu dalih yang biasa dipakai adalah “ini perintah dari atasan”. Aku terlarut dalam apa yang dinamakan “individu massa”. Namun, ketika aku dipandang sebagai seorang individu mandiri yang mempribadi, ketika aku dipandang sebagai subyek yang otonom dalam kebebasanku, aku dapat dengan ksatria mempertanggungjawabkan segala keputusan yang aku ambil, bahkan jikapun keputusan itu kuambil oleh karena perintah atasan (sebab sebenarnya aku bisa menolak keputusan itu). Dengan demikian aku mengafirmasi eksistensiku.

Aku bereksistensi. Yang membedakanku, manusia, dengan makhluk lainnya adalah aku tidak sekadar ada, tetapi aku mengada secara sadar. Manusia adalah subyek yang berarti manusia hadir secara sadar, dengan berpikir, dengan berefleksi, dengan mengambil jarak, secara kritis, dengan bebas. Dalam proses perkembanganku aku semakin menyadari kesejatian diriku, lalu belajar memilih suatu keputusan dan bertanggung jawab dengan segala konsekuensi atas keputusan itu, bahkan jikapun keputusan itu adalah sebuah kesalahan. Jikapun keputusan itu adalah sebuah kesalahan, aku tetap dapat mempertanggungjawabkannya. Menurut Sartre manusia bukan etre-en-soi (ada pada dirinya), melainkan etre-pour-soi (ada bagi dirinya sendiri). Manusia adalah makhluk dinamis yang selalu mengada dan senantiasa berproses. Manusia menjadi etre-en-soi ketika dia berhenti berproses, mati. Kematian adalah kristalisasi kehidupan.

Manusia tidak dapat berdiri sendiri. Dia membutuh sesama untuk mengafirmasi diri. Aku semakin menjadi aku berkat kamu. Aku adalah aku sejauh ada kamu. Kehadiranmu dapat mengafirmasi maupun menegasi kehadiranku. Dan, itu membuatku semakin menyadari keberadaanku dan memberiku gambaran diri. Menyadari hal ini, maka hendaknya kita tidak menggeneralisasi pribadi-pribadi menjadi segerombolan manusia. Kita sebisa mungkin memandang masing-masing individu.

Apakah dengan memandang masing-masing pribadi kita telah kehilangan sebuah standar universal? Apakah dengan memandang masing-masing pribadi yang tentu saja berarti memandang pluralitas kita kehilangan pandangan universal tentang kamanusiaan sehingga kita merelativisasi segala sesuatu? Tidak! Memang dengan memandang masing-masing pribadi kita mencoba membebaskan diri dari kungkungan hegemoni ideologi (weltanschaung yang digunakan oleh penguasa dan pemodal justru untuk menindas kemanusiaan) apapun. Namun, bukan berarti kemudian kebenaran itu menjadi sesuatu yang dapat direlativisasi. Mencuri, membunuh, memperkosa adalah tindakan tidak bermoral. Apakah dapat direlativisasi? Holocaust dan genosida rezim Nazi apakah dapat direlativisasi? Penahanan-penahanan bahkan eksekusi-eksekusi tanpa peradilan semasa rezim Orde Baru apakah dapat direlativisasi? Para jugun ianfu apakah dapat menerima jika pengalaman pahit mereka direlativisasi? Sangat absurd jika “ya”. Justru dengan memandang masing-masing pribadi kita menjunjung tinggi kemanusiaan. Kita bersama-sama dapat saling memanifestasikan kemanusiaan. Kita dapat saling menghormati keputusan masing-masing, kita dapat saling menghargai kedaulatan masing-masing, dan kita dapat berdialog dengan sehat. Kita dapat hidup berdampingan (ada bersama) dengan tetap menjadi diri sendiri tanpa harus meniadakan liyan. Hal ini selaras dengan keadaan de facto masyarakat Indonesia yang begitu beragam dan begitu plural.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah pola pikir antroposentris ini, apakah penghargaan terhadap kemanusiaan (humanisme) ini bertentangan dengan Ketuhanan dan merupakan anak dari atheisme? Tidak! Penghargaan terhadap kemanusiaan hanya mungkin ada karena pengalaman manusia akan Ketuhanan. Pengalaman Ketuhanan membuat manusia menyadari keberadaannya bersama makhluk-makhluk lain. Kemudian dalam keberadaan bersama makhluk-makhluk lain itu manusia menyadari bahwa dia berbeda dengan mereka. Dengan segenap rasio, emosi, raga, dan hatinya manusia dipanggil dalam dialog dengan Tuhan . Maka, manusia berusaha memanifestasikan kemanusiaannya sebagai afirmasi atas pengalaman itu. Dia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bertanggung jawab atas eksistensi manusia-manusia yang lain, dan bertanggung jawab atas keutuhan serta keselarasan ciptaan yang lain. Hal ini kemudian dipandang sebagai nilai-nilai universal (kedamaian, keadilan, cinta-kasih, dll.) yang oleh orang beriman diimani mengalir dari Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang mengaku atheis? Keputusan menjadi atheis (atau agnostik) adalah keputusan bebas individu yang juga berangkat dari pengalaman Ketuhanan. Keputusannya menjadi atheis tidak menegasi kepercayaan pribadi-pribadi lain akan Yang Transenden. Sebagai pribadi yang bebas dan otonom, mereka berhak menjadi atheis. Namun, mereka sama sekali tidak berhak memaksakan weltanschaung mereka bahkan berusaha menghilangkan sila I Pancasila. Dengan demikian, mereka justru tidak menghormati kemanusiaan, malah tidak realistis memandang Indonesia .

*bersambung...



Bibliografi
Franz Magnis-Suseno, MENALAR TUHAN, Yogyakarta: Kanisius, 2006

Franz Magnis-Suseno, PIJAR-PIJAR FILSAFAT, Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan – dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2008

K. Bertens, FILSAFAT BARAT KONTEMPORER PERANCIS, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006

Tuesday, August 24, 2010

MEREFLEKSIKAN KEMBALI PANCASILA, SILA PERTAMA

MEREFLEKSIKAN KEMBALI PANCASILA, SILA PERTAMA
Sebuah Kado untuk Indonesia Tercinta

Indonesia adalah negara yang plural, terdiri dari banyak suku, ras, bahasa daerah, agama, sistem kepercayaan, kultur, subkultur, dan sebagainya. Walaupun demikian, para pemuda pada tahun 1928 merasa senasib dan sepenanggungan; mereka merasa sebangsa dan setanah air. Mereka juga mendeklarasikan Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu yang sudah disempurnakan dan dipakai di seluruh Nusantara sebagai bahasa dagang) sebagai bahasa persatuan. Para bapa pendiri bangsa kita pun menyadari hal ini. Maka diciptakan sebuah sistem filsafat yang sekiranya dapat menjembatani segala keanekaragaman tersebut, sistem filsafat yang sebenarnya sudah berurat-berakar dalam hati sanubari, adat-istiadat, dan kebudayaan Nusantara, bahkan jauh sejak masa Nusantara kuna (400-1500 M). Sistem filsafat itu adalah manifestasi kemanusiaan Indonesia. Itulah Pancasila!

Pancasila adalah sistem filsafat dengan lima tesis pokok:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Kelima tesis itu dapat dirangkum dalam satu kata atau frasa sederhana yang akan membuat kita lebih memahami apa sebenarnya yang dimaksud. Satu kata dan frasa itu dapat menjadi batu pijakan kita untuk merefleksikan kembali Pancasila. Kata dan frasa kunci itu adalah:
1. Ketuhanan (Divinity)
2. Kemanusiaan (Humanisme)
3. Nasionalisme (Kebangsaan/Keindonesiaan)
4. Republik-Demokrasi
5. Sosialisme
Saya akan mencoba membedah kelima kata/frasa tersebut. Namun, karena kegiatan dan kesibukan, saya akan membedahnya secara bersambung mulai dari sila pertama.

1. Ketuhanan (Divinity)
Bangsa Indonesia telah mengalami pengalaman Ketuhanan sejak (bahkan mungkin sebelum) abad IV Masehi. Tujuh yupa Kutai menggambarkan bagaimana Raja Mulawarman mengadakan acara kenduri (syukuran) dan memberi sedekah kepada para brahmana. Pengalaman Ketuhanan ini bahkan melampaui batas agama. Hal ini nampak dalam toleransi dua agama besar di zaman Majapahit, Hindhu Siwa dan Buddha. Dalam Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular (abad XIV) dijelaskan bahwa Siwa dan Buddha, walau berbeda, sejatinya satu, sama.

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Diterjemahkan bebas sebagai berikut

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Para bapa pendiri kita menyadari bahwa rakyat Nusantara jauh sejak nenek moyang kita memiliki rasa Ketuhanan yang diterjemahkan ke dalam banyak ragam agama dan kepercayaan: Hindhu Siwa, Buddha, Siwa Buddha, Hindhu Bali, Kaharingan, Islam, Kejawen, Katolik Roma, Kristen Protestan, Katolik Ortodoks, Konghucu, dan lain sebagainya (yang pada era para bapa pendiri mungkin tidak sebanyak dan sekompleks yang saya sebutkan di atas walau bibit-bibitnya sudah ada). Ketuhanan dialami, diterjemahkan, diungkapkan, dan dirumuskan dalam berbeda-beda agama, ritus, dan kepercayaan. Bahkan, ada yang tetap mengalami pengalaman Ketuhanan tanpa memutuskan untuk memeluk suatu agama atau mengikuti aliran kepercayaan tertentu. Itulah mengapa para bapa pendiri tidak memakai terminologi Allah, Tuhan, Bapa, Debata, Hyang Tunggal, Hyang Widhi atau terminologi yang langsung merujuk pada penyebutan nama Sang Ada sebagaimana dihayati dalam salah satu agama tertentu, tetapi dengan bijaksana memakai terminologi filsafat, “Ketuhanan”, yang lebih dapat merangkum segala penyebutan sejauh dialami dan diungkapkan dalam agama-agama tertentu. Dan, itulah mengapa Bung Hatta, selaku anggota PPKI, dengan bijaksana menerima dan menyampaikan usulan untuk menganulir tujuh kata itu dan merumuskannya kembali dengan frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Terminologi “Ketuhanan” jauh lebih luas, bahkan dapat menyentuh ranah berpikir filosofis para atheis. Sejak humanisme-renaissance, pola pikir teosentris mulai digeser menjadi antroposentris. Untuk berpikir (baca: merefleksikan) tentang Tuhan, kini kecenderungan manusia memulainya dengan berpikir tentang manusia. Para atheis memang secara teoretis menolak eksistensi Tuhan, tetapi tidak sedikit dari mereka yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika homo imago Dei est (manusia adalah citra Allah), walaupun mereka secara teoretis menolak eksistensi Tuhan, mereka tetap memperjuangkan nilai-nilai yang oleh kaum beragama diimani berasal dari Tuhan (cinta kasih, perdamaian, keadilan, dll – Anda bisa menyebutkannya sendiri dan merangkainya menjadi sebuah litani).

Terminologi “Ketuhanan” ini begitu luas. Akan menjadi pengerdilan kalau HANYA kita coba telaah dalam satu sudut pandang (dogma) agama tertentu saja. Pengalaman Ketuhanan adalah pengalaman eksistensial yang menghendaki sebuah keputusan mendasar dan dialami secara khas unik setiap pribadi. Maka, sudah sejak awal mula pengalaman Ketuhanan itu begitu plural, khas menyapa tiap-tiap eksistensi individu tanpa terlepas dari koeksistensi dengan subyek yang lain. Dan, setiap individu Indonesia secara eksistensial pasti pernah menanyakan sebuah pertanyaan Ketuhanan, setidaknya menanyakan “dari mana aku berasal dan ke mana aku akan pergi” (yang salah satunya dengan dahsyat dirangkai dalam etika sangkan-paran dalam kebijaksanaan Jawa – yang adalah kebijaksanaan Indonesia). Kita tidak harus terbatas pada koridor agama dalam membahasakan pengalaman tremendum et fascinans berhadapan dengan Sang Ada ini. Kita dapat juga menggunakan akal-budi kita secara kritis. Sehingga kita dapat menghayati misteri cinta Sang Ada dalam kehidupan sehar-hari dan mengungkapkannya dalam agama kita masing-masing secara kritis sehingga kita dapat menerima pengungkapan itu dalam cara yang sama sekali lain tanpa kita kehilangan iman dalam agama/kepercayaan yang kita anut sebagaimana diungkapkan Sutan Takdir Alisjahbana,”... bahwa masing-masing agama hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan ekspresi-ekspresi berbeda dari pencarian manusia yang sama tentang kekudusan misterius... .” Tuhan yang satu dan sama kita alami, hayati, ungkapkan, dan bahasakan dalam cara yang berbeda-beda. Maka, para bapa pendiri bangsa merumuskan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan tepat.

*Bersambung...

Bibliografi
http://www.facebook.com/home.php?#!/group.php?gid=134995579903&ref=ts

FILSAFAT KETUHANAN, Diktat tidak diterbitkan, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

Franz Magnis-Suseno, PIJAR-PIJAR FILSAFAT, Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan – dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2008

P.J. Suwarno, PANCASILA BUDAYA BANGSA INDONESIA, Yogyakarta: Kanisius

Tuesday, May 11, 2010

EKSISTENSIALISME - Antara Kierkegaard dan Sartre

EKSISTENSIALISME - Antara Kierkegaard dan Sartre
-Padmo Adi-

Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang lahir pada abad XIX oleh Søren Kierkegaard. Eksistensialisme membicarakan tentang eksistensi seorang individu khususnya relasi antara individu dengan sistem, Ada dan absurditas, esensi dan makna sebuah pilihan keputusan, pengalaman, dan intensionalitas. Aliran filsafat ini booming setelah Perang Dunia II oleh Martin Heidegger dan menyebar secara luas di seluruh Eropa, bahkan dunia.

Søren Kierkegaard

Kierkegaard dengan eksistensialismenya mengajari kita bagaimana menjadi ksatria iman yang bereksistensi sesuai esensi. Seseorang yang hendak bereksistensi sesuai esensi harus melakukan lompatan eksistensi bahkan lompatan iman. Ada tiga ranah eksistensi: ranah estetis, ranah etis, dan ranah religius. Seseorang yang bereksistensi secara estetis adalah pribadi yang terburuk. Dia tidak pernah menyadari apa hidup. Seorang gemuk yang duduk di atas sofa, makan popcorn, dan minum berbotol-botol bir sembari melihat televisi adalah contoh orang yang hidup secara estetis. Contoh lain adalah Don Juan; dia tidak pernah memiliki sebuah komitmen dengan seorang gadis, tetapi bercinta dengan banyak gadis. Pada umumnya mereka yang hidup secara estetis dikontrol oleh apa yang dikemudian hari disebut oleh Sigmund Freud sebagai id (prinsip kenikmatan).

Orang yang hidup secara estetis suatu hari akan merasa bosan. Jika seseorang menyadari bahwa dia bosan oleh karena kehidupan estetis yang dia miliki, dia harus melakukan lompatan eksistensi. Dia harus memilih dan berkomitmen dengan satu cara hidup. Setelah ‘melompat’, dia akan hidup secara etis. Dengan ‘melompat’ seseorang melepas dirinya-yang-lama-dan-tidak-sejati dan secara otomatis mendapat dirinya-yang-baru-dan-sejati. Seseorang memilih hidupnya, bagaimana seseorang akan menjalani hidupnya. Seseorang bertanggung jawab atas hidup yang dipilihnya.

Ada sebuah lompatan yang sulit dimengerti oleh orang lain meski dia mengimaninya. Kierkegaard menamainya lompatan iman. Ketika seseorang secara etis memilih panggilan hidupnya sendiri, panggilan Tuhan, dia hidup secara religius. Dia hidup di dalam iman. Dia menjalani hidupnya hanya untuk Tuhan. Terkadang orang lain tidak mampu memahaminya. Namun, dia mengimani apa yang dia jalani adalah benar. Tatkala seseorang hidup secara religius, dia menjadi seorang ksatria iman.

Jean-Paul Sartre

Jika Kierkegaard membawa Tuhan dalam hidup dan filsafatnya, Sartre menihilkan eksistensi Tuhan. “Eksistensialisme berkata bahwa sekalipun Tuhan ada, hal itu tidak berarti apa-apa bagi seorang eksistensialis,” katanya, “Bukan berarti kami percaya bahwa Tuhan ada, melainkan menurut kami masalah utamanya bukan pada eksistensi-Nya.”

Apa yang orang butuhkan adalah memberi makna pada dirinya dengan setiap pilihan yang dia buat dan memahami bahwa tidak ada yang bisa menghalanginya dari hal itu. Eksistensi mendahului esensi. Eksistensialisme adalah sebuah doktrin tindakan nyata. Eksistensialisme adalah bagaimana seseorang hidup tanpa membohongi dirinya sendiri. Untuk hidup seseorang harus memilih dan mengambil konsekuensinya.

Kegelisahan seseorang adalah mengetahui bahwa dia hidup. Dan, dia harus hidup dalam kepenuhan. Untuk kepenuhannya itu mustahil Tuhan ada. Jika Tuhan ada, seseorang takkan pernah menjadi dirinya sendiri. Tidak penting hidup secara religius. Hidup secara religius adalah tanda bahwa seseorang hidup dalam kebohongan. Dia membohongi dirinya sendiri.

Seseorang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dia menciptakan dirinya sendiri. Untuk mengada seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai seorang individu, melainkan juga semua orang. Jika seseorang percaya pada Tuhan, dia lari dari tanggung jawabnya. Yang bertanggung jawab atas perbuatannya bukan lagi dia sendiri, melainkan Tuhan.

Kierkegaard dan Sartre
Kedua-duanya adalah filsuf eksistensialisme. Mereka mengajari kita bagaimana hidup sebagaimana diri kita sebenarnya. Kita selalu memilih dalam menjalani hidup, lalu kita harus berkomitmen –kita bertanggung jawab atas segala konsekuensi atas pilihan itu– dan jangan pernah sesali. Secara garis besar Kierkegaard dan Sartre mengajari tema yang sama hingga pada poin religius. Kierkegaard mengimani bahwa kepenuhan kemanusiaan adalah ketika seseorang hidup di dalam Tuhan, tapi Sartre percaya bahwa kita tidak membutuhkan Tuhan untuk meraih kepenuhan kemanusiaan.

Wednesday, April 28, 2010

EKSISTENSIALISME SARTREAN

EKSISTENSIALISME SARTREAN
-Padmo Adi-




Eksistensialisme
Eksistensialisme menjadi filsafat yang populer di Prancis, bahkan akhirnya di seluruh dunia. Søren Kierkegaard diakui sebagai Bapak Eksistensialisme. Namun, sebenarnya Sartrelah yang memopulerkan istilah “eksistensialisme”. Eksistensialisme memiliki banyak tokoh antara lain: Søren Kierkegaard tentunya, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Albert Camus, Martin Heidegger, ada yang mengatakan Friedrich Nietzsche juga, Franz Kafka, Miguel de Unamuno, Fydor Dostoievsky, dan tentu Jean-Paul Sartre. Masing-masing tokoh di atas sebenarnya memiliki ide mereka sendiri-sendiri tentang eksistensialisme, maka mustahil merumuskan suatu gambaran umum tentang eksistensialisme yang mencakup seluruh tokoh di atas. Memang dalam beberapa kasus tokoh yang satu memiliki pangaruh pada tokoh yang lain, tetapi akan menjadi lebih jelas jika menelaah eksistensialisme menurut pandangan masing-masing tokoh. Namun, secara umum empat masalah filosofis eksistensialisme adalah eksistensi manusia, bagaimana bereksistensi secara aktif, eksistensi manusia adalah eksistensi yang terbuka dan belum selesai, serta pengalaman eksistensial. Eksistensialisme menurut Sartre memiliki dua cabang yaitu Eksistensialisme Kristiani dan Eksistensialisme Atheis. Sartre menyatakan diri sebagai seorang eksistensialis atheis. Dalam bab ini kita akan membahas Eksistensialisme Sartrean.

L’etre-en-soi dan L’etre-pour-soi
Eksistensialisme adalah filsafat yang menelaah tentang cara ada pengada-pengada, khususnya manusia. Menurut Sartre cara ada itu ada dua yaitu l’etre-en-soi (ada-dalam-diri) dan l’etre-pour-soi (berada-untuk-diri). L’etre-en-soi adalah ada yang an sich, ada yang bulat, padat, beku, dan tertutup. Entre-en-soi menaati prinsip it is what it is. Perubahan yang ada pada benda yang ada-dalam-diri itu disebabkan oleh sebab-sebab yang telah ditentukan oleh adanya, maka benda etre-en-soi terdeterminasi, tidak bebas, dan perubahannya memuakkan (nauseant). Benda yang berada-dalam-diri ada di sana tanpa alasan apa pun, tanpa alasan yang kita berikan padanya.


Sedangkan l’etre-pour-soi (mengada-untuk-diri) adalah cara ada yang sadar. Satu-satunya makhluk yang mengada secara sadar adalah manusia. Etre-pour-soi tidak memiliki prinsip identitas karena adanya terbuka, dinamis, dan aktif oleh karena kesadarannya. Maka, manusia bertanggung jawab atas keberadaanya; bahwa aku adalah frater dan bukan bruder, bahwa aku imam tarekat dan bukan imam diosesan, bahwa aku awam dan bukan klerus, bahwa aku dosen dan bukan mahasiswa, bahwa aku mahasiswa dan bukan pengamen. Manusia sadar bahwa dia bereksistensi.

Kesadaran Prareflektif dan Kesadaran Reflektif
Kesadaran manusia menurut Sartre dibagi menjadi kesadaran prareflektif dan kesadaran reflektif. Kesadaran prafeflektif adalah kesadaran aktivitas harian. Aku bangun pagi, mandi pagi, misa harian, laudes, sarapan, kuliah, on-line facebook, hora media, makan siang, olah raga, mandi sore, vesperae, makan malam, belajar, completorium, dll. Aku mengalami itu semua tanpa kesadaran akan aku mengalami itu. Yang ada dalam obyek kesadaran misalnya adalah jam weker ketika aku bangun, dinginnya air ketika mandi pagi, hosti dan anggur ketika dikonsekrasi, mazmur ketika mendaraskan brevir, nasi dan lauk ketika sarapan, dosen yang menjelaskan di depan kelas ketika kuliah, friends on facebook ketika on-line, bola ketika berolah raga, buku diktat ketika belajar, dll. Menurut Sartre tidak ada “aku” dalam kesadaran prareflektif.


Namun, ketika di malam hari aku mengambil waktu tenang sejenak untuk menulis diary, kemudian mengambil jarak, dan memandang segenap kegiatanku selama sehari itu, memikirkan saat aku hampir terlambat bangun pagi, memikirkan aku kedinginan saat mandi pagi, memikirkan bahwa aku sempat mengantuk waktu misa harian, memikirkan saat aku fals mendaraskan mazmur brevir, memikirkan betapa aku menikmati makananku dan segelas kopi hangat, memikirkan saat aku dan teman-teman tertawa mendengar lelucon dari dosen, memikirkan betapa aku mengagumi kecantikan friends on facebook-ku, memikirkan betapa sakit kakiku saat tertendang kaki lawan, memikirkan saat aku tengah asyik menyelami pemikiran-pemikiran filsafat, pada saat itulah aku mengalami kesadaran reflektif. Pemikiran akan diri sendiri inilah yang Sartre sebut kesadaran reflektif. Selama aku berkonsentrasi dalam kesadaran reflektif, aku menemukan ‘diri’ di dalam kesadaran dan hanya di sini. Ketika konsentrasiku pecah, aku kembali kepada kesadaran prareflektif dan aku tak lagi sadar akan ‘diri’-ku.

Le Neant (Ketiadaan) dan Kebebasan
Kesadaran ini membuat aku mampu membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa aku lakukan. Misalnya, ketika aku sadar bahwa aku adalah seorang frater, aku dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa aku lakukan, aku bisa saja berkelakuan baik, menaati jadwal harian, belajar dengan baik sehingga dapat lulus ujian BA serta ujian ad audiendas dan kemudian layak ditahbiskan, lalu ditempatkan pada Paroki Sumber, sebagai pastor mendampingi para petani, misa setiap pagi, dsb. Atau, bisa saja aku membayangkan bahwa aku jatuh cinta dengan salah satu friend on facebook, kopi darat, PDKT, merasa menemukan panggilan yang lain, lalu melepas jubah dan keluar seminari, lulus S1, susah payah mencari pekerjaan, menikah, dsb. Aku kemudian ketakutan dengan apa yang bisa kulakukan itu, aku ketakutan dengan apa yang mungkin terjadi padaku, aku ketakutan kalau-kalau aku melakukan apa yang salah. Menurut Sartre kesadaran adalah “pusaran kemungkinan”. Hal ini hanya menjelaskan bahwa kita benar-benar bebas, kita dikutuk untuk bebas. “Pusaran kemungkinan ini” adalah “kebebasan yang sangat besar” dan sungguh menakutkanku.


Namun, dalam kesadaran dan kebebasan itu aku memilih suatu keputusan. Bahkan, dengan tidak memilih aku telah memilih. Hidupku terdiri dari rentetan-rentetan pilihan yang telah kuputuskan. Pilihan ini mengantarkanku dari masa lalu ke masa kini. Antara masa lalu dan masa kini terdapat jarak. Jarak ini oleh Sartre disebut le neant (ketiadaan). Dengan le neant, Sartre menolak determinisme universal karena tiada lagi kontinuitas antara masa lalu dengan masa kini. Dalam determinisme kebebasan itu mustahil, sedangkan Sartre menekankan kebebasan. Memang ada “faktisitas” pada masa lalu, ada fakta-fakta pada masa lalu yang tak dapat diubah. Bahwa aku dilahirkan sebagai orang Indonesia dan bukan orang Amerika adalah sebuah fakta pada masa laluku. Aku tak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah fakta historis itu. Suatu beban sejarah. Namun, tidak ada masa laluku yang dapat membuatku terpaksa memutuskan ini atau itu. Tiada tindakan manusia yang merupakan akibat tak terelakkan dari masa lalu.


Kesadaran selalu membuatku menarik jarak. Dalam kesadaran refleksif aku menarik jarak dengan masa laluku. Aku (di masa lalu) adalah obyek bagi aku (di masa kini yang tengah merefleksikan aku di masa lalu). Karena subyek yang menyadari berbeda dengan obyek yang disadari, aku yang sekarang berbeda dengan aku di masa lalu. Kesadaran memisahkan apa yang semula utuh, membuat apa yang semula padat menjadi tidak padat. Maka, kesadaran meniadakan (neantiser).


Contoh: Memang benar bahwa aku dilahirkan dalam keluarga Katolik dan benar bahwa aku dibaptis sejak bayi. Dua hal itu adalah faktisitas, fakta pada masa laluku yang tak dapat kuubah sama sekali. Namun, dengan kenyataan itu aku tidak serta-merta mengimani Allah Tritunggal dan kemudian masuk seminari. Semua faktisitas pada masa laluku itu adalah tanda. Akulah yang menafsirkan tanda itu, akulah yang memberikan makna dan nilai pada tanda itu. Aku bisa saja memaknai bahwa ajaran Katolik tentang Allah Tritunggal itu isapan jempol belaka, lalu aku meninggalkan imanku dan menjadi imam bagiku tidak ada gunanya. Namun, aku pun juga bisa menentukan makna bahwa ajaran Katolik tentang Allah Tritunggal itu benar lalu aku mengimani-Nya dan bahwa menjadi imam itu berharga.

Tanggung Jawab
Eksistensi mendahului esensi. Tidak ada hakikat pada manusia yang menjadikan dia serta-merta adalah manusia. Manusia bukanlah pengada yang etre-en-soi, melainkan pengada yang etre-pour-soi. Sebagai pengada etre-pour-soi, manusia tidak pernah jadi (be/sein) sebagaimana meja yang adalah meja (etre-en-soi), melainkan menjadi (being/werden). Manusia menjadi manusia sejauh dia menciptakan dirinya. Manusia selalu menciptakan dirinya. Manusia menciptakan diri lewat setiap keputusan yang dia pilih, lewat setiap tindakan-tindakan bebasnya. Maka, manusia bebas menjadi apa yang dia kehendaki. Manusia bukan “apa-apa” sampai dia menjadikan dirinya “apa-apa”.


Pengada yang etre-en-soi ada begitu saja, tidak memiliki makna dan nilai. Manusia dengan kesadaran dan kebebasannya dapat memberikan makna dan nilai pada dirinya. Nilai itu diberikan manusia pada saat dia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan atau pada saat dia memilih. Pilihan ini mengandaikan tanggung jawab. Tanggung jawab ini tidak hanya tanggung jawab atas diri kita sendiri atau hanya tanggung jawab atas pilihan kita sendiri, tetapi adalah tanggung jawab atas seluruh umat manusia di dunia karena setiap pilihan yang kita buat memiliki implikasi terhadap orang lain juga, setidaknya orang-orang di sekitar kita.


“Apabila kita mengatakan manusia memilih dirinya sendiri, ini tidak berarti bahwa setiap orang dari antara kita harus memilih dirinya sendiri, tetapi juga bahwa dalam memilih untuk diri sendiri, manusia memilih untuk semua. Karena, efek dari tindakan-tindakan yang ia pilih untuk menciptakan dirinya,” kata Sartre,”Memilih keputusan ini atau itu pada saat yang sama adalah penegasan nilai yang kita pilih, karena kita tidak pernah memilih pilihan yang paling buruk. Apa yang kita pilih selalu pilihan yang paling baik; dan tidak ada satu pilihan pun yang lebih baik bagi kita kecuali pilihan-pilihan yang lebih baik bagi sesama manusia. Labih jauh lagi, jika eksistensi mendahului esensi dan kita ingin mengada dan pada saat yang sama mewujudkan citra kita, citra tersebut valid untuk semua manusia dan semua zaman di mana kita hidup.”


Tanggung jawabku menyangkut semua umat manusia. Apa yang kunyatakan baik bagiku secara logis harus kukatakan baik bagi semua orang. Hal ini mirip dengan “imperatif kategoris” Immanuel Kant. Kant berkata,”Bertindaklah sehingga maksim dari tindakanmu diterima sebagai hukum universal.” Namun, ketika pernyataan ini ditarik sampai ke pada batas oleh Sartre, bahwa ketika aku menghendaki kebebasanku maka aku pun menghendaki kebebasan orang lain, dia mendapati situasi konflik yang tak terpecahkan. Kebebasanmu membatasi kebebasanku.

Hell is Others
Kebebasan orang lain tidak meneguhkan kebebasanku. Contoh: aku tengah duduk-duduk di taman menikmati suasana senja dengan bebas. Pohon-pohon, rerumputan, bebatuan, kursi-kursi, lampu-lampu, suasana senja di taman adalah obyek bagiku. Aku mengada bebas pada duniaku itu. Tiba-tiba datang orang lain mengamatiku. Aku menjadi obyek baginya. Serta-merta duniaku tersedot dunianya. Dia merenggut kebebasanku. Namun, dia tak sepenuhnya mengobyekkanku. Ketika aku menatap balik dia, dia dan segenap dunianya menjadi obyek bagiku. Aku (dan mungkin juga orang lain itu) mungkin merasa malu. Dalam rasa malu aku mengetahui sebuah aspek dari keberadaanku. Aku mendapati diriku sebagai obyek yang diciptakan oleh tatapan orang lain. Sartre menyebut ini “berada-bagi-orang-lain”. Aku dipaksa untuk memberikan penilaian atas diriku sendiri sebagai suatu obyek. Ketika aku menjadi obyek tatapan orang, aku bukan lagi etre-pour-soi, melainkan etre-en-soi. Aku dipaksa bertanggung jawab atas diriku yang sudah dinyatakan padaku oleh tatapan orang lain.

Nasihat Sartre
Dalam hidup kita menemui banyak sekali pilihan. Terkadang pilihan itu sebegitu dilematis sehingga kita mengalami kesulitan untuk membuat keputusan. Seperti kisah nyata seorang pemuda, murid Sartre, yang dicontohkannya dalam Eksistensialisme dan Humansime. Lalu, apa yang dinasihatkan Sartre kepada pemuda tadi? “Kamu bebas, memiliki kebebasan, maka tentukanlah pilihanmu, temukanlah pilihanmu sendiri,” kata Sartre,”Pilihlah, yaitu, ciptakan!” Dalam setiap pilihan akan ada penderitaan, tetapi juga ada penciptaan dunia!


Bibliografi
Hadiwijono, Harun, 2010, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius

Martin, Vincent, 2003, Filsafat Eksistensialisme, Kierkegaard, Sartre, Camus, terj. Taufiqurrohman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Palmer, Donald D., 2007, Sartre untuk Pemula, terj. B. Dwianta Edi Prakosa dan Stepanus Wakidi, Yogyakarta: Kanisius

Sartre, Jean-Paul, 2002, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wednesday, April 14, 2010

METAFISIKA AL-FARABI

METAFISIKA AL-FARABI
-Padmo Adi-




Pendahuluan
Tidak seperti Al-Kindi yang hanya mengulang filsafat Yunani dalam bahasa Arab, Al-Farabi memiliki kekhasan dan warna tersendiri pada filsafatnya. Dia dinyatakan sebagai sebenar-benarnya filsuf Islam, bahkan dialah yang dikenal sebagai peletak fondasi filsafat Islam. Dia dikenal sebagai al-Mou’allim al-Thani, Sang Guru Kedua. Banyak hal menjadi pokok perenungan filosofis Al-Farabi, salah satunya adalah metafisika. Dalam pembahasan mengenai Al-Farabi dalam kuliah kelompok hanya memberikan ulasan selayang pandang secara garis besar dan kurang mendalam. Maka, saya tertarik untuk mendalami salah satu pokok pemikiran Al-Farabi, Metafisika.

Biografi
Abu Nasr Al-Farabi atau Alpharabius atau lebih dikenal sebagai Abu Nashr atau Abunaser lahir di Wasij, Farab (Transoxania), Turki, 872 M/259 H. Ayahnya, Muhammad Auzlagh, adalah seorang panglima perang Persia. Ibunya orang Turki. Al-Farabi belajar tata bahasa, logika, filsafat, musik, matematika, dan ilmu pengetahuan di Baghdad. Dia menguasai Bahasa Arab, Turki, Kurdi, dan Persia, bahkan Bahasa Yunani dan Siria. Maka, tak heran dia mampu menyelami jiwa Plato dan Aristoteles. Dia belajar logika kepada Abu Basyr Matta bin Yunus di Baghdad. Al-Farabi sangat mahir logika, bahkan lebih mahir dari pada gurunya sendiri. Julukannya al-Mou’allim al-Thani (Guru Kedua); Aristoteles adalah al-Mou’allim al-Awwal (Guru Pertama). Dia lalu belajar kepada seorang Nestorian, Yuhanna bin Haylan, di Harran. Pada tahun 943 M/330 H dia pindah ke Aleppo (Halap).

Al-Farabi adalah seorang filsuf humanis, bukan naturalis; pemikiran-pemikirannya lebih kepada pemikiran tentang manusia dari pada tentang semesta raya. Dia menguasai pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles, dan Neo-Platonis. Pemikiran-pemikiran itu dia harmonikan dengan alam pikir Islam (Syi’ah Imamiah) dan Al-Quran. Bahkan, dalam sebuah literatur dikatakan bahwa Al-Farabi memandang Aristoteles dan Plotinos sebagai nabi-nabi yang tidak ditulis dalam Al-Quran sementara ada beberapa orang, termasuk orang zaman post-modern, memandang filsafat menyesatkan.

Masih di usia muda Al-Farabi, yang adalah seorang Islam Syiah Imamiah, memiliki kehidupan spiritual dan dia mempraktikkan sufisme. Ia adalah ahli musik terbesar dalam sejarah Islam dan sekaligus komponis. Musiknya masih dapat didengarkan dalam musik sufi India. Maulawiyah dari Anatolia masih memainkan komposisinya sampai sekarang. Pengetahuan estetika Al-Farabi berjalan seiring dengan pengetahuan logika.

Dia hidup di tengah pergolakan sosial-politik Islam. Meski menulis tentang dan mewariskan karya monumental pada bidang politik, Al-Farabi menjauhi dunia itu. Dia lebih membaktikan diri pada kontemplasi dan renungan filosofis. Dia adalah ahli metafisika Islam yang pertama terkemuka.
Di Aleppo (Halab) dia diangkat oleh Gubernur Aleppo, Saifuddaulah Al-Hamdani, menjadi ulama istana. Namun, kota favoritnya adalah Damaskus (Damsyik). Setelah diajak Sang Gubernur merebut kota itu, Al-Farabi menetap di sana. Dia menghabiskan hari-harinya di sebuah kebun di pinggir kota untuk merenungkan perenungan-perenungan filosofis. Pemikirannya mempengaruhi pemikiran filsuf-filsuf Islam sesudah dia seperti Ibn Sinna dan Ibn Rusyd. Al-Farabi dianggap sebagai pendiri dan seorang wakil paling terkemuka aliran utama filsafat Islam, Masysyai (Peripaterik) filsuf-keilmuan. Pada tahun 950 M dia meninggal pada usia 80 tahun.

Karya-karya Al-Farabi
Karya Al-Farabi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu karya yang membahas masalah logika dan karya yang membahas masalah lain. Al-Farabi berpendapat bahwa filsafat (penggunaan akal) ada lebih dulu dari pada agama. Bangsa Babilonia dan Mesir kuno, jauh sebelum nabi Ibrahim (Abraham) dan Musa mewahyukan kebenaran, telah menggunakan akal-budi mereka untuk menyingkapkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat (akal-budi) dan kebenaran agama (wahyu) bagi Al-Farabi pada hakikatnya sama dan satu. Maka, dia berusaha mengharmonikan filsafat dan agama.

Karya-karya Al-Farabi antara lain adalah sebagai berikut:
1. Maqalah fi Aghradhi ma Ba’da al-Thabi’ah
2. Ihsha’ al-Ulum
3. Kitab Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah
4. Kitab Tahshil al-Sa’adah
5. ‘U’yun al-Masa’il
6. Risalah fi al-Aql
7. Kitab al-Jami’ bain Ra’y al-Hakimain : al-Aflatun wa Aristhu
8. Risalah fi Masail Mutafariqah
9. Al-Ta’liqat
10. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat

Metafisika Al-Farabi
Sejak kuno para filsuf mencari hakikat kebenaran (arkhe). Thales mengatakan bahwa arkhe (prinsip dasariah) adalah air. Anaximenes mengatakan udara. Anaximandros mengatakan arkhe adalah to apeiron (yang tak terbatas); to apeiron bersifat ilahi, tidak dapat diamati panca indera, tak terbatas, tak bergerak, tak terselami, tak tercipta, dan merupakan keadilan total yang menyatukan dan mengarahkan segala sesuatu. Pembicaraan mengenai arkhe kemudian berkembang mengenai pembicaraan antara yang tetap dan yang berubah. Heraklitos menyatakan bahwa hakikat kenyataan adalah Yang Berubah. Parmenides membantahnya, hakikat kenyataan menurutnya adalah Yang Tetap. Plato menyintesiskan dua pendapat ini dengan membagi dua dunia: yang tetap (dunia idea) dan yang berubah (dunia nyata) dengan titik berat pada yang tetap (dunia idea). Aristoteles mengikuti Plato dengan membagi: yang tetap (forma) dan yang berubah (materia) dengan titik berat pada yang berubah; 12 kategori Aristoteles terdiri dari esensi (1 kategori) dan aksidensi (11 kategori).

Al-Farabi yang terpengaruh Aristoteles membedakan materia dan forma (bentuk). Materia adalah potentia, sedangkan forma adalah actus, misalnya kayu adalah materia, maka meja, kursi, lemari adalah forma. Apa yang dibahas Al-Farabi dalam metafisikanya sama dengan apa yang dibahas oleh filsuf-filsuf (Yunani) sebelum dia, bagaimana menjelaskan Yang Esa dan Yang Plural dan bagaimana hubungan antara Yang Esa dengan Yang Plural itu. Para filsuf Yunani seperti Plato menjawab itu dengan Ide Tertinggi, Aristoteles dengan Causa Prima, sedangkan Plotionos dengan To Hen (Yang Mahasatu). Al-Farabi mengambil ide-ide itu dan dengan mudah mengidentikkan dengan Allah meski Plato, Aristoteles, dan Plotinos tidak berpikir ke sana.

Perenungan dan sintesis filosofisnya akan hakikat kebenaran mengantar dia pada persoalan bagaimana eksistensi dan hakikat Tuhan dijelaskan. Namun, sebelum membicarakan Tuhan, dia terlebih dulu membagi wujud dalam dua bagian.

Wujud mumkin, wujud yang nyata karena ada yang lainnya (wajib-ul-wujud li ghairihi). Wujud mumkin adalah sesuatu yang mendapatkan adanya berkat ada yang lain. Contohnya adalah cahaya matahari. Cahaya tidak ada jika tidak ada matahari (atau benda berpijar lainnya). Cahaya sendiri menurut tabiatnya (hakikatnya) bisa merupakan wujud dan bisa bukan wujud. Karena matahari telah merupakan wujud, cahaya menjadi wujud yang nyata (wajib). Wujud mumkin tersebut menjadi dasar pemikiran adanya Causa Prima yang oleh Al-Farabi sangat mudah diidentikkan dengan Allah. Segala yang mumkin harus berakhir pada sesuatu yang pertama kali ada, yang ada pada dirinya sendiri. Sepanjang apapun rangkaian kausalitas wujud mumkin itu, wujud mumkin tetap membutuhkan wujud yang memberi ada kepadanya sebab wujud mumkin tidak dapat ada pada dirinya sendiri.

Wujud yang nyata dengan sendirinya (wajib-ul-wujud li dhatihi). Wajibul-wujud li dhatihi adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujudnya (Ada yang pertama). Wujud yang ada pada dirinya sendiri. Jika wujud ini tidak ada, maka yang ada hanyalah kemuslihatan. Sebab, jika wujud ini tidak ada, yang lain pun tidak akan ada sama sekali. Wujud ini menjadi dasar bagi wujud-wujud mumkin. Wujud ini adalah Causa Prima, Sang Ada Yang Pertama. Al-Farabi dengan mudah menamainya Tuhan (Allah).
Menurut Al-Farabi Tuhan/Ada yang Pertama (Al-Awwal) adalah penyebab dari segala ada. Tuhan adalah sebab yang tidak disebabkan, bebas dari materia dan tanpa forma –karena forma hanya dapat ada dalam materia– dan Ada-Nya tidak memiliki tujuan atau akhir diluar Diri-Nya sendiri sebab Tuhan adalah sempurna dan mahaesa. Tuhan adalah Zat asali, tanpa permulaan, dan yang selalu ada. Karena Tuhan adalah tunggal, sifat Tuhan tidak berbeda dari Zat-Nya. Maka, Tuhan ada pada Diri-Nya sendiri. Karena tidak membutuhkan benda (selain Diri-Nya sendiri) untuk mengada, Tuhan adalah akal/fikiran/rasio murni (‘aql bi’l-fi’l).

Tuhan, tidak seperti wujud-wujud mumkin, tidak terdiri dari zat dan bentuk. Tuhan adalah substansi yang tiada bermula, asali, sudah ada dengan sendirinya, dan akan ada untuk selamanya. Esensi Tuhan begitu sederhana dan tak dapat dibagi. Substansi-Nya sendiri telah cukup menjadi sebab Ada-Nya yang kekal. Karena Tuhan adalah Causa Prima yang ada pada Diri-Nya sendiri, Tuhan mahasempurna. Maka, tiada yang menyamai kesempurnaan-Nya sebab jika ada-Nya ada pada sesuatu selain Tuhan, sesuatu itu adalah sekutu-Nya (partner – sharik) atau bahkan rival-Nya.

Tuhan itu mahaesa, maka Dia sama sekali tidak dapat diberikan definisi-definisi sebab hal itu dapat mereduksi keesaan-Nya. Definisi adalah penggambaran yang berarti pembatasan. Pembatasan berarti suatu penyusunan dengan memakai species dan differentia (an-nau wal-fasl) atau dengan hule dan forma yang hanya dapat diberikan kepada wujud mumkin, padahal semua itu mustahil bagi Tuhan. Jika Tuhan dapat dirumuskan atau didefinisikan sebagaimana makhluk, maka substansi Tuhan terbatas. Jika substansi Tuhan terbatas, Tuhan bukan lagi Yang Mahasempurna dan Yang Mahaesa.

Emanasi (al-faidl)
Al-Farabi mengatakan bahwa ada Hierarki wujud. Hierarki wujud itu adalah sebagai berikut:
• Allah Sang Causa Prima – rasio murni
• para malaikat dengan wujud yang imaterial
• benda-benada langit (celestial)
• benda-benda bumi (terestial)
Dengan hierarki tersebut Al-Farabi hendak melanjutkan Status Questionis metafisika para filsuf (Yunani Klasik) sebelumnya, bagaimana menjembatani Ada Yang Rohani (Intelligible) dengan ada-ada yang material, bagaimana Ada Yang Tunggal itu (dalam bahasa Plotinos To Hen) menjadi ada-ada yang plural, dan bagaimana Ada Yang Kekal (tak berubah) menjadi ada-ada yang temporal (berubah). Dia memakai teori emanasi Plotinos untuk menjawab hal tersebut. Namun, Al-Farabi menambah beberapa hal dalam teori tersebut sehingga teori emanasi Al-Farabi memiliki ciri khasnya sendiri dan pula uraian Al-Farabi lebih ilmiah.


Tuhan adalah Causa Prima dan Tuhan adalah rasio murni. Tuhan adalah esa, maka Tuhan hanya memerlukan Zat/Substansi-Nya sendiri untuk mengetahui Diri-Nya sendiri. Emanasi itu timbul karena pengetahuan Tuhan terhadap Zat/Substansi-Nya yang tunggal itu. Dasar emanasi tersebut adalah karena dalam pemikiran Tuhan (dan pemikiran akal-akal tersebut) terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan, seperti halnya manusia yang berpikir akan menciptakan sesuatu lalu tergerak untuk mewujudnyatakan idenya itu.
• Tuhan adalah Wujud I (wajib-ul wujud li dhatihi) dan dari Wujud I timbul Akal I (al-aql al-awwal).
• Akal I adalah Wujud II, darinya timbul akal II yang memantulkan falak aqsa, dari akal I timbul langit I
• Akal II adalah Wujud III, darinya timbul akal III yang memantulkan bintang tetap (al-kawatib at-tsabitah)
• Akal III adalah Wujud IV, darinya timbul akal IV dan memunculkan Planet Saturnus (Zuhl)
• Akal IV adalah Wujud V, darinya timbul akal V dan memunculkan Planet Yupiter (Mushtari)
• Akal V adalah Wujud VI, darinya timbul akal VI dan memunculkan Planet Mars (Marish)
• Akal VI adalah Wujud VII, darinya muncul akal VII dan memunculkan matahari (Shams)
• Akal VII adalah Wujud VIII, darinya muncul akal VIII dan memunculkan Planet Venus (Zuhrah)
• Akal VIII adalah Wujud IX, darinya muncul akal IX dan memunculkan Planet Merkurius (Utharid)
• Akal IX adalah Wujud X, darinya muncul akal X dan memunculkan Bulan (Qamar)
• Akal X memunculkan manusia, wujud yang mumkin.

Jumlah akal dibatasi sepuluh karena ada sembilan bintang. Diperlukan satu planet untuk masing-masing akal, kecuali akal pertama yang tak disertai suatu planet pun ketika keluar dari Tuhan. Al-Farabi berpendapat bahwa jumlah bintang ada sembilan. Menurut Aristoteles jumlah benda angkasa ada tujuh. Al-Farabi menambah lagi dua benda langit yaitu benda langit terjauh (al-falak al-aqsha) dan bintang-bintang tetap (al-kawatib at-tsabitah) berdasarkan teori Ptolomaeus, seorang ahli astronomi dan ilmu bumi Mesir pada abad II Masehi. Sembilan dari sepuluh akal tersebut mengurus kesembilan benda langit, sedangkan akal X (akal Bulan/Qamar) mengawasi dan mengurangi kehidupan di bumi. Berbeda dari Tuhan yang hanya memiliki satu obyek pemikiran (Zat-Nya sendiri), akal-akal tersebut memiliki dua obyek pemikiran yaitu Tuhan (Zat wajib-ul wujud) dan diri akal-akal itu sendiri.

Dengan teori emanasi secara sistematis dan logis Al-Farabi menjelaskan bagaimana semesta ini (memperoleh) ada. Yang benar-benar ada adalah Tuhan (wajib-ul wujud li dhatihi), sedangkan yang lain mendapat ada dari Sang Ada. Uraian Al-Farabi ini berbeda dengan paham penciptaan tradisional, penciptaan melalui Kun Fayakun (Creatio ex Nihilo).

Penutup
Al-Farabi berkeyakinan bahwa kebenaran filsafat (akal budi) dan wahyu sebenarnya adalah sama. Maka, dia berusaha menyelaraskan keduanya. Dia membahasakan kebenaran wahyu secara rasional dan mengharmonikan kebenaran filsafat dengan wahyu (Al-Quran). Al-Farabi dengan teorinya telah berhasil mempertanggungjawabkan secara rasional ajaran Islam tentang keesaan Allah. Bahkan, dia telah berhasil menyelaraskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani Klasik. Dia berhasil secara sistematis membangun tonggak-tonggak filsafat Islam. Emanasi Al-Farabi kemudian diteruskan oleh Ibn Sinna. Teori pengetahuan, filsafat manusia, serta filsafat kenabian diturunkan pula dari teori emanasi ini.

Namun, Al-Farabi tidak merasa puas. Untuk lebih menjembatani akal budi dan wahyu, dia memakai Tasawwuf/Sufisme. Bagi Al-Farabi, sebagaimana Plato, Kebenaran Utama tidak terperikan dan hanya dapat dijangkau dengan ketajaman batin dan dengan renungan seorang filsuf.


Pemikirannya tentang emanasi dapat menjadi pintu dialog bagi iman Kristiani untuk menjelaskan esensi Yesus (sebagai Firman Allah). Namun, perlu disadari sebelumnya bahwa pemikirannya tak lain adalah pembahasaan secara rasional aliran Islam Syi’ah Imamiah. Sehingga, teori emanasi Al-Farabi baru menjadi batu loncatan pertama dialog sebab aliran Islam mayoritas di Indonesia adalah Sunni.

Bibliografi
Al-Ahwani, Ahmad Fuad
1993 FILSAFAT ISLAM, Jakarta: Pustaka Firdaus

Fakhry, Majid
2002 AL-FARABI, Founder of Islamic Neoplatonism, His Life, Works and Influence, Oxford: Oneworld

Heru Prakosa, J. B. & J. Hadiwikarto
1997 FILSAFAT–TEOLOGI ISLAM, Yogyakarta: Fakultas Teologi USD

Nober, Antonius, dkk.
2009 FILSAFAT ISLAM – Al-Kindi, Al-Farabi, Abu Bkr Al-Razi, Yogyakarta: Fakultas Teologi USD

Nurisman
2004 DINIKA Vol. 3 Januari, Pemikiran Metafisika Al-Farabi, 83-100

Sudarsono
2004 FILSAFAT ISLAM, Jakarta: Rineka Cipta

Tuesday, April 13, 2010

LUDWIG ANDREAS FEUERBACH (Homo Homini Deus)

LUDWIG ANDREAS FEUERBACH (Homo Homini Deus)
-Padmo Adi-


Ludwig Andreas Feuerbach terkenal dengan bukunya “Das Wesen des Christentums/The Essence of Christianity/Inti Kristianitas”. Buku ini oleh Arnold Ruge, Karl Marx, Friedrich Engels, Richard Wagner, dan David F. Strauss dikatakan sabagai “Kebenaran pada Masa Kita”. Thesis dari buku ini sebenarnya hanya sederhana dan berangkat dari filsafatnya yang berlatar belakang Hegelian –Feuerbach adalah seorang Hegelian sayap kiri– tetapi ketika semakin menyelami buku itu, kita akan mendapati pembahasan yang jauh lebih rumit.

Feuerbach menerima dari Hegel suatu konsep tentang bagaimana seorang manusia menjadi diri sendiri. Untuk menjadi diri sendiri, seseorang harus menjadi obyek bagi dirinya sendiri. Ibaratnya, seorang aktor mengetahui dirinya adalah seorang aktor dengan memainkan sebuah naskah drama di atas pertunjukan teater dan diapresiasi oleh penonton. Seseorang memiliki hakikat. Dengan mengobyektivasi hakikatnya itu, seseorang dapat memandang dirinya sehingga mengetahui siapa dia sebenarnya. Dia memproyeksikan hakikatnya itu keluar sehingga menjadi nyata dan dia dapat mengamati dan mengenalinya.

Sejauh ini Feuerbach membicarakan hakikat individual, bagaimana seseorang mengenali dirinya sendiri dengan memproyeksikan hakikatnya itu ke alam obyektif. Namun, Feuerbach tidak hanya berhenti pada pembicaraan itu. Dia mengatakan bahwa,”Aku akan menjadi aku yang sejati berkat adanya kamu. Manusia baru menjadi manusia berkat manusia yang lain.” Hubungan itu tidak hanya terbatas pada hubungan antarindividu, tetapi adalah hubungan bangsa manusia (Gattung).

Manusia sebagai individu itu terbatas. Manusia menyadari dirinya terbatas karena dia melihat bahwa bangsa manusia, sekumpulan besar manusia, adalah tidak terbatas. Feuerbach sepertinya tidak membatasi kumpulan manusia ini (Gattung) dengan waktu, sehingga baik manusia yang hidup di masa prasejarah, masa kuno, masa medieval, masa modern (sezaman dengannya sendiri), dan masa postmodern adalah satu bangsa manusia yang menjadi obyek seorang individu untuk mengenali dirinya sendiri. Feuerbach berkata,”Individu memang dapat dan harus merasakan dan menyadari dirinya terbatas karena ketidakterbatasan bangsa manusia merupakan obyek baginya.”

Karena menyadari dirinya sebagai individu terbatas, manusia melahirkan suatu ideal-ideal tertentu. Misalnya, manusia menyadari bahwa dia adalah makhluk yang terikat pada ruang dan waktu dan kelak suatu waktu dalam hidupnya dia akan mengalami apa yang disebut dengan kematian, maka manusia mengidealkan sesuatu yang tak terikat ruang dan waktu, yang kekal, yang tak dapat mati. Hal itu kemudian menjadi ide tentang kekekalan dan keabadian. Lebih jauh, hal ini kemudian melahirkan ide tentang Allah yang kekal dan yang kemudian disembah dalam agama dan kepada-Nya sang manusia beriman.

Menurut Feuerbach, kepercayaan religius manusia kepada Allah merupakan kepercayaan manusia kepada ketidakterbatasan dan kebenaran hakikatnya sendiri. Sejauh ini Feuerbach menilai positif agama. Agama adalah proyeksi hakikat manusia. Dalam agama manusia dapat melihat siapa dia, misalnya bahwa dia kuasa, kreatif, baik, berbelaskasihan, dapat saling menyelamatkan, penuh cinta-kasih, selalu mencipta, rela berkorban, bijaksana, pemurah, pengampun, dll. Proyeksi itu kemudian dipersonifikasikan dan diberi nama Tuhan, Allah, atau dengan sebutan apapun manusia menyebut-Nya. Maka, sebenarnya bukan Tuhan yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya, melainkan manusialah yang menciptakan Tuhan seturut gambar dan rupanya.

Manusia lupa bahwa itu adalah proyeksi diri mereka sendiri. Mulai titik ini Feuerbach melancarkan serangannya. Proyeksi yang pada akhirnya dipersonifikasikan itu dianggap benar-benar ada dan mandiri, sebagai subyek yang bereksistensi pada Diri-Nya sendiri. Personifikasi yang disebut Tuhan, Allah, atau dengan sebutan apapun manusia menyebut-Nya itu pada akhirnya disembah padahal tidak nyata. Manusia lupa bahwa yang dia sembah sebenarnya tak lain adalah proyeksi dirinya sendiri (dan Trinitas itu tak lain adalah ideal manusia akan budi, kehendak, dan cinta). Manusia sebegitu terpesona oleh sembahannya yang tak terbatas itu, bahkan kemudian dia menjadi takut.

Bukannya manusia berusaha mewujudkan diri sesuai dengan hakikat dan ideal yang dia proyeksikan, manusia malah menyembah dan mengharap berkat dari proyeksinya itu. Sebagai gambaran adalah Bangsa Israel yang membuat patung lembu emas dan kemudian menyembah ciptaannya sendiri. Manusia menjadi pasif. Dengan demikian manusia teralienasi dari hakikatnya sendiri. Agama justru mengasingkan manusia dari kesejatian dirinya sendiri. Dari pada bersusah-susah memanifestasikan kemanusiaannya, dari pada berusaha menjadi kuat, menjadi murah hati, menjadi penuh cinta-kasih, menjadi adil, menjadi baik, manusia justru lebih senang memandangi idealnya tersebut, menyembahnya, dan mengharapakan sifat-sifat itu dianugerahkan kepadanya. Dari pada bersusah-susah mengusahakan kebahagiaan sewaktu masih hidup dalam kini-sini, manusia lebih senang berharap bahwa kelak suatu saat nanti akan ada kehidupan setelah kematian di mana manusia dapat bahagia selamanya.

Secara khusus, penyembahan proyeksi ideal dirinya sendiri itu menghambat manusia memanifestasikan hakikatnya yang adalah makhluk sosial. Maka, tak heran jika manusia beragama dengan agama apapun sering tampak intoleran dan fanatik. Feuerbach yakin bahwa kepercayaan kepada Tuhan, Allah, atau dengan nama siapapun manusia menyapa-Nya, hanya akan menghalangi kedewasaan, kebebasan (mengada) manusia, kemajuan, ilmu pengetahuan, dan pencerahan.

Maka, menurut Feuerbach, agar alienasi itu dapat teratasi dengan baik dan manusia dapat menjadi dirinya sendiri secara utuh-penuh, manusia perlu menihilkan agama. Ia harus menarik agama ke dalam dirinya sendiri. Teologi harus menjadi antropologi. Dan, manusia akan menyadari bahwa yang selama ini dia sembah, yang kepada-Nya manusia berdoa, yang kepada-Nya manusia takut, yang kepada-Nya manusia terpesona, yang kepada-Nya manusia beriman, sebenarnya tak lain adalah hakikat kemanusiaannya sendiri. Homo homini Deus.

Bibliogarfi
Hardiman, F. Budi
2007 FILSAFAT MODERN, Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia

Jacobs, Tom
2006 PAHAM ALLAH, Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius

L. Tjahjadi, Simon Petrus
2007 TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz
2006 MENALAR TUHAN, Yogyakarta: Kanisius

Sunday, April 11, 2010

MANUSIA SUBYEK AUTONOM

MANUSIA SUBYEK AUTONOM
-Padmo Adi-

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas. Dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu . Perealisasian kemanusiaan ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya bekerja.

Dalam sistem kapitalisme orang-orang bekerja pada seorang pemilik modal (kapitalis). Sistem kapitalisme sebenarnya adalah sistem yang bebas, bebas dari pembatasan apapun, bebas untuk memproduksi barang sebanyak apapun. Tujuan sistem ini adalah keuntungan sebesar mungkin, uang sebanyak mungkin. Hal ini memberi ruang bagi manusia-manusia egois dan serakah. Para kapitalis itu saling bersaing; yang kuat menang, yang lemah kalah. Untuk bersaing produktivitas produksi harus ditingkatkan, biaya produksi ditekan serendah mungkin . Tentu biaya produksi itu termasuk gaji/upah para pekerja.

Para pekerja yang disebut buruh itu semakin miskin. Mereka merosot ke bawah syarat-syarat eksistensi kelas mereka sendiri [MCP, MEW 4, 473]. Di sinilah letak ketidakadilan itu. Para buruh itu bekerja tidak lagi untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka, tapi semata untuk uang. Mereka kehilangan kebebasan justru oleh sistem yang bebas. Eksistensi mereka tertindas oleh overeksistensi sekelompok kecil orang yang disebut kaum kapitalis. Mereka dieksploitasi oleh kelompok kecil itu.

Kebebasan manusia terletak pada motivasinya. Manusia memutuskan apa yang ingin diperbuatnya, tidak seperti binatang yang ditentukan oleh lingkungannya . Dalam kapitalisme kaum buruh tidak dapat memutuskan apa yang ingin diperbuatnya karena dalam kemiskinan (dan pemiskinan) mereka butuh uang.

Ketika seseorang menyadari kemanusiaannya, dia akan memanifestasikannya. Dia akan mengada sesuai adanya. Dia adalah subyek, tuan atas nasibnya sendiri. Dan, subyek-subyek yang lain pun pasti mengalami hal itu. Maka, eksistensi subyek yang satu dibatasi oleh eksistensi subyek yang lain. Di sinilah letak keadilan itu. Menurut Gabriel Marcel adalah hubungan subyek-subyek (ich-du), bukan subyek-obyek (ich-es). Jadi, sistem kapitalisme adalah sistem yang tidak adil.

Antitesis dari kapitalisme adalah sosialisme. Sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme juga adalah pendiktean orang banyak oleh sekelompok kecil orang, jadi esensinya sama dengan kapitalisme (sama-sama kanan), hanya beda pada eksistensi dan cara. Sosialisme berusaha menghapus penghisapan orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sosialisme, kata Sjahrir, adalah ajaran dan gerakan mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan .

Sosialisme mendorong subyek-subyek untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka masing-masing tanpa terjadi overeksistensi. Sosialisme adalah konsekuensi logis eksistensialisme. Dan, sosialisme adalah solusi keadilan atas ketidakadilan dalam kapitalisme.


Bibliografi
Leahy, Louis,
2007 Siapakah Manusia?, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz,
1999 Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia

Mangunwijaya, Y. B.,
1998 Menuju Republik Indonesia Serikat, Jakarta: Gramedia

Sartre, Jean-Paul
2002 Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Friday, April 9, 2010

EKSISTENSI MANUSIA - Proses Menyempurnakan Cinta

EKSISTENSI MANUSIA - Proses Menyempurnakan Cinta
-Padmo Adi-

1. Pengantar
Apa manusia? Siapa manusia? Dan, bagaimana manusia? Pertanyaan itu adalah pertanyaan eksistensial yang dipertanyakan oleh manusia sendiri dalam kesadarannya. Bahkan, pertanyaan itu sudah dipertanyakan sejak manusia sadar akan keberadaan dirinya. Lewat cerita-cerita mitologi hingga refleksi-refleksi filosofis dari era-era sebelum Masehi hingga abad postmodern ini manusia selalu mencoba menemukan jawab.


Tiga pertanyaan sederhana itu dapat diulas dalam suatu skripsi tebal atau suatu buku beratus-ratus halaman atau dibahas oleh beribu-ribu filsuf dengan beragam refleksi mereka. Akan tetapi, penulis mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan itu dalam paper ini saja. Tidak bermaksud menyepelekan atau menihilkan esensi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tapi semata hendak menjawab kegelisahan penulis sendiri dan merekam dinamika proses keikutsertaan penulis bergulat atas tiga pertanyaan itu; sejauh mana penulis dalam pencariannya. Siapa tahu paper ini dapat menjadi batu loncatan dalam proses pencarian selanjutnya.

2. Kesadaran Akan Ada
Secara empiris manusia merasakan bahwa materi-materi yang ada disekitarnya adalah ada . Manusia kemudian menyadari bahwa materi-materi itu ada. Begitu pula dengan dirinya sendiri, manusia menyadari dirinya ada. Namun, bagaimana? Bagaimana semua materi itu bisa ada? Bagaimana manusia itu bisa ada pula? Mungkinkah adanya materi-materi itu sebenarnya tidak ada, dan berarti adanya manusia itu sebenarnya juga tidak ada? Dari ada-ada itu pastilah ada Ada yang mengatasi, suatu causa prima, suatu Ada yang pertama yang menyebabkan ada-ada yang lain. Maka, tanpa Ada, mustahil ada ada-ada yang lain.

Kita dapat mengenal dan menyadari adanya Ada lewat beradanya ada-ada yang lain (termasuk manusia), secara sederhana lewat pengalaman inderawi. Kita mendengar musik. Jika musik tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada seni. Jika seni tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada manifestasi kemanusiaan. Jika manifestasi kemanusiaan tidak pernah ada, dapat dibayangkan manusia tidak pernah ada. Jika manusia tidak pernah ada, dapat dibayangkan dunia di mana manusia ikut ambil bagian membentuknya tidak pernah ada. Jika dunia tidak ada, dapat dibayangkan ruang tempat dunia (seharusnya) ada tidak ada. Jika ruang tidak ada, dapat dibayangkan semesta tidak ada. Jika semesta tidak ada, dapat dibayangkan segalanya tidak ada. Jika segalanya tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan . Dan, itu mustahil sebab ketiadaan tidak pernah sekaligus ada .

3. Kesadaran akan Ada Tidak Bertentangan dengan Materialisme
Warren Shrader dalam jurnal Faith and Philosophy edisi 23 no. 1 Januari 2006 mengkritik argumen William Hasker tetang “A Unity-of-consciousness (UOC) against Materialism”. Dalam pembahasannya Warren Shrader sampai pada kesimpulan,”And, thus the materialist should not feel at all threatened by Hasker’s UOC argument.” Kesadaran adalah hasil paduan antara unsur-unsur apriori dengan aposteriori ; perpaduan antara pengenalan usur fisik dengan metafisik. Jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika .

Ada bukanlah suatu masalah. Masalah adalah suatu obyek di luar aku. Padahal, Ada bukanlah obyek di luar aku. Ada adalah suatu misteri . Aku berproses menjadi ada. Aku ada, tapi belum sempurna. Belum tidak berarti tiada. Belum berarti ada, tapi tidak sempurna. “Menjadi” adalah suatu proses menuju keadaan sempurna. Sedangkan Ada itu sempurna sebab Ada mengatasi dan mengadakan ada-ada yang lain. Ada yang sempurna itu adalah suatu misteri. Namun, Ada dapat dirasakan melalui ada-ada sebab ada-ada berada oleh karena Ada. Sedangkan ada-ada itu dalam adanya adalah materi.

4. Berada adalah Proses “Menjadi” Sesuai Hakikat Diri
Jika manusia adalah ada yang berada oleh karena Ada, bagaimana aku ini berada? Apakah adaku ini hanya sekadar ada begitu saja? Apakah aku tidak bisa berada sesuai dengan cara yang kukehendaki? Adaku adalah proses pencarian dan manifestasi hakikat diri. Hakikat diri adalah suatu kebenaran yang kemudian aku sadari dan aku pilih untuk kuhidupi dengan komitmen sebagai tindakan beradaku .
Bagaimana aku menyadari atau setidaknya mengetahui hakikat diriku? Dalam ketidaktahuan aku mengidentivikasi segalanya ke dalam diriku . Aku melakukan dan menikmati apa saja . Namun, dengan demikian beradaku adalah sekadar ada sebab hakikat diriku tidak tampak. Dalam perjalanan aku menemukan identivikasi yang beresonansi dengan hakikat diriku. Dengan demikian sedikit banyak aku mulai sadar atau setidaknya mengetahui hakikat diriku. Kemudian, aku harus mengambil sikap. Aku bisa memilih untuk tetap angin-anginan mencoba dan menikmati segalanya atau aku memilih satu identivikasi yang beresonansi dengan dan kupercayai adalah hakikat diriku . Dengan memilih aku mengarahkan proses beradaku. Beradaku memiliki tujuan.

Akan tetapi, apa arah dan tujuan beradaku? Arah dan tujuan beradaku adalah berada sesuai dengan kebenaran di dalam diri, hakikat diri. Melalui dan di dalam hakikat diri Ada menuntun bagaimana sebenarnya aku berada. Adaku yang selaras dengan hakikat diri adalah adaku yang selaras dengan tujuan Ada membuatku ada.

5. Ada adalah Cinta
Oleh karena Ada aku ada. Dan, aku memilih untuk berada sesuai dengan hakikat diriku. Aku memanifestasikan diri sesuai hakikat diriku berarti aku membebaskan hakikat diriku. Dengan membebaskan hakikat diri, secara leluasa dan merdeka aku bisa mencinta. Aku berada secara merdeka untuk secara leluasa mencinta, maka hakikat diri adalah cinta. Hakikat diri yang adalah cinta itu kumanifestasikan dengan cara yang kupilih dan yang kupercayai paling sesuai dengan sebenarnya aku ada seperti maksud Ada membuatku ada. Jadi, proses “menjadi”, proses “berada” adalah proses semakin sempurna dalam cinta.

Berada sesuai dengan hakikat diri berarti mencintai diri sendiri. Jika aku bisa mencintai diri sendiri, aku akan mampu mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan egois . Jika aku mau dengan bebas mencintai, aku akan mau dengan bebas dicintai sebab orang lain pun mengalami proses yang sama seperti yang kualami. Di sini terjadi hubungan berada ich-du (subyek-subyek) yang adalah wir dan bukan ich-es (subyek-obyek). Hubungan berada ich-du terjalin jika ada cinta. Jika rasa cinta ditransformasikan menjadi rasa hormat, cinta itu akan semakin dalam menyatukan, tapi tidak meleburkan karena dalam peleburan ada unsur possesive yang adalah hubungan ich-es. Dan pula, hanya dengan pertemuan dan hubungan antarmanusia, seorang manusia dapat menembus sampai pada (citra) hakikat Ada .

Aku merasakan Ada lewat ada-ada yang lain dan yang kualami dengan ada-ada yang lain adalah cinta. Cinta itu hakikat diri. Hakikat diri adalah wahana Ada menuntun proses beradaku, wahana tempat aku pun bisa merasakan Ada; hakikat diriku adalah citra hakikat diri Ada. Namun, Ada sebenarnya jauh lebih dari pada apa yang mampu kita pikirkan. Yang mampu kita kenali hanyalah citra Ada yang Ada sudi tampakkan. Maka, Ada adalah Cinta. Dan, adaku (yang dengan bebas kusadari dan kupilih dengan konsekuensi) adalah proses menuju (kesempurnaan) cinta.

6. Kesimpulan
Manusia ada tidak secara kebetulan. Manusia ada oleh karena Ada sebab manusia adalah salah satu ada yang berada oleh karena Ada. Namun, manusia bebas dalam berada. Manusia dapat seakan-akan ada dengan berada tanpa tujuan. Akan tetapi, manusia mampu memilih untuk berada sesuai dengan hakikat dirinya, bagaimana manusia berada secara sebenarnya sesuai dengan maksud Ada. Dengan berada sesuai hakikat diri, manusia dapat dengan bebas mengalami cinta (mencinta dan dicinta). Proses “berada” ini, proses “menjadi” ini, tidak lain adalah proses menuju ke kesempurnaan cinta.

7. Apendix - Antara Eksistensi dengan Esensi
Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.
Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.



8. Bibliografi
Atkinson, R. L. - R. C. Atkinson - E. R. Hilgard,
1991 Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan, I, Erlangga, Jakarta.

Bertens, K.,
1976 Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta.
1985 Filsafat Barat Abad XX, II, Prancis, Gramedia, Jakarta.
1987 Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta.

Compleston, F.,
1972 Contemporary Philosophy, Search Press, London.

Delfgaauw, B.,
1988 Filsafat Abad 20, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.

Gallagher, K. T.,
1986 The Philosophy of Knowledge, Fordham University Press, New York.

Gardiner, P.,
1988 Past Masters: Kierkegaard, Oxford University Press, New York.

Hamersma, H.,
1983 Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jakarta.

Leahy, L.,
2007 Siapakah Manusia?, Kanisius, Yogyakarta.

Lemay, E. - J. A. Pitts,
2005 Heidegger untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta.

Shrader, W.,
2006 The Unity of Consciousness: Trouble for The Materialist or Emergent Dualist?, Faith and Philosophy vol. 23 no. 1 January 2006, 33 - 44.

Wednesday, March 31, 2010

SOSIALISME ADALAH KONSEKUENSI LOGIS EKSISTENSIALISME

SOSIALISME ADALAH KONSEKUENSI LOGIS EKSISTENSIALISME

Abstrak
Manusia pasti mati. Sebelum mati manusia hidup. Kematian adalah kristalisasi kehidupan. Maka, setiap manusia memiliki tujuan dalam hidupnya, kebahagiaan. Kebahagiaan ini dapat diartikan bermacam-macam sesuai dengan pemahaman dan perjuangan masing-masing individu. Demi menggapainya, manusia memaknai hidupnya dengan segenap kekuatannya, bahkan menghalalkan segala cara. Dinamika ini menjadi inti kehidupan. Karena diartikan bermacam-macam, tidak mustahil seorang individu hanya mengartikan kebahagiaan itu dalam ranah yang lebih sempit (kekuasaan misalnya) sehingga seorang individu tega menindas individu lainnya. Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi liyan. Ingin menggapai kebahagiaan maksudnya, tapi justru menindas kemanusiaan di mana tertanam benih-benih kebahagiaan itu sendiri. Lalu, bagaimana seorang individu berotonomi dalam korelasinya dengan kumpulan individu, bahwa pada hakikatnya homo homini socius, manusia adalah rekan bagi liyan? Manusia dalam kesatuan badan-jiwa sebagai pribadi yang otonom sekaligus bersosial dalam usaha menggapai kebahagiaan.

Otonomi Individu
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas, kata Sartre, dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu. Dinamika ini adalah dinamika penggapaian kebahagiaan. Pada saat manusia mengaktualisasikan diri, segenap potensi yang ada terungkapkan. Hal itu ada dalam kesatuan badan-jiwa; jiwa mempribadi dan badan membudayakan kepribadian itu. Ketika seorang individu mencapai aktualisasi diri, hidupnya akan mencapai kepenuhan dan dia mencecap kebahagiaan itu. Dan, pengungkapan potensi ini terjadi lewat pilihan-pilihan yang dibuat.

Seorang individu menyadari dirinya ada. Dia adalah tuan atas nasibnya sendiri. Dia adalah seorang yang bebas dan otonom. Inilah kegelisahan individu, kata Sartre, bahwa dia mengetahui dia hidup. Apa hidup jika akhirnya mati? Maka, manusia mencari makna. Dalam setiap pilihan hidupnya yang bebas dan mandiri, individu selain menstrukturasi diri juga sekaligus memberi makna. Hidup itu adalah memilih, bertanggung jawab atas pilihan itu dengan menanggung segala konsekuensi, dan jangan sesali. Dalam memilih, seorang individu memiliki kedaulatan yang absolut. Orang lain boleh memberi saran, tapi keputusan terakhir selalu ada di tangan sang individu. Ketika sang individu memilih tidak sesuai dengan kemanusiaan yang tertanam dalam dirinya, dia akan mengalami alienasi, jauh dari gambaran diri sejatinya, bahkan jauh dari gambaran kemanusiaan itu sendiri.

Korelasi Antarindividu
Aku akan menjadi aku yang sejati berkat adanya kamu, kata Feuerbach, hakikat manusia itu terdapat hanya di dalam kebersamaan, dalam persatuan manusia dengan manusia lain. Setiap individu selalu bereksistensi di dalam koeksistensi dengan individu lainnya. Ketika aku menyadari bahwa aku ada, bahwa diriku berharga, dan bahwa aku adalah subyek yang otonom, aku pun menyadari bahwa liyan ada, bahwa liyan juga berharga, dan bahwa liyan adalah pula subyek yang otonom sebab mustahil aku menyadari keadaan ini tanpa kehadiran liyan. Kesadaran ini akan membuat aku tidak hanya bertanggung jawab atas diriku sendiri, tetapi juga bertanggung jawab atas liyan. Sebab tanpa ‘kamu’, takkan ada ‘aku’.

Adalah sia-sia ketika sang individu berhasil menggapai kebahagiaan (sesuai dengan apa yang dia terjemahkan) tanpa ada seorang pun dengannya dia berbagi. Dia akan mengalami suatu involusi. Pada hakikatnya manusia adalah homo homini socius. Dalam kebersamaan manusia dapat saling berbagi kehidupan, berbagi nilai-nilai yang diperjuangkan, berbagi kebahagiaan, berbagi perjuangan itu sendiri, saling mereproduksi (baik biologis maupun nilai), saling mengoreksi. Dengan demikian kehidupan akan berjalan dengan dinamis.

Namun, karena tidak pernah merasakan cinta seorang individu dapat menjadi orang yang egois. Egois tidak sama dengan mencintai diri sendiri, kata Louis Leahy, orang yang egois justru orang yang mencintai diri secara buruk. Karena tidak mampu mencintai diri sendiri, dia takkan mampu mencintai liyan dengannya dia berkorelasi. Cinta adalah inti dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Ketidakmampuan untuk mencintai (dan dicintai) ini akan membuat sang individu semakin asing dari kemanusiaannya sendiri. Orang yang terasing dari kemanusiaannya sendiri ini dapat menerjemahkan kebahagiaan dalam ranah yang lebih sempit (kekuasaan, kepemilikan, ketenaran). Dia ingin menelan kebahagiaan itu sendiri. Ketiadaan cinta membuat hatinya hampa. Ketika dia menelan semuanya itu, semuanya itu akan lenyap pula dengan segera sehingga dia melakukan segala cara untuk dapat memenuhi kehampaan hatinya dengan kebahagiaan itu. Orientasinya adalah diri sendiri sehingga tidak masalah jika dia harus menindas, mengeksploitasi, menginjak-injak liyan (bahkan dunia seisinya). Homo homini lupus. Contoh-contoh nyata dapat kita lihat dalam wajah keseharian bangsa kita.

Kesimpulan
Ketika sang individu menjadi homo homini lupus, sebenarnya dia tidak mengalami aktualisasi diri, kemanusiaannya yang tertanam dalam kediriannya tidak termanifestasikan, dia tidak bereksistensi sesuai esensi. Dan, ketika sang individu menjadi homo homini socius, dia telah dan sedang mengaktualisasi diri, telah dan sedang memanifestasikan kemanusiaannya, dan dia sedang bereksistensi sesuai esensi. Maka, sosialisme (atau dengan nama apapun kita menamai koeksistensi ini) adalah konsekuensi logis eksistensialisme (atau dengan nama apapun kita menamai eksistensi ini). Sedikit catatan, sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme, menurut Y. B. Mangunwijaya, pada hakikatnya sama dengan kapitalisme, kanan, yaitu eksploitasi orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sedangkan sosialisme, menurut Sutan Sjahrir, adalah emansipasi rakyat, atau dapat diterjemahkan emansipasi masing-masing individu untuk memanifestasikan kemanusiaannya.

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Wednesday, March 24, 2010

SEKUNTUM DOA UNTUK TUHAN DI SURGA

Tuhan kami yang ada di surga
apakah Kaupernah memandang kami di dunia?

Dimuliakanlah Nama-Mu
dengan keadilan dan emansipasi sosial manusia

Datanglah Kerajaan-Mu pada hari ini
sehingga orang miskin dapat sekolah, berobat, dan makan
atau, haruskah kami datangkan sendiri Kerajaan Surga itu
dengan memaksa-Mu hadir di tengah-tengah kami?!

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
namun kami yakin ketimpangan sosial ini bukan salah satunya
dan kami yakin surga tidak sekacau-balau ini

Berilah kami rezeki pada hari ini
atau setidaknya berilah kami jalan untuk mendapatkan sesuap nasi
sebab kami tak butuh makanan melimpah
hanya nasi untuk anak kami yang kelaparan

Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami
karena kami terpaksa memberontak
dan membunuh mereka yang senantiasa menekan dan menindas kami
bukan karena kami benci atau ingin membalas
semata hanya ingin membela diri
setelah sekian tahun tak mendapat keadilan
tapi jika memang salah, kami siap menanggung dengan adil
seperti yang bersalah kepada kami menanggung kesalahannya dengan adil
tidak bersilat lidah dan mengambinghitamkan yang tak bersalah
atau membayar makelar kasus
atau mendapat perlakuan VIP di hotel prodeo
sebab sudah cukup satu Tibo dan sudah cukup tragedi ’65 yang tak selesai
atau penggelapan-penggelapan harta rakyat

Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
sebab kami, manusia, memiliki batas kesabaran
atau haruskah kami membunuh-Mu pula
sehingga dapat memperjuangkan keadilan ini sendiri?
janganlah kami mengulang seruan “Eli, lama sabakhtani?!”

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
sebab manusia sekarang lebih iblis dari pada setan
dan lebih predator dari pada karnivora
atau berilah kami kekuatan untuk melawan mereka yang jahat
atau, akankah Kauberi kami Mesias yang baru?
atau, setidaknya datanglah!
datanglah!
kami merindukan-Mu
dengarkanlah seruan kami
sebagaimana Kaudengarkan seruan Israel saat diperbudak Mesir
datanglah dan bebaskan kami dengan lengan yang teracung...

Izinkan kami mencintai-Mu, Tuhan
dan menghadirkan Kerajaan-Mu di dunia
sebab kami percaya, Kerajaan Surga telah hadir
sejak Pemuda Gondrong itu mati di Kalvari
bahkan sejak lahir di gua yang hina
dan saat hidup di tengah-tengah kami

Kami menanti kepenuhan itu.
Namun, bagaimana kami beriman dan berdoa padamu
serta memuji kebaikan serta keadilan-Mu
di saat hati kami ngilu anak kami hilang diperdagangkan?
di saat anak kami sekarat kelaparan dan menahan pedih sakit?
di saat kami tak bisa menyekolahkan anak kami?
di saat tak sesuap pun nasi dapat mengenyangkan perut anak kami?
sementara tikus-tikus menari dan lepas bebas dengan uang kami?!

Jangan biarkan doa-doa kami hanya menjadi candu yang meninabobokan
dan membuat kami enggan lagi berjuang menghadapi kenyataan

(sela)

Sungguh
kadang aku berharap tak pernah mengenal-Mu
Dengan tak mengenal-Mu bukan berarti aku pasti hidup tak bermoral, bukan?
Aku muak ditanyai tentang misteri Ada-Mu
Mengapa mereka senantiasa menanyakan itu?
Mengapa mereka selalu mempermasalahkan itu?
Kuharap aku tak pernah menyelami misteri-Mu sehingga sama sekali tak tahu jawab

Mengapa mereka tidak bertanya
bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini sedemikian rusak moralnya
compang-camping masyarakatnya
dan menyedihkan kemanusiaannya?!

Sebab aku percaya
verus philosophus amator Dei
amator Dei amator homini
quia homo imago Dei est
et
Gloria Dei vivens homo!!!



Ah, aku hanya pemuda berdosa yang berdoa.

Amin.

Sarang Kalong, 28 Januari 2010
Kalong Gedhe

Tuesday, March 16, 2010

BUKU HARIAN

BUKU HARIAN

Minggu, 14 Maret 2010
Aku masih belum tidur, merenungkan peristiwa tadi siang. Istriku sudah pulas duluan. Sebenarnya dia pasti akan selalu memaksaku untuk menemaninya tidur supaya aku tidak tidur terlalu larut. Namun, malam ini aku memohon kepadanya supaya tidur lebih dulu. Dia tahu, kalau aku sudah memohon seperti itu, aku akan melakukan kebiasaan lamaku dulu, menulis refleksi di buku harian. Karena hari-hari ini adalah masa pantang dan puasa, tiada sebatang rokok dan secangkir kopi pun menemani. Biarlah, walau nikmat, toh itu kebiasaan buruk. Jika aku mencintai istriku, aku harus mencintai diriku sendiri dengan berhenti mengonsumsi kedua barang nikmat itu. Ya, biar bisa hidup sedikit lebih lama untuk tetap memberi senyum dan sapaan “kumencintaimu” setiap pagi padanya.

Hari ini adalah hari Minggu. Sebuah pagi yang indah, hari baru yang cerah. Istriku membangunkanku dengan sebuah kecup hangat pada kening.
“Met pagi, Pah. Ayo bangun. Ke gereja, ndak?”
“Iya, Mah. Password-nya dulu donk,” jawabku masih mengantuk.
“Ih genit ah... .”
“Ya udah, Papah bobok lagi.”
“Malu ah, sama Damar. Masak kalah sama anakmu sendiri yang baru 4 tahun?”
“Udah bangun dia?”
“Udah mandi malah.”
“Mamah dulu deh yang mandi... .”
“Lo, Mamah masih harus menyelesaikan cuci dan jemur baju. Ya udah... manja ah... . Sini, I love you... .”
“Papah juga love Mamah.”
Segera aku bangun. Istriku segera ke belakang, menyelesaikan pekerjaannya. Kuintip kamar Jagoan Kecilku. Sudah bisa pakai baju sendiri dia, tapi belum bisa mengikat tali sepatunya. “Papah, cepatu... ,” pinta Jagoan Kecilku yang masih cedal itu sambil menunjuk tali sepatunya. Aku masuk. Kuikatkan talinya. Kami tos. Kuberantakkan rambutnya yang memang belum disisir. Lalu, aku pergi mandi.

Pernah pada suatu masa dalam hidupku setiap hari aku merayakan ekaristi. Kadang-kadang tak sempat mandi karena bangun kesiangan. Bangun, kaget melihat jarum jam, lari ke wastafel untuk cuci muka dan berkumur, memakai pakaian putih itu, lalu pergi ke kapel untuk pindah tidur. Pindah tidur? Hehehehe... ya. Sejak tanda salib pembuka hingga berkat penutup, apa lagi saat homili dan Doa Syukur Agung, aku (mungkin juga kami) tidur. Waktu berdiri, ya berdiri, tentu dengan mata masih terpejam. Waktu duduk, ambil posisi yang kira-kira adalah posisi berdoa, sehingga orang takkan menyangka aku (boleh juga dibaca ‘kami’) tengah tidur. Bagi mereka yang jeli dan biasa, tetap bisa melihat perbedaannya, antara doa benar-benar atau tidur. Setelah misa, biasanya kami ibadat pagi, lalu meditasi. Yahaha... meditasi... kesempatan emas untuk tidur lagi. Pernah ada temanku yang tidur sebegitu pulasnya waktu meditasi sehingga dia duduk dengan sebegitu membungkuknya, bahkan ketika jam sarapan tiba, dia masih tidur di kapel dengan pakaian putih itu. Untung Magister kami sedang pergi keluar kota sehingga waktu terbangun dan masuk di refter, temanku itu hanya malu pada teman-teman lain yang tengah asyik menyantap makan pagi.

Pukul 6.40 Inova kustarter dan kubawa ke depan. Jagoan Kecilku masuk. Dia selalu minta duduk di tengah. Istriku masuk ke mobil setelah mengunci semua pintu dan gerbang. Kami meluncur ke Gereja Paroki St. Antonius. Misa dipimpin oleh seorang Pastor Jesuit. Entah benar, entah salah, misa-misa yang dipimpin oleh Pastor-pastor Jesuit selalu ringkas, padat, cepat, tetapi tetap mengena di hati, dan mencerahkan budi, menggerakkan jiwa dan raga untuk melakukan praxis iman. Atau, jangan-jangan mungkin ini hanyalah kesan karena aku tak pernah misa di Gereja Paroki yang lain. Paroki tempat asalku dilayani Pastor-pastor Jesuit. Sekolahku dari SD sampai Universitas dikelolah oleh Pastor-pastor Jesuit. Tempat kerjaku sekarang bosnya seorang Jesuit. Parokiku sekarang juga Jesuit. Jiah... benar-benar ga ada warna lain!

Pastor Jesuit yang mirip biksu itu –karena botak– memberkati kami dengan mendoakan Mazmur Bahasa Ibrani sebelum akhirnya membuat tanda salib besar,”Semoga Allah yang mahakuasa memberkati Saudara sekalian, Bapa, Putra, dan Roh Kudus... .” Kami sekeluarga tidak segera pulang. Sekali-sekali makan di luar.
“Cari Bubur Ayam yuk, Mah.”
“Damar mau Bubur Ayam?”
“ Bubul Ayam jago Damal mau... .”
Kami berdua tertawa.
“Lho, tok teltawa to? Mama cama Papa ni lo... .”
“Mana ada Bubur Ayam jago, Cayangku?” tanya Mamahnya.
“Lha talo ayam yang dicembelih ayam jago, tan blati Bubul Ayam jago?”
Wah, sudah mulai rumit cara berpikir Jagoan Kecilku ini. Jangan-jangan calon filsuf dia.
“Damar, kalau dah jadi Bubur Ayam, kita, ‘kan, ndak tahu itu dulunya ayam jago atau babon. Kita tahunya Bubur Ayam itu enak. Enyak... enyak... enyak... .” kataku.
“Ya ental kalo habis maem tu Damal kukuluyuk, blati yang Damal maem Bubul Ayam jago no.”
“Berarti kalau petok-petok, yang kamu makan Bubur Ayam babon, Cayang?” Mamahnya menggoda.
“Bubul Ayam babon-nya buat Mamah aja bial ngendhog tlus Damal jadi punya adik.”
“Apa hubungannya ngendhog sama punya adik,” aku shock lalu memandang mata istriku. Anak sekecil ini... . Duh, Jagoan Kecilku, belajar apa dia di TK Indonesia Maju itu?
“Ah, Papah gimana sih? Babon-nya Lik Eko abis ngendhog, telulnya pecah, tlus jadi anak-anak ayam. Na, kalo Mamah ngendhog, Damal kan bisa punya adik, weee... .”
Aku dan istriku tertawa.
“Damar mau adik?” tanya Mamahnya.
“He’eh.”
“Sabar ya. Habis kamu nol besar atau sekolah di SD. Biar kamu cukup besar untuk momong adik. Ya?”
“Ciap!!!”
Inova kami telah sampai di kompleks ruko. Hari Minggu seperti ini ruko yang buka tidak sebanyak hari biasa. Warung Bubur Ayam langganan kami cukup laris karena memang terkenal lezat. Namun, sayang, Warung Bubur Ayam itu tidak memiliki tempat parkir yang cukup luas. Pagi ini tempat parkir warung telah penuh. Terpaksa aku memarkir Inova di depan ruko lain yang tutup. Tidak buka, pikirku, maka tiada salahnya numpang parkir di depan ruko itu. Di samping kanan ruko itu kulihat sekilas ada toko bunga. Wah, sehabis makan, bisa membeli sekuntum mawar indah untuk istriku yang cantik, pikirku.

Pada saat menulis buku harian ini, Albert, teman seperjuangan sekaligus teman nakal dulu di Girisonta, sms.
“Hidup X-Men! Aris, met mlm, Bro. Lg ap ni? Reuni yuk. Speak2 lah ky dulu. Long time no see, plus 234 dan kopi htm. Ya cm gt2 i2 ta rekoleksi qt, X-Men, sharing2.”
“Blh2. Lbr Paska? Di mn? Bukit Bintang Jgj ky bbrp wkt lalu? Sl3? Atw... ? Kbri X-Men yg lain, Bro. Cari kpn sm2 free. Aturan ttp b’laku lo, anak-istri tinggal di rmh! Eh, bgm kbr Nana, istrimu?”
“Sdh bln yg ke6 ni. Doain aja, Bro. Untung sermh sm mertua, jd aga tenang.”
“Bert, mo crt ni. Td ad yg tanya, Mas mantan seminaris y? Ya qjwb, ga kok, Pak. Sy bkn mantan seminaris. Cm mantan frater. Wakakakakakakaka XD”
“Wakakakakakakakaka :P Msh gokill jg km. Oklah. CU, Bro.”
“CU soon. Hidup X-Men! eXtra seMENariam ergo sum!!!”

Setelah selesai menyantap Bubur Ayam, kami bertiga beranjak pergi. Kami agak terkejut, Inova kami dihalangi ¬pick-up berisi penuh bunga. Mungkin itu pick-up toko bunga yang letaknya persis di samping kanan ruko yang tutup tadi.
“Permisi, Mas,” sapaku ramah pada pemilik toko.
“Mas yang punya mobil ini ya? Lain kali kalau makan di sana ya parkir di sana donk. Kontraknya lain juga. Sini ni dah punya kontrakan sendiri. Masa makan di sana parkir di sini?” ucap sang pemilik toko ketus dan tak memanusiakan, wajahnya asam tak sedap dipandang.
“Oh... maaf. Ni tadi saya numpang parkir karena di sana penuh.”
“Lha ya nggak. Wong kontraknya dah lain kok.”
Ingin aku meminta maaf sekali lagi, tapi kulihat kayu salib ber-corpus dan patung Bunda Maria di toko bunga itu. Aku marah. Bagaimana mungkin seorang Katolik, pada Hari Minggu –kuasumsikan dia sudah pergi misa di Gereja–, memajang salib ber-corpus dan patung Bunda Maria di tokonya, berwajah asam, marah-marah tanpa alasan mendasar, dan tidak memanusiakan manusia seperti itu? Apakah pantas dia disebut Katolik yang mengajarkan Cinta-Kasih; kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri?

Aku menghembuskan nafas panjang untuk menetralisasi amarahku. Segera aku meminta maaf sekali lagi, tapi kali ini dengan ketus. Setelah keluargaku masuk mobil, kustarter dan kugas agak kencang. Agak susah mobil kami keluar dari hadangan pick-up itu. Setelah berhasil lolos, kubuka kaca jendela. Aku tersenyum padanya dan pamit, walau masih panas hati ini. Dia sama sekali tidak memalingkan wajahnya padaku. Semakin panas hati ini. “Mesem sik, Mas. Nanti dagangannya ga laku yen ra mesem,” teriakku. Jelas saja tidak laku, aku tidak jadi membeli sekuntum mawar di tokonya.

Apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi Katolik? Dengan dibaptiskah? Dengan pergi misa setiap harikah? Dengan menerima komunikah? Dengan berdoa rosario setiap hari berkeliling dari rumah ke rumah di lingkungankah? Dengan berziarah ke Gua Maria atau ke Candi Hati Kudus Yesuskah? Dengan bermeditasi Kristianikah? Dengan Brevir sehari lima kalikah? Dengan berdevosi pada para kuduskah? Dengan aktif di OMK-kah? Dengan ubyang-ubyung dengan sesama orang Katolikkah? Dengan menjadi prodiakonkah? Dengan aktif menjadi Dewan Parokikah? Dengan melayani altarkah? Dengan memakai jubah sebagai seorang frater, bruder, atau susterkah? Dengan berkalung rosariokah? Dengan memasang salib ber-corpus dan patung Bunda Mariakah? Dengan menjadi seorang imamkah? Dengan menulis kata ‘katolik’ di kolom agama pada KTP-kah? Dengan menikahi seorang Katolikkah? Dengan memahami dan menghafal teologi Katolik yang memiliki rumusan-rumusan sulit itukah? Dengan mencintai, mengasihi, dan memanusiakan manusiakah? Dengan merawat alamkah? Apakah dengan menjadi mantan biarawan seseorang masih Katolik? Apakah dengan menikahi seorang yang bukan Katolik seseorang tak lagi menjadi Katolik? Apakah dengan mengganti kotbah dengan visualisasi seorang pastor tak lagi menjadi Katolik? Apakah dengan tidak mewujudnyatakan ajaran Kristus seseorang masih layak menjadi Katolik? Apa yang sebenarnya membuat seseorang menjadi Katolik?
“Sudahlah, Pah. Ga usah dipikir yang tadi. Tu dilihat Damar.”
“Lha ya orang itu tadi tu... .”
“Pah, lupa sama Levinas ya? Kayak ga pernah belajar filsafat aja sih? Mungkin aja, ‘kan, orang itu tadi sedang mengalami hari yang buruk, atau kelelahan, atau masalah yang kita tidak ketahui? Harusnya kita kasihan padanya, karena tak mampu menanggung masalahnya itu, dia meluapkannya pada orang lain. Ya, sayangnya orang lainnya itu kamu.”
“Iya juga ya. Mungkin karena aku terlalu banyak membaca Kierkegaard dan Sartre. Maaf... .”
“Lo, kok minta maaf padaku sih?”
Pada lampu merah kami berhenti. Ada seorang wanita dengan menggendong seorang bayi mengemis di perempatan itu. Dalam hati aku mencibir, pasti anak itu bukan bayinya. Lagi pula dia masih muda, mengapa tidak bekerja, eh, malah mengemis. Kemudian aku teringat nama Levinas lagi. Ya ampun, maafkan aku ya, Bu, aku sudah tak berniat memberi, tak pula memberi solusi ekonomi, eh, malah mencibirmu. Aku melirik ke arah istriku.
“Ndak ada receh, Pah?”
Aku menggelengkan kepala.
“Damar, ambilkan Mamah dua potong roti yang kita beli di warung Bubur Ayam tadi donk.”
“Buat ibu cama dedek itu ya Mah?” tanya Jagoan Kecilku sembari menyerahkan dua potong roti miliknya.
“Iya. Nanti Mamah ganti ya?”
“Ndak ucah, Mah. Mamah cama Papah lebih enak dali loti, hehehehe. Atu mau Mamah cama Papah aja.”
Istriku membuka jendela mobil. Wajahnya yang cantik itu semakin indah ketika tersenyum. Senyumnya menyandera hatiku, menentramkan jiwaku. Mungkin dengan senyum yang sama, senyum yang sederhana itu, kita dapat menerangi dunia, menyapa tiap hati tanpa kata. Dia tersenyum kepada wanita pengemis yang menggendong bayi itu.
“Bu, kami ndak punya receh. Roti mau ya?”
“Matur nuwun, Den,” tersenyum wanita itu menjawab dan lalu berlalu.
Ah, istriku, betapa beriman dirimu. Kadang aku lupa, hidup rohani itu tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan sehari-hari itulah hidup rohani kita, sebab jiwa dan badan itu dua hal yang tak terpisahkan. Kadang aku terjebak dalam hierarki metafisis; aku merasa puas dan cukup jika sudah berdoa atau misa. Ah, istriku, aku takkan pernah menyesal mencintaimu, takkan pernah menyesal menikahimu. Saat menulis kalimat ini, aku melirik ke arah Agatha, istriku, yang tengah terlelap. Maria Agatha, istriku, semoga kamu pun tak pernah menyesal telah melepas habet itu dan hidup bersamaku.

Tepi Jakal, 16 Maret 2010
Padmo “Kalong Gedhe” Adi