Thursday, December 5, 2013

AFORISME-AFORISME NOVEMBER 2013

AFORISME-AFORISME NOVEMBER 2013

1.             Media mulai mengalihkan perhatian dan menggiring opini kita, bahwa buruh itu materialistis dan pemalas yang selalu minta gaji besar.

Tanpa kita sadari, bukan hanya buruh, kita semua pun telah dikondisikan oleh pemerintah (yang kongkalikong dengan pengusaha), untuk memiliki imaji sukses, bahwa sukses itu bisa punya mobil dan motor mewah, dan lain sebagainya, dan demikian seterusnya.

Dan... ini yang menyedihkan... tanpa kita sadari... para buruh itu sering kali berada di dalam posisi sulit. Kamu pernah hidup dengan buruh? Atau, pernahkah kamu menjadi buruh? Cobalah ambil posisi, atau setidaknya empati, sebagai seorang buruh. Andai kamu tahu rasanya... .

2.             "Weh, slamet ya, Jon, wis sida rabi," ujare Joko nalika ketemu Jono, kanca lawase.

"Weh, matur nuwun, Jok. Lha kowe kapan nyusul?" wangsulane Jono.

"Wah, kosik, Jon. Eh, aku oleh takon ora?"

"Takon apa, Jok? Kok sajake wigati?"

"Kowe ki, nuwun sewu lho iki, wingi kowe rabi ki entek pira je?"

"Telung puluh yuta."

"Akeh men? Nggo pesta wingi kae, Jon?"

"Ya untunge bapa-biyungku isih sugeng. Dadine ya melu ngragati. Dhuwit semono kuwi amung dinggo lamaran karo tuku uba-rampene kok."

"Loh, durung pestane?!"

"Iya. Sing mestakke ki mara tuwaku. Dadine acara resepsi wingi ki sing ngragati wong tuwane bojoku."

"Oalah ngger... . Ya wis. Nuwun. Aku dakmenyang kutha sik. Ana perlu."

"O ya... ngati-ati, Jok."

"Wis, dipenakke lehmu dadi manten anyar," ujare Joko, banjur lunga plencing ninggal Jono.

Joko banjur mampir menyang ATM salah sawijining bank, niliki saldo tabungane. Nyawang angka sing ana nang layar ATM, Joko ngunjal ambegan.
Dibukak meneh dompete, dilebokke kertu ATM-e, lan disawang kanthi permati foto wanodya ayu sing ana sajroning dompet iku. Luh tumetes ana ing pipine Joko.

Joko ngunandika, "Dhuh Dhik... wanita sing daktresnani... sabar-sabarna atimu ya. Aku durung bisa nglamar sliramu sanadyan ta aku tresna tenan marang kowe. Pangapuramu... ."

3.             Bahasa tidak pernah bebas nilai.

4.             Jadi, sudah lama ada di dalam benak manusia... bahwa menjadi modern adalah menjadi barat... dan menjadi barat itu menjadi eropa. Oh, Sultan Mehmed II... .

5.             Cinta itu indah dan puitik, tetapi ketika harus berbenturan dengan kenyataan (baca: sistem sosial), cinta itu segera menjadi tragedi.

Dan, cinta yang abadi adalah yang tragedi.

6.             Kekuasaan itu ada di mana-mana... direproduksi di mana-mana.

Rumusan doa yang kamu ucapkan. Pakaian (seragam, dress code) yang kamu kenakan. Rambu-rambu lalu lintas. Liga-liga Sepak Bola asing yang kamu saksikan. Band-band (alay) dari Korea yang kamu tonton. Teenlit yang kamu baca. Sekolah, tempat kamu belajar dan dicekoki pengetahuan. Upacara nikah yang kamu lakukan. Bahkan, aturan-aturan di dalam sanggama.

7.             Waktu itu aku masih kecil. Aku sekolah di kompleks Purbayan, Solo. Hampir setiap Sabtu aku pulang ke Kauman, ke rumah Eyang, karena sekolah pulang pagi. Pada hari itu, Bapak menjemput. Lalu kami membeli babi kuah di depan Gereja Purbayan. Dan, kami pun menuju Kauman, untuk makan.

Aku selalu senang jika pergi ke Kauman. Di sana aku bisa bermain dengan saudara-saudari sepupuku yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Biasanya kami bermain di Masjid Agung atau di TK NDM atau di pelataran BCA atau di lorong-lorong kampung Kauman. Jikapun saudara-saudariku itu masih belum pulang sekolah, aku bisa bermain mainan plastik milik saudaraku atau membaca majalah Bobo.

Babi kuah yang kami beli itu cukup banyak. Aku segera memikirkan saudara sepupuku itu. Namanya Kuntjara, Padma Kuntjara. Pasti akan sangat menyenangkan makan bersama keluarga. Sesampainya di Kauman, Bapak memarkir motor, lalu segera pergi ke pendapa. Kami akan makan di sana. Segera saja dengan polos dan girang aku berteriak memanggil Mas Kuntjara, "Mas Kun... mangan iwak babi yoh... . Mas... Mas Kun... ayo mangan karo aku."

Tiba-tiba saja Bapak menghardikku. "Hush! Mas Kun tidak makan babi," kata Bapak. Kenapa Bapak pelit sekali? Bukankah Mas Kuntjara masih saudara? Kenapa tidak boleh dibagi? "Mas Kun tidak makan babi. Hanya kita yang makan babi," kata Bapak. Tapi, kenapa Mas Kun tidak makan babi, sedangkan aku dan Bapak boleh? "Mas Kun Muslim, jadi tidak makan babi," kata Bapak lagi.

Peristiwa sederhana itu begitu berkesan di dalam benakku. Itulah pertama kali aku benar-benar menyadari perbedaan. Begitu absurd saat itu bagi diriku yang masih kecil. Kami adalah saudara seeyang. Bapakku dan Pakdhe pun saudara sekandung. Ya, Eyang kami sama. Bapak dari Bapak kami sama, Ibu dari Bapak kami pun sama. Akan tetapi, ternyata kami berbeda... aku Katolik dan Mas Kuntjara Muslim. Mengapa kami berbeda? Mengapa Bapak dan Pakdhe berbeda? "Sebab Eyang adalah seorang Pancasilais," jawab Bapak pada waktu itu.

Jawaban sederhana itu tidak memuaskan rasa penasaranku pada saat itu. Aku membatinkan peristiwa itu, sehingga kubawa hingga sekarang. Kita akan selalu bertemu dengan Orang Lain (Liyan) yang berbeda... .

Sekarang, aku bisa mensyukuri perbedaan kami. Walau kami berbeda, kami tetap bersama. Sering kali kami bertukar pikiran. Tidak selalu sependapat memang, juga perspektif yang kami ambil tidak jarang berbeda. Akan tetapi, kami selalu duduk bersama, bertukar pengalaman, bertukar pandangan, berdiskusi. Walau berbeda, kami tetap saudara. Peristiwa "Babi di Kauman" itu akan selalu kukenang... dan akan selalu kurefleksikan ketika harus berpikir tentang Indonesia... Bhinneka Tunggal Ika.

Kini, Padma Kuntjara ada di Sulawesi. Aku selalu rindu untuk mengulang kembali membaca puisi di tepi jalan raya bersama dengan dia... lagi... dan lagi.

8.             A-Mrican English... :) So, let me speak English in a "medhok" way, may I :)

9.             Hujan malam ini
Cahaya lilin menari
Orphaned-Land bernyanyi Sapari
(burjo Banteng, 111113)

10.         Seorang penyair itu memiliki beban tanggung jawab yang tidak main-main. Sebagai penyair, dia adalah ‘nabi’. Dia memiliki tanggung jawab profetis untuk menyuarakan kebenaran, membahasakan yang tak terperikan, dan menarasikan kenyataan... bahkan bernubuat!

Memang mungkin pada awalnya dia memakai puisi sekadar untuk menyalurkan renjana. Akan tetapi, ketika berhenti melulu di sana saja, dia tak ubahnya seorang penyabun yang gemar merancap.

Seorang penyair itu harus mampu di saat yang bersamaan menjadi seorang Salomo sekaligus seorang Amos.

11.         Baru saja aku memahami mengapa Nietzsche menarasikan pemikiran filosofisnya melalui aforisme-aforisme justru setelah aku membaca Dhammapada.

12.         tu kan... apa aku bilang...
cinta yang abadi adalah yang tragedi

13.         Sinisme dan kenaifan...
ada gak sih cara lain untuk menelan hidup yang pahit selain dua cara di atas?

14.         Keadaan sosial-masyarakat kita bisa kita lihat dari kesenian (sastra)-nya. Ya, di sana ada sinetron, ada dagelan OVJ yang memandang mengepruk teman itu lucu, ada goyang caesar, ada lagu-lagu dangndut dengan liriknya yang mengangkat tema semacam "Cinta Satu Malam"... .

Lalu Pramoedya? Lalu Chairil Anwar? Lalu Rendra?
Siapakah yang membaca mereka? Buku-buku mereka menjadi semacam Alkitab yang hanya dibaca elit-elit tertentu saja. Makanan keseharian masyarakat kita adalah "Goyang Itik"... bahkan "Suster Keramas" dan "Sumpah Pocong". Akui saja.

15.         Waktu itu aku kelas 3 Jurusan Bahasa SMA. Saat itu Guru Bahasa Indonesia kami mengangkat diskusi tentang Kebudayaan. Tiba-tiba saja, salah satu teman kami, Ko Bo Chan (Bayu), berpendapat bahwa KORUPSI itu adalah KEBUDAYAAN Bangsa Indonesia karena sudah dilakukan oleh banyak kalangan. Guru Bahasa Indonesia itu menyanggah. Intinya adalah, bahwa kebudayaan itu adalah yang adiluhung.

Waktu itu aku hanya diam. Aku tak paham. Tujuh-delapan tahun kemudian baru aku memahami paradigma berpikir temanku tersebut. Aku terlambat tujuh-delapan tahun.

16.         Hm... ini nih... yang bikin imaji Oedipus Complex dibatinkan -_-'
"Bibi Lung Complex" :P

17.         O... jadi ini ya masalahnya... mengapa aku selalu ketiduran sewaktu misa. Bahwa misa hanya berhenti pada "yang simbolis" saja, dan belum mampu untuk membawaku sampai kepada "penyaluran renjana".

Sik... sik... . Sebenarnya aku enggan berbicara tentang hal ini. Akan menjadi paradoks yang lucu jika aku berbicara tentang hal ini. Alih-alih mengkritisi para pastor yang hanya mampu membawa misa ke ranah "yang simbolis" saja, aku justru jadi ingin menertawakan diriku sendiri.

Satu-satunya calon pastor yang aku kenal baik dan memiliki cita-cita untuk membawa misa sampai kepada ranah "penyaluran renjana" itu pun kini sudah menjadi ateis... atau setidaknya enggan berbicara serius tentang hal ini.

O... jadi 2009 yang lalu itu alasannya ini ya... jouissance lacanian... .

18.         Mengapa saya berbicara dengan Bahasa Indonesia, ora nganggo Basa Jawa (punapa malih Basa Krama), not even in English, walaupun mahir menggunakan ketiganya?

19.         berangkat dari cinta...
melalui puisi...
menuju revolusi...

20.         rambut kriwil itu...
(kini sudah direbonding!)
menghantu!

21.         Wong Mardika ingkang Marsudi Kasusastran Jawi ing Surakarta itu sudah tiada. Walau, tidak sulit untuk mengakses karya-karyanya. Cukup untuk membayar beberapa ribu (kalau tidak salah hanya Rp 2.000,00) untuk biaya masuk Radya Pustaka. Mungkin yang bikin sulit adalah kebanyakan tulisan Wong Mardika ingkang Marsudi Kasusastran Jawi ing Surakarta itu dia tulis dalam aksara Carakan, walau bahasanya ngoko.

Ya, tentu dia adalah anak zamannya (lahir pada tanggal 20 April 1843 di Sraten Surakarta, meninggal pada 01 Februari 1926). Seorang priyayi Jawa keturunan ningrat, murid Ranggawarsita, yang lahir, besar, dan hidup di dalam nuansa feodalisme Jawa. Yang membuat dia menjadi "Wong Mardika" adalah dia berani menulis di luar pakem sastra yang ada. Alih-alih menulis macapat yang penuh aturan itu, dia menulis geguritan, cerita-cerita carangan, bahkan cerita tentang Kancil! Pernah aku membaca karyanya tentang manusia. Mungkin aku terlalu muluk berharap, sebab ternyata yang kudapati adalah "katuranggan". Dan, tulisannya tentang perjalanan hidup manusia (Jawa) itu sungguh mencekam. Mencekam, karena kalau dipraktekkan di zaman sekarang, aku tidak bisa membayangkan berapa rupiah harus dikeluarkan demi setia terhadap tradisi tersebut.

Tapi, satu hal yang patut jadi perhatian, bahwa Wong Mardika ingkang Marsudi Kasusastran Jawi ing Surakarta itu benar-benar membebaskan Sastra Jawa dari aturan-aturan pakem yang ketat dan membawanya keluar dari tembok kraton yang wingit. Dan... setidaknya eksistensinya menegasi statement Benedict Anderson yang mengatakan bahwa Sastrawan Jawa ditutup pada tahun 1873.

Memang benar, banyak Sastrawan (yang berasal dari) Jawa menggunakan sastra (baca: pers) untuk melawan kekuasaan. Wong Mardika ingkang Marsudi Kasusastran Jawi ing Surakarta itu pun turut pula terlibat aktif di dalam pers. Hanya saja, ini asumsi saya, kesan yang ada pada waktu itu, sama seperti yang terjadi sekarang, berbicara dengan bahasa daerah di dalam konteks masa pergerakan itu berarti semata hanya melokalisasikan diri di dalam sudut sempit Nusantara. Itulah mengapa banyak Sastrawan (yang berasal dari) Jawa meninggalkan Bahasa Jawa (bahkan yang ngoko sekalipun), dan mulai menggunakan Bahasa Melayu (yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia itu). Dan, bisa jadi konteks inilah yang membuat Benedict Anderson membaca bahwa (seolah-olah) Sastra Jawa itu habis di tangan Ranggawarsita. Lagi pula, saya tidak yakin Wong Mardika ingkang Marsudi Kasusastran Jawi ing Surakarta itu juga bersemangat menggunakan Bahasa Indonesia, setidaknya karena saya belum pernah menemukan karyanya yang dia tulis sendiri di dalam Bahasa Indonesia.

Eksistensinya cukup menginspirasi, walau membutuhkan ketekunan tersendiri untuk secara serius mengaji karya-karyanya di Radya Pustaka agar inspirasinya semakin berdasar. Sebuah ketekunan yang terbengkalai oleh karena ketidakmampuan saya pada banyak kesempatan waktu itu bangun pagi. Setidaknya, tokoh itu menginspirasi Hampir Mati Berlayar Karam dan Wong Kiwa Mardika... meskipun dua orang itu sudah tidak menulis dengan Bahasa Jawa lagi.

22.         O... jadi...

Marhaenisme adalah versi lokal dari Marxisme oleh Soekarno.
Sedangkan Soekarnoisme itu merupakan versi lokal dari Marxisme oleh Njoto.

(Dan, dua orang itu pun sudah terlebih dulu (di-)mati(-kan) berpuluh-puluh tahun jauh sebelum RUU Antimarxisme itu diwacanakan.)

23.         If you can speak in English, then... what will you say? What will you be talking about? And, why must you talk it in English, instead of your mother tongue?

24.         Benar kata Rm. Patrisius Mutiara Andalas beberapa tahun lalu di kelas... . Kita tidak miskin. Kita DIPERMISKIN.

25.         "Tidak, Nak... aku tidak ingin kamu menjadi seorang Katolik yang sungguh-sungguh. Begitu kamu menjadi seorang Katolik yang sungguh-sungguh, bisa jadi kamu akan dihilangkan seperti Mas Petrus Bima Anugerah ini. Tidak, Nak... jangan sekali-kali jadi seorang Katolik sejati."

26.         Wong Ayu... aja nesu... bengi iki aku maca geguritan meneh. Pangapuramu, aku mengko bali lingsir wengi. Nalika awake dhewe ketemu, aku janji, bakal maca geguritan lirih ing sandhingmu... amung kanggo sliramu.

27.         Sebagai seorang penyair, kita harus turba (turun ke bawah).
Gagasan ini pertama kali bukan aku pelajari dari membaca Lekra,
tetapi justru dari pendidikan seminari.
Bahwa, khotbah-khotbah yang tidak membumi, yang jauh di menara gading,
hanyalah meninabobokan.
Dan, ya, gagasan bahwa penyair itu adalah "nabi"
serta memiliki "tanggung jawab profetis" pun berasal dari seminari.

November 2013
Padmo Adi
(Wong Kiwa Mardika)

Wednesday, November 27, 2013

Yatim

Yatim

Aku ini seorang anak yatim
Ayahku mati disantet orang
tapi dokter bilang itu tumor
Apapun, yang jelas ayahku mati

Ayahku dulu pegawai negeri
Jujur dia mengabdi kepada negara
Dengan teguh hati menolak korupsi
Siapa yang nyeleweng diganyangnya

Pernah ada seorang nepotis
Bertindak curang demi untung pribadi
Sudah tentu diganyang oleh ayahku
Penuh dendam, orang itu pun berlalu

Tak peduli di kota, tak peduli di desa
Bukan hanya di Jakarta, di pelosok pun ada
Ketidakjujuran dan kecurangan mengancam siapa saja
Tak peduli sudah sembahyang lima kali sehari,
atau tiap Minggu ke gereja

Konon kabarnya orang itu sakit hati
Tidak terima dengan hardik keras ayahku
Dikirimnya teluh untuk menumbangkan ayah
Dan kini... jadilah aku seorang yatim

Dahulu sempat ada seorang sakti sebenarnya
Melihat ular besar melilit paru-paru ayah,
dia tawarkan pengobatan dengan japa mantra
Tapi, bagi ayah yang seorang rasional sejati,
hanya dokter yang bisa menyelesaikan sakitnya
Atau... biarlah seorang perempuan menjadi janda
dan tiga bocah menjadi yatim

Dekat jenazah ayah, orang sakti itu berkata pada ibu,
supaya ibu menaruh segenggam beras pada peti itu
sehingga segala teluh yang menewaskan ayah kembali
Tapi, sebagaimana ayah, ibu ikhlas tak dendam hati
walau... kini dia seorang janda
dan suaminya takkan pernah kembali

Jabatan dan kedudukan
Harta melimpah dan kemakmuran
lebih mengagumkan dari kejujuran
lebih berharga dari pada sikap satria
Agama saleh tak ubahnya kedok semata
Sedangkan kata “Tuhan” telah hilang arti

Selamat datang di negaraku ini...
tanah di mana melimpah anak yatim
yang ayahnya hilang dan mati
hanya karena punya harga diri

tepi Jakal, 26 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Sunday, November 24, 2013

PLEIDOI SEORANG PENYAIR

PLEIDOI SEORANG PENYAIR

Berita dari TEMPO.co


Pada suatu ketika di Indonesia RUU KUHP yang melarang Marxisme dan Komunisme pada akhirnya telah disahkan menjadi UU KUHP.

Alkisah, di Jawa Tengah ada seorang penyair yang sangat digandrungi oleh rakyat jelata. Penyair itu adalah seorang anak tukang kayu dari sebuah desa di kaki Gunung Lawu di Kabupaten Karangayar. Bapaknya sudah lama meninggal memang. Sedangkan ibunya kini menjanda dan tidak kawin lagi. Semasa mudanya dulu penyair itu kuliah di sebuah Universitas Negeri di Surakarta. Dia juga sering kali pergi ke Yogyakarta untuk berdiskusi dengan para mahasiswa tentang nasionalisme, agama, dan sosialisme. Kiranya, mungkin ini pikirnya, mahasiswa yang belum mengkaji ulang nasionalismenya, belum menarasikan kembali agamanya, serta belum pernah membahas tentang sosialisme adalah layaknya anak kemarin sore yang belum sunat.

Kini pemuda itu telah berusia kurang lebih 30-an tahun. Rambutnya ikal gondrong dan dia memelihara brewok. Walau demikian, tampan dia. Namanya sebenarnya Joko Slamet, tetapi rakyat banyak mengenalnya sebagai Anom Widodo. Konon kabarnya dia tidak menyelesaikan kuliahnya karena ayahnya keburu meninggal, sehingga dia harus menggantikan ayahnya menjadi tukang kayu di desa. Namun, sudah sejak tiga tahun yang lalu dia meninggalkan pekerjaannya itu dan memilih untuk berkelana dari desa ke desa dan dari kota ke kota membaca puisi.

Puisi-puisinya bergaya pamflet, ber-genre Realisme-Sosialis. Dia banyak bersajak tentang ketimpangan sosial. Dia banyak bersajak tentang cita-cita berdikari. Dia banyak bersajak tentang bagaimana negara alih-alih menggalang rakyat untuk produktif memproduksi sendiri, lebih memilih mengimpor dari negara-negara kaya, bahkan barang-barang yang remeh temeh seperti kedelai dan garam. Dia banyak bersajak tentang bagaimana sebenarnya bangsa ini, walau secara politik dan fisik merdeka, dijajah oleh bangsa-bangsa kaya secara ekonomi dan psikis.

Puisi-puisi Anom Widodo menggugah kesadaran rakyat. Puisi-puisinya membakar semangat rakyat. Rakyat banyak bergerak. Kebijakan-kebijakan daerah yang tidak berpihak kepada rakyat ditentang habis-habisan. Berapa banyak kerusuhan dan keributan yang disebabkan oleh demo-demo itu karena rakyat benar-benar marah dengan kebijakan pemerintah yang tidak memihak, sedangkan negara dengan sewenang-wenang memperlakukan rakyat seperti anjing kudisan. Pada suatu demo tentang sengketa tanah dan lahan pertanian antara rakyat dengan suatu investor, bukan polisi antihuru-hara yang turun, melainkan tentara, dan rakyat yang kebanyakan terdiri dari petani itu diberondong!

Pada suatu Bulan April di suatu tahun pada saat itu, Anom Widodo hendak membaca puisi di Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Bus yang ditumpangi Bung Anom dan rombongannya dari Jawa Tengah itu berhenti di Pulo Gadung. Ternyata di sana dia sudah disambut oleh beberapa rakyat kelas menengah (baca: borjuis) Jakarta yang beberapa tahun terakhir terkagum-kagum dan membicarakan Bung Anom lewat jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Mereka tahu Bung Anom akan membaca puisi di Jakarta dan mereka ingin mendapatkan kehormatan dapat mengantarkannya dengan mobil mereka, malah ada pula yang dengan ikhlas hati meminjamkan Kawasaki Ninja 250 FI-nya agar Bung Anom terlihat gagah saat masuk ke Jakarta. Akan tetapi, dengan rendah hati Bung Anom menolak itu semua. Dia lebih memilih naik Trans Jakarta saja bersama rombongannya. Aneh, ketika dia menginjakkan kaki di shelter Trans Jakarta hingga dia masuk ke Bus Trans Jakarta tersebut, banyak orang melepaskan jaket, sweater, atau jumper mereka dan meletakkannya di lantai menjadi semacam karpet penyambutan seorang penting.

Istana Merdeka kisruh. Istana Merdeka panas. Bagi Istana, Anom Widodo ini subversif! “Adalah lebih baik bagi kita satu orang mati dari pada seluruh bangsa binasa!” teriak negara. Maka, pada suatu malam ketika Bung Anom tengah membaca puisi di suatu taman di sudut Monumen Nasional, yang disebut Taman Chairil Anwar, dia ditangkap. Dan, diapun disidangkan dan dijerat Pasal 212 ayat (1) UU KUHP, bunyinya: “Setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme atau Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.” Selain itu, saksi-saksi palsu dihadirkan untuk memberatkan tuduhan. Akan tetapi, anehnya di persidangan itu, Anom Widodo dituntut hukuman mati! “Tujuh tahun itu hanya sebentar bagi penghasut kelas kakap seperti orang ini. Dia pasti bermaksud mengobarkan kembali tragedi sembilan belas enam puluh lima. Bunuh dia! Bunuh dia! Salibkan dia di Monas!!!”

Ketika Anom Widodo diberi kesempatan untuk berbicara, katanya, “Siapakah yang engkau maksud hendak menggantikan Pancasila? Dan, Pancasila yang kaumaksud itu Pancasila yang mana? Versi siapa? Versi Soekarno? Versi Orde Baru? Atau versi pepesan kosong suatu ormas itu? Aku hanyalah seorang penyair. Aku datang untuk menyuarakan yang tak tersuarakan. Perutusanku adalah menarasikan yang dilatenkan. Tugasku adalah membahasakan yang sengaja dilupakan. Wahai orang-orang yang bebal, tidak belajarkah kalian dari sejarah alternatif, bahwa enam lima itu adalah kudeta merangkak Soeharto yang didukung Paman Sam agar kekuatan kapital asing bisa dengan leluasa mengangkangi bumi pertiwi? Wahai orang-orang yang tegar tengkuk, tidak sudi mengertikah kalian bahwa kebijakan-kebijakan politik-ekonomi yang kalian keluarkan itu sama sekali tidak memihak kepada rakyat jelata, petani-petani di desa, nelayan-nelayan, para pengrajin, dan pekerja? Dan, kalian menuduhku hendak mengganti Pancasila? Ketahuilah, wahai orang-orang bodoh, gagasan Marhaenisme Soekarno itu adalah adaptasi lokal dari gagasan Marxisme! Dan, di dalam merumuskan Pancasila yang dilahirkannya pada 01 Juni 1945, Bung Karno telah lebih dahulu berkonsultasi dengan gagasan-gagasan San Min Chu I-nya Sun Yat Sen, Declaration of Independence-nya Thomas Jefferson, dan Communist Manifesto-nya Marx-Engels!!! Di dalam Pancasila yang sering kalian bicarakan sebatas mulut saja itu terdapat tiga prinsip kerakyatan, yaitu nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme! Berkali-kali Bung Karno berbicara tentang berdikari, dan ketika aku mengingatkan rakyat lewat puisi-puisiku tentang semua hal itu, kalian menuduhku hendak mengganti Pancasila dengan Marxisme?! Pancasila yang mana yang kalian maksudkan?”

Seseorang di ruang persidangan itu menjadi terlalu merah kupingnya demi mendengar kata-kata Bung Anom, naik pitamlah dia, dan menampar Bung Anom, katanya, “Begitu jawabmu terhadap Hakim Ketua?” Jawab Bung Anom, “Jika aku salah, tunjukkanlah di mana salahku. Namun, jika aku benar, mengapa engkau menampar aku?” Hakim Ketua pun berkata, “Cukup!!! Sudah kita dengar sendiri dari mulut penghasut ini. Kita tidak butuh bukti dan kesaksian apa-apa lagi. Bunuh dia! Salibkan di Monas!!!” Kemudian, seluruh hadirin pun bergemuruh, “Salibkan dia di Monas!!! Salibkan dia di Monas!!!”

Begitulah akhirnya. Joko Slamet alias Anom Widodo, pemuda berusia 30-an tahun, seorang penyair, dihukum mati disalib di Monas. Tangan dan kakinya dipakukan pada dinding beton Tugu Monas sehingga orang banyak dapat melihat. Eksekusi itu disiarkan langsung oleh seluruh stasiun televisi di Indonesia sehingga seluruh rakyat jelata yang pernah dan akan selalu digerakkan oleh puisi-puisi Anom Widodo dapat menyaksikan. Sebelum mati, dia berseru, “Bung Besar... Bung Besar... entenana aku!!!” Mereka meratap. Penyair muda yang mati disalibkan di Tugu Monas itu merupakan lambang sejarah yang dibengkokkan sebagaimana sejarah-sejarah lain yang ada di diorama Monumen Nasional.

November 2013
Padmo Adi

BERDIKARI

BERDIKARI

Pada suatu hari ada seorang aktivis dari Komnas Perlindungan Anak mendatangi rumah seorang petani. Aktivis itu heran karena anak si petani itu, yang berusia kira-kira seusia anak kelas 4 SD, hanya bermain-main di tepi sawah bapaknya, sementara anak-anak seusianya sejak pagi sudah memakai seragam putih merah dan pergi ke SD Impres terdekat.

Aktivis itu bertanya kepada si petani, “Mengapa Bapak tidak menyekolahkan anak Bapak? Apakah Bapak tidak memiliki cukup uang untuk itu? Kalau memang benar bapak tidak mampu menyekolahkannya, Bapak bisa mengajukan beasiswa. Lagi pula, ada dana BOS dari pemerintah.”

“Tidak, mBak,” jawab si petani itu santai, “Bukannya saya tidak memiliki uang untuk menyekolahkannya. Saya punya cukup uang untuk menyekolahkan, bahkan tiga anak sekaligus. Hanya saja, saya tidak ingin mereka sekolah.”

“Loh, ada apa, Pak?” aktivis itu terlihat marah mendengar jawaban dari si petani, “Mengapa Bapak tidak ingin menyekolahkan anak Bapak? Anak Bapak punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak!”

“Hak pendidikan, ‘kan? Bukan hak untuk sekolah,” jawab petani itu santai, “Kalau hak untuk pendidikan, anak saya sudah mendapatkannya, bahkan dengan berkecukupan. Saya selalu membelikan anak saya buku-buku untuk dia baca. Istri saya dengan sabar mengajari anak saya matematika dan bahasa. Kini, anak saya tengah berada di sawah, untuk melihat apakah yang tertulis di buku tentang ekosistem itu benar atau tidak.”

Aktivis itu menahan amarahnya, lalu berkata lebih lanjut, “Akan tetapi, dengan demikian anak Bapak tidak akan pernah mendapatkan ijazah!”

“Apa guna ijazah?” tanya si petani itu.

“Anak Bapak tidak akan dapat bekerja di Jakarta jika sama sekali tidak memiliki ijazah dan surat tanda lulus serta transkrip nilai. Kalaupun dapat bekerja di sana, anak Bapak hanya akan menjadi seorang buruh kasar, mungkin di pelabuhan atau di pabrik. Dengan sekolah, anak Bapak bisa memiliki kesempatan untuk menjadi karyawan berjas dan berdasi di kantor,” kata aktivis itu penuh semangat.

“O... jadi pemerintah itu menyelenggarakan pendidikan semata hanya untuk mencetak ulang para pekerja ya? Jadi, anak saya harus sekolah itu supaya kelak dapat menjadi seorang buruh ya? Seorang yang tidak memiliki hak atas alat-alat produksi dan bahkan pekerjaannya sendiri. Apa beda karyawan berdasi itu dengan buruh kasar, toh mereka sama-sama tidak memiliki hak atas alat-alat produksi dan pekerjaan mereka sendiri? Lihatah anak saya di sana, mBak, dia tengah mempelajari alat-alat produksinya sendiri walaupun kini dia tidak saya sekolahkan,” kata petani itu sembari menunjuk kepada anaknya yang tengah bermain di pematang sawah milik ayahnya.

***

Anak itu pun tumbuh dewasa. Dia mewarisi sawah ayahnya. Dia memiliki alat-alat produksinya sendiri. Dia memiliki pekerjaannya sendiri. Dia begitu rajin menggarap sawahnya itu sebab dia memiliki pekerjaannya itu sehingga dia tidak terasing dari dirinya. Akan tetapi, dia malah jatuh miskin. Ya, walaupun dia memiliki alat-alat produksinya sendiri, dia malah menjadi miskin. Tidak tahan dengan kemiskinannya, anak itu pun mengadu kepada ayahnya. Jawab sang ayah yang kini sudah renta itu, “Ada yang salah dengan sistem kehidupan kita. Rakus. Walaupun pada awalnya aku berusaha mengajakmu untuk hidup di luar sistem, ternyata sistem itu menjadi gurita yang kini turut serta mencaplokmu. Tidak, Nak, jangan salahkan Tuhan. Bukan Tuhan yang menciptakan sistem ini.”

November 2013
Padmo Adi

KETIKA TUHAN ALLAH KESEPIAN

KETIKA TUHAN ALLAH KESEPIAN

Beberapa waktu setelah TUHAN Allah mengusir manusia dari Taman Eden, Allah merasa kesepian. Allah pun turun ke Bumi, tempat Dia membuang manusia. Allah berjalan-jalan di Bumi pada waktu hari yang sejuk. TUHAN Allah mencari-cari manusia yang diciptakan-Nya itu, firman-Nya, “Di manakah engkau?” Tidak ada jawaban. Firman-Nya lagi, “Jangan takut. Tidak perlu lagi engkau bersembunyi seperti ketika pertama kali engkau mendapati dirimu telanjang setelah memakan buah terlarang itu.” Masih tidak ada jawaban. Keheranan, TUHAN Allah terus mencari manusia, sebab Dia rindu akan ciptaan-Nya yang satu itu.

Ternyata, manusia itu telah membuat suatu rumah baginya dan bagi istrinya pada suatu kaki gunung. Di sekitar rumah itu, manusia itu telah membuat ladang tempat dia menanam bahan makanan baginya dan bagi istrinya, sedangkan di depan rumah itu ada taman kecil berisi penuh dengan bunga mawar dan melati yang ditanam oleh istri manusia itu. Akan tetapi, pada waktu hari yang sejuk itu, rumah itu tampak sepi. Dari kejauhan, TUHAN Allah melihat rumah itu, lalu bermaksud mencari manusia di sana.

Sesampainya di depan pintu rumah itu, diketuk-Nya pintu itu lembut, firman-Nya, “Di manakah engkau? Apakah engkau di dalam? Inilah Aku.” Terdengar suara gaduh dari dalam. Beberapa waktu kemudian, pintu itu dibuka dengan enggan. Manusia itu hanya memakai sarung untuk menutup kemaluannya, katanya sungkan, “Allah, silakan masuk ke kediaman kami yang sederhana ini.”

TUHAN Allah heran, firman-Nya, “Manusia, mengapa engkau hanya memakai sarung?” Manusia itu menjawab, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada di depan rumah ini dan memanggil aku, aku menjadi takut, karena aku telanjang, sebab aku sedang bersanggama dengan istriku. Semenjak kami memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, kami menyadari bahwa kami telanjang. Dan, sejak kami Engkau usir dari Taman Eden ke Bumi ini, kami pun menyadari bahwa ketelanjangan itu indah pada tempat dan waktunya, juga ketelanjangan istriku. Ketelanjangan adalah saat di mana kami telah saling mengenal dengan intim. Itulah sebabnya kami bersanggama. Lalu, aku mendengar Engkau memanggilku. Engkau memanggilku di saat kami sedang bersanggama. Aku jadi panik, sebab aku masih malu telanjang di hadapan-Mu, sehingga kuambil apa yang dapat dengan segera menutup kemaluanku. Itulah sebabnya aku hanya memakai sarung.”

TUHAN Allah berfirman, “Mengapa engkau panik saat Aku memanggilmu? Bukankah seharusnya engkau senang, sebab mungkin Aku akan membatalkan hukuman ini, dan membawamu dan istrimu kembali ke Taman Eden? Tidak tahukan engkau, bahwa Aku kesepian di sana? Aku membutuhkanmu untuk mengurus taman itu dan juga kebun anggur-Ku.” Jawab manusia itu, “Pada awalnya aku memang meratapi hukuman ini. Aku begitu menyalahkan perempuan yang Kauberikan kepadaku sebagai istriku itu. Keterlemparan kami ke Bumi ini adalah hukuman yang pahit. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, dengan berpeluh aku berhasil mengolah tanah ini sehingga berbuah. Dan, aku bangga bisa pulang kepada istriku dengan membawa hasil keringatku sendiri lalu kemudian istriku menyambutku dengan hasil olahannya. Hingga pada akhirnya, aku bisa menikmati keterlemparan ke Bumi ini sebagai sebuah kebebasan! Aku menikmati kebebasan ini. Itulah sebabnya aku panik saat mendengar Engkau mengetuk pintuku. Lagi pula, aku pun tidak siap untuk kembali ke Taman Eden.”

November 2013
Padmo Adi

Sunday, November 10, 2013

STRUKTURALISME

STRUKTURALISME

Saya pribadi merupakan seseorang yang berada di dalam tradisi eksistensialis. Perjumpaan saya dengan strukturalisme mengakibatkan gegar budaya. Strukturalisme merupakan fenomena yang baru bagi saya, maka saya melakukan epoche, penundaan. Akan tetapi, pada kesempatan ini, penundaan itu harus saya akhiri.
Tidak ada negara selain Perancis yang menjadikan filsafat sebagai suatu mode seperti mode pakaian atau musik. Setelah Perang Dunia II, Perancis dilanda demam eksistensialisme. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang berbicara tentang Ada (eksis), tentang manusia sebagai individu (subyek), dan tentang kebebasan. Eksistensialisme begitu menekankan subyektivitas individu, bahkan Kierkegaard, bapak eksistensialisme dari Denmark, pernah berkata bawah kebenaran itu subyektif. Di Perancis sendiri eksistensialisme dikembangkan oleh Jean-Paul Sartre dan kawan-kawannya. Eksistensialisme-Sartrean merupakan pengembangan dari Fenomenologi Husserl.
Pada tahun 1960-an yang menjadi mode berfilsafat di Perancis adalah strukturalisme. Aliran filsafat ini merupakan bentuk perlawanan terhadap eksistensialisme dan fenomenologi. Jika eksistensialisme mengajak kita untuk terlebih dahulu memandang individu sebagai subyek di dalam pembicaraan mengenai manusia, strukturalisme mengajak kita untuk terlebih dulu melihat struktur/sistem di mana individu itu berada. Individu tidak pernah terlepas dari struktur yang membentuknya. Aliran filsafat ini menggunakan dasar-dasar ilmu linguistik modern dari Ferdinand de Saussure. Ketika orang berbicara mengenai “strukturalisme”, dia harus kembali kepada linguistik Saussurean.

Linguistik Saussurean
Beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari buku Cours de Linguistique Generale (1916) yang diterbitkan setelah Saussure meninggal. Saussure menggunakan beberapa istilah yang khas, yaitu sinkroni-diakroni, signifiant-signifie, dan langage-langue-parole. Linguistik-saussurean menempatkan bahasa sebagai ilmu yang otonom sehingga tidak perlu lagi menghiraukan realitas di luar bahasa (termasuk subyek yang berbicara).
Pendekatan Bahasa oleh Saussure (Pendekatan Sinkronis Mendahului Diakronis)
Pada umumnya orang mempelajari etimologi suatu kata. Hal ini mengandaikan sebuah pendekatan yang historis. Bahasa diyakini sebagai sebuah proses panjang penamaan atas benda-benda (nomenklatur), sehingga arti suatu kata selalu berkaitan erat dengan obyek di luar kata itu. Pendekatan ini adalah sebuah pendekatan diakronis. “Diakronis” berasal dari kata ‘dia’ yang berarti ‘melalui’ dan ‘khronos’ yang berarti ‘waktu’. Pendekatan diakronis adalah sebuah pendekatan yang ‘menelusuri waktu’, sehingga disebut suatu pendekatan historis.
Saussure mengajak mendekati bahasa dengan melihat unsur intrinsik bahasa terlebih dahulu. Pendekatan diakronis menjadi tidak begitu berarti sebelum melakukan pendekatan sinkronis. Kata “sinkronis” sendiri berasal dari kata ‘syn’ yang berarti ‘bersama’ dan ‘khronos’. Pendekatan sinkronis adalah sebuah pendekatan yang “bertepatan dengan waktu”, sehingga disebut suatu pendekatan yang ahistoris. Linguistik-Saussurean melepaskan bahasa dari segala sesuatu di luar bahasa. Bahasa itu merupakan suatu struktur/sistem yang tertata dengan cara tertentu. Saussure mengajak kita untuk melihat hubungan antarunsur bahasa di dalam suatu struktur/sistem bahasa itu dalam suatu totalitas (keseluruhan). Kita harus mengkaji bahasa sebagai suatu struktur/sistem pada waktu tertentu terlebih dahulu sebelum melihat perkembangannya di dalam sejarah. Penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis.
Penanda (Signifiant / Signifier) dan Petanda (Signifie / Signified)
Berdasarkan perspektif pendekatan diakronis, makna suatu kata selalu berkaitan dengan suatu obyek di dalam realitas (nomenklatur). Akan tetapi, Saussure berpendapat bahwa makna suatu kata itu justru berkaitan dengan konsep tentang benda, bukan benda itu sendiri. Makna suatu kata berkaitan erat dengan kata. Kata (tanda bahasa) tidak lain adalah sebuah bunyi atau coretan ditambah makna. Menurut Saussure tanda bahasa terdiri atas dua unsur yaitu penanda (yang menandai) dan petanda (yang ditandakan).
Penanda adalah aspek material dari bahasa (apa yang diucapkan/didengar atau apa yang ditulis/dibaca). Petanda adalah aspek mental dari bahasa, yaitu gambaran mental, pikiran, konsep, imaji. Tanda bahasa selalu memiliki penanda dan petanda. Kedua unsur itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Penanda tanpa petanda itu tidak berarti apa-apa karena bukan tanda bahasa. Petanda tidak mungkin disampaikan tanpa penanda. Penanda dan petanda berhubungan secara arbitrer (sewenang-wenang/harus) dan bukan secara natural.
Langage, Langue (Bahasa), dan Parole (Wicara)
Istilah langage merupakan istilah untuk menunjukkan fenomena bahasa secara umum. Bahasa secara umum (langage) ini di dalam persepktif Saussure terdiri dari dua unsur yaitu langue (bahasa) dan parole (wicara). Langue merupakan bahasa sejauh merupakan milik bersama suatu golongan bahasa tertentu. Langue dipandang sebagai suatu struktur/sistem. Bahasa adalah ‘aturan bermain’ dan yang penting di dalam bahasa adalah aturan-aturan tersebut. Langue merupakan unsur sosial dari bahasa. Individu tidak bisa mengubah langue sendirian.
Parole merupakan pemakaian bahasa yang individual. Parole merupakan peristiwa “berbicara”. Parole merupakan unsur individual dari bahasa. Akan tetapi, seseorang hanya dapat mendekati parole melulu melalui langue, sebab kajian linguistik tidak mempelajari bagaimana individu-individu tertentu menggunakan bahasa.
Tidak ada bahasa tanpa wicara dan tidak ada wicara tanpa bahasa. Individu dibentuk oleh bahasa sebagaimana individu-individu itu membentuk bahasa. Bahasa tidak dapat berubah kecuali berevolusi melalui proses historis wicara. Bahasa merupakan instrumen dan sekaligus produk wicara.
Bahasa merupakan totalitas yang terdiri dari unsur-unsur yang berbeda dan mempunyai fungsi masing-masing. Unsur-unsur itu hanya dapat dibandingkan atau ditukarkan di dalam sistem bahasa yang sama.
Semiologi (Semiotika)
Prinsip-prinsip dasar linguistik di atas dapat diterapkan ke dalam ilmu-ilmu lain di luar bahasa. Penerapan dasar-dasar linguistik ke dalam bidang-bidang lain di luar bahasa ini disebut semiologi. Linguistik sendiri akhirnya menjadi salah satu cabang dari semiologi ini. Metode studi bahasa bisa diterapkan pada bidang studi lain sejauh bidang studi lain itu memuat tanda.

Psikoanalisa Rasa Strukturalisme a la Jacques Lacan
Lacan adalah seorang freudian. Freud telah menggeser cogito cartesian ke dalam ketidaksadaran. Filsafat sejak Rene Descartes hingga fenomenologi dan eksistensialisme begitu menekankan kesadaran ego. Imannuel Kant dan Hegel pun berfilsafat di dalam tradisi ini. Akan tetapi, menurut psikoanalisa, bukan kesadaran ego yang penting, melainkan ketidaksadaran. Ketidaksadaran inilah yang menggerakkan ego.
Lacan mengikuti tradisi Freud. “Kembalilah kepada Freud,” kata Lacan. Namun, dia membaca Freud di dalam perspektif strukturalisme. Lacan menciptakan suatu psikoanalisa yang merupakan “suatu antropologi otentik” dengan mengambil ilmu bahasa “sebagai pedoman”.
Bahasa merupakan suatu sistem. Manusia tidak merancang sistem tersebut, tetapi tunduk kepadanya, sehingga manusia mungkin untuk berbicara. Hal yang sama juga terjadi atas ketidaksadaran. Ketidaksadaran mendahului ego. Ego digerakkan oleh ketidaksadaran. Dan, ketidaksadaran itu terstruktur, sama seperti bahasa. Ketidaksadaran mengungkapkan diri melalui bahasa. Bahasa berperan penting di dalam proses psikoanalisa. Analisan mengungkapkan segalanya kepada analis melalui bahasa. Ketidaksadaran yang diungkapkan melalui bahasa tersebut kemudian menjadi penanda. Akan tetapi, Lacan, mengikuti perspektif Freud bahwa ego telah tergeser, mengatakan bahwa yang berkata itu bukan subyek. Subyek itu dibicarakan. Ada yang lain yang berbicara di dalam diri subyek (it speaks in me). Ketidaksadaran merupakan “wacana dari liyan”.

Marxisme Strukturalis - Althusser
Althusser adalah seorang marxis Perancis. Dia memperkenalkan cara membaca Marx yang menolak pandangan humanistis. Ilmu-ilmu linguistik, psikoanalisa, dan antropologi telah menyatakan bahwa “manusia telah digeser dari pusatnya”, sehingga dalam cahaya itulah kita seharusnya membaca Marx. Althusser menentang gagasan bahwa Marxisme adalah humanisme. Ada diskontinuitas antara Marx muda dengan Marx tua. Memang Marx muda itu bersifat humanis (menempatkan manusia berada di pusat alam semesta seturut tradisi feuerbachian). Akan tetapi, Marx yang sejati adalah Marx tua yang memisahkan diri dari Hegel dan Feuerbach. Marx muda adalah Marx yang ideologis sedangkan Marx tua adalah Marx yang ilmiah.
Meskipun Althusser menentang pandangan humanistis akan Marx yang seakan-akan lebih menekankan Marx muda yang humanis dan ideologis, dia tidak menyingkirkan pembahasan ideologi sama sekali. Di dalam ideologi manusia justru menjadi sadar akan pertentangan kelas dan berjuang untuk menghapuskannya. Althusser justru menawarkan ideologi yang bersifat marxis. Negara terdiri atas aparat-aparat ideologis (gereja, sekolah, sistem hukum, keluarga, komunikasi, parpol, dsb.) dan atas aparat-aparat represif (polisi, tentara, penjara, dsb.). Ideologi adalah alat kaum borjuis untuk melanggengkan status quo. Melalui ideologi dominasi suatu kelas direproduksi.
Manusia bukanlah subyek yang otonom dari ekonomi dan sejarahnya. Manusia adalah produk dari struktur-struktur sosio-ekonomis. Unsur-unsur sosio-ekonomis (infrastruktur) itu nampak di dalam ideologi (suprastruktur). Akan tetapi, ideologi itu menurut Althusser memiliki otonominya sendiri. Ideologi membentuk subyek-subyek dengan meletakkan mereka di dalam sistem hubungan yang diperlukan sehingga hubungan antarkelas yang ada dapat langgeng. Ideologi memberi identitas kepada individu sehingga situasi yang ada bisa berjalan. Ideologi justru bekerja melalui praktek-praktek ritual yang praktis dan spontan, yang seakan-akan lumrah dilakukan oleh seorang individu. Ketika individu-individu itu berdoa, berjabat tangan, memilih barang belanjaan, sekolah, dan tindakan-tindakan lumrah lainnya, mereka tidak bebas nilai, sebab berada di bawah pengaruh ideologi.

Memberanikan diri untuk Mengajukan Kritik
Oleh karena strukturalisme menempatkan diri sebagai aliran filsafat yang antihumanisme, filsafat ini mengesampingkan subyek. Subyek dipandang sebagai yang tidak bebas dan terdeterminasi oleh sistem/struktur, baik itu struktur bahasa, masyarakat, maupun ketidaksadaran. Peran manusia sebagai subyek bebas yang menjadi agen sejarah juga direduksi. Kaum strukturalis mengulang apa yang pernah Nietzsche sampaikan bahwa alih-alih ada yang disebut sejarah linear, yang ada adalah “terulangnya segala sesuatu secara abadi”.
Sebagai suatu metode berfilsafat, kita bisa dengan bebas dan lincah menggunakan strukturalisme (linguistik saussurean). Strukturalisme akan memberi kita pisau bedah baru di dalam mendedah dan mengartikulasikan kehidupan. Strukturalisme juga membuat kita tidak terlampau optimis terhadap humanisme. Akan tetapi, jika segala sesuatu direduksi ke dalam struktur dan hanya strukturlah yang nyata sehingga subyek yang bebas itu disangkal, saya pribadi perlu mendekatkan diri kepada Sartre untuk menolak hal tersebut. Ketika strukturalisme berani mengatakan bahwa yang nyata hanyalah struktur dan subyek manusiawi hanyalah ilusi semata, strukturalisme telah melampaui batas-batas metodenya.
Pembicaraan mengenai struktur dan sistem mengandaikan adanya individu bebas yang berbicara. Struktur/sistem sendiri tidak berbicara! Langue memang adalah sistem/struktur bahasa, tetapi ada parole di sana, tempat individu mengartikulasikan bahasa. Memang sering kali individu digerakkan oleh renjana bawah sadar, tetapi individu yang bebaslah yang mengartikulasikan ketidaksadaran itu ke dalam bahasa untuk kemudian menelaahnya. Sartre mengatakan bahwa manusia itu tidak terkurung di dalam struktur! Manusia melampaui struktur. Subyektivitas bagi Sartre selalu menjadi hal yang terakhir. Penolakan subyektivitas itu merupakan usaha yang sia-sia dan penuh ironi sebab penolakan itu sendiri sudah mengandaikan suatu subyektivitas dari suatu subyek. “Yang penting bukan apa yang diperbuat atas manusia, melainkan apa yang manusia perbuat atas apa yang diperbuat atasnya,” kata Sartre.

Bahan Bacaan
K. Bertens, 2006, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
John Lechte, 2007, 50 Filsuf Kontemporer, dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, terj. Bahasa Indonesia oleh A. Gunawan Admiranto, Yogyakarta: Kanisius
St. Sunardi dan A. Supratikna (ed.), Dasar-dasar Kajian Budaya, Bahan Bacaan Kuliah, Yogyakarta: IRB - USD

Padmo Adi
untuk tambahan Jumat di Palma 18 Oktober 2013