Wednesday, June 5, 2013

Kita Bertemu pada Titik di Mana Kita Berbuat Kebaikan

Kita Bertemu pada Titik di Mana Kita Berbuat Kebaikan

Pagi ini aku mengunjungi seorang nenek yang berjualan makanan di dekat kuburan. Aku sarapan di sana. Mahasiswa/i "Universitas Humanis-Akademis Jogja" mungkin mengenal siapa nenek ini. Sepanjang aku menyantap sarapanku, nenek itu dengan bahagia menceritakan seorang "cucu angkat"-nya. Dia dulu adalah seorang mahasiswa "Universitas Humanis-Akademis Jogja" pula, sekarang sudah lulus dan bekerja di kota yang selalu ingin aku caci-maki dan umpati. Pemuda itu dulu selalu makan di warung nenek dan hubungan mereka dekat, sehingga nenek itu sudah menganggapnya cucunya sendiri. Memang setiap kali aku sarapan di sana, nenek itu selalu bercerita tentang pemuda tersebut. Nenek itu bercerita betapa baiknya dia. Murah hati.

Aku tidak tahu, apakah nenek itu mengetahui bahwa pemuda itu seorang ateis. Aku tahu dia. Ya, dia memang seorang ateis... bukan sekadar hanya seorang eksistensialis, melainkan eksistensialis-ateis. Mungkin nenek itu tidak menaruh peduli bahwa dia seorang ateis atau seorang beriman. Yang nenek itu pahami adalah bahwa dia menyayangi pemuda itu seperti cucunya sendiri, dan bahwa pemuda itu begitu baik kepada nenek. Mereka memiliki cerita yang indah.

Mungkin kalian, orang-orang beriman, mencibir... mungkinkah seorang ateis melakukan sesuatu yang baik? Apakah ada sesuatu yang baik yang berasal dari orang yang tidak mengakui Tuhan? Bahkan, mungkin kalian, orang-orang beriman, bertanya nyinyir... tidak sia-siakah kebaikan yang dilakukan seorang ateis itu? Bukankah mereka, orang-orang ateis, adalah yang empunya neraka? Dan, mungkin kalian, orang-orang beriman, menanyakan pertanyaan-pertanyaan naif lainnya.

Aku pribadi hanya teringat khotbah Papa Fransiskus beberapa waktu silam. Kurang lebih garis besar khotbah Papa Fransiskus adalah, "Kita bertemu pada titik di mana kita berbuat kebaikan."

tepi Jakal, 05 Juni 2013
@KalongGedhe

JANMA MANUNGSA

JANMA MANUNGSA

Menungsa kuwi duwe raga uga duwe rasa. Yen ora duwe rasa, kuwi durung komplit le dadi menungsa. Nanging, pikire kudu luwih dawa tinimbang rasa-pangrasane. Lan, atine kudu luwih dawa tinimbang pikire.

Yen rasa-pangrasane luwih dawa tinimbang pikire... apa meneh luwih dawa tinimbang atine... kuwi jenenge durung jangkep le dadi menungsa, kaya bocah wingi sore sing mbanyaki.

(Mulane, ya Ngger, ngangsua kawruh... ngangsua sing jero... ben amba panyawangmu... ben alus rasamu... ben dawa pikirmu... supaya tentrem atimu.)


@KalongGedhe

TANGGUNG JAWAB

TANGGUNG JAWAB

Oalah kulup... belajarlah bertanggung jawab atas apa yang kamu miliki.
Kamu memiliki hidup, bertanggung jawablah atas hidupmu.
Kamu memiliki pendidikan yang baik, bertanggung jawablah atas pendidikanmu itu.
Kamu memiliki rumah yang layak, bertanggung jawablah atas rumahmu itu.
Kamu memiliki sandang yang cukup, bertanggung jawablah atas sandangmu itu.
Kamu memiliki bakat dan talenta, bertanggung jawablah atas bakat dan talentamu tersebut.
Kamu memiliki cinta, bertanggung jawablah atas cinta tersebut.
Kamu memiliki orang yang mencintai dan dicintai olehmu, bertanggung jawablah atasnya.

Kalau kamu sendiri tak mau bertanggung jawab atas apa yang kamu miliki, akankah orang lain sudi bertanggung jawab atas apa yang kaumiliki itu?
Atau, janganlah menangis ketika apa yang kamu miliki itu diambil dari padamu hanya karena kamu tak mau bertanggung jawab atasnya.

@KalongGedhe

PENYAKIT AKUT ORANG INDONESIA

PENYAKIT AKUT ORANG INDONESIA

Penyakit akut orang Indonesia itu adalah tidak percaya diri, tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, menganggap remeh diri sendiri, inferior!!! Orang Indonesia lupa bahwa mereka pun adalah manusia, dan sebagai manusia mereka memiliki potensi yang luar biasa.

Lihatlah mereka, orang-orang Indonesia itu... begitu terheran-heran bertemu dengan bule. Mungkin karena selama ini mereka melihat bule hanya dari #redtubedotcom

@KalongGedhe

Kerajaan Allah Sudah Hadir di Sini dan Sekarang

Kerajaan Allah Sudah Hadir di Sini dan Sekarang

Carilah "passion" hidupmu, panggilan jiwamu... dan jalanilah. Jangan katakan "tidak" ketika hatimu mengatakan "ya", jangan katakan "ya" ketika hatimu mengatakan "tidak". Hayatilah hidupmu. Katakanlah "ya" pada hidup. Hiduplah di sini dan sekarang seakan-akan tiada kehidupan surga setelah kematian, sebab... toh Kerajaan Surga telah hadir di sini dan sekarang :)

Ke mana pun aku pergi, aku hanya ingin melihat Tuhan di sana. Bahkan, ketika tubuhku memasuki tubuhmu, dan jiwaku berpelukan erat dengan jiwamu, aku pun ingin melihat Tuhan.

Kerajaan Allah sudah hadir di sini dan sekarang. Aku sendiri pun telah melepas surga yang nanti dan di sana. Mengapa kamu membunuh untuk merasakan surga yang nanti dan di sana, di saat kamu bisa mengasihi dan membangun surga yang di sini dan sekarang?

@KalongGedhe