Friday, August 30, 2013

INDONESIA


Indonesia
Ketika engkau mengeja Indonesia,
            apakah yang ada di dalam pikiranmu?
            Adakah yang kaupikirkan?
            Imaji apa yang kaupakai untuk mengisi kata itu?

Indonesia
Adakah imaji kepulauan yang diapit dua benua
                                                dan dua samudera?
Adakah imaji gunung-gunung, pantai, hutan,
                        sungai, sawah, dan perkebunan?
Adakah imaji rakyat-rakyat pejuang, para petani
                        nelayan, guru-guru honorer,
                        siswa-siswi yang gagal UN,
                        suku-suku pedalaman,
                        simbok-simbok bakul di pasar?
Adakah imaji para bapa bangsa, Pancasila, UUD ’45,
                        dan keringat serta darah para pahlawan dan veteran?
Adakah imaji masyarakat yang begitu mabuk
                        pada ritus dan agama?
Adakah imaji masyarakat yang masih ketakutan
                        untuk berpikir sendiri
                        secara berdikari, bebas, dan bertanggung jawab?

atau

hanya ada imaji rupiah, dollar, dan euro.

Royal Ambarrukmo, 26 April 2013
The 18th APEC Automotive Dialogue 2013

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Orang Sederhana

Orang Sederhana
(disadur dari lirik lagu The Simple Man - Orphaned Land)

Segala sesuatu adalah sia-sia (Pengkhotbah 1:1)

Aku dilahirkan untuk meratakan jalan
Biarlah orang-orang mendengar, sabdaku dengarkan
Mereka mengikuti melalui malam-malam mencekam
Seakan aku ini gembala dengan penglihatan kedua

Namun, aku seorang sederhana
Aku mengikuti rencana Surga
Aku tak punya banyak harta
Aku hidup sendiri
Dan, hidup yang aku ketahui
Aku tak butuh atau ingin takhta ini

Di atas panggung sabda ini kusajakkan
Damai bagi setiap manusia adalah mimpi yang kuberikan
Jadi, lakukan seperti yang kuteladankan, bukan kukatakan
Di luar tanah samudera ini aku tak bisa memimpin kalian

Karena aku seorang sederhana
Aku mengikuti rencana Surga
Aku menari sembari mengangkat tangan di udara
Aku akan bersabda malam ini
Beberapa kata dari Yang Ilahi
Namun aku bersumpah, aku bukan Yesus Kristus

Aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini (Kejadian 32:10)


disadur oleh Padmo Adi

Thursday, August 29, 2013

Kami Bukan Setan

Kami Bukan Setan

Sepanjang malam kami gentayangan
duduk melingkar berputar
mengeja mantra-mantra
mendaras realita dunia

Kata kami ubah jadi mantra
Mantra kami ubah jadi bahasa
Bahasa kami ubah jadi Kebijaksanaan
Kebijaksanaan kami ubah jadi karya
Karya kami ubah jadi sejarah
Sejarah kami ubah jadi kata

Anggur persembahan kami adalah secangkir kopi
Asap rokok yang mengepul adalah dupa wangi
Semuanya bergema
melingkar
berputar

Dan, ketika adzan subuh berkumandang
kami segera bubar...
tak ada lagi yang melingkar
semua segera berlari-lari untuk pulang

Aku sendiri segera bersembunyi kembali
menyepi di Kaki Merapi
masuk ke bilik sunyi
tepat ketika lonceng gereja berdentang di pagi hari

Tidak,
kami bukan setan yang takut matahari
kami hanya penyair dan pemikir mandiri
yang menjadikan malam waktu diskusi
dan menjadikan siang waktu beraksi

(Mungkin kami akan mati...
tapi pada nisan kami akan tertulis banyak puisi
yang menceritakan bagaimana hidup dijalani)

tepi Jakal, 29 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Mereka Akan Pulang

Mereka Akan Pulang
*kepada Langgeng

Bung, setahun yang lalu kita mengirim anak-anak kita
Di rantau mereka berpetualang...
Konon kabarnya mereka menjelajah Eropa dan Amerika
tapi
ada juga yang mengatakan mereka membusuk di Sumatera

Anak-anak kita adalah para pemberani
Mereka berani keluar dari pulau ini
untuk menatap dunia
dan menarasikan Indonesia
tapi
ada juga yang mengatakan mereka membusuk di Sumatera

Aku tidak berani menyangsikan kabar dari dunia
tentang petualangan anak-anak kita di mancanegara
Namun, aku pun tak berani tidak percaya
bahwa mereka semata membusuk di Sumatera

Yang aku tahu aku rindu anakku, Bung...
sebagaimana engkau merindukan anakmu itu
Setahun sudah kita tak tahu di mana rimbanya
Setahun sudah kita tak tahu bagaimana kabarnya
Apakah berhasil mereka di Eropa dan Amerika,
atau benar membusuk bersama tikus di Sumatera?

Yang aku inginkan anakku pulang, Bung...
sebagaimana engkau menginginkan anakmu pulang
Mungkin mereka tidak akan tinggal,
sekadar menjenguk ayah yang menanggung rindu
Mungkin juga mereka akan menemani kita
menarasikan dunia dari mimbar hingga ke pasar
Setidaknya mereka pulang... menjenguk...

Bung, kemarin aku mendapat kabar
anak kita akan segera pulang
setelah setahun tidak memberi kabar
Cepat, Bung... cepat... kita kirimkan alamat
Mungkin anak kita lupa jalan pulang
setelah berbulan-bulan terdampar...

Semoga minggu depan pintu rumah kita diketuk
dan ketika kita membukanya,
anak-anak kita dari rantau itulah yang menyapa
mengobati tanya dan rindu setahun yang terkutuk

tepi Jakal, 29 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Wednesday, August 28, 2013

Cerita tentang Seorang Perempuan Tua yang Kalian Kenal

Cerita tentang Seorang Perempuan Tua yang Kalian Kenal
*untuk adik-adikku
Dewi, Gangga, Hendy, Hendry, David, Dian, Nando, Reza, Putri

Adik-adikku,
aku memiliki sebuah cerita untuk kalian
tentang perempuan tua di usia senjanya

Perempuan tua itu selalu bangun pukul lima
lalu berdoa Bapa Kami dan Salam Maria
Melihat cucu lelakinya yang baru saja tidur
lalu terbungkuk-bungkuk berjalan ke dapur

Kaki-kaki tuanya masih cukup perkasa
menemaninya menanak nasi di pagi hari
mencuci baju bersama anak sulungnya
mencuci piring dan memasak sayur hari ini

Sambal goreng perempuan tua itu tiada duanya
Restoran mahal di manapun tak memiliki resepnya
Kalian bisa melahap banyak nasi jika memakannya
Apa lagi jika bandeng goreng telur jadi lauknya

Di usianya yang senja,
masih saja dia menyimpan cerewet seorang ibu
Akan tetapi, dia begitu rendah hati dan bijaksana
Pernah dia menasehati cucu lelakinya itu,
diakhiri dengan berkata,
“Memang kamu lebih pintar dari aku.”

Perempuan tua itu tak lain adalah nenek kita
Dari rahimnyalah orang tua kita ada
Dialah moyang kita yang hidup
Setiap pagi berarti makin senja dia... semakin renta
Namun, masih saja dia bangun pagi dan berdoa
lalu tertatih menuju ke dapur untuk kembali menanak

Setiap dari kita pernah dicerewetinya
tapi, ketahuilah, itu adalah cerewet seorang ibu
yang menginginkan yang terbaik untuk kita
Maka, ada baiknya kita cukup berkata ‘iya’
walau dalam hati kita berkata ‘itu kuno!’
Nenek sadar, pandangan hidupnya telah dimakan zaman
Tetapi, apa salahnya mendengarkan kebijaksanaan tua?

Usianya telah senja
Setiap pagi berarti makin senja dia... semakin renta
Sudah selayaknya dia bahagia
Menjalani hari-hari tuanya dengan senyum melihat kita

tepi Jakal, 28 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Tuesday, August 27, 2013

Kepada Perempuan


Tahukah engkau, wahai perempuan
bahwa kaubegitu menawan...
menawan hati dan pikiran
sehingga memaksaku untuk mengatakan...
‘aku cinta’?

Tapi, tahukah engkau, wahai perempuan
kata cinta yang kuucapkan kepadamu itu
dan yang kausambut dengan ‘ya’ dari bibirmu
bisa jadi adalah kesepahaman kautunduk padaku?
Engkaupun melakukan segala sesuatu
untuk membuatku tetap bergairah kepadamu
Gincu merah itu
Lulur mandi itu
Lingerie merah muda itu
Dan, di atas ranjang ini
kaubuat aku seakan-akan tunduk padamu
tanpa kausadari akulah yang telah menguasaimu

Sebagai lelaki
aku akan senang melihat perempuan cantikku hamil
lalu dengan bangga berkata pada dunia
bahwa akulah yang telah menghamilimu!
Aku akan senang memamerkanmu kepada teman-temanku
lalu dengan bangga berkata pada mereka
bahwa perempuan cantik itu adalah biniku!

Ah... perempuan...
aku bisa melakukan itu semua tanpa kausadari!
Lalu meninabobokanmu dengan kata ‘cinta’
sembari berbisik di telingamu ‘kau ayu’

Perempuan...
Perempuanku...
aku tidak ingin melakukan itu semua
Cinta tanpa rasa hormat adalah palsu!
Memang, sebagai lelaki aku sulit memahamimu,
kau yang begitu berbeda denganku
Itulah mengapa aku sering salah memperlakukanmu
dan menempatkanmu ke dalam cara pandangku
Sekarang, aku akan duduk diam...
mendengarkanmu menarasikan dunia
dari sudut pandang perempuanmu.

tepi Jakal, 27 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Thursday, August 22, 2013

Saya Mengaku kepada Allah yang Mahakuasa...

Saya Mengaku kepada Allah yang Mahakuasa...[1]

                   “Jadi, kalian akan menikah sebulan lagi?”
                   “Benar, Romo. Persiapan kami sudah matang,” jawab pemuda itu dengan bangga.
                   “Namun, kalian masih muda. Kamu sendiri masih dua puluh lima.”
                   “Justru itu, Romo. Justru karena kami masih muda.”
                   “Orang tua kalian setuju?”
                   “Akhirnya orang tuanya menyetujui hubungan kami. Ya, awalnya mereka keberatan oleh karena ayah saya tidak jelas siapa.”
                   “Lalu ibumu?”
                   “Ya?”
                   “Ibumu. Emmm, Maria Anastasia Anindita,” kataku sembari membaca berkas.
                   “Beliau selalu mendukung semua keputusan saya, Romo.”
                   “Hei, ngomong-ngomong, apa kabar ibumu?”
                   “Baik, Romo. Romo mengenalnya?”
                   “Tentu. Aku pernah Tahun Orientasi Pastoral[2] di parokinya sewaktu masih menjadi frater[3] lebih dari dua dasawarsa lalu. Ibumu masih di sana?”
                   “Masih, Romo. Ibu tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya. Bahkan, ibu menolak saya boyong ke kota ini, pindah ke paroki[4] ini. Namun, pasti ibu hadir pada hari H nanti.”

***

Lebih dari dua dasawarsa yang lalu aku adalah seorang frater muda yang baru saja mengucapkan pembaruan kaul[5]. Aku pun ditugaskan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di sebuah paroki di Kota Surakarta. Waktu itu aku adalah seorang frater muda yang penuh semangat. Aku sungguh bergairah untuk segera menjadi seorang imam Gereja Katolik dan melayani umat. Di dalam imajinasiku, aku adalah seorang ksatria Kristus yang diutus untuk melindungi umat-Nya. Aku begitu idealis saat itu, bahkan pelajaran filsafat selama kuliah delapan semester di fakultas teologi itu tidak mampu melumpuhkan idealismeku. Tidak... mungkin kata “idealis” kurang tepat kurasa, tetapi “optimis”. Ya... waktu itu aku adalah seorang frater muda yang terlalu optimis. Terlalu optimis terhadap imanku, kesucianku, pandangan teologiku, dan kehendakku. Aku membayangkan bahwa aku adalah seorang Dewabrata muda yang akan melakukan apapun, bahkan membunuh seseorang yang dicintainya, sekadar untuk memegang teguh sumpah brahmacarya[6] yang dia ucapkan.
Akan tetapi, dua tahun masa Orientasi Pastoralku di paroki itu membuatku menginjakkan kakiku ke bumi. Aku harus mengakui bahwa meskipun aku adalah seorang frater yang mengucapkan kaul kemurnian, aku masih tetaplah seorang lelaki dengan segenap seksualitasnya. Aku masih seorang manusia, bukan malaikat.
Selama menjalani masa Orientasi Pastoral itu, aku ditugasi romo paroki untuk mendampingi Mudika di sana. Dulu Mudika, Muda-mudi Katolik. Sekarang istilahnya OMK, Orang Muda Katolik. Itulah awal perjumpaanku dengan Maria Anastasia Anindita. Waktu itu dia adalah seorang gadis yang berusia empat tahun lebih muda dari padaku. Dia kuliah di sebuah Universitas Negeri di Surakarta, mengambil jurusan Sastra Indonesia. Kegemarannya kepada sastra dan puisi membuat kami menjadi sahabat dekat. Sastra dapat menjadi pelarian yang manis bagi seorang frater yang terkadang jengah dengan buku-buku teologi dan filsafat. Ani, demikian aku memanggil Maria Anastasia Anindita, memang bukan seorang aktivis... tidak di Gereja... tidak pula di kampus. Akan tetapi, dia gemar bertukar pikiran tentang sastra, khususnya puisi. Kami dulu sering sekali bertukar informasi tentang sastra... atau novel... atau puisi. Pablo Neruda adalah penyair favoritnya. Dari Anilah aku mendapatkan referensi untuk menulis tentang fenomena gerakan sastra Amerika Latin dan benang merahnya dengan praksis Teologi Pembebasan Gereja. Hanya saja, hingga sekarang aku masih belum puas dengan paperku itu. Paper yang secara akademis sudah selesai, karena sudah aku kumpulkan kepada dosenku berpuluh-puluh tahun silam, tetapi yang secara personal masih meninggalkan rasa penasaran dan lubang yang gelap. Ada sebuah proses membaca yang belum selesai.

“Membaca apa, Ter?”
“Paolo Coelho.”
Eleven Minutes?”
“Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis.”
“Tentang apa?”
“Pilar.”
“Pilar?”
“Itu nama tokoh utamanya. Bersama seorang teman masa kecilnya.”
“Kekasihnya?”
“Hahahaha... dia seorang Imam.”
“Lalu?”
“Ini, kamu baca saja sendiri, setelah aku menyelesaikannya ya. Mungkin besok.”
“Baik. Besok, ya Ter... .”
“Eh, barter!”
Twilight?”
Hell no!!!
“Hahahaha... bercanda. Ronggeng Dukuh Paruk ya?”
“Satu untuk tiga!”
“Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala?”
“Yup.”
Deal!

Dua tahun adalah waktu yang cepat ketika kita menikmati setiap prosesnya. Masa Orientasi Pastoralku telah berakhir. Aku harus kembali ke Seminari Tinggi[7]. Aku harus mengucapkan sampai jumpa kepada paroki yang telah membuat segenap renungan teologi dan filsafatku membumi. Aku pun harus mengucapkan salam perpisahan kepada Ani. Perjumpaan itu biasa, perpisahanlah yang membuatnya istimewa. Perpisahan.
Perpisahan? Aku memang telah mengucapkan “sampai jumpa” terhadap paroki tempatku Orientasi Pastoral. Akan tetapi, aku tidak benar-benar berpisah dengan Ani. Hampir setiap malam sehabis makan malam aku menyempatkan diri ke ruang internet sekadar untuk membaca atau menulis email kepadanya. Kami tidak pernah berkirim surat. Romo rektor tentu akan menyensornya. Kami juga hampir tidak pernah berkirim sms. Aku sudah kembali ke Seminari Tinggi di mana aku sama sekali tidak boleh memiliki ponsel. Namun, aku menyimpan nomor ponsel Ani, sehingga ketika orang tua atau adikku mengunjungiku, aku bisa meminjam ponsel untuk saling berkirim sms dengan Ani. Tentu aku segera menghapus sms-sms kami tersebut.
Pada hari Sabtu dan Minggu para frater Seminari Tinggi biasanya melakukan pastoral[8]. Oleh karena jumlah kami yang cukup banyak, ada jadwal yang mengatur kapan kami pergi. Pada Hari Minggu di saat aku tidak mendapat giliran pastoral, biasanya aku segera mengendarai sepeda seusai misa[9] pertama, mengayuhnya dengan senyum bahagia di wajahku, memarkir sepeda itu di penitipan sepeda, dan membeli tiket Kereta Api ke Surakarta. Tentu aku tidak melakukan itu setiap Minggu. Jika aku terlalu sering melakukan itu, masa depan panggilan imamatku bisa terancam punah.
Entah mengapa, aku yang masih muda itu selalu begitu bersemangat setiap kali ada kesempatan mencuri waktu ke Surakarta. Tidak seperti kota kelahiranku, Jakarta, Surakarta saat itu tidak canggih. Tidak megah! Hampir mirip Yogyakarta, tapi memiliki atmosfer yang berbeda. Tidak ada apa-apa di sana... kecuali bahwa Surakarta memiliki Ani.
***

“Romo, pengakuan saya yang terakhir adalah sebulan yang lalu,”
“Baiklah, Frater. Silakan, langsung saja,” kata Romo itu dingin.
“Dosa saya adalah...” aku kelu, tak mampu melanjutkan.
“Iya, Frater... silakan.”
“Dosa saya...”
“Iya... .”
“Dosa saya adalah saya jatuh cinta pada seorang wanita, Romo,” kataku lega.
“Frater, Cinta itu bukan dosa. Cinta itu anugerah Tuhan yang paling indah. Tidak akan pernah ada manusia di dunia ini jika tidak ada cinta. Manusia diciptakan Allah oleh karena kasih Allah. Bahkan, panggilan utama seorang manusia adalah untuk mencintai. Akan tetapi, Frater, ingatlah selalu akan siapa dirimu. Tidak semua cinta harus dimanifestasikan ke dalam hubungan lelaki-perempuan. Banyak imam, biarawan, dan biarawati menyublimasi cinta mereka ke dalam karya dan pelayanan harian mereka. Syukur-syukur cinta yang engkau rasakan itu kaupersembahkan kepada Tuhan sebagai persembahanmu yang paling indah, sebagai kurban syukur atas anugerah Ilahi. Kecuali bahwa... kamu menemukan panggilan yang lain, yaitu hidup berkeluarga. Maka, kamu bebas untuk menanggalkan jubahmu itu, dan memeluk panggilan berkeluarga itu. Baiklah, Frater, ada dosa lain yang ingin kauakui?”
“Tidak, Romo. Saya rasa, itu dosa saya yang paling besar. Saya merasa mengkhianati Tuhan.”
“Jangan pernah merasa demikian, Frater. Baiklah, untuk penitensi, silakan sekeluarmu dari ruangan ini, doakanlah Madah Bakti[10] nomor 15 dan 16, sekali Bapa Kami, dan tiga kali Salam Maria. Dan, lakukanlah sekali Ibadat Jalan Salib pada Hari Jumat besok.”
“Baik, Romo.”
“Dengan perantaraan Gereja Kudus Tuhan kita Yesus Kristus yang telah mengampuni segala dosa, saya melepaskan kamu dari segala dosamu, dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.”
“Amin.”

Aku telah mengaku dosa jutaan kali. Akan tetapi pengakuan dosa yang itu adalah satu-satunya pengakuan dosa yang tidak pernah aku lupakan. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa, jatuh cinta kepada Ani, pada suatu hari di masa Pra-Paskah[11], sekitar dua tahun sebelum aku ditahbiskan. Butuh keberanian besar untuk mengakuinya. Waktu itu aku pun tak cukup berani mengakui dosa yang itu di hadapan Romo staf seminari. Aku mengakui itu di hadapan seorang romo paroki dari sebuah Paroki di tengah Kota Yogyakarta.
Setelah keluar dari bilik pengakuan dosa itu, lalu menjalankan segenap penitensi[12], memang batin ini terasa lega. Rasanya seperti melayang di udara. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Bayangan wajah Ani senantiasa menghantui. Ketika aku meditasi, saat aku doa ofisi[13], sewaktu menerima komuni[14] suci... aku ingat pada Ani. Celakanya, ternyata Ani juga memendam rasa yang sama.
Aku sudah mengakui segala dosa itu dan lewat sakramen[15] tobat dosa-dosaku telah diampuni. Namun, itu bukan berarti aku serta-merta bisa lepas-bebas dari dosa yang sama. Ada yang dinamakan eksterioritas dosa. Lingkungan membuat kita mau tidak mau melakukan dosa. Eksterioritas dosa bagiku itu tidak lain adalah aku dapat dengan mudah mengakses internet sehingga dengan lebih leluasa aku dapat berhubungan dengan Ani baik lewat email, facebook, dan/atau twitter. Eksterioritas dosa yang kedua adalah bahwa konfraterku mendiamkan aku melakukan semua itu, seakan-akan ada kesepakatan diam-diam di antara kami untuk tahu-sama-tahu ketika salah satu di antara kami melakukan kesalahan, bahkan dosa. Konfrater[16] yang sok suci justru akan kami kucilkan hingga akhirnya dia melepaskan jubah dengan sendirinya. Apa lagi, pada suatu hari ada seorang konfrater yang secara diam-diam memiliki ponsel. Dengan memberi dia uang pulsa Rp. 6000,00 atau membagi dia beberapa batang rokok, pada saat itu aku sudah dapat meminjam ponselnya untuk saling berkirim sms dengan Ani.
Pada suatu waktu Ani memberi tahu bahwa dia akan menemuiku di Yogyakarta. Akan tetapi, dia enggan untuk berkunjung ke Seminari Tinggi. Dia memintaku untuk menjemputnya di Stasiun Lempuyangan. Aku sudah beralasan bahwa di Yogyakarta aku tidak memiliki kendaraan selain sepeda ontel. Aku merayunya supaya aku saja yang mencuri-curi waktu untuk pergi ke Surakarta di mana keadaan akan jauh lebih mudah untuk diatasi. Namun, Ani bersikeras. Dia mengancam akan naik motor sendiri dari Surakarta ke Yogyakarta yang kurang lebih berjarak 60 kilometer. Sebagai lelaki yang mencintainya, aku tidak tega. Aku luluh.
Konfrater yang menjadi petugas bidel[17] sepeda motor adalah sahabat karibku. Dengan prinsip tahu-sama-tahu tadi, aku berhasil meminjam sepeda motor darinya.

“Bagaimana jika Romo rektor bertanya?” tanyaku gentar.
“Sudah. Serahkan padaku. Aku akan bilang, sedang diservis rutin.”
“Makasih ya.”
“Cantik ya? Masih ada lagi, gak?”
“Hush!”
“Hahahahaha... . Cintamu bunuh panggilanku...” dia meledek.
“Sialan kau!”

Waktu itu Ani mengajakku ke Kaliurang. Dia ingin melepas rindu kepadaku. Aku pun mengajaknya mendaki sebuah bukit di sana. Kami berdua lupa bahwa aku adalah seorang biarawan, sedangkan dia adalah seorang umat dari paroki yang mungkin suatu saat nanti akan aku gembalakan. Yang kami pikirkan saat itu adalah kami berdua saling menanggung rindu dan cinta yang menggebu. Dan, tidak ada saat yang lebih baik dari pada waktu itu. Mungkin ini yang dinamakan abuse of power itu.

“Mas...” dia tak lagi memanggilku ‘frater’.
“Iya?”
“Aku kangen.”
“Aku juga... . Aku... aku cinta kamu,” kataku sembari memeluknya erat.
“Aku juga cinta kamu, Mas.”

Kami pun berpagutan. Kuat. Angin berdesir. Tumbuh-tumbuhan menjadi saksi cinta kami yang terlarang itu. Waktu pun seakan berhenti, memberi kami kesempatan untuk memadu kasih yang sebenarnya tak boleh ada. Monyet-monyet ekor panjang saling menjerit, seolah-olah menyoraki dua anak manusia yang telah kalah, memakan buah terlarang, dan jatuh ke dalam dosa. Namun, ironisnya, kami berdua justru merasa menjadi manusia yang merdeka! Tidak ada lagi surga, tidak ada lagi neraka. Hanya ada kami di dalam gemuruh asmara.

***

“Aku memutuskan untuk keluar, An,” kataku.
“Kenapa, Mas?”
“Aku ingin menikahimu.”
“Kamu sudah memikirkannya, Mas? Atau ini hanya emosi sesaat?
“Aku mencintaimu, Ani!”
“Aku tidak ingin egois, Mas,” kata Ani, mulai berurai air mata.
“Apa maksudmu egois, An?”
“Aku tidak ingin bersaing dengan Tuhan.”
“Kamu tidak bersaing dengan Tuhan, An. Justru, kalau kita menikah, kita bisa semakin memuliakan Tuhan dengan membangun miniatur Gereja, yaitu keluarga kita.”
“Lalu, apa arti segala perjuanganmu bertahun-tahun menggeluti panggilanmu ini?”
“Semuanya sia-sia, An, semua sia-sia dan tak berharga. Setelah bertemu denganmu, semua kuanggap sampah![18]
“Jangan memperolok Kitab Suci, Mas!”
“Aku tidak memperolok, An, tapi aku mengutip semua itu oleh karena aku ingin menunjukkan kepadamu betapa aku mencintaimu.”
“Kalau kamu memang mencintaiku, jadilah imam.”
“Kalau aku keluar?”
“Aku tidak akan pernah sudi menemuimu. Seorang lelaki pengecut! Sebulan lagi kamu ditahbiskan, Mas! Tinggal beberapa langkah, dan impian masa kecilmu itu menjadi kenyataan. Kamu adalah milik Kristus. Kamu bukan hanya milikku seorang. Dengan ditahbiskan, kamu akan menjadi milik seluruh umat Katolik, dan aku pun termasuk di sana.”
“Tapi, bisakah aku seumur hidup menjadi imam yang wadat, sedangkan di saat yang sama aku memendam cintaku kepadamu?”
“Kamu bisa, Mas. Kamu bisa. Kamu bisa sejauh ini. Kamu akan bisa nanti. Aku akan menemanimu.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu pikir aku akan bisa dengan mudah mencintai lelaki lain setelah kamu ditahbiskan nanti? Aku tidak bisa, Mas. Tidak ada lelaki yang bisa menggantikanmu di hatiku.”
“Dan, kamu tetap tidak mengizinkan aku melepas jubahku ini sehingga kita bisa bersatu?”
“Menjadi imam itu tidak mudah, Mas. Kamu sudah sejauh ini. Dan, Gereja kita membutuhkan banyak tenaga imam. Aku tidak bisa egois.”
“Aku tidak memahami jalan pikiranmu, An.”
“Kamu dulu pernah bercerita kepadaku, bahwa menjadi imam adalah cita-citamu sejak kecil, bukan?”
“Benar.”
“Sekarang kamu berpikir untuk meninggalkan cita-cita masa kecilmu itu hanya oleh karena aku, bukan?”
“Kamu lebih berharga!”
“Mas... aku tidak ingin menjadi alasanmu untuk keluar. Apa kata umat nanti, Mas? Umat akan mencemoohmu. Umat akan mengatakan bahwa kamu adalah lelaki lemah, frater yang keluar karena tersandung wanita. Seorang manusia yang tidak mampu memegang teguh kaul-kaulnya, sumpah-sumpahnya.”

Ani menangis sejadi-jadinya seusai berkata demikian. Aku pun memeluknya erat. Tak kusangka, itu adalah pertemuan kami yang terakhir. Ani tidak datang pada saat aku dan dua orang konfraterku yang lain ditahbiskan. Ani pun juga tidak menghadiri misa perdana kami di gereja parokinya di Surakarta. Dia seperti menghilang ditelan bumi.
Aku tidak memiliki akses untuk menghubungi Ani. Nomor ponselnya tidak aktif. Akun facebook dan twitternya dideaktivasi. Emailku pun tidak pernah dibalasnya. Lagi pula, setelah menjalani tour misa perdana di beberapa paroki di Keuskupan Agung Semarang, aku diutus untuk menjadi tenaga misi di luar Jawa. Aku harus membantu seorang pastor mengurus sebuah paroki terpencil di pedalaman Papua selama beberapa tahun. Setelahnya, aku kembali diutus menjadi tenaga misi di pedalaman Kalimantan. Baru setelah lebih dari lima belas tahun di tanah misi, aku diutus untuk menjadi pastor pembantu paroki di Jawa. Dan, kini, aku bertugas di paroki tempat anak Ani merantau.
Sempat aku mendengar kabar dari konfraterku yang bertugas di paroki tempat Ani tinggal, bahwa Ani tidak menikah seumur hidupnya. Lalu, dari mana dia bisa memiliki seorang putera? Anak adopsikah? Tidak. Ani tidak pernah mengadopsi anak. Pemuda itu adalah anak kandung Ani. Lima bulan setelah aku ditahbiskan, Ani melahirkan seorang anak jadah tak berayah. Ani sendiri tidak pernah mengaku siapa lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas jabang bayi laki-laki itu, sehingga sempat ayahnya mengucilkannya. Ani pun harus hidup sendiri dan bekerja demi menghidupi si jabang bayi.

***

“Atas nama Gereja Allah, dan di hadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Katolik yang sah. Semoga Sakramen ini menjadi bagi Saudara sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Allah...”
“...Jangan diceraikan manusia,” kedua mempelai itu menyahut bersamaan.

Aku menyaksikan pemuda itu begitu berbahagia. Anak lelaki Ani itu menatap mempelainya dengan penuh kasih. Hangat. Mereka tersenyum bahagia. Aku turut bahagia menyaksikan pemandangan penuh cinta ini. Memang aku tidak pernah menikahi orang yang aku cintai sebelumnya, tetapi aku telah menikahkan banyak sekali pasangan yang saling mencintai di dalam suka duka, di dalam untung maupun malang. Semoga saja, doaku, mereka tidak pernah berurusan dengan Tribunal Gereja[19]. Menyaksikan kebahagiaan anak manusia yang tengah dimabuk cinta itu selalu menjadi momentum yang berharga dan patut disyukuri.
Aku tatap tajam mata pemuda itu, anak lelaki Ani itu. Dia memandangi wajah mempelainya dengan hangat dan tatapannya sangat familiar. Seakan-akan aku mengenal dekat tatapan mata itu. Tatapan itu... seperti tatapanku saat memandang wajah Ani.

Berkah Dalem[20], Romo. Terima kasih,” sapa seorang perempuan separuh baya.
Berkah Dalem. Sama-sama, Bu, ah... Ani...” jawabku kaku. Sudah lebih dari dua dasawarsa aku tidak pernah melihat wajah satu-satunya perempuan yang aku cintai. “Kapan tiba di kota ini?” tanyaku basa-basi.
“Dua hari lalu. Dijemput anak lanang[21].”
“Anak lelakimu tampan. Istrinya juga cantik. Mereka pasangan serasi. Kuharap mereka menjadi miniatur Gereja dan dapat njembaraken Kraton Dalem[22].”
“Iya, anakku memang tampan. Seperti ayahnya,” kata Ani seraya menatapku tajam. Lalu, matanya berkaca-kaca.

tepi Jakal, 22 Agustus 2013
Padmo “Kalong Gedhe” Adi




[1] Baris pertama dalam doa Pernyataan Tobat di dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik Roma.
[2] Tahun Orientasi Pastoral adalah tahun di mana seorang frater (calon imam) mengenal medan karyanya. Masa ini biasanya berlangsung antara satu sampai dengan dua tahun. Pada masa ini seorang frater terjun langsung melayani umat.
[3] Frater adalah seorang calon imam.
[4] Paroki adalah suatu wilayah Gerejawi yang dipimpin oleh seorang Pastor Kepala Paroki.
[5] Kaul adalah suatu janji atau sumpah di hadapan Allah untuk menghayati ketiga nasehat Injil, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan kemiskinan. Sebuah kaul bisa diucapkan untuk jangka waktu tertentu (sementara) dan bisa diucapkan untuk seumur hidup (kekal).
[6] Sumpah untuk hidup selibat. Orang yang mengucapkan sumpah ini disebut “brahmacarin”.
[7] Seminari Tinggi adalah tempat para calon imam mendapatkan pendidikan yang dia perlukan untuk menjadi seorang imam yang baik. Seorang frater bisa menghabiskan lebih dari enam tahun hidupnya mendapatkan pendidikan di Seminari Tinggi ini.
[8] Kegiatan “penggembalaan” umat. Kegiatan pastoral ini bisa beraneka macam. Lebih bersifat pelayanan atas iman umat. Dapat berupa pendampingan membaca Kitab Suci, dapat pula berupa pendampingan iman, atau dapat pula berupa pengajaran pokok-pokok ajaran Gereja.
[9] Misa atau Perayaan Ekaristi adalah perayaan utama dan wajib bagi setiap umat Katolik. Minimal mereka harus merayakan misa setahun dua kali (Natal dan Paskah), walaupun sangat diharapkan untuk merayakannya seminggu sekali, bahkan syukur-syukur setiap hari. Di dalam perayaan ini terdapat pembacaan Kitab Suci, doa-doa syukur-pujian, khotbah atau homili, dan yang terutama adalah pengenangan dan penghadiran kembali Kurban Penebusan Kristus melalui konsekrasi (baca: perubahan) roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus untuk kemudian disantap oleh umat. Di sinilah, pada Kurban Penebusan Kristus inilah, inti pokok misteri iman orang-orang Katolik.
[10] Buku doa dan nyanyian umat Gereja Katolik, khususnya di Kevikepan Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Selain Madah Bakti, Gereja Katolik Indonesia juga memakai buku Puji Syukur atau buku-buku doa dan nyanyian lainnya.
[11] Masa-masa pantang dan puasa bagi Gereja Katolik sebelum merayakan Paskah pada (kurang-lebih) 14 Nisan (sekitar Maret-April).
[12] Denda dosa.
[13] Doa Ofisi, atau yang sering disebut Brevir, adalah doa lima waktu yang wajib didoakan oleh para biarawan-biarawati Gereja Katolik.
[14] Tubuh dan Darah Kristus.
[15] Sakramen, di dalam perspektif dan iman Katolik, adalah tanda dan sarana kehadiran Allah. Allah hadir memberi rahmat. Gereja Katolik mengimani ada tujuh Sakramen, yaitu Sakramen Baptis, Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi (Komuni), Sakramen Krisma (Penguatan), Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, dan Sakramen Minyak Suci (Sakramen Orang Sakit).
[16] “Frater” (Bahasa Latin) berarti “saudara” (brother). “Konfrater” secara harafiah berarti “sesama saudara”. Dapat dimengerti sebagai teman sesama frater.
[17] Bidel sepeda motor dapat dimengerti sebagai sie sepeda motor atau pengurus bagian sepeda motor.
[18] “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” (Filipi 3:8)
[19] Pengadilan Gereja. Mengurusi pengadilan di dalam ranah Gereja Katolik. Masalah yang diurusi termasuk pembatalan perkawinan (terminologi “pembatalan” di sini mengandaikan bahwa perkawinan itu tidak pernah sah dan bahkan tidak pernah ada/terjadi dalam perspektif Hukum Kanonik Gereja Katolik).
[20] Berkah Dalem secara harafiah berarti “Rahmat Tuhan”. Sebuah sapaan semacam ‘assalamualaikum’ atau ‘shalom alechem’ di dalam lingkup komunitas umat Keuskupan Agung Semarang.
[21] Laki-laki.
[22] Secara harafiah berarti ‘memperluas Kerajaan Surga’. Terminologi “Kerajaan Surga” di dalam perspektif Gereja Katolik lebih berarti “perdamaian di muka bumi” (keadaan di mana Allah meraja, yaitu damai) dari pada bersifat politis.