Thursday, October 30, 2014

BAJINGAN!!!

BAJINGAN!!!


Di era kontemporer ini, kata "bajingan" mendapatkan estetikanya... .

Hal ini akan tercatat di dalam sejarah... di dalam sejarah sastra negeri ini... sama seperti kata "pemberontakan" dan "lawan" oleh Wiji Thukul.

Ketiga kata itu: "bajingan", "pemberontakan", dan "lawan" mendapatkan nilai estetisnya sebab menggambarkan perlawanan akar rumput terhadap kerakusan kelas atas yang bergandengan tangan dengan negara beserta aparatnya, dan keapatisan kelas menengah... .

Kata "bajingan" adalah penanda atas sebuah petanda baru, yaitu penolakan kapitalisasi sastra oleh seorang cukong bernama Denny JA! Baginya, sastra hanya dijadikan salah satu komoditas.

Terlebih lagi, kata "bajingan" akan menyeretmu keluar dari persembunyian metafisismu... agama dan simbol-simbolnya!

Padmo Adi

Tuesday, October 28, 2014

Bukan Puisi Esai

Bukan Puisi Esai
*kepada Denny JA, Bajingan!!!

Ini puisi bukan puisi-esai
bukan karena aku tak mau memberi catatan kaki
atau juga karena ini bukan puisi narasi
bahkan bukan karena aku ingin bikin puisi-skripsi
Namun, karena aku belum mau melampaui
apa yang disebut puisi
dan apa yang disebut esai
Sebab, esai bukan semata perkara catatan kaki

Ini adalah puisi
untuk mengutuk-sumpahi
orang yang mengaku
salah satu dari tiga puluh tiga
sastrawan paling berpengaruh
di negeri Indonesia
sejak awal abad kedua puluh

Pengusaha dia
Banyak uangnya
Konsultan politik pula
Aih... kapitalis sempurna


Denny JA,
Bajingan!!!
Kaubuat lima puisi
Puisi esai kaunamai
Belum juga itu dikritisi
juga belum ada satu dekade kini
kautahbiskan diri...
jadi sastrawan paling berpengaruh di negeri ini

Denny JA,
Bajingan!!!
Kaubayar itu sastrawan-satrawan tua
hingga sudi jadi pelacur
yang menjilat kaupunya pantat
Menjual puisi demi uang sepuluh juta
Menjual sastra demi uang yang kaubawa
Kaupikir estetika bisa diukur dari uangmu?
Kaupikir sastra bisa dinilai dari kapitalmu?

Denny JA,
Bajingan!!!
Jikalau ini adalah keniscayaan,
bahwa kauharus dicatat di dalam sejarah sastra
sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia sastra,
maka dengarkanlah aku!!!
Aku, Padmo Adi, penyair,
Bapa Langit dan Ibu Bumi saksiku
Kupastikan kauakan dicatat di dalam sejarah sastra
sebagai seorang kapitalis bajingan,
yang membeli estetika dengan uang
dan yang telah mengencingi Sastra Indonesia
Kupastikan kauakan dicatat,
sebagai seorang bajingan yang berpengaruh buruk!!!

Hai anak-cucuku...
dengarkan seruanku!
Denny JA,
Bajingan!!!
Anak-cucuku,
ingat-ingatlah ini!
Denny JA,
Bajingan!!!

Bundaran UGM, 26 Oktober 2014
Padmo Adi

Monday, October 20, 2014

(Jog)Jakarta - Sebuah Jakarta yang Lain

(Jog)Jakarta
Sebuah Jakarta yang Lain

Cinta kita yang terpisah
(Jog)Jakarta
Kautahu dan mengerti benar
aku benci Batavia
Jika itu bukan oleh karenamu
takkan sudi kuinjakkan kaki
di Kota Pelacur Tua

Segala kemewahan yang ditawarkan
Segala gemerlap yang mencekam
justru membuatku kehilangan hidup
Gedung-gedung raksasa nan megah itu
tak mampu menutupi
kekumuhan
kesemrawutan
bau bacin selokan
dan udara pekat keabu-abuan

Aku selalu tak habis pikir
bagaimana mungkin kaubisa hidup
di penjara raksasa macam itu?

Batavia adalah laboratorium kapitalisme dan segala akibatnya
sementara kita adalah kelinci-kelinci percobaannya
Kautahu, Kekasih, cinta kita taruhannya!!!

Tapi aku tak mau kalah
Aku tak ingin kehilangan momentum
untuk bertemu denganmu
melihat senyummu

Cinta kita yang terpisah
(Jog)Jakarta
Bukan agama
Bukan kolot pikir orang tua
Bukan adat masyarakat
Tetapi semata kita butuh uang
untuk tetap hidup di dalam sistem
yang sudah bobrok ini
Dan kita terpisah
(Jog)Jakarta

Ah... bahkan kapitalisme telah lancang mengurusi perihal cinta!!!

Dengan gontai aku pulang...
Kembali ke pelukan ibu... Mataram
Meninggalkan
kekumuhan
kesemrawutan
bau bacin selokan
dan udara pekat keabu-abuan

Akan tetapi...
kautahu, Kekasih,
apa yang di rumah kutemukan?
Rara Jonggrang meminta Bandung Bandawasa
tak lagi membangun seribu candi
melainkan seribu hotel berbintang
supaya hadir Jakarta-jakarta yang lain
(Jog)Jakarta

Trans-Jogja, Ring Road Utara
18 Oktober 2014
Padmo Adi

1998

1998
*kepada anak-anak di Sala

Anak-anak kita bahkan tidak tahu
apa yang terjadi
limabelas enambelas tahun yang lalu!
Mereka sama sekali tidak tahu!!!
Ini mengerikan... .

Kita tidak memerlukan pelajaran sejarah
sekadar untuk mengingatnya...
Kecuali kalau usiamu kurang dari enambelas kini
Memang kita butuh monumen...
"Di sini dulu sebuah toko dibakar
dan gadis cina diperkosa
oleh massa tak dikenal
yang konon berambut kotak"
Tapi hal itu tak pernah ada
Tak pernah ada

Peristiwa itu masih dekat dengan kita
Bola "Anak Mas" itu...
HP-HP baru itu...
Becak penuh sembako itu...
Api yang berkobar itu...
Serta tulisan "milik pribumi"
dan "pro reformasi"...
Lalu Si Jendral Tersenyum terguling

Aih... SE sudah jadi Jack Star!!!
Dan BHS Bank sudah jadi hotel
Kita sudah lupa
Kita amnesia

Politik pelupaan

*mengingat Surakarta
dari Ngayodyakarta, 10 Oktober 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

BESOK TAK PERNAH TIBA

BESOK TAK PERNAH TIBA

segala yang kutahu...
aku terjepit dari segala penjuru!
tapi semua telah diseret ke hadapan mahkamah waktu...
bergeraklah hari ini...
sebab besok tak pernah tiba

tidak di manapun aku bisa bersembunyi
sebab penghakiman selalu tiba tepat waktu
menuntut perihal yang telah dilakukan
serta memaki segala sesuatu yang belum,
walau kita senantiasa membelum...
senantiasa tak paripurna

aku terlahir bukan sebagai siapa-siapa
tak ada yang terlahir sebagai siapa-siapa
juga raja
sebab raja itu bukan dilahirkan,
melainkan ditempa
oleh segala keputusan bebas yang dibuat
lalu mengkristal
menjadi nama
menjadi diri
menjadi cerita
menjadi legenda

sudah lama aku berlari
berkelana ke manapun jua
namun, masih kuingat pesan ini
"Jika kausenantiasa berjalan,
kapan kaubisa mengubah keadaan?"
besok...
besok tak pernah tiba

08 Oktober 2014
Padmo Adi

Dalam Cinta

Dalam Cinta

cinta
datang dan pergi
waktu yang menguji
tiga-lima tahun pun tak cukup

menerimamu yang selalu menjadi
adalah usaha memahami yang abadi

kita tidak pernah paripurna
juga dalam cinta

kartika

Surakarta, 27 September 2014
@KalongGedhe

Segelas Cokelat Panas

Segelas Cokelat Panas

Segelas cokelat panas kunikmati
Tanpamu

Cokelat panas ini adalah sakramen
Yang menghadirkan kembali hangat senyum terkulum milikmu
Juga anamnese, kenangan akan kelincahanmu serta kegemaranmu pada cokelat

Masihkah kauingat delapan tahun yang lalu?
Aku melirikmu dengan malu-malu...

Izinkanlah aku membawamu pergi
Lalu kita membangun tenda
Di Sekipan
Tempat kita pertama kali bertemu

Lalu, kita bikin dua gelas cokelat panas...

Suatu hari nanti di depan altar itu,
Aku akan berbisik di telingamu
Mengulang kata-kata kramat Anak Domba
"Inilah tubuhku yang kuserahkan bagimu
Inilah darahku yang kutumpahkan bagimu"

20 Agustus 2014
Padmo Adi