Saturday, August 22, 2020

RASHOMON - Midori no Katana Project

RASHOMON - Midori no Katana Project




Midori no Katana Project sebuah aktualisasi dari Padmo Adi bersama para mahasiswa FIB UB mempersembahkan sebuah dramaswara RASHOMON karya Akutagawa Ryūnosuke Naskah Bahasa Indonesia oleh Djohan A. Nasution Pemeran: 1. Kanazawa no Takehiko (Suami, samurai dari Kekufu, umur 26 tahun) diperankan oleh Vito Widiharto, Sastra Jepang 2. Masage (Istri, umur 19 tahun) diperankan oleh Milennia Miki Osanai, Sastra Jepang 3. Tajomaru (Penjahat) diperankan oleh Rocky Suharlianto, Pendidikan Bahasa Jepang 4. Pendeta Buddha diperankan oleh Aisyah Bellatrix, Sastra Jepang 5. Penebang kayu diperankan oleh Siti “Baim” Khuzaima, Pendidikan Bahasa Jepang 6. Perempuan tua diperankan oleh Rizky Aulia Putri Nugrahani, Sastra Jepang Musik: 1. Beautiful Japanese Music - Tea Ceremony 2. Japanese Battle Music – Ronin 3. Wadaiko Matsuriza - Kabuki Gomen-Jyo [Japanese drums] 4. Sakura Cherry BlossomsTraditional Music of Japan, Classical Koto Music 日本の伝統音楽 5. Japanese Folk Song #9 Cherry Blossoms さくらさくらSakura Sakura 6. Melancholy of Shamisen Terima kasih kepada: KAMI-SAMA WD-III FIB UB (Isma-sensei) Laily-sensei Laila-sensei Mgr. Eri Bu Fenty Angkatan 3 DAEBBAK Prativi, Karna, dan Sena Diketik ulang oleh Kelompok Peron Surakarta 2 Desember 2007 Diedit kembali oleh Padmo Adi untuk Midori no Katana Project FIB UB 04 Agustus 2020

TEMPAT ISTIRAHAT (David Campton) - Padmo Adi & Dewi Puji Lestari

TEMPAT ISTIRAHAT (David Campton)
Padmo Adi & Dewi Puji Lestari



Padmo Adi dan Dewi Puji Lestari melakukan dramatik reading yang disiarkan langsung secara live instagram pada hari Sabtu, 20 Juni 2020, pk 20.00.

Naskah yang dibawakan berjudul Tempat Istirahat, karya David Campton.

Pentas ini merupakan wujud pencarian kemungkinan-kemungkinan baru suatu pentas teater, terutama ketika kita tidak boleh bertemu fisik oleh karena wabah covid-19. Dewi ada di Jawa Timur sementara Padmo Adi ada di Jawa Tengah; pentas bersama meretas jarak kurang-lebih 300km.

Tentu ada kendala basic di sana: sinyal internet di Indonesia yang sungguh sangat petewele... hahaha... . Bisa jadi kami salah pilih hari; kami pentas di Malam Minggu, hari di mana bisa jadi ribuan pasang kekasih sedang dimabuk asmara meluapkan kerinduan mereka lewat internet... fufufu... .

Namun demikian, pentas kali ini membuat kami menyadari akan kemungkinan-kemungkinan pentas tanpa pertemuan fisik. Salah satu kemungkinannya adalah mendaur ulang bentuk drama lawas yang mungkin sudah ditinggalkan: drama radio. Apakah akan hadir drama podcast? Drama youtube? Atau drama instagram? Atau malah drama soundcloud? Kemungkinan itu terbuka lebar.

Yang jelas, teater adalah sesuatu yang dinamis, sebab yang menghidupinya adalah manusia yang selalu menjadi, sama seperti kata Sartre: l'etre-pour-soi... Ada-bagi-dirinya.

Terima kasih kepada Ivan "Tapir" Dhimas dari Malam Sastra Solo (MaSastrO). Terima kasih pula kepada keluarga besar Gesang "Brogess" Yoedhoko. Dan, terima kasih kepada para "hadirin" yang telah menyaksikan pertunjukan kami.

Salam.

Monday, August 17, 2020

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

Nasionalismeku lebih daripada kegiatan baris-berbaris.
Nasionalismeku ada pada tiap puisiku baris demi baris.
Nasionalismeku bukan nasionalisme angkat senjata.
Nasionalismeku adalah nasionalisme angkat pena.
Nasionalismeku adalah baktiku pada Sastra Indonesia.
Nasionalismeku adalah persembahan diriku pada tunas-tunas muda.

Merdeka raganya, merdeka jiwanya.
Merdeka perutnya, merdeka pikirnya.
Merdeka karyanya, merdeka sembahyangnya.

Satu hal yang aku yakini dengan sepenuh hati:
Menjadi Jawa adalah gerak menjadi Indonesia,
tapi menjadi Indonesia janganlah jadi gerak men-Jawa.
Menjadi Katolik adalah gerak menjadi Indonesia,
namun, menjadi Indonesia adalah dinamika mem-bhinneka.

Artikulasi meng-Indonesia ini tidak selesai pada 17 Agustus tujuh puluh lima tahun lalu.
Artikulasi meng-Indonesia ini adalah aktus di sini dan kini.

Pada sahabatku yang biru itu aku menyaksikan manifestasi nasionalisme yang penuh cinta:
dia menanam sayurnya sendiri pada paralon cuma-cuma di depan rumah tumpukan bata.

Jangan ragukan nasionalisme orang-orang macam ini.
Rasa cintanya terhadap tanah-air ini semurni rasa cintanya pada kemanusiaan itu sendiri,
seperti kata Bung Besar pada pidato 1 Juni.

Dua orang jurnalis berkendara mengelilingi Indonesia mendokumentasikan realitas manusianya adalah gerak nasionalisme. Seorang sastrawan pulang ke negeri ini walau nikmat hidupnya di Negeri Kiwi adalah gerak nasionalisme. Para petani tembakau di Temanggung setia merajangi daun tembakau, itu adalah gerak nasionalisme. Seorang pengacara menjadi buangan karena membela hak asasi manusia justru adalah gerak nasionalisme. Para tenaga kesehatan berhadap-hadapan dengan wabah covid-sembilan belas yang mematikan adalah gerak nasionalisme. Seorang juragan martabak mencalonkan diri sebagai walikota, apakah itu juga gerak nasionalisme?

Semua orang bisa bilang “Aku cinta Indonesia,”
tapi berapa orang yang bisa menjawab petanda apa di balik penanda “Indonesia”?
Setiap orang bisa bilang, “Aku rela mati demi tanah-air ini,”
tapi berapa orang yang dapat dengan jitu memaknai frasa “tanah air” ini?
Semua orang bisa teriak “MERDEKA!!!”
semoga orang di Nabire sana pun dapat meneriakkannya dengan lega.

Malang, 17 Agustus 2020
kalonggedhe

Tuesday, August 4, 2020

BINCANG BINCANG SANTAI TEATER - Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?

BINCANG BINCANG SANTAI TEATER - Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?


Membicarakan Ruang Alternatif Seni Pertunjukan. Mungkinkah Kita Menghadirkan Teater Virtual?

Bincang-bincang santai bersama:
1. Luna Kharisma @lunakharisma (Dosen Teater ISI Solo)
2. J.B. Judha Jiwangga @judha_jiwangga (Teaterawan Jogja, mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia USD)

Sebuah Aktualisasi dari Padmo Adi.
SELASA, 28 JULI 2020 Pk. 20.00 WIB di Google Meet.

Acara ini terselenggara berkat dukungan LAN-RI dan FIB UB.

TERIMA KASIH KEPADA TEMAN-TEMAN MAHASISWA DAN REKAN-REKAN DOSEN YANG SUDAH BERGABUNG DI ACARA INI.

Angin Bulan Agustus

Angin Bulan Agustus

 

Angin Bulan Agustus dingin

menghembusi segala ingin

Waktu yang hilang jadi kemarin

akankah mengkristal jadi yakin?

 

namun aku masih di sini...

bergumul dengan diri sendiri

dan aku masih di sini...

memetakan semua hasrat ini

 

anak singa mencari sarang

anak singa nasibnya Malang

anak singa jauh dari yang disayang

anak singa mulai buram memandang

 

Angin Bulan Agustus

dari Selatan dia berhembus

menciutkan nyali dia yang diutus

Akankah segala renjana terputus?

 

namun aku masih di sini

kembali mengumpulkan diri

pelan-pelan membentuk mimpi

walau di jalanan hanya ada mati

 

Malang, 03 Agustus 2020

Padmo Adi