Friday, September 30, 2011

Akhir dari Kemanusiaan Srintil

Akhir dari Kemanusiaan Srintil
(Sebuah “Happy Ending yang Sedih” dari Ronggeng Dukuh Paruk)
-Yohanes Padmo Adi Nugroho-

Ronggeng Dukuh Paruk – Jentera Bianglala (Buku III) merupakan puncak sekaligus akhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku III ini hanya meyakinkan kita bahwa Ahmad Tohari memang mahir dalam mengaduk-aduk emosi pembacanya. Dari ketiga buku, Jentera Bianglala adalah yang paling lugas dan yang paling menguras emosi. Saya sendiri membutuhkan 7 jam lebih untuk menyelesaikannya, diselingi istirahat sejenak untuk menata kembali emosi yang berhasil diaduk-aduk Ahmad Tohari. Lebih dari kedua buku sebelumnya, di dalam Buku III Ahmad Tohari berhasil menyeret secara penuh kesadaran pembaca, mungkin karena pembaca telah terlebih dulu diperkenalkan dengan pergulatan hidup Rasus pada Buku I dan perjuangan keperempuanan Srintil pada Buku II atau karena Ahmad Tohari mampu menggelar segala peristiwanya sehingga seakan-akan kisah itu memang merupakan suatu Biografi Srintil. Pembaca dibuat begitu gemas menyaksikan (dalam imajinasinya) pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus, seakan-akan tidak rela Ahmad Tohari membiarkan mereka berpisah kembali. Sebuah happy ending mungkin segera menjadi harapan pembaca.

Saya sendiri pernah membaca Buku III ini ketika masih dalam versi trilogi bersambung. Membaca Buku III di dalam versi satu novel utuh ini seakan-akan menjadi sesuatu yang baru, walau saya mengetahui akhir dari kisah Srintil-Rasus, karena ternyata ada banyak sekali bagian yang disensor dan tidak lolos cetak pada versi trilogi. Tidak seperti pada Buku I dan II, saya tidak mampu mengingat banyak hal di dalam Buku III, mungkin karena memang itu adalah bagian yang benar-benar baru saya baca. Bagian yang tersensor itu bukan mengenai hal-hal erotis atau cabul, melainkan mengenai kondisi politik dan narapidana politik yang diceritakan dengan gamblang pada versi novel utuh.

Di dalam Buku III inilah kata “komunis” dan “PKI”, yang pada dua buku sebelumnya hanya ditampilkan simbol kehadirannya, dinyatakan dengan lugas. Kata “komunis” benar-benar hadir tanpa bunga-bunga kata untuk pertama kali pada halaman 253, sedangkan “PKI” hadir untuk pertama kali dengan lugas pada halaman 383. Bahkan, “PKI” menjadi makian yang paling kejam, lebih kejam dari pada makian “asu buntung”, “bajingan”, atau makian lainnya. “PKI” menjadi tudingan yang paling mematikan dan menakutkan. Buku III ini pasti akan mengorek luka lama orang yang memiliki pengalaman eksistensial pada tahun 1965. Mereka akan segera eling akan apa yang terjadi pada waktu itu.


Pada halaman 253 itu kita diberi keterangan apa atau siapa itu “komunis”, adalah “... semua sistem yang telah menyebabkan jendral-jendral mati terbunuh.” Pada halaman 260 kita diberi keterangan lebih lanjut bahwa “... orang-orang komunis demi anu enak saja menghapus hak hidup banyak manusia biasa dengan cara yang paling hewani.” Dan, sebuah keterangan singkat punahnya orang-orang komunis di negeri ini, bahwa “... orang-orang biasa melenyapkan orang-orang komunis, juga demi anu, dengan cara yang sama.” Orang-orang sekarang tentu akan mengkritisi pandangan ini. Jika benar ini keyakinan Ahmad Tohari mengenai apa yang terjadi pada tahun 1965 dan sesudahnya, orang-orang sekarang akan meyakini bahwa konspirasi politik zaman itu telah berhasil membuat Soekarno yang pada saat itu kekiri-kirian kalah telak dan berhasil membuat orang-orang (yang dituduh) PKI menjadi kambing hitam perebutan kekuasaan. Apakah Ahmad Tohari adalah satu dari sekian bangsa Indonesia yang mengamini bahwa PKI adalah dalang kerusuhan 1965 itu seperti yang dikehendaki konspirasi politik atau dia hanya mewakili pandangan umum zamannya? Yang jelas di dalam Buku III itu dia berhasil menggambarkan keadaan masyarakat zaman itu yang begitu ketakutan atau benci setengah mati dengan momok PKI dan cap tuduhan anggota PKI. Pada saat saya masih kecil (1988-1995) saya masih mendengar orang memaki dengan “PKI”. Makian inilah yang pada akhirnya nanti meruntuhkan kemanusiaan Srintil dan memiringkan kewarasannya. Ahmad Tohari pun menggambarkan kekaburan sejarah pada zaman itu dengan tidak menjabarkan apa itu alasan “anu” pada halaman 260, meskipun saya yakin dia paham apa itu ideologi komunis, setidaknya pada Buku II dia sempat menceritakan aksi propaganda orang-orang komunis itu yang menyerukan gerakan antikapitalisme dan antiliberalisme.

Di dalam setting waktu dan suasana yang demikian itulah Ahmad Tohari kembali mempertemukan Srintil dengan Rasus. Srintil menjadi wakil tertuduh PKI, wakil sisa-sisa pemuja kepercayaan tradisional, dan wakil pribadi perempuan yang remuk redam. Sedangkan Rasus menjadi wakil tentara dan kekuasaan, wakil orang-orang yang setelah tahun 1965 berbondong-bondong memeluk satu dari lima agama yang diakui resmi pemerintah pada waktu itu, dan wakil pribadi yang telah berhasil merengkuh kelelakiannya. Rasus adalah orang pertama di Dukuh Paruk yang memeluk Islam. “La ilaha illallah” adalah kalimat samawi pertama yang baru sekali itu diperdengarkan di Dukuh Paruk oleh seorang anak Dukuh Paruk, Rasus (halaman 256). Bahkan pada halaman 351 Ahamad Tohari menggelar adegan Rasus sembahyang dengan terlebih dahulu menggelar kain sarung di atas tanah. Meskipun Ahamad Tohari tidak menyebutnya secara lugas, pembaca dapat membayangkan sebuah adegan Rasus shalat.

Pertemuan dan perpisahan kembali Srintil dan Rasus yang disuguhkan Ahmad Tohari mampu membuat gemas pembaca. Mungkin pembaca dibiarkan berharap bahwa kisah ini akan berakhir dengan happy ending. Namun, dengan kemahirannya mendongeng Ahmad Tohari memainkan emosi pembaca. Emosi pembaca dikuras habis, ditinggikan, kemudian dibanting. Pembaca dibuat sedemikian dekat dengan pergulatan Srintil. Dan, permainan emosi itu diakhiri dengan suatu ironi. Secara bergurau anak-anak teater seperti saya mengatakan bahwa happy ending-nya sedih. Rasus memang akhirnya dipertemukan dengan Srintil. Rasus memang pada akhirnya memutuskan untuk menetap kembali di Dukuh Paruk dan mengambil istri Srintil. Akan tetapi, itu semua terjadi setelah Srintil kehilangan kewarasannya, setelah Srintil kehilangan totalitas kemanusiaannya.

Thursday, September 29, 2011

Apakah Perempuan adalah Ketiadaan Lelaki?

Apakah Perempuan adalah Ketiadaan Lelaki?
(Menyelami Arti Keperempuanan Sang Ronggeng Srintil)
-Yohanes Padmo Adi Nugroho-

Ronggeng Dukuh Paruk – Lintang Kemukus Dini Hari (Buku II) menawarkan hal yang sedikit berbeda dari buku I. Jika di dalam hampir keempat bab buku I Ahmad Tohari menceritakan perihal perempuan dan ronggeng dari sudut pandang orang pertama dengan memakai sudut pandang kelelakian Rasus, di dalam lima bab buku II ini Ahmad Tohari memakai sudut pandang orang ketiga, pencerita yang tahu segalanya. Tiada cerita mengenai pergulatan kelelakian dan kepribadian Rasus di sana, bahkan sosok Rasus sama sekali tidak hadir terkecuali di dalam kenangan dan dendam Srintil. Yang ada di buku II itu adalah perjumpaan yang sangat intim dengan pribadi dan keperempuanan Srintil sebagai ronggeng maupun sebagai perempuan pada umumnya.

Sebagai selayaknya perempuan pada umumnya Srintil bisa dan berhak jatuh hati. Lelaki yang dicintainya ini tak lain adalah lelaki yang padanya Srintil serahkan keperawanannya, tak lain adalah lelaki teman masa kecilnya, Rasus. Dengannya Srintil rela bercinta tanpa memungut imbalan harta. Namun, Rasus justru pergi meninggalkannya dengan cara yang paling pahit. Lelaki yang dicintainya itu pergi tanpa pamit pada pagi setelah mereka dapat hidup selayaknya suami-istri. Lelaki itu pergi meninggalkan kehampaan yang luar biasa pada diri perempuan Srintil. Rasus tidak seperti lelaki yang Srintil kenal. Rasus bukan lelaki lembu jantan atau bajul buntung yang merasa jaya setelah berhasil mendapatkan Srintil bagai macan menerkam menjangan (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta: Gramedia, 2011, 141). Rasus juga bukan pula lelaki jenis munyuk lemah yang mulutnya bocor menjelek-jelekkan istrinya sendiri dan merengek hampir mengemis belas kasihan dan simpati Srintil (AT, 142). Rasus adalah laki-laki yang kepribadiannya menggaris tegas dan meninggalkan kesan begitu mendalam di dalam batin Srintil.


Ketiadaan lelaki yang dicintainya itu membawa Srintil di dalam pergulatan batin yang dalam tentang makna keperempuanannya, tentang makna dirinya. Beban hidupnya terkurangi oleh kehadiran Goder, bayi Tampi, yang diangkat Srintil menjadi anaknya. Kerinduannya sebagai perempuan untuk menjadi ibu tersalurkan walau Goder bukan buah rahimnya sendiri. Di dalam pergulatan batin yang mendalam itu Srintil menanyakan sebuah pertanyaan eksistensial: siapakah dirinya itu dan siapakah yang mengatur dirinya itu (AT, 146). Selama ini Srintil hanya menurut pada Nyai Kertareja untuk meronggeng atau untuk melayani lelaki manapun, lalu menerima uang atau perhiasan. Namun, pada titik tergetir di dalam hidupnya dia memperoleh martabatnya sebagai pribadi dan berani memilih. Dia berani memutuskan akan naik pentas atau tidak, tidak peduli dengan bujuk rayu Nyai Kertareja. Bahkan, dia berani menolak pelesir dua-tiga hari bersama Marsusi dengan imbalan seratus gram kalung emas dengan bandul berlian (AT, 146-152).

Martabat pribadi keperempuanannya yang utuh itu menambah pesona sekaligus wibawa Srintil. Di dalam tarian ronggengnya lelakilah yang justru dipermainkan oleh perempuan, bukan sebaliknya seperti di dalam hidup sehari-hari (AT, 212-213). Akan tetapi, wibawa dan pesona perempuan yang dimiliki Srintil itu tiba-tiba tak berarti apa-apa di dalam pertemuannya dengan Waras. Waras adalah anak lelaki Sentika, juragan pemilik perkebunan singkong di Alaswangkal. Srintil diminta menjadi gowok bagi Waras. Srintil diminta oleh Sentika untuk membantu Waras menemukan kelelakiannya. Namun, Waras memiliki keterbelakangan mental yang membuatnya tidak dapat menjadi lelaki seutuhnya. Srintil sebagai perempuan merasa gagal, dia tidak mampu membantu Waras merengkuh kelelakiannya, terutama di dalam urusan ranjang (AT, 225). “Saru dan ora ilok,” kata Waras (AT, 223). Srintil adalah perempuan sepenuh-penuhnya dan sebagai perempuan dia merasa amat dirugikan ketika menghadapi ketiadaan lelaki (AT, 223) entah itu ketidakmampuan Waras merengkuh kelelakiannya ataupun ketidakhadiran lelaki yang dicintainya, Rasus.

Meskipun Srintil adalah ronggeng yang tenar, dia tetaplah warga Dukuh Paruk yang lugu. Tanpa disadarinya dia terlibat di dalam pergolakan politik pada tahun 1965. Dia terlibat di dalam agitasi dan propaganda politik sebuah partai. Karier kesenimanannya, kalau boleh disebut demikian, ditunggangi oleh kepentingan politik. Kesenian Ronggeng yang lugu dan tidak memiliki tendensi apa-apa kecuali kesenangan semalam dan birahi itu tanpa dimengerti oleh Srintil dan rombongan ronggengnya diberi cap kesenian rakyat (AT, 190), bahkan Srintil sendiri dijuluki “ronggeng rakyat” (AT, 232). Keterlibatannya di dalam pergerakan politik partai itu, walaupun tanpa disadarinya, melarutkan Srintil dan segenap warga Dukuh Paruk di dalam geger besar 1965 yang menjadi luka batin berselimutkan tabir gelap bagi Bangsa Indonesia. Kemanusiaan sama sekali diinjak-injak di dalam pergolakan politik itu. Keperempuanan Srintil kembali kelu di bawah gelombang politik dan dinginnya penjara.

Perempuan Srintil di dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Perempuan Srintil di dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
-Yohanes Padmo Adi Nugroho-


Ronggeng Dukuh Paruk – Catatan Buat Emak (buku I) menceritakan perjalanan seorang ronggeng bernama Srintil. Novel itu meriwayatkan bagaimana Srintil kecil bisa menjadi ronggeng yang tenar. Gadis kecil itu harus melewati bermacam ritual dan syarat untuk bisa menjadi ronggeng. Bahkan, sejak kecil dia telah didaulat bahkan oleh kakeknya sendiri dan segenap tetangganya sedukuh untuk menjadi semacam sundal legal yang anehnya justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi para warga Dukuh Paruk. Namun, itu tidak tanpa bayar. Srintil harus merelakan cintanya, Rasus yang kepadanya dia tidak memungut sepeserpun uang untuk bercinta, karena karir seorang ronggeng akan tamat setelah ronggeng itu hamil atau menikah.

Sebenarnya dari sudut pencerita bab pertama buku I itu memakai sudut pandang orang ketiga. Jadi, keperempuanan Srintil kecil yang masih sebelas tahun itu diceritakan berdasarkan perspektif yang tidak subyektif. Namun, semenjak bab kedua hingga keempat (terakhir) buku I itu pencerita memakai sudut pandang orang pertama. Maka, penggambaran keperempuanan menjadi sangat subyektif, khususnya berdasarkan perspektif subyek Rasus. Semenjak bab kedua itu penggambaran keperempuanan, khususnya atas Srintil, seakan hanya menjadi pelengkap penceritaan dinamika kehidupan Rasus yang adalah lelaki. Maka, perempuan, khususnya Srintil, di dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah perempuan berdasarkan perspektif lelaki sehingga kita tidak dapat mengharapkan penggambaran perempuan dari sudut pandang perempuan seperti di dalam Novel Susanna Tamaro – Pergilah ke mana Hati Membawamu (Va Dove Ti Porta Il Cuore).

Ahmad Tohari, sang pengarang, dengan perspektif orang pertama memakai tekhnik penulisan yang seperti penulisan buku harian sebagaimana yang dengan jelas digunakan Susanna Tamaro dalam “Pergilah ke mana Hati Membawamu”. Tokoh Rasus, semenjak bab II, digunakan Ahmad Tohari untuk menuturkan cerita dengan seakan-akan menulis sebuah jurnal harian. Pembaca digiring untuk memiliki imajinasi bahwa ketika Rasus menceritakannya/menulisnya, dia telah berada sangat jauh dari peristiwa itu. Kalimat “Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan,” (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta: Gramedia, 2003, 32); kalimat “Siapa pula yang akan menyalahkan Dower bila dia kelak berteriak-teriak bahwa dirinyalah yang telah mewisuda ronggeng Srintil,” (AT, 75); kalimat “Tahun 1960 wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman,” (AT, 90); kalimat “Kelak akan terbukti nasib mengubah kehidupanku secara ajaib,” (AT, 91) dan masih banyak kalimat lain membimbing pembaca memasuki dunia kenangan Rasus.

Di dalam dunia kenangan Rasus itu terdapat potongan-potongan gambar tentang perempuan. Perempuan pertama adalah Srintil kecil, gadis kecil teman bermain Rasus. Belum ada asmara di sana. Pembaca mendapatkan gambaran gadis Dukuh Paruk yang dapat bebas bermain bersama anak lelaki Dukuh Paruk dengan segala makian dan candaan cabul, tetapi sama sekali tidak mengarah kepada hubungan seks. Bagi Rasus yang telah tidak memiliki ibu, pelajaran seksualitas pertama membedakan lelaki dan perempuan justru terjadi ketika dia berinteraksi dengan Srintil. Gambaran perempuan perlahan-lahan didapatkan Rasus justru dalam diri gadis lugu Srintil dan bukan neneknya yang telah tua. Kerinduan akan sosok perempuan, dalam hal ini sosok emak, diproyeksikan Rasus kepada pribadi gadis cilik Srintil yang pada saat itu paling cantik di antara anak-anak gadis Dukuh Paruk lainnya. Sosok perempuan yang utuh, juga gambaran seorang ibu, bagi remaja lelaki seperti Rasus terbentuk dari perjumpaannya dengan seorang gadis remaja (ter-)cantik di Dukuh Paruk. Bahkan, saat pertama kali Rasus bercinta dengan Srintil, bukan gadis cantik itu yang dilihatnya, melainkan gambaran seorang perempuan yang selama ini mengisi khayalannya, emaknya.


Gambaran itu sebenarnya perlahan bergeser menjadi asmara semenjak percakapan Rasus dengan Warta pada halaman 62. Namun, menjadi benar-benar berubah pada bab keempat buku I ini ketika Rasus minggat ke Pasar Dawuan. Di sana dia mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang sosok perempuan. Perempuan (cantik) tidak hanya digambarkan seperti Srintil yang mampu mengundang birahi lelaki manapun yang melihat lenggok tubuhnya, tetapi bahkan juga digambarkan seperti perempuan saleh yang rajin sembahyang dan hanya mengizinkan tubuhnya disentuh oleh suaminya. Gambaran perempuan yang disebut emak juga tidak hanya di dapat dari sesosok cantik yang menjadi primadona, tetapi juga dapat ditemukan pada setiap perempuan, bahkan perempuan desa yang paling jelek atau tua sekalipun. Rasus pada halaman 106 sempat menyesal mengapa dia tidak sejak dulu mencari gambaran emak pada diri neneknya yang sudah tua itu, melainkan justru pada perempuan cantik yang menjadi ronggeng primadona itu. Gambaran emak yang diproyeksikan Rasus pada pribadi Srintil rusak setelah Srintil menjalani bukak-klambu dan resmi menjadi ronggeng. Pada bab keempat Rasus mulai berusaha menepis gambaran emak pada diri Srintil dan berusaha jujur bahwa dia menyukai ronggeng itu. Pada halaman 89 Rasus ingin bersaing secara terbuka dengan pria-pria lain untuk mendapatkan Srintil. Dia ingin mencari uang agar dapat meniduri Srintil.

Namun, perempuan memiliki perspektifnya sendiri. Ronggeng adalah juga perempuan yang wajar memiliki rasa cinta. Dia memang mengizinkan pria manapun yang mampu membayar tinggi untuk bercinta dengannya. Itu pekerjaannya sebagai ronggeng selain menari. Akan tetapi, dia akan rela bersetubuh dengan lelaki yang dicintainya secara cuma-cuma tanpa memungut sepeserpun uang. Berkali-kali ketika Srintil singgah di Pasar Dawuan, dia mengajak Rasus menyewa rumah atau tempat yang bisa dipakai untuk bercinta berdua tanpa Rasus harus mengeluarkan uang karena Srintil cinta kepadanya. Bahkan, sebagai perempuan, Srintil memiliki harapan bahwa Rasus akan menjadi suami dan ayah dari anak-anak mereka. Sebagai perempuan Srintil berharap dapat menikah dan memiliki anak dengan satu-satunya lelaki yang dicintainya, Rasus. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dengan lelaki yang dicintainya?

Novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah novel yang menceritakan riwayat seorang perempuan yang menjadi ronggeng, tetapi dari sudut pandang lelaki. Rasus berkali-kali menggambarkan sosok perempuan yang ada di dalam benaknya, bahkan berkali-kali menggambarkan siapa Srintil di matanya. Namun, pada suatu kesempatan perempuan dibiarkan berbicara dan bersaksi. Srintil dipersilakan membuktikan cintanya pada Rasus.

Merefleksikan Kembali Lembaga Perkawinan Terutama dalam Pandangan Katolik Pascakonsili Vatikan II

Merefleksikan Kembali Lembaga Perkawinan Terutama dalam Pandangan Katolik Pascakonsili Vatikan II
-Yohanes Padmo Adi Nugroho-

Pengantar
Perkawinan disadari memiliki dua dimensi. Dimensi yang pertama dari perkawinan adalah dimensi sosial sedangkan dimensi kedua dari perkawinan adalah dimensi personal. Ada kalanya dimensi yang satu lebih berat dibanding dimensi yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan sosial-budaya dan ideologi yang ada di dalam masyarakat. Ketika adat istiadat, agama, keluarga besar, sosial-masyarakat, bahkan negara begitu menentukan dan mengatur perkawinan, dimensi sosial lebih menonjol dari pada dimensi personal, bahkan bisa jadi dalam titik ekstrim dimensi personal begitu saja dengan mudah dikorbankan. Ketika individu personal lebih menonjol dan menganggap bahwa kawin atau tidak kawin adalah urusan pribadi, dimensi personal lebih menonjol, bahkan dalam titik ekstrim terjadi pemberontakan terhadap dimensi sosial dalam bentuk “kumpul kebo”.

Saya tertarik untuk merefleksikan kembali hakikat perkawinan dilihat dari dua dimensi tersebut, terutama melihat kembali pandangan Gereja Katolik pasca Konsili Vatikan II mengenai hakikat perkawinan. Pada umumnya tarik-ulur kedua dimensi tersebut bersifat dinamis mengikuti perkembangan masyarakat pada bidang-bidang yang lain. Pada suatu masa perkawinan menjadi sangat legalistis. Di masa yang lain lembaga perkawinan mengalami krisis. Krisis ini pada sekitar abad IV disebabkan oleh pandangan negatif terhadap hidup perkawinan dalam kaitanya dengan persanggamaan, dilawankan dengan pandangan akan kekudusan hidup selibat (perawan). Dewasa ini lembaga perkawinan dipertanyakan lagi. Meskipun seorang lelaki setia menjalani hidup bersama dengan seorang perempuan, sering kali mereka enggan “meresmikan” hubungan mereka di dalam lembaga perkawinan. Dari pada melulu kawin-cerai, lebih baik setia pada pasangan yang sama walau tanpa diresmikan. Lembaga perkawinan kembali mengalami krisis.

Definisi Perkawinan
Perkawinan pada umumnya menggambarkan realita manusiawi kehidupan bersama lelaki dan perempuan oleh karena sebuah ikatan yang membenarkan mereka untuk tidur bersama, bersanggama, dan memiliki anak bersama. Perkawinan memberi mereka ruang untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama-sama. Perkawinan menjadi lembaga yang menegaskan, mengesahkan, dan melegalkan ikatan manusiawi lelaki-perempuan. Perkawinan memiliki dua dimensi: sosial dan personal. Perkawinan dengan dimensi sosial lebih kuat dibandingkan dimensi personal, cinta antarpribadi tidak pernah dijadikan titik tolak dan alasan. Tidak pernah ada hukum perkawinan, baik itu hukum sipil, hukum adat, maupun hukum agama, yang mengatur perkawinan berdasarkan cinta. Cinta hanya diandaikan. Sedangkan di dalam perkawinan dengan dimensi personal lebih kuat dari pada dimensi sosial, cinta (amor, eros) sangat berperan; seseorang akan keberatan menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Eros atau amor adalah suatu daya tarik hampir tak tertahankan yang secara spontan, tidak dicari-cari orang, dialami dan yang menarik diri orang kepada seseorang (atau sesuatu) begitu rupa, sehingga, orang ingin menyatu dengannya. Namun, eros pada dirinya sendiri tidak eksklusif, sehingga dapat merangkul berbagai orang (obyek). Eros (cinta-birahi) perlu dibedakan dengan agape (cinta-kasih). Agape adalah daya pada diri orang itu sendiri yang mendorong dirinya untuk melepas dan mengosongkan dirinya, meskipun yang lain tidak menarik secara spontan. Maka, agape dapat sepihak; walau hendak menyatu dengan yang dikasihi, dia tidak memasang syarat bahwa yang lain pun mau menyatu. Walau hakikatnya berbeda, eros dan agape tidak saling bertolak belakang. Walau agape tidak tergantung pada eros, agape dapat menemukan realisasinya di dalam eros.

Cinta Sebagai Dasar Perkawinan
Cinta sebenarnya lebih rumit dari pada sekadar dikotomi eros-agape. Seorang lelaki dan seorang perempuan untuk dapat memutuskan melangkah masuk ke dalam lembaga perkawinan harus memahami sedalam apa kualitas cinta mereka satu dengan yang lain. Kualitas cinta itu bertahap. Tahap-tahap inilah yang membedakan macam-macam kualitas cinta. Salah satu kualitas cinta disebut ludus, yaitu cinta sebagai permainan. Seorang perempuan menyukai lelaki yang suka membuat puisi; dia menyukai lelaki itu yang berperan sebagai seorang lelaki romantis-puitis. Sang perempuan dimabuk kepayang atau mengalami infatuasi oleh karena peran tersebut. Cinta ludus tidak akan bertahan karena kepribadian seseorang mungkin akan sangat berlainan dengan peran/topeng/kesan pertama yang dia mainkan.

Cinta ludus akan lenyap ketika tidak dikembangkan ke arah yang lebih serius. Pematangan cinta ini tidak secara instan dan serta-merta, tetapi membutuhkan proses. Proses ini tak lain adalah proses mengenal, memahami, dan menerima pasangan yang dicintai. Dewasa ini, proses ini dikenal dengan proses “pacaran”. Setiap pasangan memiliki proses masing-masing sehingga wajar ada pasangan yang telah berpacaran selama bertahun-tahun belum juga menikah; ada yang walau setelah pacaran lama, akhirnya putus; ada yang baru pacaran sebentar sudah berani menikah. Cinta adalah voluntas, sebuah kehendak yang akan menggerakkan seluruh kemanusiaan. Aku mencintai seseorang, berarti aku akan melakukan apa saja untuk membuat dia bahagia, melakukan apa saja hanya untuk dia. Namun, itu bukan berarti aku menihilkan kemanusiaanku. Justru cinta (dalam perspektif hubungan lelaki-perempuan) merupakan sebuah dialog terus-menerus antara dua subyek yang otonom. Dalam dialog intersubyektif itu, lelaki-perempuan yang saling mencintai berproses mematangkan cinta. Kierkegaard menggambarkan cinta dialogis ini tidak terjadi secara nikmat melulu, melainkan justru dialami juga dengan penuh luka dan rasa sakit.

Cinta memang adalah nilai tertinggi yang patut diperjuangkan dan tidaklah mudah untuk mendapatkan sebuah nilai tertinggi, perlu pengorbanan di sana. Tentu pengorbanan itu menghasilkan luka. Namun, lebih dari pada luka itu, sepasang kekasih itu akan menemukan kebahagiaan sejati ketika mereka berhasil mengenal, memahami, dan menerima pasangan mereka, bahkan dapat hidup bersama dengan pasangan tersebut. Dinamika mencintai dan dicintai ini akan mendewasakan lelaki-perempuan sehingga merasa mantab untuk melegalkan cinta mereka di dalam lembaga perkawinan. Seberapa dalam cinta itu, apakah hanya ludus atau sebuah agape yang berani mengorbankan diri demi kekasih, memang sangat berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan pribadi seseorang. Itulah mengapa di dalam hukum terdapat batasan usia menikah, usia di mana diandaikan lelaki dan perempuan sudah cukup dewasa untuk saling bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan pasangan masing-masing. Pada umumnya, ludus dialami oleh para remaja. Kita mengenalnya di dalam fenomena “cinta monyet”. Seiring beranjak dewasa seseorang, dia akan belajar lebih tentang cinta, bagaimana dicintai dan bagaimana mencintai, tidak semata-mata naksir atau ngefans belaka.

Cinta antara lelaki dengan perempuan itu unik, bahkan ekslusif. Cinta lelaki-perempuan itu berbeda dengan cinta orang tua kepada anaknya. Plato dan Aristoteles membedakan cinta orang tua, anak, dan persahabatan (philia) dengan cinta lelaki-perempuan (eros). Philia tidak memiliki dan tidak perlu memiliki komponen seksual, bahkan dimengerti sama sekali tidak melibatkan keinginan seksual. Sedangkan eros lebih menggambarkan hubungan antarpribadi yang melibatkan keinginan seksual. Eros dialami sebagai daya yang menarik seseorang mendekat kepada dan bersatu dengan obyek tertentu. Jika obyek itu adalah seorang pribadi manusia, daya yang menarik seseorang untuk mendekat kepada dan bersatu dengannya tak lain adalah keinginan seksual. Disadari atau tidak, hal ini nyata di dalam ketertarikan seseorang kepada orang tertentu berdasarkan sex appeal-nya (daya tarik seksualnya). Psikolog evolusioner, Devendra Singh, dari Universitas Texas di Austin, USA, menyimpulkan bahwa lelaki akan terpikat pada bentuk tubuh perempuan yang memiliki proporsi lingkar pinggang dan lingkar pinggul sebesar 7:10 sebab di alam bawah sadar lelaki proporsi itu seksi walaupun berat badan perempuan-perempuan itu berbeda-beda. Antropolog-Biolog dari Universitas Harvard, Grazyna Jasienska, menyimpulkan lebih lanjut bahwa ketertarikan akan figur seksi itu berkaitan erat dengan hasrat bawah sadar lelaki akan keturunan sebab perempuan dengan proporsi semacam itu memiliki kemungkinan menghasilakn keturunan tiga kali lebih besar. Lelaki dan perempuan memiliki kemampuan untuk mencinta yang mengalir dan menguasai tubuh mereka. Manusia mencintai juga dengan tubuhnya (seksualitasnya). Dengan tubuhnya lelaki-perempuan yang saling mencintai ingin saling memberikan diri dengan bebas (free), sepenuh-penuhnya (total), setia (faithful), dan berbuah (fruitful). Cinta lelaki-perempuan yang melibatkan keinginan seksual inilah yang mendorong lelaki dan perempuan untuk meresmikan dan melegalkannya di dalam lembaga perkawinan.

Unsur cinta lelaki-perempuan inilah yang sebenarnya memisahkan dua dimensi lembaga perkawinan. Dimensi yang satu menekankan cinta lelaki-perempuan (sepasang kekasih) sebagai dasar dan alasan kuat mengapa lelaki dan perempuan bersatu secara legal di dalam lembaga perkawinan. Sedangkan, dimensi yang lain menihilkan unsur cinta ini. Lembaga perkawinan semata lembaga sosial masyarakat. Orang dapat menikah bahkan tanpa cinta.

Perkawinan Sebagai Lembaga
Lembaga Perkawinan ialah seberkas aturan yang ditentukan masyarakat yang bersangkutan dan mereka yang mesti menghayati seksualitasnya dalam rangka lembaga itu. Bukan lelaki-perempuan yang kawin yang menentukan aturan-aturan di dalam lembaga perkawinan, melainkan justru masyarakat dalam waktu dan keadaan tertentu yang menentukannya. Masyarakat itu dapat dalam arti sempit (keluarga besar) hingga dapat dalam arti luas (negara). Lelaki-perempuan yang kawin tak dapat berbuat apa-apa selain menerima semua aturan dalam lembaga perkawinan itu. Namun, sebagai imbalannya, lelaki-perempuan yang kawin dapat dengan bebas menghayati seksualitasnya.

Jelas, lembaga perkawinan tak lain adalah segala aturan, hukum, norma yang ada di dalam suatu keadaan sosial tertentu yang melegitimasi hubungan lelaki-perempuan termasuk hubungan seksual. Segala aturan, hukum, norma itu berbeda antara tradisi yang satu dengan tradisi yang lain, berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lain, berbeda antara agama yang satu dengan agama yang lain. Ada masyarakat yang dapat menerima lelaki kawin dengan banyak perempuan, ada juga yang dapat menerima perempuan kawin dengan banyak lelaki. Namun, ada pula yang menentangnya dan mengharuskan perkawinan itu hanya antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Ada masyarakat yang dapat menerima perceraian, ada pula masyarakat yang tidak menghendaki perceraian suami-istri bahkan di dalam keadaan tersulit sekalipun.

Di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam jenis lembaga perkawinan menurut adat-tradisi dan agama. Semua jenis lembaga itu dipayungi oleh UU tahun 1974/1975. UU Perkawinan No. 1/1974 I pasal 1 menyatakan bahwa hakikat dan tujuan perkawinan adalah ikatan lahir-batin antara seorang lelaki dan seorang perempuan sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. UU Perkawinan No. 1/1974 I pasal 3 menyatakan bahwa perkawinan hanya terjadi antara seorang lelaki dan seorang perempuan saja. Perkawinan yang dianggap sah menurut hukum sipil Indonesia adalah perkawinan yang sah menurut agama dan kepercayaan masing-masing orang. UU Perkawinan No. 1/1974 pasal 2 $1 menyatakan bahwa perkawinan hanya sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaannya. Indonesia (hanya) mengakui enam agama. Dari keenam agama itu setidaknya ada dua agama yang memiliki aturan hukum perkawinan yang jelas, yaitu Islam dengan Syariat Islam dan Kristen Katolik Roma dengan Codex Iuris Canonici. UU Perkawinan itu sebenarnya menimbulkan berbagai masalah terutama bila lelaki-perempuan yang hendak menikah tidak memiliki agama/kepercayaan yang sama. Namun, perkawinan adat bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat adat di luar Pulau Jawa, sebenarnya jauh lebih penting dari pada perkawinan religius. Upacara perkawinan di Gereja atau di Masjid hanya artifisial saja.

Hukum Perkawinan yang dibuat oleh negara memang bisa dijadikan pedoman moral. Akan tetapi, Hukum Perkawinan yang dibuat oleh negara yang memiliki warga negara majemuk juga dalam hal agama seperti Indonesia bukanlah satu-satunya pedoman moral. Bahkan, Hukum Perkawinan dibuat terutama bukan sebagai persetujuan moral sama sekali. Hukum itu dibuat untuk mengatur hidup bersama yang lebih terkontrol di seluruh wilayah Indonesia. Maka, bisa terjadi Hukum Perkawinan yang dibuat oleh negara bertentangan dengan Hukum Perkawinan yang ada pada agama. Biasanya pertentangan ini terjadi antara Hukum Perkawinan negara dengan Hukum Perkawinan agama minoritas karena Hukum Negara yang seragam dan tegas itu tentu dipengaruhi oleh suara mayoritas. Walaupun negara pada prakteknya mengizinkan perceraian dan poligami, misalnya, tentu hal ini langsung bertentangan dengan moral dan hukum perkawinan Kristen (Katolik Roma) yang menjunjung tinggi monogam-tak terceraikan.

Bagi masyarakat Indonesia, baik masyarakat adat maupun masyarakat perkotaan modern, perkawinan (masih) menjadi peristiwa penting, bukan hanya bagi mereka yang menikah, melainkan terutama juga bagi seluruh kelompok yang bersangkutan (keluarga, komunitas, lingkungan sosial). Perkawinan di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa, bukan terutama perkara lelaki-perempuan yang menikah, melainkan suatu perkara dua kelompok sosial (keluarga, kelompok, suku, kelas). Masalah cinta lelaki-perempuan yang menikah hanya diandaikan saja, bahkan tidak dianggap sama sekali.

Di Indonesia dewasa ini, walau perkawinan berdasarkan cinta bebas antar individu semakin dijunjung tinggi di berbagai kota besar, masih dapat kita temui seorang lelaki yang dijodohkan oleh keluarga, marga, atau klannya dengan seorang perempuan dari keluarga, marga, klan yang bersahabat dengan keluarga, marga, klan sang lelaki. Lelaki dan perempuan ini belum pernah bertemu sebelumnya, belum pernah pacaran sebelumnya. Keluarga, marga, klan yang menjodohkan mereka memang berharap pasangan itu dapat saling cocok dan langgeng, walau mereka yang menjodohkan itu tidak begitu menghiraukan masalah cinta. Bagi keluarga, marga, klan yang menjodohkan kedua pasangan itu persatuan cinta lelaki-perempuan itu bukanlah masalah utama dan pertama; cinta hanya diandaikan saja, bahkan bisa jadi tidak dianggap sama sekali. Perkawinan harus mendukung kedudukan sosial dan ekonomis keluarga, marga, klan yang bersangkutan. Motivasi utama perkawinan adalah etnis sosio-ekonomis , bahkan religius. Bagi masyarakat Indonesia pada umunya, seperti yang lestari dalam adat-istiadat, jika aku cinta kamu, kamu milikku. Aku ‘membeli’ kamu dengan mas kawin (istilah Jawa asok tukon, tukon dari kata tuku yang berarti membeli). Bahkan, dalam salah satu agama di Indonesia, cinta tidak penting dalam membina rumah tangga. Aku suka kamu maka aku akan melamar kamu, tidak peduli kita saling mengenal dan saling mencinta atau tidak. Kalau kamu menolakku, kamu telah berdosa. Dengan menikah aku akan menerimamu apa adanya, begitu juga kamu, atau kita bercerai. Dan, seiring berjalannya waktu, pasti akan tumbuh cinta. Hal tersebut di atas jangan terlalu cepat dianggap sebagai “kawin paksa” sebab dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di daerah, rasa kesetiakawanan di dalam kelompok sosial jauh lebih kuat dari pada rasa sebagai individu. Menurut dan membiarkan masalah perkawinan diatur oleh keluarga (besar) masih merupakan hal yang wajar.




Perkawinan menurut Pandangan Katolik Pascakonsili Vatikan II
Gereja Katolik memandang perkawinan sebagai sebuah ikatan lahir-batin antara seorang lelaki dan seorang perempuan dengan tujuan unitif (persatuan cinta di dalam keluarga), prokreatif (terbuka terhadap keturunan/anak dan kesejahteraannya), membangun hidup kekerabatan yang bahagia dan sejahtera. Perkawinan merupakan lembaga yang unik karena di dalam perkawinan terdapat perjanjian (feodus) kontrak yang eksklusif antara lelaki-perempuan untuk membentuk suatu persekutuan (consortium) seluruh hidup dan tak terceraikan terkecuali oleh kematian. Kanon 1055 $1 menyatakan bahwa Perjanjian (feodus) perkawinan, dengannya seorang lelaki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen. Sedangkan, Kanon 1056 menyatakan bahwa ciri-ciri hakiki (proprietates) perkawinan ialah unitas (kesatuan) dan indissolubilitas (sifat tak-dapat-diputuskan), yang dalam perkawinan kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen. Selain itu, eksklusivitas perkawinan nampak di dalam keintiman hubungan seksual yang dilegalkan di dalam lembaga itu.

Perkawinan bagi Gereja Katolik merupakan sakramen. Suami-istri saling menerimakan Sakramen Perkawinan. Suami-istri saling membentuk persekutuan hidup (communio personarum). Dengan Sakramen Perkawinan suami-istri Katolik menandakan misteri kesatuan dan cinta-kasih yang subur antara Kristus dan Gereja dan ikut serta menghayati misteri tersebut. Di dalam perkawinan suami-istri diutus secara unik untuk ambil bagian di dalam tugas perutusan Gereja, mewartakan Kerajaan Allah. Lelaki dan perempuan dipanggil melalui cinta-kasih yang tumbuh di antara mereka untuk menjadi saksi cinta-kasih Allah sendiri melalui lembaga perkawinan yang di dalamnya cinta-kasih mereka dilegalkan dan disahkan. Maka, setiap lelaki dan perempuan harus meyakinkan diri mereka sendiri apakah mereka dipanggil untuk hidup perawan atau berbagi hidup dengan pasangan yang dicintai dan mencintainya di dalam lembaga perkawinan.

Di dalam Gaudium et Spes – GS 48 Gereja mengajarkan bahwa perkawinan adalah persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami-istri yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya, dibangun oleh perjanjian perkawinan yang tak dapat ditarik kembali. Tindakan manusiawi itu mendapat keteguhannya di dalam masyarakat berdasarkan ketetapan ilahi. Ikatan suci itu tidak semata-mata tergantung dari kemauan manusiawi lelaki-perempuan semata, tetapi justru Allah sendirilah Pencipta perkawinan, yang mencakup berbagai nilai dan tujuan. Allah sendiri yang memanggil seorang lelaki dan seorang perempuan untuk saling mencintai dan mengukuhkan cinta-kasih mereka di dalam perkawinan. Maka, hendaknya lelaki dan perempuan yang saling mencintai membentuk sebuah keluarga dengan mengesahkan persatuan cinta mereka di dalam perkawinan, bukan sekadar “kumpul kebo”, karena persatuan itu tidaklah semata tindakan manusiawi, melainkan karya Allah.

Gaudium et Spes – GS 48 juga menggambarkan perkawinan sebagai suatu persatuan mesra, sebagai suatu tindakan saling menyerahkan diri antara dua pribadi. Penyerahan diri itu, juga kesejahteraan anak-anak, menuntut kesetiaan suami-istri yang sepenuhnya, dan menjadikan tidak terceraikannya kesatuan mereka mutlak perlu. Gaudium et Spes – GS 49 menerangkan bahwa sering kali para mempelai dan suami-istri diundang oleh sabda ilahi untuk memelihara dan memupuk janji setia mereka dengan cinta yang murni dan perkawinan mereka dengan kasih yang tak terbagi. Gereja mengakui dan menghargai cinta-kasih antara seorang lelaki dengan seorang perempuan sebagaimana orang-orang zaman sekarang menghargai cinta-kasih itu yang diungkapkan menurut adat-istiadat para bangsa dan kebiasaan zaman yang terhormat. Gereja juga menerangkan bahwa cinta-kasih itu, karena sifatnya sungguh sangat manusiawi, dan atas gairah kehendak dari pribadi menuju kepada pribadi, mencakup kesejahteraan seluruh pribadi; maka mampu juga memperkaya ungkapan-ungkapan jiwa maupun raga dengan keluhuran yang khas, serta mempermuliakannya sebagai unsur-unsur dan tanda-tanda istimewa persahabatan suami istri. Cinta-kasih suami-istri itu semakin sempurna dan berkembang karena kemurahan hati yang rela berjerih-payah. Oleh karena itu jauh lebih unggul dari rasa tertarik yang erotis melulu, yang ditumbuhkan di dalam cinta diri, dan menghilang dengan cepat dan amat menyedihkan. Maka, sebelum seorang lelaki dan seorang perempuan meresmikan hubungan mereka di dalam lembaga perkawinan, hendaknya mereka mengembangkan dan mematangkan cinta di antara mereka terlebih dulu sehingga cinta itu bukan melulu ludus atau eros yang meledak-ledak, bukan melulu ketertarikan (sesaat) kepada sex-appeal pasangan, bukan juga merupakan cinta yang senantiasa haus dan meminta yang terbit dari egosentrisme dan rasa posesif, melainkan merupakan agape yang tenang dan rela berkorban demi kebahagiaan yang dicintai, sebuah voluntas untuk memberi dan berbagi seluruh hidup dan kemanusiaan bersama pasangan.

Paus Yohanes Paulus II di dalam Seruan Apostolik “Familiaris Consortio” menyerukan bahwa baik manusia itu dipanggil untuk hidup perawan maupun dipanggil untuk menikah, manusia diciptakan karena cinta dan diutus untuk mencinta. Secara khusus lelaki-perempuan yang dipanggil untuk menikah harus saling mencintai pasangan mereka masing-masing secara penuh baik secara jasmaniah maupun batiniah. Sejak Konsili Vatikan II cinta sebagai dasar dan alasan menikah semakin mendapat perhatian walaupun Kitab Hukum Kanonik tidak mengaturnya dan hanya mengandaikannya. Dimensi personal perkawinan semakin diangkat dan dihargai. Cinta bukan lagi sekadar pelengkap di dalam perkawinan, tetapi justru menjadi unsur utama yang membangunnya. Bahkan, cinta lelaki-perempuan menjadi lambang cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa cinta suami-istri merupakan ungkapan dan perwujudan cinta antara Allah dan umat-Nya, perjanjian kasih yang setia. Maka, ketidaksetiaan suami-istri tidak cocok dengan hakikatnya sebagai simbol kesetiaan cinta Allah.

Perayaan Cinta
Oleh karena perkawinan dibangun dengan unsur utama cinta-kasih, perkawinan dapat dikatakan sebagai suatu perayaan cinta. Perayaan ini dimulai pada saat upacara perkawinan (wedding) dan diakhiri pada saat salah satu dari keduanya meninggal (karena Gereja Katolik tidak menghendaki perceraian). Perayaan ini mendapatkan wujud legalnya di dalam Perkawinan Kanonik (perkawinan ratum) dan mendapatkan wujud sakralnya di dalam persetubuhan suami-istri (perkawinan consummatum). Di dalam perkawinan yang ratum et consummatum, cinta benar-benar menyatukan jiwa-badan suami-istri secara utuh baik secara legal maupun personal.

Perayaan cinta ini tidak hanya melibatkan lelaki dan perempuan yang saling mencintai. Di dalam Gereja Katolik setidaknya perayaan ini melibatkan pula dua saksi dan seorang imam. Dua saksi mewakili Gereja dan masyarakat dan imam mewakili Allah. Ikut terlibatnya Allah di dalam perayaan cinta ini mengangkat apa yang manusiawi menjadi kudus di hadapan Allah dan sakramen. Bersatunya sorang lelaki dan seorang perempuan oleh karena cinta tidak hanya membahagiakan dua mempelai yang bersangkutan, tetapi juga mendatangkan suka cita bagi Allah. Di dalam perayaan cinta lelaki-perempuan itu cinta dan rahmat Allah dinyatakan dan dimanifestasikan ke tengah-tengah dunia. Paus Yohanes Paulus II di dalam “Familiaris Consortio” menyerukan bahwa perkawinan antara dua orang yang dibaptis merupakan simbol nyata dari Perjanjian Baru dan kekal antara Kristus dan Gereja, merupakan sakramen, peristiwa keselamatan; cinta mereka berciri menyatukan jiwa-badan, tak terceraikan, setia, terbuka bagi keturunan.

Dari perayaan cinta itu diharapkan hubungan lelaki-perempuan menjadi hubungan bonum coniugum sehingga lingkungan keluarga yang baik tercipta supaya anak yang lahir dari hubungan itu mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan mendapatkan pendidikan. Keluarga adalah komunitas pertama dan asal mula keberadaan setiap manusia dan merupakan “persekutuan pribadi-pribadi” (communio personarum) yang hidupnya berdasarkan dan bersumber pada cinta-kasih. Di dalam komunitas pertama itu diharapkan cinta kasih Allah termanifestasi. Paus Yohanes Paulus II mengatakan di dalam “Familiaris Consortio” bahwa perkawinan, sebagai lembaga, dan cinta suami-istri terarah kepada kelahiran dan pendidikan anak. Orang tua harus menjadi tanda yang tampak dari cinta Bapa. Sedangkan mereka yang tak punya anak dapat berbuat sosial dengan adopsi, membantu keluarga lain, anak-anak cacat, dan sebagainya. Dunia yang baik, negara yang baik, sosial-masyrakat yang baik takkan pernah ada jika orang-orang yang membangun dan membentuknya tidak baik. Orang-orang yang baik pada umumnya berasal dari keluarga yang baik. Keluarga yang baik berawal dari perkawinan yang penuh dengan cinta kasih. Perkawinan yang penuh dengan cinta kasih dimanifestasikan oleh orang-orang yang benar-benar terpanggil untuk hidup berkeluarga.

Panggilan hidup manusia itu beragam. Banyak dan pada umumnya manusia terpanggil untuk hidup berkeluarga, akan tetapi tidak menutup kenyataan bahwa ada pula manusia yang terpanggil untuk hidup secara lain, hidup tanpa menikah (selibat). Maka, tiap-tiap orang perlu mencari dengan jujur kehendak Tuhan atas diri mereka: apakah Tuhan memanggil untuk menikah atau tidak. Jawaban atas pertanyaan itu harus dicari dengan jujur, yakni dengan meneliti kemampuan sendiri untuk memenuhi tuntutan-tuntutan moral yang termuat di dalam jenis-jenis panggilan hidup tersebut. Perkawinan bukanlah satu-satunya bentuk perayaan cinta sebab orang yang selibat dapat merayakan cinta dengan cara lain yang khas bagi panggilan hidup selibat.

Perayaan cinta yang paling dangkal tetapi justru paling mutlak bagi mereka yang terpanggil untuk hidup berkeluarga adalah hubungan seksual. Seseorang yang tidak mampu sama sekali untuk melakukan hubungan seksual (impoten), baik karena alasan fisik maupun psikis (trauma misalnya), harus menyadari bahwa keadaannya itu layak ditafsirkan sebagai tanda bahwa dia tidak dipanggil untuk menikah, sebab pernikahan bukanlah semata-mata janji untuk menjadi sahabat atau teman seumur hidup, melainkan juga janji untuk memberikan diri seluruhnya dan seutuhnya kepada pasangan, termasuk pula hak atas hubungan seksual. Terlebih lagi, perkawinan harus terbuka terhadap hadirnya keturunan (anak). Maka, mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual, dengan segala hormat, hendaknya juga tidak kawin juga dengan sesama jenis. Jika mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual memaksa diri untuk kawin dengan lain jenis, belum tentu perasaan mereka bahagia. Jika mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual kawin dengan sesama jenis, apakah hubungan seksual di antara keduanya (entah apakah hubungan kelamin mereka dapat dikatakan hubungan seksual atau tidak) dapat terbuka akan hadirnya keturunan? Biarlah mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual membahagiakan diri dan pasangan dalam lembaga persahabatan yang berbeda dari lembaga perkawinan. Hubungan seksual yang terbuka akan hadirnya keturunan, individu baru, adalah hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Gereja Katolik sendiri hanya menghendaki cara yang natural dan wajar dalam menghadirkan keturunan, yakni hubungan seksual.

Hubungan seksual tidak sekadar menyangkut alat kelamin, melainkan juga perasaan, kemauan, dan pikiran , bahkan segenap kemanusiaan termasuk religiusitas. Hubungan seksual sendiri selain menajdi sarana untuk terbuka terhadap keturunan, juga dapat menjadi sarana rekreasi bagi suami dan istri sehingga perkawinan mereka lebih membahagiakan. Hubungan seksual yang berkualitas antara suami dan istri dapat menjadi sumber kebahagiaan perkawinan bahkan dapat membantu suami-istri untuk lebih dekat dengan Tuhan. Seksualitas bukanlah sesuatu yang harus membawa lelaki-perempuan terpisah dari Tuhan. Sebuah temuan dari neurosains memberi kita pemahaman baru mengenai hal ini. Bagian otak yang bernama right temporal lobe (lobus temporal kanan) merupakan bagian yang diasosiasikan dengan orgasme dan pengalaman Ketuhanan. Perayaan cinta dalam bentuk hubungan seksual dapat pula mengantarkan suami-istri kepada pengalaman Ketuhanan.

Berangkat dari persekutuan fisik yang dimanifestasikan di dalam hubungan seksual dan persekutuan yang lain (harta benda bersama, kepemilikan rumah, dll.) suami-istri dapat maju kepada persekutuan yang lebih mendalam, yaitu persekutuan mental dan spiritual. Persekutuan mental meliputi penyesuaian akal, perasaan, dan kehendak. Karena kodrat mereka sebagai lelaki dan perempuan berbeda, suami dan istri mengalami perbedaan cara berpikir, cara merasakan, dan cara menghendaki seusatu. Maka, suami-istri, bahkan semenjak mereka berpacaran, harus selalu berusaha bersekutu juga di bidang-bidang mental itu. Usaha persekutuan itu diwujudkan di dalam dialog mental seperti tenggang rasa, peka terhadap reaksi partner, dan membiasakan diri membicarakan keinginan-keinginan bersama secara terus terang. Suami dan istri diharap semakin titen terhadap pasangan masing-masing sehingga semakin hari semakin mampu memahami dan menerima pasangan tersebut.

Persekutuan spiritual akan lebih mudah dicapai apabila suami-istri memeluk agama yang sama dan memiliki kedalaman iman yang tak jauh berbeda. Dalam keadaan itu mereka dapat secara lebih mudah berbagi pengalaman Ketuhanan bersama. Berbagi pengalaman Ketuhanan bersama akan lebih sulit apabila suami dan istri memeluk agama yang berbeda atau, walaupun secara resmi memeluk agama yang sama, mereka menghayatinya dengan kedalaman yang berbeda. Namun, dalam keadaan berbeda agama, suami-istri masih mungkin untuk berbagi pengalaman Ketuhanan bersama dengan susah payah. Tenggang rasa, toleransi, membiasakan diri, bahkan kehendak untuk menerima dan hidup bersama apa adanya menjadi kunci. Pengalaman Ketuhanan secara mistis yang biasanya membahas cinta-kasih (ilahi) dan manunggaling kawula Gusti dapat melampaui perbedaan agama mereka.

Kesimpulan
Masyarakat modern semakin sadar akan pentingnya cinta di dalam membangun perkawinan. Perkawinan tidak hanya dipandang sebagai lembaga sosial-religius yang melegalkan dan menghalalkan hubungan seksual atau mengesahkan anak, melainkan juga dan terutama sebagai persekutuan hidup pria dan wanita yang berdasarkan dan terarah kepada cinta. Perkawinan merupakan salah satu manifestasi perayaan cinta.

Sebagai suatu manifestasi perayaan cinta, perkawinan tidak hanya melibatkan lelaki dan perempuan yang menikah secara individu-personal, tetapi juga melibatkan masyarakat. Masyarakat di sini dapat berarti masyarakat dalam arti luas (sosial) maupun juga dapat berarti khusus (keluarga atau klan). Sebab, walau cinta personal antarpribadi yang menikah semakin mendapatkan tempat di dalam masyarakat modern, efek dari perkawinan itu selalu menyangkut pula masyarakat sekitar. Lelaki dan perempuan yang menikah mendapatkan status baru di dalam masyarakat dan mereka membangun keluarga yang menjadi komunitas pertama di dalam masyarakat. Maka, sudah layak dan sepantasnya cinta personal antarpribadi itu juga dirayakan bersama masyarakat (komunitas, keluarga, klan), tetapi bukan berarti harus menjadi suatu pesta pora yang mahal dan boros.

Peristiwa perayaan cinta yang manusiawi itu tidak hanya melulu manusiawi, tetapi juga kudus karena dengan bersatunya cinta lelaki-perempuan itu, mereka di antar ke pada persatuan mesra dengan cinta Allah sendiri. Cinta-kasih lelaki-perempuan yang manusiawi itu menggambarkan cinta-kasih Allah kepada umat-Nya. Allah hadir di dalam peristiwa perayaan cinta yang manusiawi tersebut dan mengangkatnya sebagai sebuah sakramen. Maka, sebuah peristiwa perayaan cinta kasih yang manusiawi itu pun merupakan peristiwa keselamatan karena cinta-kasih dan rahmat Allah mengalir melaluinya.


Daftar Pustaka
Dewi, Saras, Cinta Bukan Cokelat, Yogyakarta: Kanisius, 2009
Groenen, C., Perkawinan Sakramental, Yogyakarta, Kanisius, 1993
Konferensi Waligereja Indonesia, Pedoman Pastoral Keluarga, Jakarta: Obor, 2011
Padmo Adi Nugroho, Yohanes, dkk., Sleepless in Seattle, Sebuah Diskusi, paper tidak diterbitkan, 2010
Padmo Adi Nugroho, Yohanes, Tentang Cinta, paper tidak diterbitkan, 2010
Purwa Hadiwardoyo, Al., Moral dan Masalahnya, Yogyakarta: Kanisius, 2010
Purwa Hadiwardoyo, Al., Perkawinan dalam Tradisi Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Ramadhani, Deshi, Adam Harus Bicara, Yogyakarta: Kanisius, 2010
Santas, Gerasimos, Plato dan Freud, Dua Teori tentang Cinta, terj. Indonesia, Maumere: LPBAJ, 2002

Sex and Sexuality

Sex and Sexuality

Everybody is sexual. Humanity is sexual. Everybody manifests themselves sexually as man or as woman. How one gets dress, how one has hair cut, how one shows the style, how one talks, how one walks, how one lives the life are the part of their sexuality. Whether one is adult or not depends on how mature their sexuality is. We have to understand that sexuality is not just about sex. Sex is just a part of sexuality.

Nevertheless, how one does sex is a manifestation of their sexuality indeed. Whether they’re celibate or not, whether they’re straight or not, and so on. Everybody is sexual, but not everyone does sex. There are people who don’t do sex because they are celibate or they have promised not to do, or even they can’t do for their incapability. And most people do it. Some don’t do sex for celibate or promise/vow in order to get closer to God and other creation. Some do sex faithfully with their only partner also in order to get closer to God and each other. Human do or don’t do sex in order to get to know him/herself better. Now we see three essential things in sexuality (sex included): God (religious), the only partner/the other (social), and the self (existential).

Sex is sacred because it can bring you closer to God. It is sacred because it can bring you closer to your only partner too. It is sacred because it can also bring you closer to the self, to get to know you yourself better. It is one of many ways to love. Without love, sex is nothing but wasting the time. Sex is the way to show how much you love your partner. It is about opening yourself, giving yourself, and accepting your only partner. You share each other your whole mind, feeling, body, and heart, you share your whole being each other to please one another, to make happy one another.

Batavia, July 30th 2011
Padmo Adi

Paradoks Eksistensialisme

Paradoks Eksistensialisme

Ketika manusia terbatas, ia justru bebas. Inilah paradoks eksistensialisme. Di dalam keterbatasannya manusia bebas. Ketika Indonesia dijajah Belanda, Indonesia bebas untuk menjadi anjing Belanda atau justru memperjuangkan kemerdekaan. Ketika aku terbatas di Jakarta yang bebas ini, aku bebas. Aku bebas untuk tiduran saja tanpa melakukan apa-apa. Aku bebas membaca. Aku bebas menulis. Aku bebas bercinta. Aku bebas pergi ke Pondok Gede. Atau, aku bebas pulang ke Solo. Jakarta, kota yang bebas ini justru membatasi. Namun, dalam keterbatasan ini aku bebas. Suatu penjara raksasa. Keterbatasan manusia dalam hal ruang, waktu, dan kematian pun sangat memberikannya kebebasan.

Jakarta, 29 Juli 2011
Padmo Adi

What Is Money?

What Is Money?

I take a walk around the town. Here is so crowded. Voice is everywhere and pollutes the atmosphere. There is no silent place even though in my room. There is always traffic jam. Seems that everyone gets out to the down town to celebrate New Year eve. What the hell is this? Everyone is running after the money.

Money is just the way to buy the needs, but when money becomes the aim of itself, everything is unreason! How can people here think about humanity? They even cannot think but about money, how to get and possess it as much as they can! This is the place where people waste the life. Their life is meaningless but gaining money. This is not the place to make love; this is the place to make money.



I remember when I was a teenager, I asked a silly question to my economy teacher, “Why does man create money?” I thought that when there is no money, life must be easier. My teacher answered that money is the tool to exchange. While Marx had ever said that money alienates human. Now I realize that money serves human’s greed, not only need. Is it so? Or, is it human that serves money by greed?

That is metaphysic question I asked. The truth is, without money, I can’t eat, I can’t drink, even in some kind of situation I can’t breathe. What makes human differ from animal? Human’s got money! Do you think so? Do you think that money makes people be a human? Not at all.
Money is important since it’s been the system we may live within. Nowadays this system is advanced, for example you may see e-banking, credit card, etc. But, this system is only for our body and soul. Is it also for our spirit? We see many priests ask some money for redemption, merit, and the pleasure of heaven. It is bull shit, Cuk!!! I guarantee that they have say nonsense. Redemption and heaven have nothing to do with money. (And, I myself don’t believe with merit.)

Here I give you another paradox of life: without money you can’t live cultured and civilized since it’s been the system, but to do live you need no money indeed. Just enjoy the day.

Batavia, July 29th 2011
Padmo Adi

Apa Arti Cinta di Tengah Keniscayaan Ketiadaan?

Apa Arti Cinta di Tengah Keniscayaan Ketiadaan?

Aku duduk di tengah taman kota. Hari telah senja, langit berwarna biru dengan awan hitam menggantung. Bulan separuh mengintip di balik dedaunan. Para manusia berlalu-lalang, mungkin tak menyadari keberadaanku.

Baru saja aku lalui sebuah perjalanan. Perjalanan itu bisa mengantarkanku ke kota ini sekaligus juga bisa saja justru mengantarkanku menemui ajal. Kereta api selalu mengantarkan seorang kepada orang yang lain dan memisahkan seorang dari orang yang lain bahkan untuk selamanya. Kita tidak pernah mengetahui saat kematian kita. Mungkin, hanya para kudus yang mampu.

Aku duduk di bawah lampu taman yang menyala kekuning-kuningan. Hatiku tengah dilanda melankolia yang memedihkan entah bagaimana. Mungkin karena aku sengaja tidak pergi misa hari ini. Atau, mungkin aku kembali bertanya tentang cinta.

Aku telah memiliki kekasih. Dia cantik, pintar, hanya saja selalu merasa repot dengan dirinya. Aku benci kerepotan. Aku ingin segalanya sederhana saja. Namun, aku tidak membenci kekasihku. Bagaimana mungkin? Aku telah berusaha menerima dia apa adanya dengan segala kerepotan yang selalu ada padanya.

Ada seorang gembel tua berjalan di depanku di saat mobil-mobil mewah tak henti-hentinya berlalu-lalang. Mungkin dialah sebenar-benarnya manusia yang mampu memahami kehidupan dengan sederhana. Apakah hidup rumit dan repot? Sepertinya hidup itu sederhana: lahir, tumbuh dewasa, menjadi tua, dan mati. Hanya empat kata/frase untuk menggambarkan hidup. Bagaimana bisa sekarang hidup menjadi serepot ini?

Langit sudah tidak lagi biru juga belum sepenuhnya hitam. Bulan masih ada di sana, di balik dedaunan. Lampu taman ini juga masih ada pada tempatnya. Namun, waktu seakan memadat ketika aku semakin asyik menulis. Entah apakah kekasihku jadi menyusulku ke kota ini atau tidak. Di saat seperti ini, dunia tidak mengenaliku, tapi akulah pusat dunia. Dunia berlalu tanpa sudi berkenalan denganku, sedangkan aku terus saja menulis tentang dunia dan dengan demikian mencoba menarik dunia menuju kepadaku.

Pada suatu momentum nanti semua akan berhenti. Lampu taman ini akan putus. Bahan bakar akan habis. Pangan akan semakin menipis. Sedangkan jumlah manusia akan semakin membengkak. Suatu momentum yang menjadi klimaks akan sekaligus menjadi antiklimaks. Mungkin akan ada perang dunia lagi. Protes dan demonstrasi sudah merebak di Timur Tengah. Bencana alam sudah sering melanda. Akankah ini memunahkan kita?

Bayangkan jika seandainya kita punah! Tidak ada lagi musik mengalun, tiada buku ditulis, tiada pentas teater, tiada dialektika filosofis, tiada lagi sejarah. Sejarah berhenti. Waktu berhenti. Ruang tiada.

Sambil membayangkan hal itu, aku bertanya, jika ketiadaan dan kepunahan itu mungkin atau bahkan niscaya, apa arti semua ini? Apa arti lampu taman ini? Apa arti mobil-mobil itu? Apa arti rembulan itu? Apa arti ruang? Apa arti waktu? Apa arti sejarah? Apa arti segala dialektika filosofis yang ada? Apa arti manusia? Apa arti hidup? Apa arti eksistensi dan kehadiranku di taman ini? Apa arti melankolia yang melanda ini? Apa arti cinta?

dekat Padmanaba, 13 Maret 2011
Padmo “Kalong Gedhe” Adi