Wednesday, March 31, 2010

SOSIALISME ADALAH KONSEKUENSI LOGIS EKSISTENSIALISME

SOSIALISME ADALAH KONSEKUENSI LOGIS EKSISTENSIALISME

Abstrak
Manusia pasti mati. Sebelum mati manusia hidup. Kematian adalah kristalisasi kehidupan. Maka, setiap manusia memiliki tujuan dalam hidupnya, kebahagiaan. Kebahagiaan ini dapat diartikan bermacam-macam sesuai dengan pemahaman dan perjuangan masing-masing individu. Demi menggapainya, manusia memaknai hidupnya dengan segenap kekuatannya, bahkan menghalalkan segala cara. Dinamika ini menjadi inti kehidupan. Karena diartikan bermacam-macam, tidak mustahil seorang individu hanya mengartikan kebahagiaan itu dalam ranah yang lebih sempit (kekuasaan misalnya) sehingga seorang individu tega menindas individu lainnya. Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi liyan. Ingin menggapai kebahagiaan maksudnya, tapi justru menindas kemanusiaan di mana tertanam benih-benih kebahagiaan itu sendiri. Lalu, bagaimana seorang individu berotonomi dalam korelasinya dengan kumpulan individu, bahwa pada hakikatnya homo homini socius, manusia adalah rekan bagi liyan? Manusia dalam kesatuan badan-jiwa sebagai pribadi yang otonom sekaligus bersosial dalam usaha menggapai kebahagiaan.

Otonomi Individu
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas, kata Sartre, dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu. Dinamika ini adalah dinamika penggapaian kebahagiaan. Pada saat manusia mengaktualisasikan diri, segenap potensi yang ada terungkapkan. Hal itu ada dalam kesatuan badan-jiwa; jiwa mempribadi dan badan membudayakan kepribadian itu. Ketika seorang individu mencapai aktualisasi diri, hidupnya akan mencapai kepenuhan dan dia mencecap kebahagiaan itu. Dan, pengungkapan potensi ini terjadi lewat pilihan-pilihan yang dibuat.

Seorang individu menyadari dirinya ada. Dia adalah tuan atas nasibnya sendiri. Dia adalah seorang yang bebas dan otonom. Inilah kegelisahan individu, kata Sartre, bahwa dia mengetahui dia hidup. Apa hidup jika akhirnya mati? Maka, manusia mencari makna. Dalam setiap pilihan hidupnya yang bebas dan mandiri, individu selain menstrukturasi diri juga sekaligus memberi makna. Hidup itu adalah memilih, bertanggung jawab atas pilihan itu dengan menanggung segala konsekuensi, dan jangan sesali. Dalam memilih, seorang individu memiliki kedaulatan yang absolut. Orang lain boleh memberi saran, tapi keputusan terakhir selalu ada di tangan sang individu. Ketika sang individu memilih tidak sesuai dengan kemanusiaan yang tertanam dalam dirinya, dia akan mengalami alienasi, jauh dari gambaran diri sejatinya, bahkan jauh dari gambaran kemanusiaan itu sendiri.

Korelasi Antarindividu
Aku akan menjadi aku yang sejati berkat adanya kamu, kata Feuerbach, hakikat manusia itu terdapat hanya di dalam kebersamaan, dalam persatuan manusia dengan manusia lain. Setiap individu selalu bereksistensi di dalam koeksistensi dengan individu lainnya. Ketika aku menyadari bahwa aku ada, bahwa diriku berharga, dan bahwa aku adalah subyek yang otonom, aku pun menyadari bahwa liyan ada, bahwa liyan juga berharga, dan bahwa liyan adalah pula subyek yang otonom sebab mustahil aku menyadari keadaan ini tanpa kehadiran liyan. Kesadaran ini akan membuat aku tidak hanya bertanggung jawab atas diriku sendiri, tetapi juga bertanggung jawab atas liyan. Sebab tanpa ‘kamu’, takkan ada ‘aku’.

Adalah sia-sia ketika sang individu berhasil menggapai kebahagiaan (sesuai dengan apa yang dia terjemahkan) tanpa ada seorang pun dengannya dia berbagi. Dia akan mengalami suatu involusi. Pada hakikatnya manusia adalah homo homini socius. Dalam kebersamaan manusia dapat saling berbagi kehidupan, berbagi nilai-nilai yang diperjuangkan, berbagi kebahagiaan, berbagi perjuangan itu sendiri, saling mereproduksi (baik biologis maupun nilai), saling mengoreksi. Dengan demikian kehidupan akan berjalan dengan dinamis.

Namun, karena tidak pernah merasakan cinta seorang individu dapat menjadi orang yang egois. Egois tidak sama dengan mencintai diri sendiri, kata Louis Leahy, orang yang egois justru orang yang mencintai diri secara buruk. Karena tidak mampu mencintai diri sendiri, dia takkan mampu mencintai liyan dengannya dia berkorelasi. Cinta adalah inti dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Ketidakmampuan untuk mencintai (dan dicintai) ini akan membuat sang individu semakin asing dari kemanusiaannya sendiri. Orang yang terasing dari kemanusiaannya sendiri ini dapat menerjemahkan kebahagiaan dalam ranah yang lebih sempit (kekuasaan, kepemilikan, ketenaran). Dia ingin menelan kebahagiaan itu sendiri. Ketiadaan cinta membuat hatinya hampa. Ketika dia menelan semuanya itu, semuanya itu akan lenyap pula dengan segera sehingga dia melakukan segala cara untuk dapat memenuhi kehampaan hatinya dengan kebahagiaan itu. Orientasinya adalah diri sendiri sehingga tidak masalah jika dia harus menindas, mengeksploitasi, menginjak-injak liyan (bahkan dunia seisinya). Homo homini lupus. Contoh-contoh nyata dapat kita lihat dalam wajah keseharian bangsa kita.

Kesimpulan
Ketika sang individu menjadi homo homini lupus, sebenarnya dia tidak mengalami aktualisasi diri, kemanusiaannya yang tertanam dalam kediriannya tidak termanifestasikan, dia tidak bereksistensi sesuai esensi. Dan, ketika sang individu menjadi homo homini socius, dia telah dan sedang mengaktualisasi diri, telah dan sedang memanifestasikan kemanusiaannya, dan dia sedang bereksistensi sesuai esensi. Maka, sosialisme (atau dengan nama apapun kita menamai koeksistensi ini) adalah konsekuensi logis eksistensialisme (atau dengan nama apapun kita menamai eksistensi ini). Sedikit catatan, sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme, menurut Y. B. Mangunwijaya, pada hakikatnya sama dengan kapitalisme, kanan, yaitu eksploitasi orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sedangkan sosialisme, menurut Sutan Sjahrir, adalah emansipasi rakyat, atau dapat diterjemahkan emansipasi masing-masing individu untuk memanifestasikan kemanusiaannya.

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Wednesday, March 24, 2010

SEKUNTUM DOA UNTUK TUHAN DI SURGA

Tuhan kami yang ada di surga
apakah Kaupernah memandang kami di dunia?

Dimuliakanlah Nama-Mu
dengan keadilan dan emansipasi sosial manusia

Datanglah Kerajaan-Mu pada hari ini
sehingga orang miskin dapat sekolah, berobat, dan makan
atau, haruskah kami datangkan sendiri Kerajaan Surga itu
dengan memaksa-Mu hadir di tengah-tengah kami?!

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
namun kami yakin ketimpangan sosial ini bukan salah satunya
dan kami yakin surga tidak sekacau-balau ini

Berilah kami rezeki pada hari ini
atau setidaknya berilah kami jalan untuk mendapatkan sesuap nasi
sebab kami tak butuh makanan melimpah
hanya nasi untuk anak kami yang kelaparan

Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami
karena kami terpaksa memberontak
dan membunuh mereka yang senantiasa menekan dan menindas kami
bukan karena kami benci atau ingin membalas
semata hanya ingin membela diri
setelah sekian tahun tak mendapat keadilan
tapi jika memang salah, kami siap menanggung dengan adil
seperti yang bersalah kepada kami menanggung kesalahannya dengan adil
tidak bersilat lidah dan mengambinghitamkan yang tak bersalah
atau membayar makelar kasus
atau mendapat perlakuan VIP di hotel prodeo
sebab sudah cukup satu Tibo dan sudah cukup tragedi ’65 yang tak selesai
atau penggelapan-penggelapan harta rakyat

Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
sebab kami, manusia, memiliki batas kesabaran
atau haruskah kami membunuh-Mu pula
sehingga dapat memperjuangkan keadilan ini sendiri?
janganlah kami mengulang seruan “Eli, lama sabakhtani?!”

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
sebab manusia sekarang lebih iblis dari pada setan
dan lebih predator dari pada karnivora
atau berilah kami kekuatan untuk melawan mereka yang jahat
atau, akankah Kauberi kami Mesias yang baru?
atau, setidaknya datanglah!
datanglah!
kami merindukan-Mu
dengarkanlah seruan kami
sebagaimana Kaudengarkan seruan Israel saat diperbudak Mesir
datanglah dan bebaskan kami dengan lengan yang teracung...

Izinkan kami mencintai-Mu, Tuhan
dan menghadirkan Kerajaan-Mu di dunia
sebab kami percaya, Kerajaan Surga telah hadir
sejak Pemuda Gondrong itu mati di Kalvari
bahkan sejak lahir di gua yang hina
dan saat hidup di tengah-tengah kami

Kami menanti kepenuhan itu.
Namun, bagaimana kami beriman dan berdoa padamu
serta memuji kebaikan serta keadilan-Mu
di saat hati kami ngilu anak kami hilang diperdagangkan?
di saat anak kami sekarat kelaparan dan menahan pedih sakit?
di saat kami tak bisa menyekolahkan anak kami?
di saat tak sesuap pun nasi dapat mengenyangkan perut anak kami?
sementara tikus-tikus menari dan lepas bebas dengan uang kami?!

Jangan biarkan doa-doa kami hanya menjadi candu yang meninabobokan
dan membuat kami enggan lagi berjuang menghadapi kenyataan

(sela)

Sungguh
kadang aku berharap tak pernah mengenal-Mu
Dengan tak mengenal-Mu bukan berarti aku pasti hidup tak bermoral, bukan?
Aku muak ditanyai tentang misteri Ada-Mu
Mengapa mereka senantiasa menanyakan itu?
Mengapa mereka selalu mempermasalahkan itu?
Kuharap aku tak pernah menyelami misteri-Mu sehingga sama sekali tak tahu jawab

Mengapa mereka tidak bertanya
bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini sedemikian rusak moralnya
compang-camping masyarakatnya
dan menyedihkan kemanusiaannya?!

Sebab aku percaya
verus philosophus amator Dei
amator Dei amator homini
quia homo imago Dei est
et
Gloria Dei vivens homo!!!



Ah, aku hanya pemuda berdosa yang berdoa.

Amin.

Sarang Kalong, 28 Januari 2010
Kalong Gedhe

Tuesday, March 16, 2010

BUKU HARIAN

BUKU HARIAN

Minggu, 14 Maret 2010
Aku masih belum tidur, merenungkan peristiwa tadi siang. Istriku sudah pulas duluan. Sebenarnya dia pasti akan selalu memaksaku untuk menemaninya tidur supaya aku tidak tidur terlalu larut. Namun, malam ini aku memohon kepadanya supaya tidur lebih dulu. Dia tahu, kalau aku sudah memohon seperti itu, aku akan melakukan kebiasaan lamaku dulu, menulis refleksi di buku harian. Karena hari-hari ini adalah masa pantang dan puasa, tiada sebatang rokok dan secangkir kopi pun menemani. Biarlah, walau nikmat, toh itu kebiasaan buruk. Jika aku mencintai istriku, aku harus mencintai diriku sendiri dengan berhenti mengonsumsi kedua barang nikmat itu. Ya, biar bisa hidup sedikit lebih lama untuk tetap memberi senyum dan sapaan “kumencintaimu” setiap pagi padanya.

Hari ini adalah hari Minggu. Sebuah pagi yang indah, hari baru yang cerah. Istriku membangunkanku dengan sebuah kecup hangat pada kening.
“Met pagi, Pah. Ayo bangun. Ke gereja, ndak?”
“Iya, Mah. Password-nya dulu donk,” jawabku masih mengantuk.
“Ih genit ah... .”
“Ya udah, Papah bobok lagi.”
“Malu ah, sama Damar. Masak kalah sama anakmu sendiri yang baru 4 tahun?”
“Udah bangun dia?”
“Udah mandi malah.”
“Mamah dulu deh yang mandi... .”
“Lo, Mamah masih harus menyelesaikan cuci dan jemur baju. Ya udah... manja ah... . Sini, I love you... .”
“Papah juga love Mamah.”
Segera aku bangun. Istriku segera ke belakang, menyelesaikan pekerjaannya. Kuintip kamar Jagoan Kecilku. Sudah bisa pakai baju sendiri dia, tapi belum bisa mengikat tali sepatunya. “Papah, cepatu... ,” pinta Jagoan Kecilku yang masih cedal itu sambil menunjuk tali sepatunya. Aku masuk. Kuikatkan talinya. Kami tos. Kuberantakkan rambutnya yang memang belum disisir. Lalu, aku pergi mandi.

Pernah pada suatu masa dalam hidupku setiap hari aku merayakan ekaristi. Kadang-kadang tak sempat mandi karena bangun kesiangan. Bangun, kaget melihat jarum jam, lari ke wastafel untuk cuci muka dan berkumur, memakai pakaian putih itu, lalu pergi ke kapel untuk pindah tidur. Pindah tidur? Hehehehe... ya. Sejak tanda salib pembuka hingga berkat penutup, apa lagi saat homili dan Doa Syukur Agung, aku (mungkin juga kami) tidur. Waktu berdiri, ya berdiri, tentu dengan mata masih terpejam. Waktu duduk, ambil posisi yang kira-kira adalah posisi berdoa, sehingga orang takkan menyangka aku (boleh juga dibaca ‘kami’) tengah tidur. Bagi mereka yang jeli dan biasa, tetap bisa melihat perbedaannya, antara doa benar-benar atau tidur. Setelah misa, biasanya kami ibadat pagi, lalu meditasi. Yahaha... meditasi... kesempatan emas untuk tidur lagi. Pernah ada temanku yang tidur sebegitu pulasnya waktu meditasi sehingga dia duduk dengan sebegitu membungkuknya, bahkan ketika jam sarapan tiba, dia masih tidur di kapel dengan pakaian putih itu. Untung Magister kami sedang pergi keluar kota sehingga waktu terbangun dan masuk di refter, temanku itu hanya malu pada teman-teman lain yang tengah asyik menyantap makan pagi.

Pukul 6.40 Inova kustarter dan kubawa ke depan. Jagoan Kecilku masuk. Dia selalu minta duduk di tengah. Istriku masuk ke mobil setelah mengunci semua pintu dan gerbang. Kami meluncur ke Gereja Paroki St. Antonius. Misa dipimpin oleh seorang Pastor Jesuit. Entah benar, entah salah, misa-misa yang dipimpin oleh Pastor-pastor Jesuit selalu ringkas, padat, cepat, tetapi tetap mengena di hati, dan mencerahkan budi, menggerakkan jiwa dan raga untuk melakukan praxis iman. Atau, jangan-jangan mungkin ini hanyalah kesan karena aku tak pernah misa di Gereja Paroki yang lain. Paroki tempat asalku dilayani Pastor-pastor Jesuit. Sekolahku dari SD sampai Universitas dikelolah oleh Pastor-pastor Jesuit. Tempat kerjaku sekarang bosnya seorang Jesuit. Parokiku sekarang juga Jesuit. Jiah... benar-benar ga ada warna lain!

Pastor Jesuit yang mirip biksu itu –karena botak– memberkati kami dengan mendoakan Mazmur Bahasa Ibrani sebelum akhirnya membuat tanda salib besar,”Semoga Allah yang mahakuasa memberkati Saudara sekalian, Bapa, Putra, dan Roh Kudus... .” Kami sekeluarga tidak segera pulang. Sekali-sekali makan di luar.
“Cari Bubur Ayam yuk, Mah.”
“Damar mau Bubur Ayam?”
“ Bubul Ayam jago Damal mau... .”
Kami berdua tertawa.
“Lho, tok teltawa to? Mama cama Papa ni lo... .”
“Mana ada Bubur Ayam jago, Cayangku?” tanya Mamahnya.
“Lha talo ayam yang dicembelih ayam jago, tan blati Bubul Ayam jago?”
Wah, sudah mulai rumit cara berpikir Jagoan Kecilku ini. Jangan-jangan calon filsuf dia.
“Damar, kalau dah jadi Bubur Ayam, kita, ‘kan, ndak tahu itu dulunya ayam jago atau babon. Kita tahunya Bubur Ayam itu enak. Enyak... enyak... enyak... .” kataku.
“Ya ental kalo habis maem tu Damal kukuluyuk, blati yang Damal maem Bubul Ayam jago no.”
“Berarti kalau petok-petok, yang kamu makan Bubur Ayam babon, Cayang?” Mamahnya menggoda.
“Bubul Ayam babon-nya buat Mamah aja bial ngendhog tlus Damal jadi punya adik.”
“Apa hubungannya ngendhog sama punya adik,” aku shock lalu memandang mata istriku. Anak sekecil ini... . Duh, Jagoan Kecilku, belajar apa dia di TK Indonesia Maju itu?
“Ah, Papah gimana sih? Babon-nya Lik Eko abis ngendhog, telulnya pecah, tlus jadi anak-anak ayam. Na, kalo Mamah ngendhog, Damal kan bisa punya adik, weee... .”
Aku dan istriku tertawa.
“Damar mau adik?” tanya Mamahnya.
“He’eh.”
“Sabar ya. Habis kamu nol besar atau sekolah di SD. Biar kamu cukup besar untuk momong adik. Ya?”
“Ciap!!!”
Inova kami telah sampai di kompleks ruko. Hari Minggu seperti ini ruko yang buka tidak sebanyak hari biasa. Warung Bubur Ayam langganan kami cukup laris karena memang terkenal lezat. Namun, sayang, Warung Bubur Ayam itu tidak memiliki tempat parkir yang cukup luas. Pagi ini tempat parkir warung telah penuh. Terpaksa aku memarkir Inova di depan ruko lain yang tutup. Tidak buka, pikirku, maka tiada salahnya numpang parkir di depan ruko itu. Di samping kanan ruko itu kulihat sekilas ada toko bunga. Wah, sehabis makan, bisa membeli sekuntum mawar indah untuk istriku yang cantik, pikirku.

Pada saat menulis buku harian ini, Albert, teman seperjuangan sekaligus teman nakal dulu di Girisonta, sms.
“Hidup X-Men! Aris, met mlm, Bro. Lg ap ni? Reuni yuk. Speak2 lah ky dulu. Long time no see, plus 234 dan kopi htm. Ya cm gt2 i2 ta rekoleksi qt, X-Men, sharing2.”
“Blh2. Lbr Paska? Di mn? Bukit Bintang Jgj ky bbrp wkt lalu? Sl3? Atw... ? Kbri X-Men yg lain, Bro. Cari kpn sm2 free. Aturan ttp b’laku lo, anak-istri tinggal di rmh! Eh, bgm kbr Nana, istrimu?”
“Sdh bln yg ke6 ni. Doain aja, Bro. Untung sermh sm mertua, jd aga tenang.”
“Bert, mo crt ni. Td ad yg tanya, Mas mantan seminaris y? Ya qjwb, ga kok, Pak. Sy bkn mantan seminaris. Cm mantan frater. Wakakakakakakaka XD”
“Wakakakakakakakaka :P Msh gokill jg km. Oklah. CU, Bro.”
“CU soon. Hidup X-Men! eXtra seMENariam ergo sum!!!”

Setelah selesai menyantap Bubur Ayam, kami bertiga beranjak pergi. Kami agak terkejut, Inova kami dihalangi ¬pick-up berisi penuh bunga. Mungkin itu pick-up toko bunga yang letaknya persis di samping kanan ruko yang tutup tadi.
“Permisi, Mas,” sapaku ramah pada pemilik toko.
“Mas yang punya mobil ini ya? Lain kali kalau makan di sana ya parkir di sana donk. Kontraknya lain juga. Sini ni dah punya kontrakan sendiri. Masa makan di sana parkir di sini?” ucap sang pemilik toko ketus dan tak memanusiakan, wajahnya asam tak sedap dipandang.
“Oh... maaf. Ni tadi saya numpang parkir karena di sana penuh.”
“Lha ya nggak. Wong kontraknya dah lain kok.”
Ingin aku meminta maaf sekali lagi, tapi kulihat kayu salib ber-corpus dan patung Bunda Maria di toko bunga itu. Aku marah. Bagaimana mungkin seorang Katolik, pada Hari Minggu –kuasumsikan dia sudah pergi misa di Gereja–, memajang salib ber-corpus dan patung Bunda Maria di tokonya, berwajah asam, marah-marah tanpa alasan mendasar, dan tidak memanusiakan manusia seperti itu? Apakah pantas dia disebut Katolik yang mengajarkan Cinta-Kasih; kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri?

Aku menghembuskan nafas panjang untuk menetralisasi amarahku. Segera aku meminta maaf sekali lagi, tapi kali ini dengan ketus. Setelah keluargaku masuk mobil, kustarter dan kugas agak kencang. Agak susah mobil kami keluar dari hadangan pick-up itu. Setelah berhasil lolos, kubuka kaca jendela. Aku tersenyum padanya dan pamit, walau masih panas hati ini. Dia sama sekali tidak memalingkan wajahnya padaku. Semakin panas hati ini. “Mesem sik, Mas. Nanti dagangannya ga laku yen ra mesem,” teriakku. Jelas saja tidak laku, aku tidak jadi membeli sekuntum mawar di tokonya.

Apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi Katolik? Dengan dibaptiskah? Dengan pergi misa setiap harikah? Dengan menerima komunikah? Dengan berdoa rosario setiap hari berkeliling dari rumah ke rumah di lingkungankah? Dengan berziarah ke Gua Maria atau ke Candi Hati Kudus Yesuskah? Dengan bermeditasi Kristianikah? Dengan Brevir sehari lima kalikah? Dengan berdevosi pada para kuduskah? Dengan aktif di OMK-kah? Dengan ubyang-ubyung dengan sesama orang Katolikkah? Dengan menjadi prodiakonkah? Dengan aktif menjadi Dewan Parokikah? Dengan melayani altarkah? Dengan memakai jubah sebagai seorang frater, bruder, atau susterkah? Dengan berkalung rosariokah? Dengan memasang salib ber-corpus dan patung Bunda Mariakah? Dengan menjadi seorang imamkah? Dengan menulis kata ‘katolik’ di kolom agama pada KTP-kah? Dengan menikahi seorang Katolikkah? Dengan memahami dan menghafal teologi Katolik yang memiliki rumusan-rumusan sulit itukah? Dengan mencintai, mengasihi, dan memanusiakan manusiakah? Dengan merawat alamkah? Apakah dengan menjadi mantan biarawan seseorang masih Katolik? Apakah dengan menikahi seorang yang bukan Katolik seseorang tak lagi menjadi Katolik? Apakah dengan mengganti kotbah dengan visualisasi seorang pastor tak lagi menjadi Katolik? Apakah dengan tidak mewujudnyatakan ajaran Kristus seseorang masih layak menjadi Katolik? Apa yang sebenarnya membuat seseorang menjadi Katolik?
“Sudahlah, Pah. Ga usah dipikir yang tadi. Tu dilihat Damar.”
“Lha ya orang itu tadi tu... .”
“Pah, lupa sama Levinas ya? Kayak ga pernah belajar filsafat aja sih? Mungkin aja, ‘kan, orang itu tadi sedang mengalami hari yang buruk, atau kelelahan, atau masalah yang kita tidak ketahui? Harusnya kita kasihan padanya, karena tak mampu menanggung masalahnya itu, dia meluapkannya pada orang lain. Ya, sayangnya orang lainnya itu kamu.”
“Iya juga ya. Mungkin karena aku terlalu banyak membaca Kierkegaard dan Sartre. Maaf... .”
“Lo, kok minta maaf padaku sih?”
Pada lampu merah kami berhenti. Ada seorang wanita dengan menggendong seorang bayi mengemis di perempatan itu. Dalam hati aku mencibir, pasti anak itu bukan bayinya. Lagi pula dia masih muda, mengapa tidak bekerja, eh, malah mengemis. Kemudian aku teringat nama Levinas lagi. Ya ampun, maafkan aku ya, Bu, aku sudah tak berniat memberi, tak pula memberi solusi ekonomi, eh, malah mencibirmu. Aku melirik ke arah istriku.
“Ndak ada receh, Pah?”
Aku menggelengkan kepala.
“Damar, ambilkan Mamah dua potong roti yang kita beli di warung Bubur Ayam tadi donk.”
“Buat ibu cama dedek itu ya Mah?” tanya Jagoan Kecilku sembari menyerahkan dua potong roti miliknya.
“Iya. Nanti Mamah ganti ya?”
“Ndak ucah, Mah. Mamah cama Papah lebih enak dali loti, hehehehe. Atu mau Mamah cama Papah aja.”
Istriku membuka jendela mobil. Wajahnya yang cantik itu semakin indah ketika tersenyum. Senyumnya menyandera hatiku, menentramkan jiwaku. Mungkin dengan senyum yang sama, senyum yang sederhana itu, kita dapat menerangi dunia, menyapa tiap hati tanpa kata. Dia tersenyum kepada wanita pengemis yang menggendong bayi itu.
“Bu, kami ndak punya receh. Roti mau ya?”
“Matur nuwun, Den,” tersenyum wanita itu menjawab dan lalu berlalu.
Ah, istriku, betapa beriman dirimu. Kadang aku lupa, hidup rohani itu tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan sehari-hari itulah hidup rohani kita, sebab jiwa dan badan itu dua hal yang tak terpisahkan. Kadang aku terjebak dalam hierarki metafisis; aku merasa puas dan cukup jika sudah berdoa atau misa. Ah, istriku, aku takkan pernah menyesal mencintaimu, takkan pernah menyesal menikahimu. Saat menulis kalimat ini, aku melirik ke arah Agatha, istriku, yang tengah terlelap. Maria Agatha, istriku, semoga kamu pun tak pernah menyesal telah melepas habet itu dan hidup bersamaku.

Tepi Jakal, 16 Maret 2010
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

NAH...

NAH...

Jaka Kelana:
O… Larasati
akankah aku bertemu denganmu?

Aku sibak kau dalam riang
tapi hingar-bingar membawamu pergi
sebelum kucium punggung tanganmu
sebelum kupuji parasmu

Larasati
di manakah gerangan kau?

Kucari dalam malam
di antara gemerlap jahanam
di antara selangkang
di antara rambut kepang
tapi tiada kau, Larasati

Ke mana lagi harus kucari?
segera dan aku tidak muda lagi

Tiada hati rela
jika senja menyapa
kita belum bersua

Haruskah kuhabisi
sisa nafasku tanpamu,
Larasati?

Atau, benarkah kau hanya ada
bersama Pemuda Gondrong
yang mati di Kalvari?

Dalam hening
kudengar kau bernyanyi
Larasati… .


Larasati:
Diamlah sejenak, Kasihku
mari kita menyelam dalam malam
coba dengar
malam sedang melantunkan sebuah nyanyian

Malam tidaklah selalu sekelam yang kaupikirkan
Ketika malam semakin malam
tidaklah semua kehidupan terpejam
Coba dengar
masih ada anak-anak alam
bermain-main bersama malam
dan malam sedang melantunkan nyanyian
untuk mereka dan kita

Di sanalah bagian yang hilang
Kita terperangkap dalam diri kita sendiri, Kasihku
Waktu yang terus berlari
membuat kita tak sadarkan diri
dan lupa akan apa yang kita cari
Tubuh ini malah menjadi penjara sanubari
dan jiwa yang belum terselami

Lupakanlah sejenak segala gundah risaumu, Kasihku
Mari ikutlah aku berjalan mengarungi malam
Mari kita nikmati dan buat waktu berhenti
Selama purnama masih menyinari
dan bintang-bintang menari
Kita cari kerinduan hati
sesuatu yang hilang, tapi tak kita sadari



*Perkawinan puisi “Larasati” dan “Datanglah Padaku, Kasihku”
untuk TSD dan LC
tanpa babibu
dan sensor sana-sini
Tepi Jakal, 14 Oktober 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Saturday, March 13, 2010

ALLAH SUDAH MATI

ALLAH SUDAH MATI
(Untuk menghormati sekaligus mengecam mendiang Friedrich Nietzsche!!!)

Aku mencari Allah... .
Di mana Allah? Di mana Allah?

Aku beri tahu
Allah sudah mati
Kita sudah membunuh-Nya
Kita... aku dan engkau

Bagaimana kita membunuh-Nya?
Kita mencincang-Nya
Menyesah-Nya
Menguliti-Nya
Kita menepikan-Nya dari kehidupan kita
Kita menihilkan-Nya

Tanpa Allah
kita akan bebas
tidak ada lagi peraturan
yang membelenggu

Tapi kita akan kebingungan
Apa yang harus kita perbuat
dalam kebebasan absolut itu?

Segalanya akan sia-sia
Sia-sia...
tanpa makna
sebab kita pun akan mati pula

Sssssst... .
Hey... ada suara...
warta berita...

Hey... Allah hidup lagi
Allah telah bangkit!!!
Kita bukan lagi pembunuh
Sebab yang kita bunuh
telah bangkit hidup lagi

Lalu... apa artinya ini
bagiku... bagimu... bagi kita?

Aku tak menemukan Allah di sini
Karena Allah memang tak lagi mati di sini
Allah telah bangkit di suatu tempat
Aku harus segera pergi
mencari Allah
di tempat lain
tidak di sini

Allah...
Allah...
di mana Allah?

Jogja, 08 April 2009 (Prapaska)
Jean-Paul Padmo (Kalong Gedhe)

PULANG

PULANG
(naskah monolog ekspo TSD - Insadha)

Pulang. Kalian pernah pulang? Atau setidaknya pernahkah kalian merasakan rasa rindu pulang sebegitu menggebu, keinginan untuk berada di kampung halaman? Aku pernah mengalaminya, setidaknya kemarin. Kemarin? Ya, kemarin. Kamu tahu apa itu kemarin? Kemarin adalah bukan esok, bukan pula sekarang. Kemarin adalah masa lalu. Masa lalu akan berlalu tanpa meninggalkan jejak atau hanya sekadar sajak ketika kalian tak memaknainya. Oleh sebab itu, aku menceritakan ini pada kalian, supaya masa laluku menjadi sejarah, ya... masa lalu yang kita hargai.


Aku pulang naik kereta, bukan Kereta Kencana seperti dalam dramanya W. S. Rendra, melainkan kereta api. Hm... sudah berabad-abad alat transportasi itu, masih dipakai juga dan tidak jua lekang oleh waktu, malah semakin canggih. Aku hendak pulang ke Solo naik Pramex. Panjang antrian tiket di Lempuyangan Yogya, padahal sebentar lagi kereta akan segera tiba. Ada ibu yang mengomel, dia ingin didahulukan. Huh, memuakkan! Tidakkah dia tahu bahwa dia dan aku dan semua penumpang lainnya adalah sama, maka harus diberi kesempatan yang sama sehingga kami semua harus antri? Tapi, sudahlah. Mungkin ibu itu bukanlah orang yang berpendidikan, atau hanya tidak menyadari kemanusiaan itu sendiri. Lho, apa hubungannya mengantri dengan kemanusiaan?

Kereta tiba sesaat aku mendapatkan tiket. Besi panjang tua itu berdecit di atas besi yang lain, ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit. Pintu pun terbuka dan aku masuk. Penuh?!!! Ini masih pagi!!! Ini juga bukan musim liburan? Apakah selalu seperti ini? Mungkin seperti ini, selalu seperti ini, dan akan selalu seperti ini. Untunglah aku mendapatkan tempat duduk. Aku duduk dekat jendela, duduk menghadap arah yang berlawanan dengan laju kereta. Di samping kananku duduk seorang pria yang tengah asyik mendengkur. Di depannya duduk seorang pria lain tengah asyik membaca warta berita.

Sedangkan di hadapanku duduk dengan tenang seorang wanita. Wajahnya cantik luar biasa. Dilihat dari model pakaiannya, wanita itu adalah pegawai kantor. Mungkin seorang sekretaris. Dia sedang menelpon. Sepertinya dia sedang ada janji dengan seseorang yang sudah akrab dengannya di kota Solo.
“Halo... iya. Saya masih berada di atas kereta nih. Nanti tolong jemput saya di Stasiun Purwosari Solo, ya. Iya... iya... nanti saya tunggu di peron. Atau, kamu yang menunggu di peron? Pukul tujuh kurang sepuluh saya tiba di sana. Ya, nanti kita sarapan di Adem Ayem sembari membicarakan bisnis kita. O... tentu... tentu ada servis tambahan bagi pelanggan setia seperti Anda. Ok. Sampai jumpa.”
Setelah selesai menelpon, dia memejamkan mata dan tidur.

Kami semua duduk berdekatan, tapi sebenarnya kami saling berjauhan. Kami memang berada dalam satu ruangan gerbong kereta, tetapi kami memiliki dunia kami masing-masing. Pria di samping kananku tengah tidur, tengah asyik dengan mimpi-mimpinya. Pria di depannya itu tangah asyik membaca koran, tenggelam dalam berita-berita kelam dari negeri kita tercinta. Wanita di hadapanku juga tidur, wajahnya semakin menggemaskan sewaktu terlelap. Sedangkan aku? Aku mengamati mereka. Aku mengamati seisi gerbong. Aku mengamati pemandangan di luar jendela; ada bukit, ada lembah, ada sawah. Aku mengamati sekelompok bocah berseragam sekolah putih merah mengendarai sepeda berhenti menanti keretaku lewat. Aku mengamati. Mengamati. Dan, kemudian aku bertanya... mengapa... apa... apa... mengapa... .

Perjalanan ini seperti hidup itu sendiri. Hanya bedanya dalam perjalanan ini aku tahu ke mana aku akan pergi, pulang ke kotaku yang baru saja kemarin kutinggalkan. Sedangkan hidup? Tahukah kamu ke mana hidup berjalan? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Satu hal yang pasti... hidup mengarah kepada kematian. Aku akan mati. Gadis cantik di hadapanku itu akan menjadi tua, keriput, dan mati. Pria yang tengah asyik membaca koran itu akan mati. Pria yang tidur di sampingku akan mati. Aku akan mati. Kamu pun akan mati. Pacarmu mati. Orang tuamu mati. Temanmu mati. Musuhmu mati. Tetanggamu mati. Dosenmu mati. Setiap hal yang kita lakukan akan berakhir dengan kematian. Segalanya sia-sia. Setiap detik yang berlalu hanya menyisakan kematian.

"Pulang", Teater Seriboe Djendela, Aula USD, 7 September 2009

Lalu apa gunanya sekolah? Apa gunanya kamu duduk di sini menontonku yang sedang membual? Apa gunanya pula aku menceritakan segenap masa lalu? Jika pada akhirnya kamu, aku, kita semua berakhir dengan kematian?
“Maaf, Mas, masih ada surga... .”
Ya kalau surga itu ada. Bagaimana kalau surga itu tidak lebih dari Neverland dalam cerita Peter Pan?
“Lalu Tuhan, Mas?”
Ya kalau Tuhan itu ada... . Atau, jikapun ada, apakah Tuhan yang ada dalam pikiranmu secara de iure itu sama dengan Tuhan de facto yang menciptakanmu? Sudahlah, cukup tentang Tuhan. Untuk kali ini aku sedang tak ingin membicarakan Tuhan. Sudah sejak purbakala Tuhan menjadi topik pembicaraan, perdebatan, perselisihan, bahkan alasan percintaan dan pembunuhan.

Jika pada akhirnya kita akan berakhir dalam kematian, lalu buat apa hidup? Buat apa seluruh usaha ini? Buat apa menjalani rutinitas ini? Bangun, sarapan, kuliah, makan siang, kuliah, pertemuan UKM, makan malam, belajar, tidur, bangun lagi... . Dari usia 4 tahun hingga sebesar ini selalu masuk dalam kelas-kelas dan duduk belajar dengan pelajaran yang selalu sama. Membosankan! Segalanya membosankan! Bosan!!!

Mungkin lebih baik jika kalian segera berhenti menontonku, pergi dari sini, pulang ke rumah, dan bilang pada orang tua kalian untuk tak perlu lagi bekerja keras mencari uang demi menguliahkan kalian karena tiada gunanya lagi kuliah, belajar, dan melakukan segala usaha ini. Mungkin ada baiknya jika aku segera mengakhiri omong kosong ini, pergi dari sini, dan meratapi hidupku. Mungkin ada baikya jika kita segera mati lebih dini. Bunuh diri! Ya... ! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri!

TIDAAAAAAAAAK!!! Tiada yang lebih bodoh dari pada itu. Tiada yang lebih egois dari pada bunuh diri. Hidup memang absurd, akan menuju kepada kematian, apapun yang kita lakukan. Namun, hidup yang absurd itu bukan untuk diakhiri.
Apakah ada makna? Ada!!! Kitalah yang memaknai. Kita adalah tuan atas nasib kita sendiri. Kita adalah subyek otonom! Kita bebas, merdeka! Kitalah yang menetukan bagaimana kita mati sebagaimana kita menentukan bagaimana kita hidup. Rendra mati sebagai penyair sebagaimana dia hidup sebagai penyair. Mbah Surip mati sebagai penyanyi sebagaimana dia hidup sebagai penyanyi. Chairil Anwar mati sebagai Binatang Jalang sebagaimana dia hidup sebagai Binatang Jalang. Camus mati sebagai manusia pemberontak sebagaimana dia hidup sebagai manusia pemberontak. Søren Kierkegaard mati sebagai manusia yang senantiasa meratapi Regina Olsen sebagaimana seumur hidupnya dia meratapi wanita itu. Nietzsche mati sebagai pembunuh Tuhan sebagaimana sepanjang sisa hidup warasnya dia memproklamasikan Kematian Tuhan. Itulah kemampuan kita sebagai manusia. Lalu Tuhan? Sudah kukatakan sebelumnya, aku sedang tak ingin membicarakan Dia!!! Tapi jika kamu mengaku mencintai Tuhan, cintailah manusia, sebab manusia adalah citra-Nya.

Eksistensi kita sebagai manusia memiliki esensi kemanusiaan. Kemanusiaan itulah yang harus kita manifestasikan supaya hidup kita bermakna sebelum ajal menyapa. Kita memberi makna dalam setiap pilihan hidup kita. Jam-jam kuliah yang membosankan yang telah menanti di hadapan kalian itu adalah salah satu cara pemanifestasian kemanusiaan itu. Kalian menontonku berceloteh di sini juga adalah pemanifestasian kemanusiaan itu. Aku berceloteh di sini pun, setelah berlatih selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, adalah pemanifestasian kemanusiaan. Dan, seperti halnya kalian memilih untuk kuliah di Sadhar, mengikuti ekspo ini, masuk ke stand TSD, duduk dan mendengarkan aku menceritakan segala omong kosong ini, begitulah aku memaknai perjalanan singkatku dari Jogja ke Solo kemarin.

Perjalanan itu singkat dan pasti akan segera berakhir di Solo. Dan, aku memberi makna perjalanan itu dengan tidak menyapa mereka yang duduk di dekatku, tetapi hanya dengan mengamati mereka. Sesampainya di Solo... aku pulang. Berkali-kali aku melakukan perjalanan Jogja-Solo dan setiap perjalanan pulang itu selalu bermakna baru bagiku. Itulah sebabnya aku tak pernah bosan melakukan perjalanan itu berkali-kali hampir setiap minggu. Pulang... sebab di sana aku akan lebih dekat dengan jantung hatiku... .

Sarang Kalong, 28 Juli 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

MANISKU, BAGAIMANA JIKA SUATU HARI NANTI AKU MATI DAN TAK DAPAT LAGI MENCINTAIMU?

MANISKU, BAGAIMANA JIKA SUATU HARI NANTI AKU MATI DAN TAK DAPAT LAGI MENCINTAIMU?

Masih kubaca sms terakhirmu. Ya, kita memang terpisah jarak tak terperi, tapi kamu begitu dekat, sebegitu dekat sehingga lebih dekat dari pada tetangga kosku sendiri. Ah, betapa aku merindukanmu. Kamu mengguncang duniaku, eksistensimu mengoyak keheningan ruangku yang selalu saja berisi renungan-renungan tentang hidup ini. Ah, masih kuingat saat kamu menertawakanku sebelum kita jadian dulu,”Hidup, kok, hanya merenung tentang hidup? Napa ga menghidupi hidupmu selagi kamu hidup?” Aku pun menjawab sekenanya dengan memlesetkan motto Rene Descartes,”Merenung ergo sum, hahaha... .” Dunia kita memang pada awalnya saling berjauhan bahkan bertolak belakang. Kamu sempat enggan berteman denganku karena merasa bertemu dengan orang sangat tidak biasa, kalau tidak dibilang aneh. Namun, setelah beberapa waktu kita jadian dan aku menanyakan tentang perasaanmu waktu itu, kamu mengatakan bahwa meskipun kamu takut, entah bagaimana kamu terpesona... tremendum et fascinans. Hehehe... aku jadi GR.

Met mlm,Honey.Duh..kngen ne.Tp msh lm y qt bs ktmuan.Gpp c,tp..hmpf,aq g ad pls, cm pls sms.Jk ad,qtlp.Ywdh de..Miss U.G’nite.Cweet dleamz.Luv U – Pengirim: Cweetie +6285687711342 19-12-08 23.59

Love you? Apa itu cinta? Aku selalu bertanya apa itu cinta. Ketika mengatakan aku mencintaimu, aku ragu apakah aku menyadari apa yang aku ucapkan itu. Aku ragu apakah aku benar-benar siap dengan segala konsekuensi dari ucapan itu? Namun, toh ternyata kamu pun mengatakan hal yang sama,”Aku mencintaimu.”

Masih menari-nari penaku di atas diary. Ingatanku segera melayang jauh mengarungi ruang dan waktu. Aku melihat kamu tersipu malu ketika mendengar tiga kata ajaib itu. Pipimu merona. Tirai malam tak begitu kelam saat itu. Bintang-bintang tersenyum genit. Kamu ingat bintang yang paling terang di sebelah timur itu? Hahahahaha... kita sempat berdebat tentang bintang itu.

“Lihatlah bintang itu, Manisku,” pintaku
“Bukan, itu planet... Planet Venus!”
“Iya, tapi orang-orang menamakannya bintang... Bintang Kejora.”
“Ah, ya tidak bisa. Planet itu tidak berkedip.”
“Kamu ini ah... tapi kita diberkati.”
“Kenapa?”
“Tahu apa nama Yunani dari Venus?
“Apa?”
“Aphrodite.”
“Dewi Cinta?”

Kita duduk berdua di city walk. Lampu jalanan yang kuning itu semakin membuat suasana menjadi romantis. Kita tidak sendiri memang, banyak pasangan lain sedang memadu kasih seperti kita. Namun, dunia kita terlanjur menyatu sebegitu intens dan erat sehingga kita tak memiliki lagi ruang untuk menghiraukan mereka sebagaimana mereka tak menghiraukan kita. Waktu pun semakin padat tapi tidak cepat melesat. Dan, ketika mulutku memagut mulutmu, segalanya diam tak jemu.

“Akankah semua terulang?”
“Waktu bisa diciptakan, Manisku. Dan, malam ini aku hanya menciptakan waktuku untukmu... hanya untukmu. Esok takkan pernah datang. Biarlah kita nikmati kekinian kita di sini.”
“Yang? Aku tak mengerti.”
“Kasihku, hanya ada kini-sini. Esok yang datang pun akan segera menjadi kini sini. Esok takkan pernah datang. Dan, pada setiap kini-sini, aku akan menciptakan waktu untukmu, meski hanya sesaat.”
“Ah, kamu begitu rumit. Sederhanakanlah bujuk rayumu itu.”
“Aku mencintaimu.”
“Aku mencintaimu.”

Untuk sementara aku berhenti bertanya. Aku membiarkan segalanya mengalir, bagaikan udara yang menyentuh dinding hidungku, merambat pada tenggorokanku, dan memenuhi paru-paruku. Apakah ini hanya asmara? Apakah ini eros? Apakah ini philia? Apakah ini kasih? Apakah ini cinta? Apakah ini agape? Ah... apapun cinta ini... untuk sementara biarlah. Aku ingin berhenti bertanya. Biarlah hanya merasakan tanpa menilai.

Otonomiku semakin kuat berkat korelasi denganmu. Eksistensiku semakin ada, berkat koeksistensi dengan adamu. Aku semakin menjadi aku berkat kamu. Aku dan kamu menjadi kita. Kita semakin ada dan bermakna. Ah, hidup memang absurd, tapi jujur, hidup yang absurd ini terlalu indah untuk disia-siakan. Justru koeksistensi denganmu ini, Manisku, koeksistensi yang adalah cinta, apapun maknanya itu, membuat hidupku, kuharap juga hidupmu, semakin bermakna di atas absurditas hidup itu sendiri. Kalau demikian, seakan-akan kematian itu tak lebih dari pada kristalisasi kehidupan. Dan, aku semakin ada, semakin bermakna oleh karena kehadiranmu dengan segenap dunia yang ada padamu. Duniamu dan duniaku menyatu tanpa melebur menjadi sebuah dunia yang agung dan indah.

Cweetheart blm bo2 ni?Du..ympun,dh larut mlm lo.Bsk msh kul kan? – Pengirim: Honnhonn +6285694522342 20-12-08 00.10

Blm,mkrin km.Honey lg ap ni?Ko blm bo2 jg? – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.12

Nls diary,ttg cinta qt.. . – Pengirim: Honnhonn +6285694522342 20-12-08 00.14
Du..jd t’haru.. .So sweeeet.Kpn2 aq blh bc g? – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.17

Imajinasiku memaksa masa depan hadir dalam kini-sini, terpampang jelas di hadapanku bagai layar bioskop. Kulihat aku yang telah beranjak renta. Waktu telah menggerogoti keperkasaanku. Hampir tiada lagi sisa-sisa keremajaan. Aku yang semasa muda lincah dan gagah kini berjalan dengan susah payah menikmati senja pun telah suntuk usia. Kulihat aku tengah berjalan tertatih-tatih menuju dirimu yang juga tak kalah rentanya. Rambutmu menguban. Kemolekanmu sirna. Mulus kulitmu hanya meninggalkan kerut keriput. Merah pipimu yang senantiasa merona kini tak lebih tulang dibalut kulit. Namun, senyummu... ya... senyummu masih serenyah dulu. Senyum yang selalu kurindu. Senyum yang mampu menyungsangkan duniaku. Senyum yang senantiasa melambungkan harga diriku. Senyum itu... . Dan, kamu tersenyum padaku, bukan menertawakan kerentaanku, melainkan menyambut hangat ke dalam pelukmu pria yang kaucintai sejak masa remajamu.

“Aku akan mendahuluimu, Manisku.”
“Ah, kita akan bersama-sama.”
“Tidak, anak cucu kita masih membutuhkan kehadiran kita. Namun, aku sudah lelah dan bosan dengan kehidupan ini. Aku akan mendahuluimu.”
“Kaubosan juga denganku?”
“Kenapa kamu merajuk? Tiada pernah aku bosan padamu. Kamu begitu berharga bagiku, dan akan selalu begitu berharga. Apa kamu pikir aku mencintaimu hanya karena kemolekanmu? Jika demikian adanya, sudah sejak menopause kamu kutinggalkan, bahkan jauh sebelum itu.”
“Lalu, sudahkah pertanyaanmu apa cinta itu terjawab setelah berpuluh-puluh tahun lamanya?”
“Belum jua aku bisa menjawabnya, Kasihku. Bahkan setelah lama kita merajut cinta, masih juga ada suatu kegelapan yang mahapekat, terlalu pekat untuk menjawab pertanyaan apa cinta.”
“Tapi, apa kamu masih mencintaiku?”
“Memang telah lama padam api asmaraku padamu. Juga takkan birahi lagi engkau padaku. Namun, cinta lebih dalam dari pada itu. Cinta tak sesempit itu. Bahkan, cinta lebih indah dari pada itu.”
“Bukankah itu cinta?”
“Itu pun cinta, tapi cinta bukan melulu itu. Cinta adalah esensi dari eksistensi kemanusiaan kita. Dan, ada banyak cara memanifestasikan cinta. Ketika kita masih bergairah dulu, kita saling memeluk, saling memandang, saling bercium mesra, bahkan aku semakin dalam memasuki ruangmu. Tapi ketika segalanya semakin beranjak dewasa, ketiadaanku demi adamu mungkin menjadi manifestasi terakhir dari cinta.”
“Lalu setelah itu kamu takkan mampu mencintaiku! Segala yang kita bagi selama ini sia-sia. Bagaimana mungkin aku mencintai yang tiada? Bagaimana mungkin kamu yang tiada juga akan mencintaiku yang ada?”

Sebuah bukuku jatuh. Suaranya menyeretku kembali ke kesadaranku. Malam semakin larut. Dini hari sudah mengantri. Jam dinding menunjuk angka 00.45. Kubuka sms darimu.

Honey sdh bo2 y?Y..ktdran pst.Ywdh,met bo2 aj,Hon..mimpi indah. Mimpiin aq y.Qt sambut fajar b’sm2 y,wlo qt jauh,wlo aq g ad d si2mu,wlo aq g bs liat km,tp hatiq sll ad dkt hatimu – Pengirim: Cweetie +6285687711342 20-12-08 00.30

Sengaja tidak kubalas smsmu. Kamu pasti sudah tidur, pikirku. Kuambil buku yang jatuh itu. Buku Gabriel Marcel, sang dramawan sekaligus filsuf. Aku percaya di dunia ini tiada yang kebetulan. Atau, mungkin memang kebetulan? Namun, buku yang jatuh itu terbuka. Dan, pada halamannya yang terbuka aku membaca,”Ketika engkau menyatakan cinta pada seseorang, sebenarnya engkau sedang mengatakan bahwa orang itu takkan pernah mati.”

*Spesial untuk para Senthongers, Teater Seriboe Djendela
tepi Jakal, 24 September 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

I LOVE YOU THEREFORE LOVE IS

I LOVE YOU THEREFORE LOVE IS

Pernah saya mendengar seorang kawan sejawat mengkritik pandangan saya, bahwa tiada cinta sejati, tiada yang namanya “Penolong yang Sepadan”. Itu semua hanya terdapat dalam fairy-tale. Saya membaca kembali renungan saya “Tentang Cinta”. Kemudian mulai mencerna kritik teman saya itu. Apakah memang dia benar bahwa tiada itu cinta sejati? Bahwa semua “hal indah” itu hanya ada dalam dongeng, hanya ada dalam fantasi manusia? Renungan ini pun tidak lepas dari renungan pertama “Tentang Cinta”, anggap saja dualogi. Jadi, saya andaikan pembaca sudah membaca “Tentang Cinta” sebelum membaca renungan ini sekadar sebagai frame berpikir. Dalam mencerna pertanyaan apakah benar tiada cinta sejati itu saya menggunakan pisau bedah utama “Teori Keraguan Rene Descartes” dan “Teori Moral Egoisme Etis”. Tidak secara mutlak saya menggunakannya, hanya sebagai analogi berpikir dan bukan berarti saya hanya menggunakan dua teori itu. Dan, saya sudah mengantisipasi kelemahan-kelemahan kedua teori tersebut, sehingga jauh lebih bebas mengupas pertanyaan itu tanpa harus terpaku.

Pertama, mari kita bahas persoalan mengenai pernyataan “cinta sejati hanya ada dalam fairy-tale”. Fairy-tale atau dalam bahasa Indonesia dongeng adalah sebuah cerita. Sebuah cerita pasti berasal dari imaginasi, fantasi, dan idealisme manusia. Imaginasi, fantasi, idealisme manusia itu takkan pernah ada ketika manusia tak pernah mencerapnya. Contoh: personifikasi Apolo, sang Dewa Matahari bangsa Yunani Kuno. Manusia Yunani kuno mencerap matahari yang terang dan senantiasa bergerak dari timur sampai ke barat setiap hari. Bangsa Yunani Kuno mengenal api yang menghasilkan panas dan cahaya. Mereka juga mengenal chariot, kereta perang. Dan, yang tak dapat disanggah, mereka menghormati keindahan tubuh manusia sama seperti mereka menghormati jiwa yang tercermin salah satunya dalam karya-karya patung mereka yang indah dan sempurna. Dari itu semua, mereka mengimajinasikan Sang Matahari. Mereka mengantropomorfiskan matahari dalam sebuah pribadi bernama Apolo yang emas bercahaya, mengendarai kereta perang berapi dari timur ke barat setiap hari. Lalu, dirangkailah mitologi tentang Dewa Apolo itu.

Sebuah contoh lain: mesin cetak. Pada awalnya segala tulisan itu direproduksi dengan disalin secara manual. Hal itu membutuhkan waktu yang lama. Tentu banyak kesalahan manusia di sana-sini: salah dengar, salah tulis, salah baca, dll. Berabad-abad manusia menggunakan metode “menyalin” ini untuk mereproduksi tulisan-tulisan baik itu Alkitab maupun tulisan-tulisan lainnya. Hingga pada abad XV Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, berdasarkan kelemahan-kelemahan metode lama dalam mereproduksi tulisan, mengimajinasikan suatu metode yang cepat dan dapat meminimalisasi kesalahan reproduksi tulisan. Dan, dia tidak hanya berhenti pada imajinasi saja, tapi mewujudnyatakan imajinasi itu sehingga terciptalah mesin cetak.
Begitu juga dengan “cinta sejati”, jika dikatakan bahwa “cinta sejati” hanya ada dalam sebuah dongeng, dan jika dongeng itu adalah hasil fantasi manusia, dan jika fantasi manusia itu berdasarkan tindak lanjut akal-budi terhadap apa yang dicerapnya, “cinta sejati” dalam dongeng itu pasti juga adalah hasil tindak lanjut akal-budi pendongeng atas apa yang empiris dicerapnya. Jika “cinta sejati” itu adalah sebuah idealisme, berarti manusia pernah mengenal ide tentang “cinta sejati”. Sebab, idealisme itu dapat ada karena manusia mengenal terlebih dulu suatu ide. Dan, manusia mengenal suatu ide dari hasil pencerapan indera yang ditindaklanjuti oleh akal-budi. Maka, dari mana manusia mengenal ide tentang “cinta sejati”? Tentu dari hasil pencerapan indera yang ditindaklanjuti oleh akal budi. Apa yang dicerap indera? Adalah apa yang ada secara empiris. Pengalaman empiris itu dapat berupa pengalaman pribadi atau hasil pengamatan di luar diri.

Sebuah contoh untuk menerangkan hal itu secara sederhana adalah masalah bahasa. Kita menggunakan telaah bahasa untuk membuat permasalahan pertama kita menjadi lebih jelas. Kita tahu bahwa ada banyak sekali bahasa di muka bumi ini. Ambil contoh Bahasa Inggris dengan Bahasa Jawa. Di Jawa ada kata “asu”, sedangkan di Inggris ada kata “dog”. Mengapa? Karena manusia di dua daerah itu mengenal ide tentang anjing, pernah mencerap binatang anjing. Di Jawa ada kata “lemper”, tapi di Inggris tidak ada kata “lemper” atau kata padanan yang dapat menerjemahkan kata “lemper”. Mengapa? Karena di Inggris tidak ada ide tentang makanan yang terbuat dari ketan dan dibungkus daun pisang itu. Mengapa? Karena tidak ada makanan lemper di sana, bahkan tidak ada beras ketan – bahan dasar lemper. Di Inggris ada kata “computer”. Di Jawa pun ada kata “komputer”. Mengapa? Karena di Inggris dan di Jawa ada benda komputer. Kata “komputer” bukan kata asli Jawa, melainkan kata serapan. Benda komputer datang dari Barat ke Jawa. Karena manusia Jawa tidak memiliki ide tentang komputer sebelumnya, mereka tidak memiliki kata untuk menamai benda itu, maka diambillah kata Inggris “computer” dan disesuaikan dengan lidah Jawa, “komputer”. Di Inggris ada kata “love”, di Jawa ada kata “tresna”. Mengapa? Karena di Inggris dan di Jawa terdapat ide tentang cinta.

Kedua, berdasarkan “Tentang Cinta” kita sudah membahas mengenai apa itu cinta. Ketika saya mengatakan,”Tiada cinta sejati.”, diandaikan bahwa saya memiliki ide tentang cinta sejati tetapi tidak menemukannya secara empiris. Saya mengetahui ide “cinta sejati” mungkin dari orang lain. Diandaikan pula bahwa saya mencari cinta sejati di luar diri saya. Ada kekosongan dalam diri sehingga mengharap ada seseorang lain mengisi kekosongan itu, tetapi tak kunjung ada orang yang mampu mengisi kekosongan itu. Dari mana kekosongan itu berasal? Plato melalui tokoh Aristophanes dalam bukunya Symposium menerangkannya dengan sebuah mitos(1). Dulu manusia berkepala dua, bertangan empat dan berkaki empat, dan berkelamin dua. Ada tiga jenis manusia pada saat itu, pria-wanita, wanita-wanita, dan pria-pria. Mereka sempurna pada dirinya sendiri. Zeus kemudian membelah mereka, masing-masing pasangan dipisahkan dan dijauhkan satu sama lain. Sejak saat itu manusia merasa ada yang hampa dalam dirinya, ada yang kurang hingga mereka menemukan pasangan masing-masing. Yang dulu pria-wanita akan mencari pasangannya, pria mencari wanita, begitu pula sebaliknya. Yang dulu wanita-wanita akan mencari pasangannya yang tentu sejenis, begitu pula yang awalnya pria-pria(2). Ketika mereka bersatu kembali dengan pasangannya semula, pria bersatu dengan wanita, wanita bersatu dengan wanita, pria bersatu dengan pria, mereka menemukan kepenuhan hidup.

Sedangkan dalam Genesis Bangsa Israel menjelaskan mengapa manusia merasa kesepian. Manusia (laki-laki) tidak menemukan penolong yang sepadan dengannya. Dia hanya sendiri di Taman Eden, tiada makhluk lain yang menyerupai dirinya. Makhluk lain selain dirinya hanyalah hewan-hewan dan tetumbuhan. Maka, TUHAN membuatnya tidur, mengambil salah satu tulang rusuknya, dan membangun seorang manusia lain yang merupakan perempuan, lalu membawanya ke hadapan manusia itu. Manusia itu menemukan kepenuhan dalam dirinya dengan kehadiran perempuan itu karena dia diambil dari diri manusia itu. Manusia menemukan kesepadanan antara dirinya dengan perempuan itu (kecuali tentunya jenis kelamin mereka) sehingga mereka dapat saling memahami dan melengkapi.

Dari dua mitologi di atas jelas bahwa kehampaan itu berawal dari rasa kesepian dan rasa ketidaksempurnaan. Dari rasa itu manusia berusaha mencari pemenuhan. Ketika menemukan seseorang yang dapat mengisi kekosongan tersebut, manusia akan tenteram. Namun, bagaimana jika kekosongan itu menjadi semacam phobia? Manusia yang pernah mengalami “pemenuhan” tersebut takut mengalami kekosongan lagi. Maka, dia akan “mengurung” seseorang tersebut supaya tidak pergi meninggalkannya kesepian lagi. Sehingga, manusia hanya menganggap seseorang itu sebagai obyek untuk dimiliki, obyek pemenuh kehampaannya. Dari sinilah muncul permasalahan possessivitas. Masalah ini bukan hanya dialami oleh sepasang kekasih, melainkan juga antara orang tua dan anak, bahkan semua macam jenis hubungan manusia. Orang tua yang overprotective terhadap anaknya sebenarnya tidak ingin anaknya dewasa, sehingga senantiasa menjadi anak-anak supaya selalu bergantung pada orang tua dan tidak meninggalkan mereka. Orang tua yang semacam ini justru tidak mencintai anaknya melainkan egois (selfish). Mereka takut kesepian di hari tua tanpa anak-anak lagi. Padahal, orang tua yang baik adalah mereka yang mendidik anak mereka, memanusiakan mereka, membimbing mereka agar semakin menemukan kesejatian dirinya sehingga secara dewasa(3) dapat hidup dan mengada.

Sejauh ini kita mengandaikan manusia yang hampa itu bertemu dengan sang penolong yang akan memenuhi kekosongan hatinya dengan cinta. Lalu, bagaimana jika dia tak kunjung menemukan seseorang yang dapat mencintainya dan mengisi kekosongan itu? Tentu dia akan tersiksa dalam kesepiannya. Dan, dalam ketersiksaan itu mungkin saja akhirnya dia mengambil kesimpulan yang terlalu buru-buru bahwa tidak ada cinta sejati, atau mungkin lebih tepatnya bahwa tidak ada seseorang yang mencintainya dengan cinta sejati (sebab mungkin saja dia bertemu seseorang yang mengaku mencintainya tetapi pada akhirnya mengkhianati dan meninggalkannya).

Namun, benarkah tidak ada cinta sejati? Saya hampir saja kebingungan menjawab pertanyaan ini. Terus terang saja, ini bukan pertanyaan seorang anak balita, melainkan sebuah pertanyaan filosofis (bahkan mungkin teologis, sayang saya tidak tertarik mengupasnya dalam ranah teologi; ada yang mau?). Kemudian saya menemukan dua teori filsafat: Teori Keraguan Rene Descartes dan Teori Moral Egoisme Etis. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa saya akan menggunakan dua teori tersebut sebagai pisau bedah utama dalam menjawab pertanyaan itu.

Pertama, marilah kita memakai Teori Moral Egoisme Etis. Egoisme Etis menerangkan bahwa dalam hidup bersama, supaya semua untung, setiap orang harus memperhatikan kepentingan sendiri sebab hanya diri sendiri yang tahu apa yang paling dibutuhkan, bukan orang lain, dan mencampuri urusan orang lain justru dapat merusak kebebasannya untuk menentukan diri, mengganggu privasinya(4). Saya tidak akan menarik konsekuensi dari teori ini, melainkan hanya mengambil cara berpikirnya saja. Jika seseorang mencari cinta sejati, dia pasti sudah lebih dulu tahu ada kemungkinan cinta sejati itu ada dan dalam dirinya sendiri dia tahu bahwa kepentingannya adalah cinta sejati. Dengan pola pikir egoisme etis, saya tentu tidak akan mencari cinta sejati pertama-tama pada orang lain di luar diri saya, melainkan terlebih dahulu pada diri saya sendiri, apakah saya sudah mencintai dengan cinta sejati, adakah cinta sejati dalam diri saya. Jika jawabannya ya, cinta sejati itu ada. Jika jawabannya tidak, di dalam diri saya tidak ada cinta sejati. Berarti mungkin ada orang lain yang mencintai dengan cinta sejati, dengan cinta yang saya sendiri belum mampu manifestasikan.

Kedua, mari kita menggunakan keragu-raguan Rene Descartes. “Namun, di sini aku segera menyadari bahwa sementara aku mau menilai segalanya sebagai keliru, aku sendiri yang sedang memikirkan hal itu secara niscaya pasti ada, dan aku menemukan bahwa kebenaran ‘aku berpikir maka aku ada(5)’ sedemikian kokoh dan pasti, sehingga pandangan seorang skeptikus yang paling sengit tidak akan dapat menggoyahkan kebenaran tersebut. Demikianlah aku meyakini dapat mengambil tesis ini tanpa ragu untuk prinsip pertama filsafat yang kucari,” kata Descartes(6). Saya pun takkan menarik konsekuensi pola pikir teori ini, tapi hanya menggunakan logika berpikirnya. Anggap saja benar bahwa saya tidak menemukan seorangpun yang mencintai, baik mencintai saya ataupun mencintai orang lain, dengan cinta sejati. Namun, ketika saya mencari cinta sejati itu dengan penuh dedikasi(7), saya mendapati cinta sejati dalam diri saya. Terlebih ketika saya mencintai seorang gadis dan saya benar-benar menyadari bahwa apa yang saya sebut cinta itu adalah benar-benar cinta dan bukan melulu hasrat possessive, saya menemukan cinta sejati. Cinta sejati ada! Saya tidak perlu menunggu seseorang mencintai saya dengan cinta sejati untuk mengetahui apakah cinta sejati itu ada, tetapi saya dapat memulai mencintai dengan cinta sejati, maka cinta sejati itu bukan lagi dongeng belaka. Te amo ergo amor est, I love you therefore love is, aku mencintaimu maka cinta itu ada.

Sebenarnya, apa cinta? Cinta adalah esensi dari eksistensi kemanusiaan. Maka, mencintai berarti pemanifestasian kemanusiaan yang tak lain adalah pemberian diri. Memberi itu adalah suatu pengorbanan dan itu sakit, apa lagi memberi diri. Namun, justru dari pemberian diri ini, mencintai dengan segenap kemanusiaan ini, atau dengan bahasa “dongeng” mencintai dengan cinta sejati, seseorang memperoleh kepenuhan (eksistensi) kemanusiaannya. Dengan demikian, seseorang dapat menjadi penolong yang sepadan bagi orang yang dicintai.

(1) Gerasimos Santas, PLATO DAN FREUD, Dua Teori Tentang Cinta, terj. oleh Konrad Kebung, Maumere: LPBAJ, 2002, 25-28
(2) Secara eksplisit tampak bahwa bangsa Yunani Kuno menganggap homoseksualitas adalah hal yang wajar.
(3) Dewasa: mandiri sesuai kesejatian dirinya, semakin menjadi diri sendiri, yakin terhadap kediriannya.
(4) James Rachels, FILSAFAT MORAL, terj. oleh A. Sudiarja, Yogyakarta: Kanisius, 2008, 148
(5) Je pense donc je suis, cogito ergo sum, I think therefore I am.
(6) F. Budi Hardiman, FILSAFAT MODERN, dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, 37
(7) Cinta mengandaikan sebuah dedikasi, seperti para filsuf – pecinta kebijaksanaan itu – mendedikasikan dirinya demi mencari kebenaran.


Silakan membaca:
Budi Hardiman, F.
2007 FILSAFAT MODERN, dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Rachels, James
2008 FILSAFAT MORAL, terj. oleh A. Sudiarja, Yogyakarta: Kanisius

Santas, Gerasimos
2002 PLATO DAN FREUD, Dua Teori Tentang Cinta, terj. oleh Konrad Kebung, Maumere: LPBAJ


tepi Jakal,
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman,
2 November 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

INGIN KUGAMBAR

INGIN KUGAMBAR

Berikanlah padaku sekotak crayon
ingin kugambar perasaanku yang tak terperi
Berikanlah padaku sekotak crayon
sebab puisi mungkin tak mampu lagi memeri

Ingin kubasuh tubuhku dengan warna-warni
yang mengalir syahdu dari antara kakimu
Dan,
‘kan kugambarkan perasaan itu di tubuhku dan tubuhmu
Jiwa kita pun berpadu

Sarang Kalong, 27 Januari 2010
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

TENTANG CINTA

TENTANG CINTA

Cinta bukan sekadar soal perasaan cengeng saja. Cinta adalah voluntas, sebuah kehendak yang akan menggerakkan seluruh kemanusiaan. Aku mencintai seseorang, berarti aku akan melakukan apa saja untuk membuat dia bahagia, melakukan apa saja hanya untuk dia. Namun, itu bukan berarti aku menihilkan kemanusiaanku. Justru cinta (dalam perspektif hubungan pria-wanita) adalah sebuah dialog terus-menerus antara dua subyek yang otonom. Jika tidak demikian, bukan cinta yang ada, melainkan hasrat possessive. Hasrat ini mengandaikan suatu kepemilikan, kamu adalah milikku. Ini berarti aku mengobyekkan kamu. Maka, aku mereduksi kemanusiaanmu hanya sebagai properti.

Pereduksian kemanusiaan menjadi hanya suatu properti itu akan menyebabkan ketidakadilan. Akan ada penindasan kemanusiaan di sana. Maka, tak heran banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga sebab bukan cinta yang melingkungi melainkan hasrat possessive. Hasrat possessive itu lahir dari kepribadian yang tidak dewasa, kepribadian yang egosentris, egois. Orang yang egois tidak dapat mencintai dengan baik sebab dia tak pernah merasakan cinta itu sendiri. Bahkan, dia tak mampu mencintai dirinya sendiri dengan baik.

Sedangkan cinta yang adalah voluntas akan mendorong dan menarik seseorang melakukan apapun untuk nilai tertinggi. Cinta itu akan membuat orang itu men-actus-kan seluruh potentia yang ada padanya. Maka, tak heran banyak pria/wanita menjadi seakan-akan lain dari biasanya ketika jatuh cinta, menjadi pribadi lebih baik. Yang tidak mereka sadari adalah bahwa kepribadian itulah kesejatian diri mereka sebenarnya. Namun, banyak orang malu akan kesejatian mereka itu hingga mereka lebih suka mengenakan topeng-topeng kehidupan.

Perjuangan mencapai nilai tertinggi, katakanlah misalnya eudaimonia (kebahagiaan), oleh karena cinta bahkan akan membuat seseorang mampu mengorbankan aspek badannya. Pernyataan ini tidak berarti dualistis, bahwa badan dan jiwa adalah aspek yang terpisah begitu saja. Justru dalam pengorbanan aspek badan itulah jiwa semakin membadan dan kemanusiaan seorang manusia mencapi nilainya yang tertinggi.

Banyak orang salah mengartikan cinta. Mereka berpikir cinta adalah suatu omong kosong belaka. Sebenarnya, orang semacam itu adalah orang yang belum pernah bertemu dengan cinta itu sendiri atau mungkin adalah orang yang tidak berani menghadapi pedih oleh karena cinta. Cinta memang adalah nilai tertinggi yang patut diperjuangkan dan tidaklah mudah untuk mendapatkan sebuah nilai tertinggi, perlu pengorbanan di sana. Tentu pengorbanan itu menghasilkan luka. Atau, orang terluka oleh sesuatu yang mengatasnamakan diri cinta tetapi pada hakikatnya tak lebih dari pada hasrat possessive, entah dari yang mengaku mencinta atau yang didaku dicinta.

Cinta adalah suatu nilai yang ditanam dalam dasar hati kita, dasar esensi kemanusiaan kita. Orang yang benar-benar mencintai akan menghargai kemanusiaan itu sendiri, dalam arti bahwa hubungan yang berusaha dia jalin dengan seseorang yang dia cintai adalah hubungan subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Ketika seseorang menghargai dan menghormati orang yang dia cintai sebagai subyek, dia akan menghormati dan menghargai segala keputusannya sebab bagi dia mencintai berarti kebahagiaan yang dicintai.

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

MALAM KEPUTUSAN

MALAM KEPUTUSAN

Keluar atau terus bagi seorang frater tidak seperti “siang ini aku ingin makan sup saja dari pada dengan nasi”. Keluar atau terus bagi seorang frater melibatkan segenap kediriannya, antara dia dengan jati diri (siapa dia sebenarnya) di hadapan Tuhan. Sungguh menyedihkan mereka yang memandang sebelah mata para mantan frater. Mereka hanyalah penonton kehidupan, bukan pelaku. Saat memutuskan keluar atau terus bagi seorang frater adalah saat istimewa, saat dia akan menjadi dirinya sebenarnya dan akan hidup sebagaimana dirinya sebenarnya. Sungguh menyedihkan para frater yang melewatkan saat-saat ini. Mereka sebenarnya takut bertemu kesejatian dirinya, lebih menyedihkan mereka takut pada kehidupan yang nyata-nyata ada bersama mereka. Pelarian apa pun akan sia-sia.

Filosofan Wisma Nazaret,
Minggu, 8 Februari 2009
Yohanes Padmo Adi Nugroho

WELCOME TO SARANG KALONG

Sarang Kalong adalah wahana bagi Padmo "Kalong Gedhe" Adi untuk memanifestasikan kemanusiaannya. Dalam Sarang Kalong, Anda akan bertemu dengan renungan filosofis, puisi, naskah, dan cerpen buah karya Padmo "Kalong Gedhe" Adi. Selamat membaca. Dan, terima kasih sudah sudi mampir di Sarang Kalong.