Thursday, June 21, 2012

DI SINI


Di Sini
*untuk mereka di Salatiga
Salah satu adegan di dalam Techno Ken Dedes, Salatiga, 19 Juni 2012


Jadi...
di sinilah aku
di kota keheningan dan cinta

Sebenarnya aku datang hanya ingin memandangmu,
bukan meninggalkan benihku.
Namun, terlanjur... maafkanlah aku.
Kuharap benih itu berkembang di rahimmu baik-baik...
jadi kata
jadi puisi
atau drama
atau sekadar maki!

Di sini, di kota ini, dulu aku mencari Tuhan.
Di sini pula aku mengartikulasikan cinta.
Kini, izinkan aku menumpang,
merebahkan tubuh di dalam pelukan panggung teater...
di sisimu...
di sini.

Segala cinta,
hidup,
kata,
dan kenangan akan Tuhan,
melebur di dalam perjumpaan...
wajahku dengan wajahmu...
di sini.

Kautahu,
kota ini selalu saja mendiktekan diksi menjadi puisi.
Menyesal aku tak membawa kertas dan pena.
Kukutuki diriku oleh karenanya.
Hingga akhirnya aku harus menyampah di sisimu.
Tapi, percayalah,
esok sampah-sampah ini akan kurangkai jadi puisi,
untukmu di sini.

20 Juni 2012
Padmo Adi

Friday, June 15, 2012

PERTEMPURAN TUHAN

Pertempuran Tuhan


I
Pada mulanya semesta masih hampa
Ketiadaan menyelimuti semesta raya
Kebijaksanaan melayang-layang di antaranya
kemudian memampatkan semesta ke dalam perut-Nya
dan meledak menjadi Kata

Bersama Kebijaksanaan, Kata melayang-layang
Kebijaksanaan dan Kata meneteskan Cinta
dan bersama mulai menciptakan Kala
serta menyembelih Ketiadaan
tubuhnya dikoyak-koyak
dan dijadikan bahan perekat semesta

Semesta yang telah meledak jadi puing
mulai dirangkai dan direkatkan kembali
dengan potongan-potongan Ketiadaan
dan semesta melahirkan Ada

Kata Cinta Kebijaksanaan menyentuh Ada
dan Ada pun membelah dirinya menjadi dua:
Langit dan Bumi
Langit melahirkan para dewa dan bintang-bintang
Bumi melahirkan para manusia dan makhluk lainnya

Kata Cinta Kebijaksanaan memandang semua baik adanya
memerintahkan Kala memutar roda semesta raya
lalu memberkati segala yang telah dicipta

Akan tetapi, ada satu potongan Ketiadaan
yang menjelma menjadi Kematian
dan selalu menyelinap di antara celah semesta
siap menelan anak-anak Ada
tak terkecuali manusia juga dewa


II
Telah berjuta masa Kala memutar roda semesta raya
manusia beranak-pinak dan telah memenuhi dunia
bahkan terkadang menjalin hubungan dengan dewa
sehingga melahirkan ras manusia perkasa

Namun, Kematian selalu berhasil menelan mereka
memberi mereka penderitaan, pedih, dan luka
serta ratap tangis yang menyayat tiada tara
Hidup selalu berakhir menjadi ketiadaan semata

Para dewa yang selalu hampir luput dari Kematian
tidak dapat berbuat apa-apa menolong manusia
sebab mereka pun mengalami Kematian pula
hanya saja tanpa derita, pedih, dan luka

Kata Cinta Kebijaksanaan berkenan
bersemayam dalam sanubari para dewa
itulah mengapa mereka kekal selamanya
dan hampir luput dari incaran Kematian

Di dalam samadi yang hening
para dewa mendengar ratap tangis manusia
Namun, hati mereka terkoyak
tak mampu berbuat apa-apa
sebab mereka pun dapat terluka dan tiada

Beberapa dewa menaruh iba
lalu menghampiri anak-anak manusia
hingga lahirlah ras manusia perkasa
yang menjadi panglima menentang Kematian

Hanya saja, mereka menjadi tua
kehilangan daya dan tenaga
lalu tiada
menjadi cerita dan legenda

Hingga pada suatu ketika Kebijaksanaan bersabda
mengutus para dewa mengajari manusia jalan Cinta
di dalam hening dan diam
di dalam rasa yang selaras dengan semesta
karena semesta telah ditelan Kebijaksanaan
dan dieja menjadi Kata

Para dewa itu pun turun ke dunia
bukan ras manusia perkasa yang dicari
sebab mereka adalah pejuang panglima
melainkan manusia murni anak Bumi

Diajari mereka cara samadi
menyatukan karsa, rasa, raga, serta hati
dengan denyut Cinta jagad semesta
menyelami Sang Kebijaksanaan
di dalam hening
di dalam diam
tak terperi

Dan, dengan terbata mereka diajari
bagaimana memeri yang tak terperi
Mengungkapkan Kebijaksanaan
yang mereka selami di dalam Cinta
menjadi untaian-untaian Kata suci

Demikianlah mereka menuliskan Kata
ke dalam Kitab-kitab Suci
yang menjadi pusaka manusia
untuk bersatu dengan Kebijaksanaan
dan mampu menghadapi Kematian
tanpa derita, pedih, dan luka

Manusia yang menyelami Kebijaksanaan
di dalam naungan Cinta dan laras semesta
adalah para rshi, juga disebut pula nabi
yang mewahyukan Kata Hyang Ilahi

Mereka adalah para pujangga
Mereka adalah para penyair
Mereka tunjukkan jalan pembebasan
yang mampu melampaui Kematian

III
Jalan pembebasan itu tidaklah mudah
penuh perjuangan pengosongan diri
dan segenap kerendahan hati

Jalan itu bukanlah jalan yang egois
walau masing-masing harus menjalani sendiri

Jalan itu memerlukan rasa solidaritas
sebagai satu bangsa manusia
yang rentan ditelan Kematian

Jalan itu memerlukan empati dan simpati

Jalan itu membuka ruang bagi Cinta
sehingga Kata dapat menjelma dalam realita

Jalan itu mengharuskan manusia
membuka hati pada Kebijaksanaan
sehingga tercipta Damai di dunia
yang mempersulit ruang gerak Kematian

IV
Ras manusia perkasa
bangsa campuran dewa dan manusia
yang senantiasa menjadi panglima
dalam perang melawan Kematian
merasa terhina dan tidak terima

Mereka biasa memimpin pertempuran
untuk menghardik sergapan Kematian
Kini manusia tak lagi memerlukan
sebab telah memiliki jalan kedamaian

Ras manusia perkasa
memalingkan wajah kepada Kematian
mereka membuat kesepakatan
akan menuhankan Kematian
asal bisa menguasai dunia

Kematian meminta kepada mereka
menumpahkan darah para manusia
sehingga Bumi tergenang lautan merah
dan bau anyir memenuhi udara

Kematian menghendaki
Ketiadaan bangkit kembali
Maka, Bumi perlu dibajak
dan disuburkan dengan darah

Tatkala Ketiadaan merajai semesta
Ras manusia perkasa boleh menguasai bumi
menjadi penguasa lima samudera dan tujuh benua
yang memuja selalu kepada Kematian

Ras manusia perkasa angkat senjata
memuliakan Kematian sebagai Tuhan
menghunus pedang, membawa godam
dan mulai membantai para manusia

Pilihan bagi para manusia hanya dua:
memuliakan Kematian sebagai Tuhan
atau mati secara mengenaskan

Jika mereka memilih Kematian sebagai Tuhan
mereka akan hidup hingga tua, dan mati usia senja
Namun, jika tetap memilih jalan Kebijaksanaan
mereka akan mati segera dengan tubuh tanpa kepala

Di dalam nama Tuhan
manusia harus tunduk
atau mati terkutuk

V
Kematian kembali membawa derita, pedih, dan luka
menyelimutkannya kepada para manusia
dengan cara yang lebih memilukan
dan kengerian yang tak terperikan

Kembali manusia berseru kepada para dewa
Para dewa pun turun membantu manusia
Terjadilah perang yang dahsyat
Mereka melawan ras manusia perkasa
yang dipimpin langsung oleh Kematian

Para dewa dan manusia menderita kekalahan
Para dewa sirna, para manusia tiada
Dewa-dewa telah mati
Manusia-manusia binasa
Hanya beberapa yang tersisa

Manusia bersembunyi di gua-gua
mencampakkan Kitab Suci pusaka para rshi
mencampakkan pula jalan Kebijaksanaan
Sedang para Dewa kembali ke Langit
bersembunyi di balik rembulan
ketakutan

Kegentaran kini menjadi julukan Bumi
sebab hanya merah darah menggenangi
dan hanya bau anyir udara yang didapati

Menyaksikan kengerian yang sedemikian itu
Kebijaksanaan bersabda kepada para dewa
Namun, para dewa masih dihantui kengerian
Diselimutkan-Nya Cinta kepada para dewa
untuk menghangatkan hati mereka yang kecut
dan membakar kembali gelora keberanian mereka

VI
Pada mulanya adalah Kata
Kata itu bersama dengan Kebijaksanaan
Kata itulah Kebijaksanaan
Kata itu kini menjelma menjadi manusia

Dia mencari setiap manusia yang ngeri
dan menguatkan setiap hati
Dia susuri gua-gua persembunyian
untuk mengulurkan tangan kepada mereka

Diresapi-Nya mereka dengan Kebijaksanaan
Diselimutkan-Nya Cinta kepada mereka
Para manusia kembali diangkat-Nya
dan dikobarkan-Nya api keberanian

Para manusia baru itu keluar dari gua
dipimpin langsung oleh Sang Kata
mulut mereka memekikkan puisi
serta menyerukan doa dan puji

Sang Kata pun menengadah ke Langit
bersyukur kepada Kebijaksanaan
Serta-merta Langit terbuka
dan para dewa turun kembali ke dunia

Mereka bersatu menjadi satu legiun
Dikobarkan oleh gelora api Cinta
Manusia dan dewa bersatu
bersama Sang Kata
kembali mengangkat senjata
melawan Kematian dan ras manusia perkasa

VII
Pertempuran itu berlangsung dengan dahsyat
Pertempuran itu berlangsung hari ini
Pertempuran itu pertempuran zaman akhir
hingga Sang Kala berhenti memutar roda semesta

Ketika saat itu tiba, Kematian akan dikalahkan
dan ras manusia perkasa akan dibelenggu

Takkan lagi ada Kematian
hanya ada Kehidupan
di dalam Kata Cinta Kebijaksanaan

Sarang Kalong, 15 Juni 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Tuesday, June 12, 2012

PERPISAHAN


Perpisahan
*untuk angkatan 25 FTW-USD
angkatan 25 FTW-USD


Empat tahun terasa cepat.
Terima kasih atas kebersamaan yang dahsyat.
Maaf, dulu aku mengawali laisasi.
Maaf pula, tadi tak sempat bantu siapkan pesta ini.
Angkat gelas! Perjamuan yang memesona.
Tubuh dan darah yang istimewa.
Sampai jumpa, kelak kita 'kan bersua.
Angkat kembali gelas! Goyangkan kaki seturut irama,
sampai lonceng completorium tiba.

12 Juni 2012
Padmo Adi

Thursday, June 7, 2012

Pada Sudut Ketiak Malam


Pada Sudut Ketiak Malam


ribuan malam kuarungi
ribuan malam kuselami
sekadar menemukan tuhan
pada sudut ketiak malam
namun kala fajar tiba
dan lonceng gereja bergema
yang kujumpai hanya setan

mungkin caraku salah
harus segera kuhentikan
mencari tuhan
pada sudut ketiak malam

tidur malam bangun pagi
adalah cara yang baik
seperti waktu di seminari
mencari tuhan waktu pagi
lelap pada sudut ketiak malam

lelap di malam hari
dan bangun pagi hari
adalah puncak kebijaksanaan
di sana pasti ada tuhan

tepi Jakal, 07 Juni 2012
Padmo Adi

Monday, June 4, 2012

Melawan Kekerasan dalam Nama Allah dengan Wajah Lembut Iman akan Allah

Melawan Kekerasan dalam Nama Allah dengan Wajah Lembut Iman akan Allah
(Padmo Adi - FT. 3182)

Pascaera Orde Baru, kebebasan berpendapat menjadi marak. Pemikiran-pemikiran yang dulu dilarang pemerintah mulai dipelajari kembali. Namun, seiring dengan berhembusnya angin segar kemerdekaan berpikir tersebut, menguat pula tendensi kekerasan dan pemaksaan kehendak. Angin segar kebebasan berpendapat dan memeluk kepercayaan itu dilawan dengan sengit oleh kekerasan. Jika dulu situasi konflik adalah vertikal, rakyat dengan negara dan aparatnya, kini situasi konflik adalah horizontal, rakyat dengan organisasi masyarakat tertentu. Bagaimana membahasakan Allah di dalam situasi semacam ini? Apa lagi, kekerasan itu dilakukan justru di dalam nama Allah. Kebebasan berpendapat dan kebebasan memeluk kepercayaan kepada Allah dilawan dengan kekerasan yang mengatasnamakan Allah.
Di dalam situasi yang demikian, wajar jika kita merasa takut. Ketakutan itu kemudian perlahan mengikis kebebasan kita sehingga kemudian kita beragama oleh karena ketakutan, bukan oleh karena kesadaran eksistensial akan sapaan Yang Ilahi. Akan tetapi, nurani kita tidak akan tinggal diam. Hal inilah yang akan memberi kita rasa pedih, bukan karena tubuh kita dihantam oleh kekerasan itu, melainkan karena kita berada di dalam tegangan antara “kepatuhan total kepada determinasi kekerasan itu” dengan “kesadaran bahwa manusia itu bebas”. Sebagai orang Kristiani di Indonesia, pergulatan kita mungkin dapat diartikulasikan dengan mudah sebagai represi mayoritas kepada minoritas, walau hal ini tentu terlalu menyederhanakan. Akan tetapi, jika kita sejenak memberikan empati kepada Irshad Manji[1], kita takkan habis berpikir bagaimana kekerasan itu tidak memiliki kesabaran untuk duduk diam mendengarkan suara dari yang seiman pula.
Irshad Manji dan bukunya "Allah, Liberty, & Love"
Kegelisahan itu justru datang dari seorang muslimah dari Kanada dan bergema pada hati semua orang Indonesia yang memiliki benih-benih kegelisahan yang sama baik yang seiman dengannya maupun yang tidak.

Jika “agama damai” dianut oleh sekian banyak nurani yang secara diam-diam bergejolak, maka tak ada lagi perdamaian yang perlu dibicarakan. Tak ada juga keyakinan. Yang ada hanyalah dogma. Pada kondisi ini, pertanyaannya bukanlah apakah hukum menuntut kepatuhan, tapi apakah hukum layak mendapat kepatuhan.[2]

Ketika saudara-saudara kita sebangsa yang seiman dengan Irshad Manji berusaha berdialektika, mempelajari pemikiran progresif ini, tangan-tangan kekerasan datang lebih dini untuk membungkam mereka. Mereka, juga mungkin kita pula, tidak menyadari bahwa “ada jarak antara cita-cita agama dan realita kehidupan beragama.”[3] Tangan-tangan kekerasan itu turun serta-merta ketika suara-suara kebebasan berkumandang. Klaim mereka adalah bahwa suara-suara kebebasan itu tidak sesuai dengan kebenaran yang diimani. “Sebagai sistem ajaran, agama masih membuka peluang penafsiran yang mendukung bentuk-bentuk kekerasan. [A]papun pembenarannya bila merendahkan martabat manusia suatu penafsiran harus dipertanyakan keabsahannya.”[4] Manusia harus menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Hal ini yang luput dari pemikiran tangan-tangan kekerasan tersebut. Manusia menjadi tujuan pada dirinya sendiri justru oleh karena dia beriman kepada Allah, Sang Hidup.
As far as the presuppositions for the message of the revelation of Christianity are concerned, the first thing that is to be said about the human being is this: the human being is a person, a subject,’’[5] demikian pemikiran Karl Rahner mengenai anthroposentrisme di dalam teologi. Pengalaman akan Allah menjadi bagian tak terpisahkan dengan pengalaman akan diri manusia tersebut, oleh karena itu pengalaman akan Allah itu eksistensial dan tidak dapat diseragamkan secara kaku, apa lagi dipaksakan melalui perantaraan tangan-tangan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan kepada manusia, atas alasan apapun, termasuk alasan “kehendak Tuhan”, patut untuk ditentang. “Allah adalah kasih,” demikian Santo Yohanes penginjil menyimpulkan pengalaman imannya akan Allah. “Barang siapa tidak mengasihi, dia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih,” (1Yoh 4:8). Penghargaan atas kemanusiaan itu justru lahir dari pengalaman akan Yang Transenden.
Atmosfer Konsili Vatikan II adalah atmosfer dialog dengan siapapun di dunia ini. Dialog ini bukan apa-apa kecuali bahwa ajakan untuk membangun suatu dunia yang baru, tempat di mana kita tinggal bersama-sama. Gereja tidak lagi mewartakan Kristus dalam artian Kristenisasi (datang untuk membaptis), tetapi ingin menegakkan kembali martabat manusia justru oleh karena perjumpaannya dengan Kristus. Mewartakan Kristus ke dunia tidak lagi sama artinya dengan membaptis sebanyak mungkin orang, tetapi justru mengabarkan suka cita, damai sejahtera, dan menyebarkan cinta. Gereja ingin mengajak kita semua untuk menjunjung tinggi martabat manusia dan menciptakan kehidupan yang indah, sebuah dunia baru, justru oleh karena imannya akan Allah. Sebagai orang yang beriman akan Allah, kita menampakkan wajah lembut dan maharahim Allah untuk melawan kekerasan.
Love Thy Neighbor
Wajah lembut yang kita tampakkan itu bukannya wajah lemah yang dapat diinjak kalah. Kita berani bersuara dan berani melawan tangan-tangan kekerasan itu justru karena benar, justru karena kita menjunjung tinggi martabat manusia. Yesus tidak hanya mengajarkan “jika ditampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu,” (Mat 5:39), tetapi juga “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh 18:23). Kita takut ketika kita salah. Namun, kita berani karena benar. Kebenaran apa yang kita klaim sehingga kita memiliki keberanian itu? Martabat manusia. Kita tegas menjunjung tinggi dan membela martabat manusia, bahkan berani melawan kekerasan itu karena kita memiliki pengalaman eksistensial akan kasih Allah, Sang Hidup. Kita harus kritis, wajah kekerasan yang ditampakkan itu, kekerasan yang seakan-akan kehendak Tuhan itu, kekerasan yang dilakukan di dalam nama Allah itu, jangan-jangan hanya merupakan legitimasi tangan-tangan kekerasan semata untuk menyalurkan kebencian dan ketidakmampuan mereka menerima penampakan wajah “yang lain”.
Kita, orang-orang Kristiani, menjadi saksi Kristus, tidak lagi dengan misi Kristenisasi, yaitu membaptis sebanyak mungkin orang, tetapi dengan menjadi garda depan pembela martabat manusia. Kita percaya Roh Kudus Allah berkarya di setiap hati manusia, apapun agamanya. Sentuhan Roh Kudus ini membawa setiap manusia kepada pengalaman akan Allah. Dan, pengalaman akan Allah yang sejati ini membuat kita berani membela kemanusiaan. Maka, bersama umat beriman lain, bahkan bersama mereka yang mengaku tidak beriman, kita lawan kekerasan di tanah air tercinta ini, dengan menampakkan wajah lembut sekaligus tegas, ramah sekaligus kritis. Kebencian tidak dilawan dengan kebencian, kebencian juga tidak dilawan dengan rasa takut, tetapi dilawan dengan cinta. Cinta membuat kita berani. Dan, Allah adalah cinta.
Yohanes 18:23
Daftar Pustaka
Haryatmoko, 2010, DOMINASI PENUH MUSLIHAT, Jakarta: Gramedia
Losinger, Anton, 2000, THE ANTHROPOLOGICAL TURN, The Human Orientation of The Theology of Karl Rahner, translated by Daniel O. Dahlstorm, New York, Fordham University Press
Manji, Irshad, 2012, ALLAH, LIBERTY, & LOVE, terjemahan Meithya Rose Prasetya, Jakarta: Rene Book


[1] Irshad Manji, ALLAH, LIBERTY, & LOVE, terjemahan Meithya Rose Prasetya, Jakarta: Rene Book, 2012
[2] Irshad Manji, ALLAH, LIBERTY, & LOVE, 10
[3] Haryatmoko, DOMINASI PENUH MUSLIHAT, Jakarta: Gramedia, 2010, 81
[4] Haryatmoko, DOMINASI PENUH MUSLIHAT, Jakarta: Gramedia, 2010, 82
[5] Anton Losinger, THE ANTHROPOLOGICAL TURN, The Human Orientation of The Theology of Karl Rahner, translated by Daniel O. Dahlstorm, New York, Fordham University Press, 2000,  27