SINTA

SINTA


Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society. Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem. Seize the day. Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “CARPE DIEM” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day, di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu orang itu akan diam… bengong kebingungan. Dan, aku akan semakin bangga melihat kebengongannya, lalu harus menjelaskan maknanya dalam Bahasa Indonesia.

Namun, kini di usiaku yang menginjak kepala tiga ini, aku jadi paham apa maksudnya. Rutinitas mencari berlembar-lembar gambar Soekarno-Hatta warna merah itu membuatku berlari dari satu Senin ke Senin berikutnya. Bahkan, Sabtu dan Minggu tak lebih daripada Senin-senin yang lainnya. Waktu berjalan cepat sekali. Matahari berlari. Hampir-hampir aku tak kuasa mengejarnya. Carpe diem... carpe diem... seize the day... seize the day... raihlah hari ini... raihlah hari ini... sebab esok takkan pernah tiba... esok tidak akan tiba. Waktu berdetik. Jantungku masih berdetak. Tapi hari yang satu berganti hari yang lain. Lalu Senin. Dan, kini aku tiga puluh tahun. Apa yang sudah aku lakukan dalam tiga puluh tahun hidupku? Apa yang sudah terjadi dalam tiga puluh tahun hidupku?

Saat berusia delapan tahun aku telah kehilangan mama dan meimei. Mereka menjadi salah satu korban tewas dalam kerusuhan Mei 1998. Aku dan koko-ku diselamatkan papa; kami lari ke Sragen, bersembunyi di rumah pek-ku. Saat-saat itu memang adalah waktu yang suram dan mencekam, terutama bagi kami orang Cina. Dua minggu aku membolos sekolah. Beberapa teman malah lari ke Australia atau Singapura. Ruko-ruko mereka ditulisi “MILIK PRIBUMI” atau “PRO REFORMASI”, tapi tak jarang yang kena amuk masa. Sementara ruko papaku di Jalan Yos Sudarso, Solo, itu ludes jadi abu bersama mama dan meimei. Kami jatuh bangkrut, dihantam krisis moneter, diremukkan amuk masa. Dari titik nadir itulah papa membangun kembali kehidupan kami. Kami pindah ke rumah sederhana di Makamhaji, di sebelah barat Kota Solo. Papa usaha apapun yang bisa diupayakan untuk dapat membesarkan kami. Kepedihan yang mendalam kehilangan kekasih dan anak perempuannya direpresi sedalam-dalamnya. Bajingan; aku tidak dapat membayangkan betapa dahsyat remuknya hati papa, sementara dia mencoba tegar sebab masih ada dua anak lelaki yang musti dididik dan dibesarkannya. Namun, sesekali aku melihat papa duduk sendiri menatap gelap langit malam ditemani segelas teh panas dan udud tingwe. Mungkin cara itu sedikit lebih elegan daripada langsung mengakhiri hidup yang penuh dengan tragedi begitu saja. Sejak kehilangan mama dan meimei, papa menjadi perokok kelas berat.

Dan... benar saja... . Di akhir semester 2 ketika aku kuliah di sebuah Politeknik Mesin di Kota Surakarta, papa menyusul mama dan meimei. Aku dan koko kini menjadi yatim piatu. Tapi, hidup harus terus berjalan. Kami lelaki, tak punya cukup waktu untuk berduka. Walau waktu masih saja terasa berjalan pelan, seolah-olah mama dan adikku baru saja tiada beberapa hari yang lalu; seolah-olah papaku barusan pergi meninggalkan kami kemarin sore. Tapi waktu yang ada harus digunakan dengan baik, carpe diem. Koko memutuskan untuk berhenti kuliah dan melanjutkan usaha Papa, semata supaya kami dapat bertahan hidup. Kuliahku sendiri pun juga berantakan. Walaupun pek-ku di Sragen sana berkomitmen untuk membantu biaya kuliahku, itu tidak cukup. Butuh lebih daripada sekadar dana supaya aku dapat menyelesaikan kuliahku dengan baik. Ada kekosongan dan bolong yang menganga dalam diriku. IPK-ku mendekati limit; aku hampir di-DO. Satu-satunya alasan aku bertahan adalah Sinta Gayatri Paramita.

Perjumpaanku pertama kali dengan Sinta adalah ketika kami sekolah di bangku SMA. Tidak, kami tidak satu SMA. Kami bertemu di gunung. Kami sama-sama hendak naik Lawu. Aku dengan mapalaku, dan dia dengan mapalanya. Dia adalah siswi dari salah satu SMA Negeri terbaik di Solo. Sementara, aku cuma siswa nakal dari suatu SMA Katolik Bruderan di Surakarta. Kami bertemu tatkala kami sama-sama membuka tenda di Pos IV, sebelum puncak. Wajahnya begitu indah di tengah dinginnya malam Lawu yang cerah. Sekaleng sarden menjadi modalku untuk berkenalan dengannya.

“Laper gak? Yuk makan bareng.”

“Makasih.”

“Pertama kali naik?”

“Iya.”

“Dari mana?”

“Solo.”

“Lho... sama... .”

Kami bertukar nomor ponsel. Lalu lanjut SMS-an. Tentu saja waktu itu belum ada Whatsapp atau Telegram. Pedekate melalui SMS itu dulu cukup seru dan mendebarkan: meringkas dan menyingkat kata-kata, berharap pulsa HP mencukupi, lalu deg-degan menanti balasannya. Ringtone SMS darinya adalah lagu yang membuat dopaminku membuncah! Bermula dari SMS-an itu, lanjut main ke sekolahnya, kemudian jajan bersama, dan akhirnya apel ke rumahnya.

Sinta tinggal di daerah Kratonan, dekat San Inigo. Andai keluargaku masih tinggal di Jalan Yos Sudarso, tentu saja akan jauh lebih mudah bagiku untuk main ke rumahnya. Tiap kali aku main ke rumah Sinta, kusempatkan lewat di depan bekas ruko kami dulu. Mengenang mama, mengenang meimei, mengenang masa kecilku... semua jadi abu. Sebenarnya aku ingin bisa melupakan luka pahit yang mencekam itu. Namun, sepertinya Tuhan tidak mengizinkanku. Perjumpaanku dengan Sinta justru membawaku kembali ke tempat masa kecilku.

Ngapain kamu ke sini?”

“Mampir. Habis misa di San Inigo. Kamu tidak ke gereja?”

“Besok pagi ada jadwal pelayanan ibadah di El-Shaddai.

“Ke Shi Jack yuk. Temani aku nongkrong.”

“Traktir susu cokelat hangat ya?”

“Beres.”


Sinta melanjutkan studinya di sebuah Politeknik Kesehatan, mengambil Keperawatan. Dia sangat mencintai kehidupan. Sebenarnya dia ingin menjadi dokter, tetapi keluarganya tidak sanggup membiayai pendidikan kedokteran. Aku pernah berkelakar padanya, suatu hari aku akan menjaga kesehatan mesin-mesin, sementara dia akan menjaga kesehatan manusia. Kelakar itu terbit dari naifku yang mendikotomi antara tubuh biologis manusia dan mesin; padahal dewasa ini kebertubuhan manusia telah terintegrasi dengan mesin-mesin itu sendiri. Bahkan, mesin pun kini menjadi lebih humanoid, ‘kan? Melalui mata Sinta, aku melihat dunia yang begitu indah, berwarna, penuh gairah dan hasrat, dengan perasaan yang menggebu; di saat melalui mataku sendiri aku justru melulu melihat dunia begitu abu-abu, mekanistik, positivistik, dan tanpa emosi. Pasca-1998, seolah-olah aku tengah menjalani hidup di zaman pascaapokaliptik! Aku berharap Kitab Wahyu itu segera saja tergenapi. Lalu... aku punya kesempatan berjumpa dengan mama, adikku, dan papa.

Aku rindu papa... aku rindu meimei... aku rindu mama... . Namun, hidup harus terus dijalani. Hanya saja, hidup di tengah negara ini seperti bermain game RPG dengan mode kesulitan survival! Jika aku berjumpa dengan leluhurku, ingin sekali aku bertanya padanya, mengapa dulu dia kepikiran untuk berlayar dari Tiongkok ke pulau ini?! Mungkin leluhurku akan tertawa mendengar pertanyaanku lalu menjawab, “Supaya kau ada kesempatan berjumpa dengan Sintamu itu.” Ah... mengapa aku bisa begitu cinta pada Sinta? Mengapa aku begitu terpesona pada gadis berkulit sawo matang itu? Mengapa perasaanku tertambat pada seorang gadis dari Kratonan? Mengapa aku tidak memacari gadis Cina saja, toh kawan sekelasku di SMA banyak yang Cina? Apakah aku trauma menjadi Cina? Apakah aku membenci diriku yang adalah Cina? Apakah aku berhasrat menjadi “MILIK PRIBUMI”?!

Mencintai Sinta mungkin adalah caraku protes pada Tuhan; mengapa Tuhan menciptakanku sebagai seorang Cina, melemparkanku di sebuah negeri yang begitu rasis dan sadis, mudah lupa pada sejarah panjang bangsanya—bahwa kolaborasi Cina-Jawa di tanah ini telah terjalin sejak ratusan bahkan ribuan tahun seperti misalnya pada peristiwa Sunan Kuning alias sang Amangkurat V. Mencintai Sinta mungkin adalah caraku protes pada Tuhan yang terpaku pada salib di atas bukit Golgota; mengapa Dia mengizinkan ada banyak denominasi untuk bertemu dengan-Nya dan masing-masing denominasi itu menganggap diri yang paling orisinil dan benar.

Ah... alangkah naifnya aku... . 


***


“Di hadapan imam, para saksi, dan seluruh umat yang hadir di sini aku, Markus Wijaya, memilih engkau, Sinta Gayatri Paramita, menjadi istriku. Aku berjanji untuk mencintaimu dan setia kepadamu dalam untung dan malang, susah maupun senang, di waktu sehat dan sakit. Aku mau mengasihi, menghormati, dan memahamimu sepanjang hidupku.”

“Di hadapan imam, para saksi dan seluruh umat yang hadir di sini aku, Sinta Gayatri Paramita, memilih engkau, Markus Wijaya, menjadi suamiku. Aku berjanji untuk mencintaimu dan setia kepadamu dalam untung dan malang, susah maupun senang, di waktu sehat dan sakit. Aku mau mengasihi, menghormati, dan memahamimu sepanjang hidupku.”

“Atas nama Gereja Allah, dan di hadapan para saksi serta hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan katolik yang sah. Semoga sakramen ini bagi saudara berdua menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Allah jangan diceraikan manusia,” kata Romo Thomas, M.S.F. memberikan peneguhan atas janji perkawinan kami.


Pada 29 Juli 2019 aku dan Sinta menikah. Hari itu aku benar-benar carpe diem! Perkawinan kami adalah perkawinan mixta religio, perkawinan campur antara seorang Kristiani dari Gereja Katolik dan seorang Kristiani dari Gereja Protestan. Perkawinan kami sakramen, sebab baptisan Sinta di Gerejanya sah diakui oleh Gereja Katolik. Kami melangsungkan perkawinan di Gereja Santo Paulus Kleca, parokiku. Tidak mudah bagi kami untuk dapat melangsungkan perkawinan ini, sebab aku harus meminta dispensasi perkawinan campur beda Gereja kepada ordinaris wilayah Gereja, yaitu Romo Vikaris Episkopal Kevikepan Surakarta, di Gereja St. Perawan Maria Regina Purbowardayan, Jebres, Surakarta. Tentu saja, setelah aku berjanji—sebagai syarat diberikannya dispensasi perkawinan itu—untuk tetap mempertahankan iman sebagai seorang Katolik serta juga sekuat tenaga berusaha membesarkan dan mendidik anak-anak kami kelak dalam iman Katolik. Sungguh sangat rumit, menguras energi, dan juga menguras kewarasan mental! Namun, kami bersyukur, kami dibimbing oleh Romo Thomas, M.S.F. Dia dengan sabar memberikan pendampingan pastoral kepada kami. Dan, kami pun bersyukur, keluarga Sinta sendiri punya latar belakang religi yang beragam, khas keluarga Jawa di Surakarta, sehingga tidak begitu mempersoalkan pemberkatan perkawinan kami diselenggarakan di Gereja Katolik Santo Paulus Kleca, tempat Romo Thomas, M.S.F. bertugas.

Bagiku perkawinan adalah semacam kepanitiaan seumur hidup. Dua orang yang sama-sama berjanji menyelenggarakan cinta ini sama-sama mengambil peran penting. Ada yang jadi ketua, ada yang jadi wakil ketua. Ada yang jadi sekretaris. Ada pula yang jadi bendahara; mungkin bendahara 1 dan bendahara 2. Ada yang jadi usaha dana, mungkin malah dua-duanya jadi usaha dana. Ada pula yang jadi bagian logistik dan konsumsi. Ada juga sie hiburan. Ada yang jadi sie transportasi. Tidak lupa juga ada sie rohani dan sie pendidikan; edukasi pertama itu ada di dalam keluarga.Perkawinan adalah upaya menjalani hari demi hari berdua untuk menyintas bersama, saling menyejahterakan, dan saling membahagiakan. Hidup ini tidak pernah adil dan justru penuh dengan duka; menjalaninya bersama-sama akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah untuk ditelan. Dan, dapat menjalani dengan kekasih yang dapat menjadi sahabat adalah anugerah yang luar biasa!

Namun, dengan seorang sahabat pun kita perlu komunikasi dan dialog. Juga dengan kekasih–yang kini kupanggil istri, aku perlu berdialog. Apalagi, kami ini dibesarkan dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dia sungguh sangat Jawa, tumbuh besar di lingkungan Kratonan. Sementara, aku sendiri cina wurung, jawa nanggung, landa durung. Di sisi lain, dia adalah seorang Protestan, dari Gereja Bethel. Sementara, aku adalah seorang Katolik. Kami sama-sama Kristiani, tetapi jelas ajaran teologi kami berbeda, penghayatan religi kami berbeda, cara berdoa kami berbeda, paradigma kami berbeda, cara berpikir kami pun berbeda. Cinta memang adalah modal awal untuk menjembatani itu semua, tetapi cinta saja tidak cukup! Komunikasi dan dialog harus senantiasa kami bangun supaya kami dapat menjalani ini semua bersama. Kerendahan hati, sikap terbuka saling menerima, menanggalkan ego, dan kasih adalah yang senantiasa kami perjuangkan untuk tetap dapat bersama-sama.

Apakah rumah tangga kami seindah kisah cinta platonik? Tentu saja tidak. Selalu ada jatuh bangun. Miss komunikasi selalu ada. Marah dan jengkel bisa saja hadir pada suatu hari. Bahkan, hal sesepele menaruh pasta gigi saja bisa jadi perkara yang runyam. Tetapi, kami upayakan sebelum tidur malam semuanya sudah selesai kami komunikasikan. Lalu, kami berdoa bersama… tentu doa yang sangat aneh sekali… dia begitu talkative–untuk tidak mengatakan ‘cerewet’ dalam berdoa; sementara aku cuma bisa berdoa Bapa Kami dan Salam Maria lalu, “Keluarga Kudus Nazareth, doakanlah kami.”

Papa dulu awalnya keberatan aku menjalin kasih dengan seorang Protestan. Namun, toh papa tidak pernah bisa menghadiri perkawinanku. Jika papa masih hidup, mungkin dia akan menjitak kepalaku sambil berkata, “Cinta telah mengeraskan kepalamu!” Aku justru ingin bilang padanya, dialah teladanku dalam mengungkapkan cinta; tatkala kekasihnya harus pergi selamanya, dia tidak kehilangan cinta, melainkan memancarkan cinta itu untuk aku dan koko-ku. Papa berhasil menjadi role model bagiku tentang bagaimana cinta itu harus dinyatakan dengan total dan paripurna. Berani mati karena cinta itu klise, tetapi berani terus menjalani hidup oleh karena cinta… walau hidup itu pahit semata… itu baru pemberani!

Cinta juga berarti kemampuan untuk menerima kekasih sebagaimana adanya. Walaupun, ya… manusia itu tidak pernah stagnan dan selalu dinamis; cinta dapat mendorong kita untuk berproses dan tumbuh bersama. Cinta sungguh menyatukan, tetapi tidak menyeragamkan. Itulah sebabnya aku tidak pernah memaksa Sinta untuk masuk ke Gereja Katolik, sebagaimana Sinta juga tidak pernah memaksaku untuk masuk ke Gerejanya. Dia bisa memahami bahwa aku tidak pernah nyaman dengan cara ibadah yang penuh nyanyian meriah. Aku pun juga bisa memahami bahwa dia merasa canggung dengan cara ibadah yang sungguh kontemplatif.

Meskipun demikian, sesekali Sinta menemaniku menyepi ke Gua Maria Mojosongo atau bahkan ke Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Aku pun juga sesekali menemani dia ibadah di El-Shaddai; aku suka memerhatikan dia tengah bernyanyi puji-pujian bagi Tuhan. Pernah juga kami misa di hari Sabtu sore di Kleca, lalu hari Minggunya ibadah di Widuran. Jika Sinta ikut aku misa di Kleca, dia ikuti segala tata gerakan liturgi, sesekali bernyanyi–memang dia suka nyanyi, tetapi dia akan duduk diam di bangku ketika pembagian komuni tiba sementara aku sendiri akan maju antri menerima Tubuh Kristus. Pernah dia kusarankan untuk ikut maju saja dengan kedua tangan menyilang pada dada supaya juga tetap menerima berkat Kristus (atau ‘komuni bathuk’ kata orang awam), tetapi dia bilang dia tidak berani, takut salah. Aku sendiri kalau pas ikut dia ibadah di Widuran ya hanya ngikut saja… duduk ya duduk, berdiri ya berdiri, sesekali juga ikut bernyanyi, ikut berdoa dan memuji juga, walau tetap ada rasa canggung. Yah… sesekalilah… toh Yesusnya sama, ‘kan? Apalagi setelah kami menikah, lalu Hari Raya itu tiba, seperti misalnya Paskah, maka kami akan Misa Malam Paskah di Gereja Katolik, lalu keesokan harinya kami akan ibadah Paskah di El-Shaddai. Kemudian… tentu saja kami merayakannya dengan makan sate babi di sebuah warung di Widuran.

“Orang-orang kalau lihat kita itu akan mikir gimana ya, Sin?”

“Ya, mungkin akan mengecap kita sebagai jemaat yang tidak jelas.”

“Ya masak kamu yang masih sering pelayanan di Gereja masih dianggap gak jelas?”

“Ya mestinya… emang ada orang Kristen main ke Gua Maria?”

“Lha aku juga Kristen!”

“Protestan, maksudku… .”

“Mungkin saja… . Aku malah pernah lihat ada gadis berjilbab main ke Gua Maria Kerep, Ambarawa. Eh, waktu itu kamu ikut juga, ‘kan? Kamu lihat juga, ‘kan?

“Ya, ‘kan mereka cuma main di tamannya… bukan di tempat doanya.”

“Tapi Bunda Maria juga berjilbab ‘kan ya?”

“Ya namanya juga orang Timur Tengah.”

“Kamu kalau pas ke Gua Maria menemani aku itu ya berdoa juga?”

“Gak sih. Gak tahu. Aku cuma diam. Kadang aku masih merasa canggung dengan cara doa orang Katolik yang hening banget. Kamu kalau doa ke Bunda Maria doa apa?”

“Aku cuma mohon doa sih. Biasanya kalau mohon doa Bunda Maria, Tuhan lebih mau mendengarkan. Sama seperti peristiwa Perkawinan di Kana.”

“Seperti minta lewat orang dalam gitu ya?”

“Lha kamu sendiri kalau doa malah pakai bahasa Roh Kudus!”

“Enggak ya… . Aku belum dianugerahi Tuhan karunia itu.”

“Kalau misalnya boleh minta karunia, kamu ingin karunia apa?”

“Apa ya… . Mmmm… aku ingin bisa menyembuhkan… memberi keselamatan… setidaknya meringankan penderitaan orang sakit.”

“Kamu sekarang sedang meringankan penderitaan orang sakit… memberinya keselamatan.”

“Eh… . Siapa?”

“Aku.”

“Gombal!”

“Babimu gak habis? Sini kuhabiskan… .”

“Hish!!!”


***


Setelah menikah, aku dan Sinta tinggal di Makamhaji. Koko-ku kini tinggal di Surabaya, dapat janda anak satu. Katanya dia meneladan Santo Yosef. Meneladan apanya… dia dapat juragan toko bangunan! Usaha papa tidak dia lanjutkan; tidak dia lanjutkan di Solo lebih tepatnya. Peninggalan papa dia bagi berdua denganku. Lalu, bermodalkan warisan bagiannya, dia mempertaruhkan hidup di Surabaya. Kalau lama-lama di Solo bisa hamsyong, alasannya. Tapi mungkin emang hoki-nya di Surabaya… tidak berselang lama dia dapat janda juragan toko bangunan itu. Bajingan tengik memang koko-ku itu.

Aku sendiri kini jadi driver online. Dari warisan bagianku, aku beli sebuah LCGC. Aku tidak pernah bisa kerja ikut orang, sementara aku tidak mewarisi talenta wirausaha. Talenta macam itu diborong koko semuanya. Namun, aku menikmati kebebasan. Aku berharap aku akan mendapatkan sedikit kebebasan pada waktu ada di belakang dashboard mobil. Aku memutuskan untuk terjun sepenuhnya di dunia transportasi. Apapun itu, selama berhubungan dengan menyetir, akan kujalani. Jangan bayangkan semua Cina di Indonesia itu punya toko dan kaya raya! Ada juga modelan sepertiku yang berjuang dari hari ke hari. Tapi, setidaknya aku punya cinta… aku punya Sinta… aku punya Sinta Gayatri Paramita! Aku suka namanya… Sinta Gayatri Paramita… kasih yang menyelamatkan lewat nyanyian yang sempurna. Ya… dialah kekasihku… yang menyelamatkanku lewat kidung-kidungnya… yang sungguh sempurna bagiku. “Kasih yang sempurna telah kut’rima dari-Mu…” begitu syair suatu lagu rohani Kristen yang pernah dinyanyikan Sinta.

Sebagai lelaki, sebagai suami, aku tidak pernah keberatan istriku bekerja meniti karier. Justru aku mendorong Sinta untuk mengembangkan talentanya, terus berkarya, supaya hidupnya bermakna. Sinta sungguh menikmati bekerja menjadi seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di Kerten. Ya, kadang dia shift pagi, kadang shift malam. Melihat dia melakukan apa yang menjadi cita-citanya, aku senang. Aku sendiri juga menyadari, pendapatanku sebagai seorang driver online tidak pernah menentu. Ada masanya panen raya, ada pula masanya paceklik. Kalau masa-masa sulit itu tiba, aku akan offline lalu melakukan hal-hal lain yang penting cuan. Nyopir travelan atau carteran luar kota bahkan luar pulau pun aku mau. Sekadar ke Jogja oke, ke Bandung ayuk, sampai ke Denpasar gaskan! Yang penting, carpe diem!

Pagi itu adalah suatu Senin di awal bulan Maret 2020. Aku mengantarkan Sinta ke rumah sakitnya untuk kerja shift pagi. Dia memintaku untuk menurunkannya di sebuah gang kecil di samping rumah sakit itu. Gang itu mengarah ke Gereja St. Paulus Kleca. Pada gang itu ada sebuah warung kecil. Sinta ingin membeli sesuatu sebelum memulai shift-nya. Aku menurutinya. Dia bilang, tidak perlu menunggunya, aku bisa lanjut kerja. Memang hari itu rencananya aku akan keluar kota untuk beberapa hari.

Aku menepikan mobil. Lampu hazard kunyalakan. Tangan kiriku menarik tuas handbreak. Tatapanku mengunci wajah Sinta. Dia tersenyum.

“Makasih ya… .”

Dalam dadaku terbit perasaan aneh. Namun, aku tidak memahami perasaan apa itu. Rasioku berkata bahwa itu perasaan konyol yang layak untuk diabaikan saja. Semua akan berjalan seperti Senin-Senin yang telah lampau. Akan tetapi, hatiku memintaku untuk menatap Sinta dalam. Aku menurut. Toh tidak ada salahnya lebih lama menatap istri sendiri.

“Kamu kenapa?”

“Aku akan merindukanmu, Sin.”

“Aku juga. Kamu keluar kotanya jangan lama-lama ya.”

“Palingan dua minggu. Surabaya dan Malang. Habis itu langsung balik ke Solo.”

“Tumben sampai Jatim?”

“Mengantar mobil. Teman bisnisnya koko beli mobil. Maunya yang plat AD.”

“Mobil apa sih? Sampai harus beli di Solo!”

Hardtop.”

“Di Surabaya mampir ke tempat koko-mu?”

“Iya.”

“Salam untuknya dan keluarga.”

“Iya.”

“Aku lanjut ya.”

Love you.”

Love you too.

Mataku terus membuntuti Sinta. Dia melepaskan sabuk pengaman. Dibukanya pintu mobil. Dia keluar, membungkuk, lalu kepalanya masuk lagi.

Video call ya kalau free.”

“Iya, Sayangku Cintaku Manisku… .”

“Kalau kamu sudah pulang nanti kuceritakan sesuatu.”

“Apa?”

“Nanti saja. dah… sana! Pokoknya jangan lupa video call!”

“Iyaaaah!”

Mendapat kepastian dariku, Sinta menutup kembali pintu mobil. Dia lalu berjalan, menyeberang jalan, dan membalikkan badan ke arahku. Aku buka jendela mobil. Dia melambai. Aku pun membalas lambaian tangannya.

“Dah… .”

“Dadah… . Aku jalan ya.”

“Tuhan memberkati.”

Berkah Dalem.”

Handbreak aku lepas. Lampu hazard kumatikan. Kaki kiriku menginjak pedal kopling. Kumasukkan persneling ke gigi satu. Kopling kulepas perlahan. Mobil mulai merayap pelan. Kaki kananku sedikit menginjak pedal gas. Mobil mulai menggeram. Ekor mataku mengintip spion kanan. Nampak perempuan berbaju seragam perawat bermotif batik warna biru berdiri di depan warung, menatapku yang semakin menjauh. Sejenak pandanganku menyapu jalan di depan. Ketika aku mengintip ke spion lagi, kulihat Sinta beranjak masuk ke dalam warung. Dan, mobilku pun berlalu.

Tunggulah kepulanganku, Kekasih. Kala aku pulang nanti, aku akan membawa uang yang banyak untukmu… untuk kita… .


Kuarahkan mobilku ke sebuah bengkel mobil di Jetak, Wonorejo, Karanganyar. Di sanalah aku akan mengambil hardtop itu dan sekaligus menitipkan LCGC-ku ini. Entah apa yang akan diperbuat teman bisnis koko terhadap jip itu. Mungkin dia akan merestorasinya untuk dijadikan koleksi atau klangenan. Mungkin malah akan dijadikan ladang cuan, jadi jip wisata ke Bromo. Aku sendiri juga heran, kok bisa koko kenal orang Malang itu. Katanya rumahnya di Blimbing. Entahlah. Tidak terlalu penting juga bagiku mengetahui siapa teman bisnis koko itu. Yang penting aku berhasil mengantar jip itu selamat sampai Malang, lalu pulang Solo bawa cuan! Kata koko aku juga akan dapat tambahan dari persenan hasil penjualan. Dasar makelar tengik! Untung dia masih ingat sama titi-nya ini.


***


Perlahan aku mengendarai jip hardtop tua itu. Aku tidak berani ngebut. Aku juga tidak berani membawanya lewat jalan tol. Kalau trouble di dalam tol, bisa hamsyong. Akan lebih mudah di jalanan biasa jikapun misalnya trouble. Merayapi jalan raya Solo-Surabaya dengan jip tua yang tidak bisa berlari sungguh merupakan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Akan tetapi, aku menikmatinya. Tidak ada AC. Jendela kanan dan kiri aku buka lebar. Tangan kiriku ada pada setir, sementara tangan kananku kusandarkan pada jendela yang terbuka itu. Angin jalanan menerpa wajahku. Oh, inikah kebebasan itu? Seize the day… carpe diem.

Sragen… Ngawi… Nganjuk… empat jam telah berlalu dan belum juga aku melihat ujung Surabaya. Beberapa kali bus bergambar lumba-lumba menyalipku. Kencang sekali! Konon katanya bus itu mampu menempuh Solo-Surabaya hanya dalam waktu lima jam, itu pun lewat jalan biasa. Namun, perjalanan kali ini bukan untuk adu balap dengan raja jalan raya Solo-Surabaya itu. Perjalanan kali ini adalah untuk mengantarkan mobil jip legendaris ini dengan selamat tiba di pangkuan pemilik barunya di Blimbing, Malang. Maka, kuputuskan untuk istirahat sejenak di Nganjuk itu. Sepiring rawon, secangkir kopi hitam, dan sebatang kretek aku yakin akan mengembalikan kesegaranku. Jikapun itu masih kurang, aku tetap bisa merebahkan diri sebentar, menutup mata barang sejenak. Toh aku tidak terlalu diburu waktu. Namun, sebuah pesan Whatsapp masuk mengusik istirahatku.

[Sampai mana?]

[Nganjuk, Ko. Nge-rest.]

[Pelan-pelan ta?]

[Jip tua. Nek ngebut ntar gardan-ne rontok.]

[Bengkelmu sing ndek Wonorejo itu dah nyiap-na dengan baik, ‘kan?]

[Iyo. Tapi kata-ne ntar tetep perlu ganti radiator. Di Solo barang-e nihil.]

[Ya. Nanti ae ganti ndek Surabaya. Ndek sini banyak. Tapi, kamu-ne aman?]

[Aman. Mobil-e gak rewel. Boyokku sing gak aman.]

[Yo ntar sampek sini STMJ sik. Uang bensinmu misik ta?]

[Misik. Ameh nambahi ta?]

[Gampang iku. Pokokmen kamu sampek sini slamet sama mobil-e.]


Perjalanan kembali kulanjutkan setelah aku merasa cukup segar. Langsung kuarahkan hardtop itu ke titik shareloc yang dibagikan koko. Sebuah bengkel. Di Surabaya nanti mobil itu harus diberi sentuhan akhir. Ada beberapa part-nya yang harus diganti dan direstorasi supaya sedikit lebih baik ketika tiba di tangan pemilik barunya. Sudah menjadi bagian dari kesepakatan jual-beli. Koko yang mengurus segala sesuatunya, sementara aku hanya bertugas mengantar mobil itu dengan baik.

Terus terang, aku mengiyakan pekerjaan ini lebih karena memang aku ingin mengendarai mobil jip macam itu, tentu juga karena iming-iming honor yang lumayan dari koko. Selama ini aku memperlakukan mobil sebagai mesin yang memindahkan tubuh manusia dari satu tempat ke tempat lain saja. Walaupun ada secuil kebebasan yang kurasakan, aku memperlakukan LCGC-ku sebagai mesin pencari uang. Aku suka otomotif, tetapi aku merawat mobilku itu sekadar maintenance rutin supaya selalu prima diajak narik puluhan-ratusan kilometer sehari. Aku belum pernah berjumpa dengan mobil yang memberiku jiwa, karakter, dan rasa kebebasan sempurna. Perasaan semacam itu pertama kali kudapatkan ketika naik Suzuki FXR 150 milik kawan ketika SMA dulu. Kemudian perasaan itu kembali ketika aku mengendarai Ninja RR milik teman kuliahku. Selama ini baru brompit-lah yang mampu memberiku sensasi total freedom. Hingga akhirnya di suatu hari aku berkesempatan untuk mengendarai Taft Rocky 4x4 plat L milik koko. Jadi… inikah sensasi kebebasan mengendarai roda 4 itu, tatkala aku ada di kokpit mobil jip offroad? Suatu saat nanti jika aku bisa beli mobil untuk hobi, aku mau beli jip macam itu! Mungkin Jimny 80-an yang harganya masih masuk akal.

Land Cruiser tua yang lebih terkenal dengan sebutan hardtop ini menderu kembali ke timur. Besi tua itu merayap perlahan menuju ke Jombang. Jalan raya mulai bergelombang. Truck-truck besar merambat di lajur kanan. Bus-bus AKAP berlarian mengejar waktu. Hardtop ini pun goyang mengikuti gelombang aspal, tetapi tetap mantap merayap. Kurasa, kaki-kakinya perlu juga jadi PR nanti di Surabaya. Jam di tangan kiriku menunjukkan pk14.13. Hatiku dilanda kebosanan. Iseng kunyalakan radio. Mungkin akan ada warta suka cita dari Jombang. Kucari saluran yang ada. Nyaut RRI. Pas ada berita dibacakan.

[Presiden Indonesia mengonfirmasi bahwa ada dua orang Indonesia yang positif terjangkit Virus Corona. “Ada dua orang warga negara Indonesia yang positif Virus Corona,” ujar Presiden pada Senin, 02 Maret 2020. Presiden menegaskan bahwa dua warga tersebut yang satu berusia 64 tahun dan putrinya berusia 31 tahun. Keduanya tinggal di wilayah dekat Depok. Presiden juga menekankan sejumlah upaya dan antisipasi pemerintah dalam menghadapi Virus Corona. “Kami telah menyiapkan lebih dari 100 rumah sakit dengan ruang isolasi dengan standar isolasi yang baik. Kami juga memiliki peralatan yang memenuhi standar internasional,” jelas presiden.]

Apa itu Corona? Toyota Corona aku paham. Hah… terserahlah… . Ada-ada saja. Palingan ya pilek; ngombe jamu apa ciu rak ya mari. Sudahlah… nanti tanya Sinta saja kalau sudah sampai Surabaya.


Sesampainya di Surabaya, aku langsung mengarahkan ke bengkel yang disebut koko. Dia sudah ada di sana ngobrol dengan pemilik bengkel, menantiku. Hari hampir senja. Perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh dalam 4-5 jam itu nyatanya kutempuh dalam waktu 8 jam! Lebih banyak istirahatnya. Jalannya pun pelan, takut onderdilnya rontok di jalan atau trouble. Pokoknya waton slamet sampai di bengkel di Surabaya ini, untuk diberi final touch, ganti beberapa onderdil yang sulit dicari di Solo. Tugas pertama selesai. Nanti tinggal menunggu mobil ini beres, lalu lanjut jalan ke Malang. Selama menanti, aku tinggal di rumah koko dan cici, di daerah Simokerto, Surabaya.


***


Ternyata cukup lama aku di Surabaya. Bengkel langganan koko butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan segala PR yang ada pada jip Land Cruiser hardtop tua itu. Koko cukup sabar. Mungkin karena nilai transaksinya cukup besar. Mobil gorengan! Aku yang malah kebingungan tidak tahu harus ngapain selama menunggu di Surabaya ini. Ya, koko sih minta tolong aku antar jemput sekolah anak dari istrinya itu. Kelas 3 SD. Angge-angge orong-orong, gak melok nggawe melok momong. Tapi, cinta itu memang misteri. Entah apa yang melanda hati koko sehingga mau kawin dengan istrinya yang sekarang itu. Mungkin koko melihat sosok mama ada pada diri cici. Kulihat memang istri koko sekilas mirip dengan gambaran mama yang ada di ingatanku. Ah, bukan hakku untuk menghakimi mereka! Yang penting koko bahagia. Koko berhak membangun keluarganya sendiri setelah papa meninggal. Apalagi, aku pun juga sudah punya keluargaku sendiri bersama Sinta. Ya… kujalani saja permintaan koko. Anggaplah ini bakti tulus titi pada koko-nya. Apalagi, koko sudah banyak berkorban untukku bisa lulus kuliah dulu. Aku hanya ingin berterima kasih kepada koko-ku.

Setelah jip itu siap, pada hari Selasa, 17 Maret 2020, sekitar pk 18.00, aku melanjutkan tugas tahap dua, membawanya hingga ke Blimbing, Malang. Koko meminta aku menemui teman bisnisnya untuk serah-terima unit di sana. Namanya, Hartanto, juragan tembakau dan kopi di Malang. Setelah mendapat sentuhan dari bengkel langganan koko, hardtop itu terasa nyaman sekali. Seolah-olah siap dibawa naik untuk offroad di sabana Bromo. Andai aku ada duit, sudah kubayar sendiri ini mobil! Tapi, aku hanya driver yang bertugas mengantarkan unit ini ke tangan pemilik barunya, sang juragan mbako dan kopi itu. Jip kubawa santai lewat jalan raya biasa. Aku ingin menikmati kebersamaanku dengan hardtop ini sebelum nanti kulepas di Malang. Ya… carpe diem.

Sekitar pk 19.50 aku baru sampai di daerah Blimbing, sekitar Masjid Sabilillah. Aku berhenti di depan suatu rumah yang cukup besar. Di depannya sudah berdiri seorang lelaki dengan tinggi sekitar 160cm. Badannya besar dan gempal, berkulit gelap. Rambutnya pendek berwarna abu-abu. Hidungnya pun besar. Namun, pandangannya tajam. Suaranya rendah dan agak serak, menyapaku,

“Mas Markus!”

Aku mematikan mesin jip.

“Oh… ya, Om. Om adalah …”

“Hartanto… .”

“Oh, ya… ya… Om Hartanto.”

“Mulus ya…”

“Sudah dapat perawatan di bengkel Solo dan Surabaya.”

“Terima kasih sudah membawanya sampai ke sini. Tolong masukkan saja ke garasi.”

Kunyalakan lagi mesin jip, lalu dengan cermat kuparkir di garasi yang disebut. Di garasi itu ada beberapa koleksi mobil 80-an dan 90-an serta beberapa sepeda motor 70-an hingga awal 2000-an. Kolektor rupanya Om Hartanto ini. Ah, bukan urusanku; tugasku hanya menyerahkan unit itu kepada Om Hartanto. Dan, tugasku well done. Juga segala urusan uang bukanlah urusanku, melainkan menjadi urusan koko dengan Om Hartanto langsung. Aku hanya tahu beres saja, bahwa komisiku sudah ditransfer, bertahap. Kemarin ketika sampai di Surabaya, koko sudah memberi kiriman. Setelah aku memarkir jip itu di garasi, segera aku kirim pesan ke koko,

[Sampai. Udah parkir. Ketemu langsung ambek Om Hartanto.]

[Oke. Tunggu-nen dhilit. Bentar lagi tak-kirim. Langsung balik apa nginep?]

[Enjoy Malang sik ta ‘lah… .]

[Ojok nakal. Inget bojo.]

[Jancok!]


“Mas Markus setelah ini ikut saya dulu ya.”

“Ya, Om.”

“Belum makan, ‘kan?”

Om Hartanto mengajakku makan malam di sebuah rumah makan bersama seorang anak buahnya, mungkin sopirnya–sebab dia yang pegang setir. Namanya Udin. Mobil Innova hitam itu meluncur di Jalan Soekarno-Hatta. Aku duduk di sebelah kiri Udin. Om Hartanto menikmati duduk di tengah. Seorang sopir disopiri. Ya sudahlah… kunikmati saja momentum itu… kunikmati saja Malang di malam hari. Kunikmati Jalan Soekarno-Hatta. Kemudian, pada salah satu rumah makan Padang kami berhenti dan menyelesaikan urusan perut ini. Masakan Padang tidak pernah salah. Apalagi, ketika dinikmati dengan menggunakan kesepuluh jarimu… ketika jemarimu itu menyentuh nasi hangat yang telah dilumuri bumbu sedap itu, seolah-olah pintu surga terbuka. Persetan dengan table manner kolonial anglofon itu! Moralitas tidak dinilai dari kamu makan muluk pakai tangan atau pakai sendok atau pakai sumpit. Standard peradaban tidak tunggal berkiblat ngeropah-ngamerikah saja. Perkara higienis, cuci tangan pakai sabun cukup, ‘kan? Toh ketika aku wawik aku selalu pakai air dan sabun juga, bukan kertas tisu!

“Kopi atau bir?”

“Ya, Om?”

“Mas Markus mau ngopi apa ngebir?”

“Wah… ini cukup, Om.”

“Jangan sungkan. Terimalah rasa terima kasih saya karena Mas Markus sudah membawa klangenan saya dengan selamat sampai di rumah.”

“Bir… boleh, Om.”

“Bijaksana. Biar kita sadar, bahwa hidup tidak hanya pahit, tetapi bikin puyeng juga… hahaha… . Kita pindah ke Jalan Kawi.”

Akan tetapi, sebenarnya aku menangkap suasana yang aneh dari kota ini. Kenapa kota sebesar ini nampak lengang? Kenapa pula aparat gabungan banyak turun ke jalan di waktu selarut ini? Mereka menyiapkan blokade di beberapa jalan. Beberapa toko yang seharusnya buka 24 jam didatangi Satpol PP, dihimbau untuk segera tutup, tidak boleh buka lebih dari jam 00.00. Aku merasakan ada aroma kepanikan menguar di udara. Udara dingin Malang makin bikin suasana jadi getir. Om Hartanto meminta Udin mengganti playlist musik ke radio 91.1fm. Terdengar outro dari lagu She’s Gone. Kemudian disaut oleh suara penyiar,

[Pendengar yang budiman, pandemi covid-19 telah masuk ke Indonesia. Dikabarkan bahwa virus corona telah menyebar di beberapa wilayah, khususnya di pulau Jawa. Pemerintah telah menyiapkan tindakan-tindakan penanganan dan menilai bahwa kebijakan lockdown belum diperlukan. Meskipun demikian, pemerintah Kota Malang tetap mengambil kebijakan untuk menutup akses masuk dan keluar Kota Malang untuk mencegah penyebaran virus Corona. Kebijakan tersebut akan dimulai pada esok pagi, Rabu, 18 Maret 2020. Walikota Malang mengatakan bahwa pembatasan akses dilakukan untuk memudahkan mitigasi dan pencegahan penyebaran virus Corona di Kota Malang. Kebijakan ini diambil oleh Walikota Malang, belajar dari kebocoran yang terjadi di istana negara, setelah salah satu menteri dinyatakan positif Corona.]

“Loh… Om… Rabu itu ‘kan besok itu?”

“Iya.”

“Aku gak bisa balik ini berarti?”

“Tenang dulu, Mas Markus. Nanti stay di tempat saya dulu.”

“Itu penyakit apa sih sebenarnya?”

“Kayak flu, Mas, tapi dari Cina,” jawab Udin. Aku sedikit tersinggung mendengar jawaban itu. Tapi aku diam, berharap ada penjelasan lebih lanjut.

“Sudah ada yang sampai meninggal,” sambung Udin.

“Lha ini tadi di radio dibilang selevel menteri saja positif kena,” kata Om Hartanto.

“Iya, sepertinya memang segawat itu,” simpul Udin. Udin yang sedari tadi banyak diam ternyata menyimpan cukup informasi perihal apa yang tengah terjadi.

“Katanya mbledhos-nya dari Wuhan sana, di Cina. Terus ya, biasalah… pemerintah kita nyepelekke. Akhirnya ‘kan ya kena juga. Malah sudah ada beberapa yang meninggal. Dan, itu kalau meninggal karena covid, jenazahnya tidak boleh dikunjungi, lalu dibungkus plastik rapat, kemudian dimakamkan dengan protokol khusus.”

“Sampai diperlakukan seperti itu?” tanyaku heran.

“Pencegahan, Mas. Karena memang sangat menular dan mematikan.”

“Ah… itu nanti disiram alkohol pasti mati virusnya. Kita ngebir di rumah saja ya. Saya juga punya simpanan tuak Bali dan wine buatan pastor, kawan saya. Situasi di luar malah gak asyik ini,” kata Om Hartanto.

“Iya, Ndan, semakin mendekat ke Jalan Kawi malah semakin banyak ini aparatnya.”

“Saya ngikut saja, Om,” sahutku sembari menutup-nutupi kekhawatiranku.


Wajah Sinta langsung membayang di hadapanku. Pesan Whatsapp-ku masih centang satu. Mungkin hapenya lowbat. Mungkin dia sudah istirahat. Mungkin dia sedang shift malam. Mungkin dia sedang memantau monitor pasien di ruang jaga perawat. Mungkin dia sedang berkeliling dari satu kamar ke kamar lain, merawat pasien. Merawat pasien… covid… ? Apakah sudah ada pasien covid di Solo? Apakah sudah ada pasien covid di rumah sakit Sinta?


***


Aku kira aku hanya akan datang ke Malang mengantarkan jip untuk waktu seminggu-dua minggu. Lalu pulang kembali ke pelukan Sinta membawa uang. Kemudian kami bisa sedikit merayakan dengan makan enak di Galabo. Nyatanya, aku terjebak di Malang. Seluruh perbatasan ditutup. Perbatasan kota dijaga. Perbatasan provinsi dibatasi. Om Hartanto membantuku untuk mencari kos-kosan. Koko juga tidak bisa membantuku banyak dari Surabaya, kecuali transfer uang tambahan untukku bertahan hidup di sini. Aku dapat kos murah di Jalan Pahlawan, Balearjosari. Lumayan untuk bersembunyi dari segala teror pandemi ini. Jelas aku tidak berani keluar kos di siang hari. Paranoia turut melandaku. Aku tidak berani berjumpa dengan orang. Apalagi, penyakit ini membawa-bawa rasisme pula. Wabah dari Cina! Dan, orang jadi waspada jika berjumpa dengan orang mata sipit kulit kuning macam aku ini. Seolah-olah hanya dengan menatapku orang langsung bisa tertular. Aku menjauhi orang-orang. Dengan Om Hartanto dan Udin, satu-satunya kenalan yang aku miliki di kota ini, pun aku sudah tidak berkomunikasi lagi. Terakhir Om Hartanto hanya kirim emoji jempol ketika aku mengabari bahwa aku sudah dapat kos dan berterima kasih atas bantuannya.

Semua orang panik. Semua orang waspada. Semua orang menaruh curiga. Semua orang kehilangan asa. Tiap lima menit sekali ambulan meraung-raung. Ada yang tergesa minta jalan karena sedang membawa pasien yang megap-megap mendamba udara. Namun, banyak pula yang memekik ngilu minta jalan membawa jenazah yang sudah dibungkus ketat hendak dikebumikan tanpa perpisahan dari sanak saudara ataupun teman. Mereka yang mati karena covid menghadapi ajal dalam kesendirian, dalam isolasi. Kerabat tidak boleh mendekat. Mereka hanya bisa berkomunikasi melalui video call. Korban yang mati awalnya hanya satu-dua… lalu lama-lama belasan, puluhan… dan mulai tidak dapat lagi dihitung. Mereka mula-mula diberi kode angka… pasien covid pertama yang tercatat meninggal dunia adalah pasien kode 25. Lama-lama pasien-pasien itu tak terhitung jumlahnya sehingga tidak mampu lagi petugas memberi kode!

Bayang maut menyelimut. Sering kali di siang hari aku hanya duduk di pojokan kamar. Pintu dan jendela aku tutup rapat. Kengerian ini sama seperti kengerian 1998. Luka trauma masa kecil itu mendapatkan legitimasinya untuk muncul ke permukaan kesadaranku, merayap dan membungkusku. Bedanya, pada waktu 1998 itu terornya jelas tampak terlihat mata. Kita bisa berencana untuk menghindar dan mencari suaka di mana. Namun, kini siapa yang bisa melihat teror virus ini? Apakah Negara sudah memiliki alat untuk mendeteksi? Apakah kita bisa memercayakan dan memasrahkan hidup kita ini begitu saja kepada Negara? Apakah Negara bisa mendeteksi siapa saja warganya yang sedang mengidap penyakit ini? Siapa saja yang tengah tertular? Siapa saja yang sedang membawa benih-benih virus? Segala kecemasan itu menghantam kepalaku. Pada waktu 1998 dulu etnis Cina dituduh biang keladi krisis moneter, lalu kami dipersekusi. Kini kami pun dituduh sebagai biang keladi menyebarnya virus SARS-CoV-2, hanya karena wabah ini pertama kali terjadi di Wuhan, Cina. Padahal kami tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi di Wuhan. Kami tidak paham ada apa di Wuhan. Bahkan, ada kota bernama “Wuhan” saja baru aku dengar gara-gara berita tentang pandemi ini. Akan tetapi, orang-orang selalu membutuhkan kambing hitam untuk melepaskan rasa kesal dan amarah mereka. Orang-orang butuh sesuatu atau seseorang untuk disalahkan. Dan, bangsa ini selalu memiliki etnis Cina untuk itu.

Baru di malam hari aku memberanikan diri diam-diam keluar kos dengan mengenakan masker untuk mencari warung makan yang nekat buka. Aku dihimpit dari segala penjuru; mati merana oleh karena corona, atau mati kelaparan dalam kesendirian. Jikapun aku harus mati, aku ingin mati dengan perut kenyang! Tapi, aku tidak ingin mati. Aku mau pulang. Aku mau kembali ke Surakarta. Aku mau kembali ke pelukan Sinta! Sudah dua minggu aku terjebak di Malang. Sekitar sebulan aku telah jauh dari Sinta. Aku begitu jauh dari orang yang selama ini berhasil membantuku menyembuhkan luka-lukaku. Sinta… . Dia pun membantu menyembuhkan sakit para pasien. Dia sungguh setia merawat orang-orang yang menderita. Dia adalah seorang perawat. Sinta adalah seorang perawat! Mungkin saat ini dia juga sedang merawat para pasien yang megap-megap kesulitan bernapas. Aku perlu menjaga kewarasanku. Aku perlu berjumpa dengan Sinta. Aku harus video call Sinta!

“Apa kabarmu, Sinta? Aku kangen.”

“Aku capek. Aku mulai gak kuat. Tapi harus bertahan. Kondisi di Solo parah banget. Solo zona hitam. RS Jebres kewalahan. RSUD-RSUD penuh. Akhirnya rumah sakit swasta, termasuk rumah sakitku wajib menerima pasien covid. Dengan terburu-buru bangsal khusus covid disiapkan. Dan… .”

“Dan?”

“...”

“Jangan bilang kamu ditugaskan di sana… .”

“Iya.”

“Iya?”

“Aku ditugaskan di sana.”

“Sial!”

“Markus… .”

“Ya?”

“Ada yang perlu aku sampaikan padamu.”

“Itu tadi, ‘kan, bahwa kamu ditugaskan merawat pasien-pasien covid?”

“Bukan.”

“...”

“Lebih penting.”

“Apa?”

“Masih ingat ketika kamu mengantarku kerja terakhir kali dulu?”

“Iya?”

“Aku mau cerita sesuatu ketika kamu pulang.”

“Iya.”

“Tapi, kamu tidak bisa pulang.”

“Maafkan aku.”

“Bukan salahmu. Sayang, aku ceritakan lewat video call ini sekarang saja ya… .”

“Apa?”

“Aku hamil.”

“...”

“Sayang… ?”


Rasa aneh menjalar mulai dari tulang punggungku, naik ke otakku, kemudian menyebar ke seluruh badanku. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku mencoba mencari pijakan. Aku harus merasakan apa? Haruskah aku senang, aku adalah seorang ayah? Perlukah aku cemas, istriku sedang hamil tetapi harus menjalankan tugas ada pada garda depan? Bolehkah aku marah atas kondisi yang tidak adil ini–tidak pernahkah hidup ini adil sekali saja? Mungkinkah aku bangga, istriku sungguh-sungguh mendedikasikan dirinya untuk kemanusiaan? Salahkah aku merasa ketakutan membayangkan hal terburuk yang bisa dialami oleh istriku… dan juga anakku? Semua perasaan yang tidak karu-karuan itu menghujaniku begitu saja.


“Sayang… ?”

“Hai… .”

“Kamu sedih?”

“Aku senang.”

“Kenapa diam?”

“Kamu tidak izin saja untuk tidak bertugas? Alasannya hamil.”

“Tidak bisa, Sayang.”

“Tidak bisa?!”

“Nakes di Solo kekurangan tenaga. Juga di rumah sakitku. Kami kewalahan. Banyak yang tumbang.”

“Tapi kamu hamil!”

“Aku tidak bisa meninggalkan rekan-rekan sejawatku.”

“Mereka tidak tahu kamu hamil?”

“Belum. Walau mereka mulai curiga melihat perubahan fisikku.”

“Lapor saja bahwa kamu hamil. Minta ditugaskan di bangsal non-covid.”

“Iya… .”

“Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Iya.”

“Aku jauh.”

“Kamu selalu di hatiku.”


***


Seminggu yang lain berlalu begitu saja. Aku kembali membuang-buang hariku. Apakah hidup masih kurang adil kepadaku? Mama dan meimei direnggut daripadaku di waktu aku masih sangat kecil. Papa pun diambil dariku ketika aku masih membutuhkan support darinya. Kini, ketika aku memiliki kebahagiaan kecilku, hidup menjauhkanku darinya. Kekasihku berjuang melawan pandemi ini bersama rekan-rekannya. Sementara, aku dikurung di kos-kosan ini tidak bisa ke mana-mana. Tiga ratus kilometer membentang antara aku dan Sinta. Sungguh, aku ingin menggapai Sinta, mendekapnya, dan mengecup keningnya. Aku ingin berbisik di telinga Sinta bahwa dia punya aku yang siap mendukung perjuangannya. Namun, tubuhku dikekang di kota ini tak bisa ke mana-mana. Aku dibelenggu!

Dibelenggu? Siapa yang membelengguku? Peraturan dari pemerintah untuk menutup tiap perbatasan. Tidak ada yang boleh melintas, kecuali mobil ambulans dan logistik. Aparat gabungan senantiasa berjaga-jaga dan siap menangkap dan menindak orang-orang yang nekat. Aku dibelenggu rasa takutku. Aku takut aku mati di kota ini dan tidak bisa kembali kepada Sinta. Aku khawatir aku tidak pernah bisa lagi melihat wajah Sinta. Aku cemas akan bayang kematian. Aku takut dijemput maut.


[Markus, mohon doa. Koko dirawat di RS. Positif covid. Kritis.]

Pesan whatsapp dari istri koko-ku masuk begitu saja.

[Lho, kok bisa, Ci?]

[Koko-mu tak bilangin ngeyel. Dia nekat ambil mobil ndhek Madiun. Selang beberapa hari dia sambat sakit, kayak flu. Terus tambah parah. Setelah di-swab, ternyata positif covid. Langsung karantina ndhek RS.]

[Lha Cici sama anakmu yok opo?]

[Kami dibilang-e negatif. Tapi kami harus karantina mandiri ndhek rumah. Ini koko-mu sendirian, gak boleh ada sing njenguk. Ini kondisi-ne kritis. Aku dhewe bingung kudu nyapo. Ini maka-ne whatsapp kamu, minta doa sing terbaik buat koko-mu.]

Allahku… ya Allahku… mengapa Kautinggalkan aku?!


Aku memutuskan untuk nekat pergi dari kota ini! Carpe diem, hari ini atau tidak sama sekali! Aku harus ke Surabaya, lalu kembali ke Surakarta. Aku memberanikan diri untuk menghubungi Om Hartanto. Aku perlu meminjam kendaraan… sekadar sepeda motor atau skuter matic bolehlah. Syukurlah, begitu mengetahui rencanaku, Om Hartanto meminjamiku Honda Tiger 2000 begitu saja.

“Sudah lama tidak dipanasi. Semoga tidak rewel.”

“Terima kasih banyak, Om.”

“Bawa juga mantol ini, kalau-kalau hujan di jalan.”


Setelah dari rumah Om Hartanto, sebelum tengah hari, aku meluncur begitu saja dengan Honda Tiger 2000 itu. Aku hanya mengenakan kaos dan celana pendek, untuk cari alibi kalau-kalau dicegat oleh aparat, aku bisa bilang bahwa aku warga sekiar. Perjalanan Malang-Surabaya bisa kutempuh dalam waktu yang lumayan lama. Jalanan memang cukup lengang oleh karena pembatasan pergerakan. Namun, aku perlu bersiasat supaya bisa berkendara menembus sampai di Surabaya. Sesampainya di kota itu, segera saja aku meluncur ke rumah istri koko.

Istri koko tidak berani membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk. Cici masih dalam status karantina mandiri di rumah. Dia begitu patuh menjalani protokol itu. Akan tetapi, kami bisa ngobrol dari antara pintu. Aku mendengar cici menangis tersedu-sedu. Ada duka pilu bercampur kewaspadaan yang terlalu. Dari sana aku bisa memahami apa yang tengah menimpanya. Ternyata, tatkala aku sedang berupaya mendapat pinjaman kendaraan dan dalam perjalanan ke Surabaya, cici kembali menjadi janda. Koko-ku meninggal di kamar perawatan. Saat ini jenazahnya sedang diproses pemakaman dengan protokol covid. Keluarga tidak ada yang boleh menjenguk. Aku bisa merasakan remuknya hati cici, sebab hatiku pun ajur mendengar kabar itu. Suaminya meninggal, sementara dia sendiri dan anaknya tidak bisa ke mana-mana, harus menjalani karantina sebagai suspek. Cici hanya bisa menyaksikan proses pemakaman suaminya melalui video call yang difasilitasi oleh nakes. Lelaki, yang dia kira bisa mengisi kekosongan hidupnya setelah dipegat dan ditinggal minggat suami pertamanya itu, kini telah pergi selama-lamanya. Ya…  koko telah menyusul papa, meimei, dan mama. Mereka meninggalkanku sendiri di sini. Aku ditinggalkan sendiri. Aku di sini sendiri. Tidak, aku tidak sendiri! Aku masih punya Sinta!

Wajah Sinta kembali membayang dalam benakku. Aku harus kembali ke Solo! Aku harus bersama dengan Sinta… bersama dengan anak kami. Aku pamit pulang ke Solo. Toh aku tidak bisa tinggal di Surabaya. Tidak ada pintu yang akan dibukakan bagiku di kota ini. Aku meluncur menunggang Tiger 2000 itu. Mesin 200cc-nya mengaum. Responsif. Ke barat aku melaju. Tunggulah aku, Sinta… tunggu aku!

Sampai di Caruban aku menyusun strategi, apakah aku akan masuk ke perbatasan provinsi Jawa Timur-Jawa Tengah lewat bawah–Ngawi, atau aku berputar jauh ke selatan lewat Ponorogo-Wonogiri, atau aku naik Lawu lewat Cemoro Sewu. Aduh… jalur mana yang tidak ketat penjagaannya? Lewat Ngawi-Sragen, ah… pasti ketat sekali penjagaan di sana itu. Itu jalur utama Surabaya-Surakarta. Lewat Ponorogo-Wonogiri, alamak… jauh sekali memutarnya! Aku tak sanggup menahan rasa ingin bertemu Sinta lebih lama lagi. Apalagi, itu adalah jalur utama juga di selatan. Aku duga, penjagaan pasti juga ketat di sana. Ke atas gunung… pastilah di sana lebih longgar. Siapa yang kepikiran untuk menerabas batas provinsi dengan melewati jalur pegunungan? Tapi, aku hanya mengenakan kaos dan celana pendek! Ah… sudahlah… . Nekat saja. Ke Lawu kita menuju! Kuarahkan Tiger itu terus ke barat. Sepeda motor legendaris itu menderu. Angin Madiun menyambutku. Pikiranku cuma satu, Sinta. Ya… ada Sinta di balik Lawu! Ada Sinta menantiku di balik gunung itu.

Matahari semakin lingsir ke barat. Langit biru jadi jingga kemerahan… lalu ungu… menggelap. Tiger ini mulai mendaki. Hawa dingin Magetan mulai menusuk hingga tulang-tulangku. Kedua pahaku mengapit tanki erat, berharap mendapat kehangatan. Tentu saja tidak! Tangan kiriku memeluk dadaku kuat. Aku mulai menggigil. Mungkin ini adalah via dolorosa yang harus kujalani. Terus mendaki Lawu dalam kondisi menggigil! Bajingan! Ide konyol siapa ini mendaki jalan Lawu hanya dengan kaos dan celana pendek?! Bodoh sekali! Aku tidak kuat! Aku bisa hipotermia. Mati konyol sebelum berjumpa dengan Sinta adalah hal terakhir yang aku inginkan. Astaga… aku baru ingat… Om Hartanto membawakanku mantol. Aku menepi sejenak untuk mengenakan mantol itu. Ternyata mantol jaket dan celana. Tidak tebal. Tapi, kuharap mampu menahan angin dingin Lawu dan menahan panas tubuhku, sehingga aku tidak mengalami hipotermia. Kudekatkan telapak tanganku ke mesin yang masih menyala. Lumayan… hangat. Baiklah… mari kita lanjutkan perjalanan!

Lepas dari Sarangan, vegetasi semakin banyak. Hari telah gelap. Jalan masih mendaki. Namun, aku tahu, Cemoro Sewu sudah sebentar lagi. Aku tidak memaksa sepeda motor tua itu, yang penting dia terus naik merayapi jalan yang berliku-liku ini. Tidak ada siapa-siapa di jalan Lawu ini selain aku. Sepi. Pembatasan ini sangat efektif membuat orang di rumah saja tidak ke mana-mana, dikurung oleh ketakutan mereka masing-masing. Jika aku terpeleset di sini dan jatuh ke jurang lalu mati, mungkin jasadku baru akan ditemukan berbulan-bulan nanti setelah cuma sisa kerangka saja. Ah… satu tikungan lagi… dan aku akan sampai Cemoro Sewu… . Lalu aku bisa menyeberang ke Cemoro Kandang, Jawa Tengah.

Perbatasan itu sudah terlihat. Batas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah di Jalan Lawu ini adalah sebuah jembatan. Melihat jembatan itu dari kejauhan membuatku menjadi semakin bergairah. Namun, aku tidak berani memacu sepeda motor ini. Tubuhku kedinginan. Aku juga tidak ingin menarik perhatian, kalau-kalau tetap ada aparat yang menjaga. Juga, hari telah gelap sempurna. Warung-warung sate kelinci yang biasanya buka 24 jam tutup semua, menyisakan satu-dua lampu LED putih ber-watt kecil menyala. Namun, seperti ada yang aneh pada jembatan itu. Ah… tidak! Sial!

Ada barikade melintang di atas jembatan itu. Perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah ditutup. Aku menghentikan sepeda motor. Jantungku berdegup dengan kencang. Tubuhku menggigil. Angin dingin bertiup, mengiris tengkukku. Aku menoleh ke kanan dan kekiri… tidak ada orang. Baiklah. Aku turun dari motor. Perlahan aku berjalan menuju ke barikade itu. Bisa dibuka! Kubuka secukupnya, asal motor bisa lewat. Bergegas aku kembali menaiki Tiger itu, lalu tancap gas.

“STOP! Berhenti, atau saya tindak tegas!”

Mati aku… .

Seorang Angkatan Darat memakai seragam tactical lengkap, mengenakan helm dan masker wajah, membawa Pindad SS2-V2. Dia nongol tepat di depanku. Rupanya dia telah mengamati cahaya lampu motorku dari jauh, lalu bersembunyi. Di balik persembunyiannya itu dia memantau gerak-gerikku yang ternyata dia nilai mencurigakan. Tentara itu menodongkan senapannya tepat ke arahku.

“Tidak ada yang boleh melintas! Ini perintah!”

Aku ditawan oleh tentara itu. Motorku disita. Aku dibawa ke pos komando penjagaan perbatasan Cemoro Sewu-Cemoro Kandang. Ternyata ada 5 tentara lainnya. Aku diinterogasi di sana. Tatapan mereka makin curiga setelah melihat wujud wajahku… putih pucat bermata sipit. Namun, kurasa mereka merepresi keinginan untuk menjadi rasis kepadaku. Kurasa mereka masih cukup manusiawi. Melihatku yang menggigil kedinginan, aku diberi teh panas dan sarung sekadar untuk selimut. Aku pun dijatuhi tuduhan melanggar perintah pembatasan mobilisasi warga. Para tentara itu mengancam bahwa tindakanku ini berpotensi melanggar hukum dan aku bisa dikenai sanksi pidana. Namun, alih-alih mereka menyerahkanku ke Kepolisian untuk diproses hukum, mereka memindahkanku ke Koramil terdekat dan mengarantinaku selama 14 hari di sana. Jelas sebenarnya aku keberatan, tetapi melihat moncong senapan mereka itu, nyaliku lenyap. Aku hanya bisa nego bahwa aku boleh tetap memegang hape.


***


[Sinta, aku sudah di Jawa Tengah. Di Tawangmangu. Tapi aku belum bisa sampai ke rumah. Aku diisolasi di sini. Dua minggu. Kamu apa kabar?]

Pesan Whatsapp-ku itu tidak terbalas. Aku mencoba menelepon dan mem-video call Sinta, tidak diangkat.

Apa yang terjadi pada Sinta?


Matahari telah cukup tinggi, cahayanya menerobos jendela, masuk ke ruangan tempat aku dikarantina. Itu adalah matahari ketiga semenjak peristiwa di perbatasan provinsi itu. Belum juga ada kabar apapun dari Sinta. Perasaan tidak enak melingkungi. Kecemasan semakin melanda. Kupejamkan mata. Pada akhirnya aku pasrah… . Kepada Bunda Maria aku memohon doa.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati … . Amin.


Hapeku berdering. Telepon masuk. Sinta. Sinta akhirnya menelepon!

“Halo, Sinta! Sayang! Sayang… apa kabar? Kenapa kemarin tidak ada kabar?”

“Mas Markus?”

Bukan suara Sinta… .

“Hai. Halo. Siapa ini?”

“Ini rekan nakes Mbak Sinta, Mas.”

“Lho… Sinta kenapa?”

“Sinta di ICU. Ganti ke video call ya. Nanti saya bantu video call-an sama Mbak Sinta.”

“Iya… .”

Perasaanku semakin tidak enak.


Dari layar lima inchi itu aku melihat kekasih hatiku ada di ruang ICU, tidak sebagai perawat, melainkan sebagai pasien. Matanya terpejam. Selang oksigen masuk ke tenggorokannya, membantu pernapasannya. Napasnya tersengal. Dia nampak lemah sekali.

“Sinta… . Apa yang terjadi?!”

“Mbak Sinta positif covid. Sebenarnya Mbak Sinta sudah pindah ke bangsal non-covid setelah melapor bahwa dia hamil. Tetapi, ada pasien yang tidak jujur dengan riwayatnya. Ternyata positif covid. Pasien itu meninggal. Mbak Sinta yang intensif merawat pasien itu. Dia tertular. Ini hari kesebelas… dan kondisinya semakin menurun. Tadi pagi sempat kritis. Ini sedikit membaik. Mas Markus sebagai suaminya berhak mendapat kabar ini.”


Kamera berpindah, mengarah ke nakes yang merawat Sinta itu. dari layar hapeku tampak seseorang mengenakan pakaian APD lengkap. Aku tidak dapat mengenali wajahnya. Aku tidak tahu nakes itu siapa. Yang aku tahu, dia sahabat Sinta. Ada kegetiran dalam nada bicaranya tadi. Sepertinya dia juga mengkhawatirkan rekan sejawatnya itu. Aku mengapresiasi apa yang sedang dia lakukan. Aku tidak tahu, dia melanggar protokol atau tidak. Namun, aku berterima kasih, aku masih bisa melihat Sinta.

“Mas Markus, kuat-kuat di sana. Doakan Mbak Sinta ya.”

“Mbak, kalau aku ngomong ini, apakah Sinta bisa mendengar?”

“Mbak Sinta belum sadarkan diri. Tetapi, bicaralah, Mas… . Kita selalu berharap bahwa suara Mas Markus dapat memberi semangat pada Mbak Sinta untuk tetap bertahan.”

“Aku ingin melihat Sinta lagi, Mbak.”


Layar hapeku kembali menampilkan video Sinta yang terbaring lemah. Terlihat napasnya susah. Saturasi oksigen semakin menurun. Tekanan darah juga semakin menurun. Detak jantungnya pun melemah. Tampak Sinta makin kepayahan bernapas. Sinta sepertinya gelisah.

“Lho… lho… Mbak… itu Sinta kenapa?”

“Sebentar ya, Mas… .”

Perawat itu berlari keluar. Sambungan video call masih terhubung.

Emergency. Pasien 19 drop!”


Aku hanya bisa mengikuti peristiwa itu lewat hape. Lututku lemas.Pundakku kehilangan daya. Air mata mengalir. Ya Tuhan… Sinta… Sintaku… . Bunda Maria, doakanlah Sinta. Tuhan Yesus… berilah mukjizat-Mu! Aku ingin ada di sisi Sinta. Namun, aku tidak bisa. Bahkan, Sinta tidak menyadari bahwa aku ada di sana lewat video call. Aku merasa gagal dan tak berguna. Aku merasa bersalah. Istriku dan anak kami yang ada di dalam rahimnya mengalami itu semua sendiri… tanpa kehadiran suaminya… tanpa kehadiran ayahnya.

Kamera hape Sinta hanya menangkap langit-langit ruangan. Sepertinya perawat itu menaruh begitu saja hape itu di atas meja. Namun, aku masih bisa mendengar dengan jelas suara-suara para nakes itu. Mereka berupaya menyelamatkan Sinta. Tapi, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya tahu, istriku ada dalam sakratul maut.

Salam Maria … doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati … . Amin.


Hening. Tidak ada lagi suara sibuk para nakes. Hanya ada suara ‘tiiiiiiiiiiiiiiiit’ panjang mengusik sunyi. Waktu seolah berhenti. Aku masih tidak tahu apa yang sudah terjadi. Hatiku berbisik memintaku untuk bersiap. Akan tetapi, rasioku menolak untuk percaya dan menerima. Aku tidak siap. Tatapanku terpaku pada layar hape yang hanya menampilkan langit-langit ruangan.

“Mas… masih di sana?”

“Halo. Masih.”

“Saya turut berduka cita … .”


***


Waktu telah banyak berlalu. Rezim telah berganti. Tak terasa, sudah 6 tahun pascaperistiwa itu. Pandemi secara resmi dinyatakan selesai. Aku menjadi salah satu dari para penyintas wabah. SARS-CoV-2, virus kecil yang tak kasat mata itu, telah benar-benar menjungkirbalikkan segala sesuatunya. Covid memang tidak benar-benar sirna, tetapi kini deritanya tak lebih daripada sakit flu biasa. Tidur berbaring seharian, esok sudah lebih baikan. Namun, virus itu telah banyak merenggut nama-nama. Menurut laporan resmi dari 2020 sampai 2025, ada 162.059 jiwa meninggal dunia oleh karena covid. Sinta menjadi salah satu dari ratusan ribu jiwa itu. Tapi, jumlah itu bukan hanya angka semata-mata. Di balik angka-angka itu ada masa depan yang pupus, ada sejarah yang terhenti, ada masa lalu yang kini hanya tinggal kenangan, ada pula orang-orang yang ditinggalkan, ada hati yang patah, ada cinta yang sirna.

Aku duduk sendiri di ujung sebuah nisan. Pada nisan itu tertulis, “Sinta Gayatri Paramita dan anak yang dikandungnya.” Sinta dimakamkan dengan protokol covid. Anak kami jelas juga tidak bisa diselamatkan sebab usia kandungan masih muda. Dua kecintaanku itu dikuburkan di sebuah kuburan massal para korban covid.

“Sinta, aku belum memberi anak kita nama ya? Kamu keberatan kalau dia kukasih nama ‘Seta’? Artinya putih. Seputih tulus setiamu menjalani panggilan hidupmu, merawat dan menyembuhkan orang yang menderita, hingga akhirnya kematian menjemputmu. Sebagai orang Protestan, kamu pasti tidak percaya purgatory. Tapi, aku yakin, kamu dan Seta kini sedang disucikan di Api Pensucian itu, dan kelak kalian akan masuk ke surga abadi bersama Allah Bapa. Setahun kemarin adalah tahun Yubileum bagi orang-orang Katolik, dan aku banyak melakukan perjalanan peziarahan ke Porta-porta Sancta. Kudoakan indulgensi bagi kalian berdua.”

“Sinta, aku tidak tahu lagi untuk apa aku hidup. Mama, meimei, papa, koko, bahkan kamu dan Seta telah lebih dulu meninggalkan aku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku tidak mampu memahami rencana dan kehendak Tuhan atas hidupku. Mengapa hanya aku yang Dia biarkan selamat dan menyintas?! Mengapa Tuhan tidak mengizinkan tentara itu membedil kepalaku waktu di Cemoro Sewu itu? Mengapa Tuhan menjagaku dari kegilaan ketika aku terjebak tak bisa pergi dari Malang waktu itu? Apa yang dikehendaki Tuhan atas hidupku? Mengapa kepahitan ini menghunjam bertubi-tubi?

“Ah… Sinta… sepertinya hidup memang adalah misteri. Dan, misteri yang celaka ini memang harus dijalani dengan sungguh-sungguh sampai akhir nanti… total dan paripurna… hari demi hari… carpe diem.”

Ya Bapa… jika sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku, namun... jika cawan ini tidak dapat berlalu kecuali Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!


Malang, 28 Januari 2026

Padmo Adi


Comments