Friday, February 3, 2017

Sisa-sisa Ampas dan Anamnese

Sisa-sisa Ampas dan Anamnese

Sewaktu balita aku difoto sedang mengelapi Yamaha “robot” bapak, motor yang dijual ketika adikku bungsu lahir. Ketika remaja, aku difoto seakan-akan memboncengkan kedua adikku naik Suzuki Bravo, yang bapakku namai “Embrio”. Bapak lalu membeli Suzuki “plethuk” milik pakdhe. Pada beberapa kesempatan aku pergi ke SMA mengendarai Suzuki “plethuk” itu, sampai pada hari kematian bapak. Setelah bapak mati, aku menunggangi Honda Win100 bapak, yang kunamai “Puma”. Saat itulah petualanganku dimulai, menjelajah Solo Raya. Lalu, aku mengasingkan diri ke Salatiga. Win100 itu dijual mama, satu-satunya hal yang aku sesali dari keputusanku ke Salatiga. Di Salatiga itu, ketika semua konfraterku harus naik Avanza, magisterku mengizinkanku menaiki GL100-nya. Aku pun kembali ke Solo. Aku meminjam Yamaha Jupiter Z mata owl adikku untuk pergi lagi ke Salatiga, mencari cinta yang tertunda. Saat itulah aku mengalami kecelakaan parah, menabrak tong separator jalan di Ngasem. Pada tahun 2012 aku lulus kuliah. Mama menghadiahiku Honda NewMegapro. Motor pemberian mama itu kuberi nama “Kelelawar Tempur”. Bersamanya aku menjelajahi Pulau Jawa, Bali utara, dan Lampung selatan. Bersama Kelelawar Tempur, motor pemberian mama, itulah aku mengalami “(w)hole-ness”, sebuah keutuhan primordial, justru setelah kematian bapak, orang yang mengajariku bagaimana menunggang roda dua. Adalah sebuah sakramen, di mana seakan-akan aku berkendara bersama para leluhur. Sebuah jouissance lacanian yang tak/belum mampu kuperikan. Raungan suara knalpot itu menentramkan hati, seperti darasan mazmur biarawati.

02 – 03 Februari 2017
Padmo Adi