MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG

  MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com Aku melihat binatang buas besar dari timur berenang perlahan namun pasti dari kedalaman samudera bergerak hingga ke kepulauan kita yang dijamahnya bakal celaka   Aku melihat matanya merah menyala kepalanya seperti kepala singa aumannya menjelma kegelisahan lidahnya lidah-lidah api napasnya membakar segala   Aku melihat tubuhnya keras laksana kuda nil berwarna jingga terang seperti bara kaki-kakinya seperti kaki mastodon sementara ekornya mirip ekor buaya menyeret maut ke segala penjuru   Aku melihat duburnya menyembur metana Awan basah disapunya lenyap tak tersisa Sumber-sumber mata air jadi kering Sumur-sumur kerontang tak bisa diminum Panenan gagal, paceklik pun mencekik   Wahai ... wahai ... wahai ... bangsa yang dipimpin raja tua dementia yang emasnya tak lebih berharga daripada tembaga yang lumbungnya mlompong dikuras cukong...

TUANG AIR MATAMU SECUKUPNYA

TUANG AIR MATAMU SECUKUPNYA

 

Seorang lelaki mengenakan kostum Garuda tengah beristirahat dengan sebat.



Kepada para lelaki,

menangislah jika harus menangis,

sebab hidup ini sering kali tragis.

Tuang air matamu secukupnya,

lalu kemasi dirimu kembali,

selesaikanlah hidupmu lagi.

 

Kehilangan demi kehilangan,

kekalahan demi kekalahan,

dari satu luka ke luka lain,

kita telan kepedihan-kepedihan.

Sering kali tak tertahankan.

Sering kali menghancurkan.

 

Letakkan.

Lepaskan.

Ungkapkan.

Tidak semua harus dipanggul!

Pilihlah yang berharga.

Pilihlah yang bermakna.

 

Lewat derita

kita rangkai kata

jadi cerita

balada

legenda

abadi bersama semesta!

 

Malang, 04 Oktober 2024

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments