Thursday, May 30, 2019

Di Gerbang Selatan Prontera

Di Gerbang Selatan Prontera

Gerbang Selatan Prontera. Dokumen pribadi.

Di sini ... di Gerbang Selatan Prontera ini, aku menunggumu, sembari terus mencari satu atau dua pertanyaan yang jitu.

Lagu-lagu Korea itu terpaksa kudengarkan. Aku tak punya banyak pilihan. Setidaknya tidak ada Dududu atau Boombayah didendangkan.

Di sini ... di Gerbang Selatan Prontera ini ... aku menunggumu. Namun, masih juga aku tidak tahu, pertanyaan macam apa yang bisa kujadikan arah melaju.

Surakarta, 25 Maret 2019

Padmo Adi

YANG ABADI, YANG TRAGEDI

YANG ABADI, YANG TRAGEDI

Cinta yang abadi
adalah yang tragedi

Yang tak pernah bersatu
kisahnya melampaui waktu

Yang berakhir duka
Akan diceritakan selamanya

Surakarta, 04 Mei 2019
Padmo Adi

Jembatan mBacem, Sukoharjo. Dokumen pribadi.


Wednesday, May 29, 2019

CINTA KITA SEDERHANA


CINTA KITA SEDERHANA


Cinta kita sederhana.
Orang tua kita merumitkannya.
Bapakmu muazin.
Bapakku prodiakon.
Ibumu pengurus WI.
Ibuku pengurus WKRI.

Ah ... aku suka jilbab birumu itu ...
mengingatkanku pada Sang Ibu.
“Salam Maria, doakanlah kami ...
... hingga waktu kami mati.”
“Dan sesungguhnya Allah itu ...
... Tuhanku dan Tuhanmu ... .”

Entah apa yang akan terjadi esok.
Aku mencintaimu kemarin dan kini.
Walau akhirnya kau tetap sujud ke Barat,
aku berlutut di hadapan Tabernakel Suci.

Cinta kita sederhana.
Dan, tragedi mengabadikannya.


Ngadirojo, 23 Mei 2019
Padmo Adi


Monday, May 27, 2019

ANTARA BENTUK DAN KISAH

ANTARA BENTUK DAN KISAH
Kritik atas Pertunjukan TSD Bincang Pincang

Pada hari Sabtu dan Minggu, 18-19 Mei 2019, Teater Seriboe Djendela mementaskan empat buah pementasan maraton, dengan judul besar Bincang Pincang. Di dalam Bincang Pincang itu ada empat buah pementasan dalam dua malam: Orang Asing, (Ng)atur, Love is a Many Splintered Things, dan Taman Gajah & Other Stories. Bukan hal yang baru bagi TSD sebenarnya. Biasanya pementasan maraton semacam itu memang diadakan untuk menjadi laboratorium bagi teman-teman TSD, terutama anak-anak baru, untuk bereksperimen dengan segala aspek artistik dalam suatu pertunjukan teater. Aku sangat mengapresiasi program semacam ini, sebab lewat program TSD semacam inilah dulu aku berkembang, mencoba gagasan atau teori dalam berteater, mengusung tema yang mungkin bukan arus-utama, mencoba-coba naskah, mengeksplorasi set, make up-kostum, dan tata cahaya, serta sekaligus mencoba bentuk-bentuk baru. Pementasan maraton TSD 18-19 Mei 2019 kemarin kukira juga tidak jauh berbeda dengan pementasan maraton TSD sebelum-sebelumnya yang pernah aku alami bertahun-tahun lalu itu. Pementasan itu menjadi agak istimewa mengingat pada Bulan Mei 2019 ini TSD merayakan dua dasawarsanya, TSD ulang tahun yang ke-20. Atas alasan itu pulalah aku menyempatkan waktu untuk berkendara 60 kilometer ke Selatan, untuk menyaksikan TSD selama dua malam. Hanya saja, setelah menyaksikan pentas maraton itu aku jadi sedih.
Pasca-pementasan malam kedua, aku berkumpul dengan beberapa teman membahasnya. Mereka mendorongku untuk menuliskan isi hati dan pikiranku. Namun, tidak juga segera aku tuliskan. Aku ingin mengendapkan segala sesuatunya supaya aku dapat menulis dengan objektif, dan lepas dari perasaan sedih pasca-menonton pentas maraton TSD tersebut. Lagipula, pada tanggal 21-23 Mei 2019 kemarin fokusku teralihkan pada kondisi Zakardah. Syukurlah chaos yang terjadi di Kota Pelacur Tua itu tidak merembet ke kota-kota lain, seperti yang terjadi pada Mei 21 tahun silam. Kemudian, di Kota Aldebaran, di Clock Tower B1, aku bertemu dengan seorang teman, dia bukan sekadar alumni TSD, tetapi mantan Lurah TSD. Kami berbicara banyak hal tentang TSD sekarang ini. Aku meminta pandangannya. Dia memang tidak menyaksikan semua pentas TSD 18-19 Mei 2019 tersebut, tetapi dia cerita banyak hal, terutama cerita mengenai TSD yang sehari-hari kini, dan itu meyakinkanku untuk menuliskan isi hati dan pikiranku setelah menyaksikan Pentas Maraton TSD tersebut.


Orang Asing. Sajian oleh TSD 2019. Dokumen pribadi.

Spoiler alert: jika kalian hanya menginginkan membaca hal-hal yang baik saja dari tulisan ini, silakan membaca satu paragraf berikut ini saja, lalu selesai, tinggalkan tulisan ini. Akan tetapi, jika kalian ingin tahu keseluruhan isi hati dan pikiranku, silakan membaca semua tulisan ini sampai paripurna.
Aku adalah orang yang selalu percaya bahwa metode keaktoran TSD itu berani diadu. Metode-metode keaktoran TSD itu selalu menghasilkan aktor yang realis, bahkan cenderung naturalis. Business acts yang dilakukan oleh aktor-aktor TSD itu benar-benar natural sehari-hari. Hal itu terlihat pada hampir keempat pertunjukan. Walaupun ada satu dua pementasan yang mencoba untuk “tidak serealis itu”, bisa dikatakan keseluruhan gesture, mimik, bahkan cara bertutur sangat realis, bahkan cenderung naturalis. Perbedaan antara realisme dan naturalisme di dalam seni pertunjukan nanti kalian bisa dalami sendiri deh ya, tetapi yang kumaksudkan di sini adalah bahwa akting para aktor-aktris TSD itu benar-benar sehari-hari, mengalir, tidak artifisial. Sepertinya memang ada kecenderungan dari TSD untuk memindah peristiwa real sehari-hari ke atas panggung teater. Apa keuntungan positif dari cara akting yang demikian? Film! Aktor yang terbiasa bermain teater absurd akan mengalami kesulitan ketika harus bermain realis. Sementara, aktor yang terbiasa bermain realis tentu akan menjadikan realisme itu makanannya sehari-hari, walau realisme itu tidak murah. Realisme inilah modal untuk “melebarkan sayap” ke dunia film. Banyak aktor teater yang “disunat” kanan-kiri supaya pas ketika harus masuk ke kamera, justru karena akting mereka yang terlalu neater. Sementara, di dunia film, justru akting yang naturalis itulah yang dicari. Business acts kecil-kecil macam akting aktor-aktris TSD itu sangat cocok dan pas kalau dipindah ke medium kamera, sebab di dalam layar film seorang aktor hanya membutuhkan akting kecil-kecil untuk menggambarkan dinamika emosi dan kognisi. Aku lihat, aktor-aktris TSD pada Bincang Pincang kemarin sangat potensial untuk berakting di depan kamera. Mau mencoba? TSD bikin film pendek gitu? Atau mau kukenalkan dengan film maker Jogja/Solo?
Puji-pujiannya sudah ya sampai di situ saja. Kalau masih ingin melanjutkan membaca, kusarankan kalian menyiapkan hati dan pikiran, sebab aku tidak akan menahan diksiku.
Celakanya, akting ciamik para aktor TSD itu tidak didukung dengan cerita dan bentuk yang oke! Baiklah, tentu tidak semua dari empat pertunjukan itu seburuk itu. Buruk? Elek wae durung, kalau kata Den Sugeng. Menurutku, dari keempat pertunjukan itu, yang paling potensial dan paling safe adalah sajian Orang Asing. Kenapa aku bilang paling potensial dan paling safe? Pertama, ya jelas, aktor-aktris TSD, tidak usah ditanya lagi. Kedua, keputusan sutradara untuk memilih naskah jadi, alih-alih memaksakan ego mementaskan naskah baru bikinan sendiri, justru menyelamatkan mereka in the first place. Dari segi setting, kukira, Orang Asing inilah yang paling niat. To be frank, aku sendiri pernah mementaskan Orang Asing, tetapi aku tidak pernah memikirkan setting yang se-noir Orang Asing TSD kemarin itu. Untuk itu, aku kagum ... aku kagum pada imajinasi anak-anak muda ini ... imajinasi yang gelap untuk menampilkan sebuah tragedi. Dari setting-properti yang disuguhkan, aku bisa membayangkan bahwa rumah itu memang benar-benar ada jauh dari peradaban, dari kampung terdekat, sehingga Sinah dan ibunya bisa sedemikian yakin dan mantap untuk membunuh si Orang Asing. Memang benar bahwa naskah ini adalah naskah terjemahan, tetapi kulihat mereka sudah dapat melampauinya dan sudah cukup mengadaptasinya. Kekurangan dari Orang Asing TSD ini hanyalah bahwa mereka kurang memainkan suspend, sesuatu yang khas kisah-kisah misteri, pembunuhan, atau thriller; selain juga bahwa karakter si Bakul Tuak kurang kuat, padahal dia berperan sebagai pembawa konklusi. Peran Si Bakul Tuak TSD ini memang agak berat, sebab dia memerankan dua karakter sebenarnya, karena karakter Anak Bakul Tuak dihilangkan.
Pementasan selanjutnya adalah (Ng)atur. Aku suka temanya: memotret kehidupan real sehari-hari anak kos. Kehidupan sehari-hari yang dipotret dengan angle tertentu itu selalu menarik. Aku mulai tertarik ketika tubuh-tubuh berpose dan bergerak senatural mungkin, tanpa dibuat-buat, seolah-olah itu bukanlah berada di atas panggung, dan TANPA SUARA. Tubuh-tubuh itu bergerak, melakukan hal-hal remeh sehari-hari, lalu datang dan pergi, TANPA SUARA. Sampai pada titik itu aku berani bilang, ini bentuk pertunjukan yang oke. Ketika para aktor-aktris bergerak tanpa suara, tanpa sepatah dialog, sajian (Ng)atur ini berhasil mencuri fokus, setelah penonton disuguhi drama realis penuh dialog. Ide yang brilian dari sutradara, gumamku. Tapi ... yah ... sayangnya tiba-tiba kata-kata itu muncul dari mulut para aktor. Hancurlah spectacle (Ng)atur itu! Pada detik aktor (Ng)atur ngomong, saat itulah (Ng)atur kelelep pertunjukan Orang Asing. Sajian (Ng)atur kelelep bukan karena tema besar yang diusung, juga bukan karena kualitas akting para aktornya, tetapi justru karena bentuk pertunjukan dan cerita yang dibawakan. Si penulis naskah kurang kuat dalam menghadirkan dramaturgi; ceritane flat ngono-ngono wae, mboseni. Tidak ada kejutan-kejutan. Aku pribadi tidak akan mempermasalahkan setting-properti-nya, supaya tidak makin remuk. Aku hanya akan fokus pada bentuk dan cerita (Ng)atur. Menurutku, andai saja si sutradara tetap ajeg memakai bentuk “cuma gerak tanpa dialog” seperti yang dia suguhkan pada sesi pertama reportoar (Ng)atur itu, pertunjukan itu akan safe dan tidak kelelep. Akan tetapi, kalau memang bersikukuh ingin menghadirkan dialog, kusarankan TSD bikin workshop penulisan naskah dulu deh. Serius ini! Sebab penyakit serupa, “cerita yang mboseni dan busuk”, itu muncul juga pada sajian ketiga dan bahkan keempat!!!


Love is Many Splintered Things. Sajian oleh TSD 2019. Dokumen pribadi.

Sajian ketiga TSD berjudul Love is Many Splintered Things. Aku mengapresiasi eksplorasi bentuk yang diupayakan kelompok ketiga ini. Ada dua ruang terpisah dalam satu panggung. Ada adegan-adegan natural yang diusung di atas pentas; di mana adegan-adegan natural ini dibatasi oleh “ruang-waktu” imajiner yang membagi dua panggung itu: di sebelah kanan ada warung lesehan yang nganak-kos-di-tanggal-tua banget, dan di sebelah kiri ada kafe yang nganak-kos-di-tanggal-muda banget. Dua kontras yang asyik. Kemudian—ini yang menjadikan pertunjukan ini menarik sebenarnya—ada satu aktor yang mampu menembus dua ruang terpisah itu, dan bahkan mampu menembus dinding keempat! Aktor itu menjadi satu-satunya aktor yang bisa dengan lincah berpindah ruang, berpindah waktu, bersalin karakter, dan dengan bebas ngobrol dengan penonton yang ada di balik dinding keempat itu. Suatu bentuk yang oke punya. Sayangnya ... sekali lagi ... cerita yang dibawakan sangat busuk! Membosankan! Blas ra ana dramaturgine. ‘Kan asu?! Jika tidak ada aktor penembus dinding keempat itu, dan jika tidak ada adegan mesra-mesraan aktor-aktris pada ruang kafe itu ... huft ... betapa membosankan. Sekali lagi kusarankan, penulis-penulis naskah di TSD ada baiknya belajar lagi deh; banyak-banyak baca naksah teater jadi, script film, atau karya sastra lainnya yang greget deh. Man-eman tauk!!!
Sementara pada reportoar terakhir, Taman Gajah and Other Stories ... alamakjang ... what can I say?! What must I say?! Apa yang harus kukatakan kepada mereka sebagai sesama alumni TSD? Ya, sebenarnya secara verbal aku sudah menyampaikan isi hati dan pikiranku mengenai sajian ini kepada salah satu aktornya sih. Saranku, misalnya man-teman mau bikin pertunjukan serupa lagi, ya cuma ini:
1.      Hati-hati dalam mencampur dua bentuk jadi. Pada Taman Gajah and Other Stories ada dua bentuk jadi yang dicampur begitu saja tanpa dioplos dengan oke: dramatic reading dan pantomime. Alangkah lebih baik jika Taman Gajah and Other Stories versi dramatic reading itu dipisahkan dengan yang versi pantomime menjadi dua pertunjukan terpisah, sehingga seharusnya TSD pada dua malam itu punya lima pertunjukan, alih-alih cuma empat. Dari segi komposisi blocking panggung nggak oke. Aktor-aktris dramatic reading cukup banyak. Selain ndramatic-reading, mereka turut menciptakan gesture dan moving, ditambah dengan dua aktor-aktris pantomime yang, walaupun tanpa suara, menciptakan gesture dan moving yang tak kalah besar juga, membuat suasana panggung ting riyel, penuh sesak.
2.      Jika memang dua bentuk itu tetap harus disatukan, saranku adalah bahwa cukup para aktor-aktris pantomime sajalah yang ada di atas panggung. Sementara, para aktor-aktris dramatic reading pergi jauh-jauh dari jangkauan pandangan penonton, entah di back stage, atau justru berdiri di belakang atau duduk di depan penonton menghadap ke panggung ... untuk menjadi seiyu alias dubber alias pengisi suara. Kualitas ndramatic-reading para aktor-aktris dramatic reading TSD kemarin oke kok. Bisa dicoba, ‘kan, TSD melebarkan sayap, tidak hanya di dunia film sebagai aktor di depan kamera, tetapi juga sebagai seiyu yang bertanggung jawab menghidupkan suatu karakter yang ada di hadapannya hanya dengan bermodalkan kekuatan dialog? Kukira akan menarik. Di TSD banyak yang suka anime ‘kan ya? Tapi, serius ... aku melihat potensi TSD melebarkan sayap di dunia isi suara ini! Mungkin ke depan TSD bisa bikin pertunjukan yang hanya menampilkan layar putih, lalu memainkan film kartun, sementara suara dialog dan ekfeknya diisi secara  live oleh para teaterawan Seriboe Djendela. Kukira gayeng mesti ya?
3.      Sekali lagi faktor cerita di sini juga bikin sajian Taman Gajah and Other Stories ini busuk. Aku angkat topi sebenarnya dengan keberanian tim naskah menciptakan suatu Frankenstein dari banyak potongan kisah-kisah yang sebenarnya tidak ada kaitannya satu sama lain. Aku dulu pernah melakukannya di TSD ketika pentas bersama Pudar, Tirsa, Arya, dkk. Sehingga, aku tahu benar kesulitannya. Akan tetapi, celakanya, sepertinya tim naskah Taman Gajah and Other Stories ini waton nrabas ngono wae. Pokoknya asal queue-nya sama, gathukke, dadi. Cilaka! Maka, sensasi yang kudapatkan adalah aku tengah berada pada suatu cerita di dalam cerita di dalam cerita di dalam pantomime!!! Pada suatu titik aku kelelahan mengikuti cerita yang mbulet ini, lalu menyerah, lalu whatsapp-an dengan salah satu alumni TSD yang kini bekerja di Planet Bekasi. Mungkin bukan salah si penyaji ... mungkin aku yang sudah terlalu tua dan lemah untuk mengikuti cerita yang complicated tersebut.

Pasca-melihat pentas TSD dalam rangka dua dasawarsa itu, jujur aku sedih. Apalagi ketika aku mendengar TSD yang daily dari beberapa kawan yang masih ada di sekitaran Jogja dan masih berjumpa dengan para teaterawan Seriboe Djendela. Bisa jadi panyawangku iki lamur lan ora permana, karena aku melihat TSD dari kejauhan, 60 kilometer jauhnya, satu setengah jam lamanya. Hal itu yang bikin aku awalnya enggan menuliskan tulisan ini. Namun, obrolanku dengan beberapa orang alumni itu meyakinkanku untuk menuliskan hal ini, sepahit apapun, sebab justru karena aku sangat mencintai Teater Seriboe Djendela. Ibarat’e ki misal’e aku dijawil kon nJogja nggo nglatih TSD ngono bakal daksempat-sempatke, ra nde bensin’a ya bakal daknduwek-nduwekke. Aku sedih, karena aku tidak lagi melihat visi artistik di dalam TSD. Ada apa dengan TSD?! Lebih sedih lagi, bahwa ini adalah momentum dua puluh tahun!!! Dua puluh tahun TSD, dan teater ini mulai kehilangan visi artistik?!


Taman Gajah and Other Stories. Sajian oleh Komunitas Senthong (alumni TSD) 2019. Dokumen pribadi.

Di manakah visi artistik itu bisa dicari? Belajar! Anak-anak sastra, tidak peduli Sasindo dan Sasing, bahkan anak PBSI dan PBI bisa menyumbang ilmu dramaturgi yang mereka dapatkan di kelas. Anak Sejarah, Psikologi, dan Teologi (eh, emang masih ada anak Fak.Teo?) bisa menyumbang wacana-wacana yang bisa diangkat menjadi tema pementasan. Anak teknik bisa menyumbang gagasan-gagasan teknis mereka dalam hal setting-properti. Banyak hal bisa dibawa dari kelas-kelas di Sanata Dharma itu ke Senthong. Selain itu juga dari banyak teater lain di seluruh penjuru Jogja. Pengurus bisa mewajibkan nonton wajib TA anak Fakultas Teater ISI di mBantul sana itu, atau teater-teater kampus lain, atau teater umum seperti Garasi, dan sebagainya; untuk kemudian dibawa ke lingkaran-lingkaran diskusi formal maupun non-formal di burjo-burjo terdekat. Atau, tak perlu jauh-jauh belajar dari teater lain di luar tembok Sanata Dharma, bisa juga TSD menggandeng teater-teater fakultas yang ada di Sanata Dharma. Nggandheng para aktor teater yang sedang sekolah di IRB-USD juga bisa, kukira. Atau, gak usah jauh-jauh deh dengan teater-teater fakultas di Sanata Dharma, TSD bisa kok njawil kakak-kakak alumni yang masih berkeliaran di sekitar Jogja dan masih berkesenian: Mas Teo, Den Sugeng, Mbak Tita dan Mas Ricky sepasang, Mas Inyong, Gedhek Sudibya yang Hangabehi, atau kalau tega ... kontak Mas Doni di Tulungangung sana ... kukira mereka akan nyempat-nyempatke niliki lan ngajari adhi-adhine kalau dijawil. Siapapun itu, yang penting kalian punya krenteg, kehendak hati, untuk berkembang dan mengembangkan visi artistik kalian di TSD ini. Kalau ingin bersaing dengan teater lain, bersainglah dengan sehat ... di bidang seni teater! Perkara nanti setelah lulus kalian mau lanjut nyeniman atau ngaryawan ... itu perkara lain.
Kukira sekian dulu. Aku sayang kamu. Sungguh rindu aku bisa duduk bersama kamu sekalian ... sayang tidak ada Butterfly Wing di kehidupan real ini yang bisa kupakai untuk meringkas 60 kilometer itu. Sampai jumpa.

Surakarta, 27 Mei 2019
Padmo Adi