Thursday, January 26, 2012

Yang Saya Temukan Hanyalah Jalan Buntu

Yang Saya Temukan Hanyalah Jalan Buntu

Sr. Reti ALMA bersama Riski, penderita hydrocephalus

Saya mengenal Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga yang diampu oleh suster-suster ALMA semenjak saya masih seorang postulan MSF di Salatiga. Saya sudah berinteraksi dengan para suster itu selama dua tahun keberadaan saya di Salatiga. Setelah akhirnya saya sebagai frater MSF harus pindah ke skolastikat Yogyakarta, kenangan akan mereka masih saja saya bawa. Sebenarnya perjumpaan kami dalam rentang waktu dua tahun itu tidak banyak. Sesekali saya melihat mereka misa di novisiat MSF, sesekali kami bertemu ketika misa di paroki, dan pernah kami bertugas koor bersama. Saya tahu mereka mengabdikan diri untuk mengurusi anak-anak yatim-piatu dan difabel. Selebihnya, saya tidak mengenal mereka. Namun, justru itulah yang menghantui saya, bagaimana mereka dengan tenaga yang terbatas melayani anak-anak yatim-piatu dan difabel, tetapi masih memiliki tenaga untuk mengikuti kegiatan lain semacam koor dan sebagainya.
Dua tahun berselang. Tiada kontak dengan mereka. Kehidupan saya pun sudah banyak berubah. Saya bukan lagi seorang frater, orang-orang kini mengenal saya hanya sebagai seorang seniman teater dan pemikir bebas. Perjalanan ini mempertemukan saya dengan para frater SSCC, Polce, Gaspar, Rickho, dan Lucy. Kami menjadi satu kelompok Pengabdian Sosial. Kami sepakat untuk mengabdi kepada anak-anak yatim-piatu dan difabel. Awalnya saya mengusulkan YPAC di Surakarta. Akan tetapi, birokrasi untuk bisa mengabdi di sana sangat susah, bahkan kami harus dipungut biaya jika ingin tugas kami tersebut lancar. Di tengah keputusasaan dan kebingungan itu, saya tiba-tiba teringat suster-suster ALMA di Salatiga yang juga menangani anak-anak yatim-piatu dan difabel. Saya tawarkan kepada teman-teman. Mereka menyetujuinya dengan alasan bahwa Salatiga adalah kota kecil yang menarik untuk ditinggali.
Sr. Ludgardis Iva, ALMA
Saya pergi ke Salatiga bersama kekasih saya membawa proposal kami. Saya bertemu dengan Sr. Ludgardis, ALMA. Saya terkejut bahwa beliau sama sekali tidak melupakan saya. Saya mengutarakan maksud kedatangan. Beliau menyetujuinya dengan sedikit keberatan, “Mengapa hanya tiga minggu? Terlalu sebentar.” Saya bawa kabar gembira ini kepada teman-teman di Yogyakarta.
Di Yogyakarta kami merencanakan perjalanan kami. Saya berangkat dulu ke Solo. Mereka akan menyusul dengan Kereta Pramex. Di Stasiun Purwosari kami bertemu lalu melanjutkan perjalanan dengan Bus Safari (Solo-Semarang pp) di Kerten. Di Salatiga kami turun lalu makan siang di warung makan langgananku dan kekasihku. Kami menghabiskan siang di sana sembari istirahat sejenak dari perjalanan panjang. Setelah kenyang, baru kami menuju ke Panti Asuhan Bhakti Luhur.
Di sana para suster telah mempersiapkan penyambutan yang di luar perkiraan kami. Mereka menjamu kami dengan spesial. Sr. Lud, suster kepala panti asuhan, membagi kami berlima, dua tinggal di rumah atas, tiga tinggal di rumah bawah. Rumah bawah merupakan panti asuhan khusus untuk anak-anak. Mereka yatim-piatu. Ibu mereka tak mau mengakui keberadaan mereka. Ayah mereka juga tak jelas siapa. Ada juga kakak beradik yang dititipkan di sana karena kedua orang tua mereka harus menginap di hotel prodeo. Pada umumnya mereka normal dan sehat. Anak-anak itu menyenangkan dan menggemaskan. Mereka membangkitkan kerinduan primordial kami untuk menjadi ayah bagi mereka.
Sedangkan rumah atas dikhususkan bagi mereka yang berusia remaja ke atas dan sekaligus difabel. Mayoritas mereka sudah sejak kecil berada di dalam naungan Yayasan Bhakti Luhur Malang, kemudian dipindahkan ke Salatiga. Beberapa baru saja tiba dari luar kota dititipkan oleh sanak keluarga yang tak sanggup lagi merawat mereka. Ada yang menderita retardasi mental meskipun sekilas sehat jasmani-rohani. Ada yang menderita CP (lumpuh). Ada yang mengalami psikosa sehingga memerlukan penanganan khusus ketika kambuh. Ada yang mengalami bisu-tuli, tetapi cukup waras untuk dimintai bantuan mengerjakan sesuatu hal. Sr. Lud mengambil kebijakan memisahkan mereka dari anak-anak demi suasana psikologis yang sehat bagi perkembangan anak-anak. Mereka yang tinggal di rumah atas memang memerlukan perhatian khusus.
Rickho, Lucy, dan Gaspar tinggal di rumah bawah menjadi bapak bagi anak-anak tersebut, sedangkan aku dan Polce tinggal di rumah atas menjadi sahabat dan pelayan teman-teman yang berkebutuhan khusus tersebut. Meskipun suster-suster menjamu kami dengan spesial, kami selalu ingat bahwa di sana kami melayani bukan dilayani. Memang tidak banyak hal dapat saya lakukan untuk mereka dalam jangka waktu tiga minggu itu. Setiap pagi saya dan Polce menyapu dan mengepel lantai. Saya menyuapi Eta, menemani Mbak Sri membuat gelang, mencuci piring mereka, membantu memasak lauk untuk mereka, juga menyiapkan makan mereka. Kami berlima bersama Pak Budi, donatur tetap rumah atas, bahkan bersama berburu tikus selama beberapa hari di rumah atas yang sudah berusia sangat tua itu. Satu hal yang tidak saya lakukan, menemani mereka berdoa. Saat itu saya tidak bisa berdoa, dalam arti apapun itu.
Pengalaman yang paling mengguncang mental saya adalah ketika menemani Sr. Iza berkunjung ke desa-desa menemui anak-anak difabel yang masih dirawat orang tua atau kakek-nenek mereka. Ada yang menderita CP ada pula yang autis. Seharusnya anak seusia mereka bermain layang-layang, berlari-lari, atau bermain sepak bola di lapangan bersama teman-teman. Ada pula gadis penderita CP yang sudah beranjak remaja. Seharusnya gadis seusia dia pergi ke sekolah, bernarsis ria, dan memadu cinta monyet. Namun, pemandangan yang kulihat sangat berbeda. Aku tidak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Memang di panti aku turut melayani mereka yang difabel, juga yang menderita CP, tetapi mereka telah besar dan berada di dalam naungan hangat Bhakti Luhur. Aku tidak memiliki bayangan akan ada anak-anak yang menderita hal yang sama dirawat secara ala kadarnya oleh keluarga mereka yang mayoritas adalah penduduk desa. Sr. Iza mengatakan bahwa anak penderita CP tidak berusia lama. Tubuh mereka akan kaku jika tidak sering digerakkan, padahal mereka tak mampu menggerakkan tubuh mereka sendiri. Jika orang tua mereka sedang sibuk, mereka bahkan tak cukup sempat untuk mengganti celana anak-anak itu yang basah oleh karena ompol.
Sriah, Padmo, Fr. Polce SSCC, Eta, dan Moy
Salah satu anak yang kami temui saat itu mengompol sudah cukup lama. Bau pesing mencekik pernafasan saya. Hanya kakek dan neneknya yang merawat. Mereka bisa dibilang termasuk keluarga yang miskin. Sepasang kakek-nenek itu cukup sibuk bekerja demi mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Sebenarnya dia adalah cucu dari hubungan gelap anaknya dengan seorang gadis. Gadis itu tak mau merawat dan setelah melahirkan, dia serahkan anak itu kepada sang ayah biologisnya. Keadaan menyedihkan anak itu bisa jadi akibat usaha pengguguran yang dilakukan si ibu. Obat-obatan, zat-zat kimia, atau pijat-urut bisa menyebabkan cacat fisik maupun mental terhadap janin.
Anak penderita CP lain yang kami temui memiliki keadaan yang jauh lebih baik. Dia dirawat di dalam keluarga yang berkecukupan. Ayah biologisnya menceraikan ibunya dan meninggalkan mereka oleh karena keadaan si anak. Sedangkan ibunya bekerja di Malaysia menjadi TKW. Di sana dia menikah lagi dengan Warga Negara Malaysia dan telah memiliki seorang anak. Si ibu mengirimkan uang kepada si nenek untuk biaya merawat si anak dan seluruh keluarga di desa. Anak ini, menurut cerita si nenek, lahir dengan normal. Tiada hal yang aneh dan janggal hingga akhirnya dia mengalami panas demam tinggi. Setelah sembuh dari panas demam tinggi, dia difabel.
Anak lain yang kami temui mengalami keterbelakangan mental. Dia sehat secara jasmani. Dia bisa berlari ke sana ke mari. Bahkan, kami harus berkejar-kejaran dengan dia sebelum dapat menemuinya. Dia tinggal bersama neneknya di gubuk yang sangat reot. Hanya ada satu ruangan di gubuk itu. Ibunya bekerja menjadi TKW. Sr. Iza melatihnya berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Setelah melatihnya beberapa saat, kami pamit. Namun, dia enggan melepas kami. Dia seakan merasa sangat kehilangan kami. Neneknya yang membujuknya. Neneknya menyuruh dia mandi dulu. Segera saja tanpa malu dia telanjang bulat di depan kami, siap untuk mandi. Kami pergi. Dia melepas kami dengan kegembiraan guyuran air mandi.
Anak penderita CP lain yang kami temui adalah seorang gadis remaja. Seharusnya, gadis seusia dia bermain bersama teman-teman sebaya, pergi ke sekolah, bernarsis ria, pacaran, sms-an, facebookan, membuat status-status galau, dan yang umumnya dilakukan gadis-gadis seusia, tidak duduk di atas kursi roda, membuang muka dari kami oleh karena malu seperti itu. Dia begitu malu melihat kami sampai-sampai enggan kami dekati. Air liur terus saja menetes dari mulutnya. Bau busuk menguap dari sana, mungkin orang tuanya tidak pernah menyikati giginya. Ayahnya bekerja. Di rumah yang sederhana itu dia tinggal bersama ibunya yang sibuk mengurusi rumah tangga dan adiknya yang masih balita. Sr. Iza tak dapat mendekatinya. Beliau hanya berbincang-bincang dengan ibunya. Rasa malu yang dia tunjukkan itu mungkin merupakan tanda bahwa dia memiliki kesadaran. Dia sadar akan kehadiran saya dan Sr. Iza, orang-orang asing, yang bukan berasal dari rumah itu. Bisa jadi dia menyadari keadaannya yang tidak sama dengan keadaan kami.

Bersama komunitas Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga
Dari semua anak yang kami temui hari itu, ada satu anak yang paling mengesankan saya. Dia adalah anak penderita autis. Keluarganya sangat menyayanginya. Mereka menerimanya apa adanya. Mainannya banyak. Dia sangat enerjik. Tidak dapat diam. Berlari ke sana ke mari seakan tak punya lelah. Juga tidak dapat bicara. Dia tidak memainkan mainannya, lebih tepatnya merusakkannya, membanting-bantingnya, menyebarnya ke manapun dia suka. Dia tertawa, terkekeh. Menyeramkan bagi yang menemuinya di malam hari tanpa ibunya mendampinginya. Dia memukul saya, tapi saya tangkis. Ibunya memarahinya, mencubitnya. Dia menangis, tapi hanya untuk dua-tiga detik saja. Selanjutnya dia tertawa lagi, terkekeh. Berlari lagi. Lalu, dia terjatuh. Menangis sedikit lebih lama, tiga-lima detik, lalu tertawa lagi, terkekeh, dan berlari-lari lagi, menghamburkan mainannya lagi. Ibunya menata mainannya lagi. Dia menghamburkannya lagi. Dia hanya ingin bermain dan bermain. Ibunya bercerita bahwa dia hanya bisa diam kalau dia melihat jalan di samping rumah. Ketika dia melihat jalan di samping rumah, dia bisa duduk diam di sana, mengamati jalan itu selama berjam-jam. Ketika merasa lapar, dia beranjak, makan, lalu kembali lagi duduk di tempat yang sama melihat jalan yang sama untuk berjam-jam selanjutnya. Anak inilah yang paling mengesankan saya. Pertanyaan “apakah mereka menyadari kehadiran mereka” yang terus terngiang semenjak pertama kali bertemu orang-orang difabel di panti itu berubah menjadi “apakah dia menyadari apa yang dia lakukan” setelah bertemu dengan anak autis itu.
Pertanyaan itu berdenyut-denyut di kepala saya. Terngiang dan terbawa hingga saya menulis laporan ini. Kenangan perjumpaan dengan mereka, terlebih anak-anak difabel yang saya temui di pelosok desa itu, masih dapat saya lihat dengan jelas. Eksistensialisme yang kudalami dicemooh oleh kehadiran mereka. Dan, yang saya temukan hanyalah jalan buntu, sebuah misteri yang aku belum mampu pahami.

Friday, January 13, 2012

PADA MALAM YANG ITU



Dramatic Personae:
Lelaki                                   : Seorang lelaki muda berusia 20-an tahun. Memakai topi, kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, kaos kaki putih, dan sepatu pantofel. Dia memakai arloji di tangan kirinya. Kumis tipis menggaris di atas bibirnya. Rambutnya gondrong dikucir kuda. Dia menanggung kerinduan yang sangat mendalam dan menanti dengan setia. Sebisa mungkin diperankan oleh seorang gadis.
Waktu                                  : Seorang nenek renta berusia 1000 tahun. Telah mengelilingi bumi seribu kali tanpa seorang pun menyadari. Bijaksana, tapi penuh teka-teki. Menjemput siapapun yang harus dijemput, membiarkan siapapun yang memang layak untuk dibiarkan. Berjalan tertatih, membungkuk, dan bertongkat. Memakai kebaya hijau tua lusuh penuh debu dan jarik batik coklat tua yang tak kalah lusuhnya. Atau, memakai baju terusan hingga mata kaki warna abu-abu yang telah lusuh. Rambutnya yang putih panjang tergerai. Membawa jam waker berdebu. Jam itu menyala di dalam gelap karena fosfor.
Masa Kecilmu                      : Seorang bocah laki-laki. Memakai pakaian yang sama persis seperti Lelaki, tetapi dalam ukuran yang lebih kecil atau memakai seragam SD lengkap dengan topi, dasi, kaos kaki putih, dan sepatu hitam, juga tas anak-anak. Riang, tanpa beban, tanpa luka. Merupakan kerinduan terdalam Sang Lelaki.
Kegelisahan                          : Kegelisahan terdalam seorang manusia. Ketakutan-ketakutan terdalam seorang manusia. Seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki, memakai kostum hitam. Seperti bayangan yang selalu menghantui ke mana pun manusia pergi.
Angin Sepoi-sepoi                : Bajunya putih atau biru langit dipenuhi rumbai-rumbai yang akan berkibar jika dia bergerak atau terkena angin. Selalu menari dengan riang sembari bernyanyi atau bersiul-siul. Dia membawa satu hati kepada hati yang lain, satu kerinduan kepada kerinduan yang lain.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Seorang perempuan. Cantik, bagaikan seorang putri raja. Dia memakai gaun malam yang indah. Dia adalah kerinduan setiap lelaki, dia adalah impian setiap lelaki, tak terkecuali Lelaki itu. Dia dicintai Lelaki itu lebih dari pada lelaki yang lain. Dia pun mencintai lelaki itu. Namun, dia tak pernah bertemu muka dengan Lelaki itu. Dia hanya menemui Lelaki itu ketika dia tidur lelap. Di dalam mimpi mereka berjumpa.



Hari telah malam. Panggung gelap gulita tanpa cahaya apa-apa. Perlahan bulan terbit dan bercahaya di sisi kiri belakang panggung. Kemudian disusul cahaya kuning temaram lampu yang menyala perlahan. Cahaya kuning lampu itu menyinari taman dan bangku panjang di dekatnya. Lampu dan bangku taman itu terletak tepat di tengah-tengah panggung. Seorang lelaki duduk di atas bangku itu. Dia duduk diam tak bergerak. Dia seakan menunggu sesuatu. Seiring dengan itu, musik yang menyayat penuh kerinduan mengalun, seakan alam tengah dirundung murung malam hari itu.
Perlahan musik itu lenyap. Sunyi senyap, terkecuali suara jengkerik. Seiring senyapnya suara musik, lampu panggung menyala tepat di atas lelaki itu, sehingga memotong panggung menjadi lingkaran di sekitar lampu dan bangku taman itu.


Lelaki                                   : (Terlihat mulai gelisah. Dia telah menahan rindu yang menumpuk bertahun-tahun lamanya. Sesekali dia melirik arlojinya.)
Malam semakin larut, hari semakin keriput, dan waktu terus berdetak. Tik... tok... tik... tok... tik... tok... . Bersamaan dengan bunyi tik-tok itu, cahaya panggung menyinari wajahnya, tetapi panggung masih terpotong lingkaran.)
Waktu                                  : (Masuk ke panggung dengan perlahan dari sisi kiri belakang panggung, tepat di bawah bulan. Berjalan pelan, lurus, tanpa menghiraukan Lelaki. Di tangan kirinya dia membawa tongkat, sedangkan di tangan kanannya dia membawa jam waker yang bercahaya di dalam gelap oleh karena fosfor. Dia berjalan diiringi bunyi tik-tok tadi. Setelah melintasi tengah panggung dan hampir keluar dari panggung di sisi kanan belakang, dia berhenti, diam, menoleh perlahan ke arah Lelaki. Lalu, dia berjalan mendekati Lelaki yang masih gelisah itu. Bunyi tik-tok perlahan lenyap.) Anak Muda, apa yang kaulakukan di tengah malam sendiri di taman ini?
Lelaki                                   : (Terperanjat.) Astaga... . Ah, nenek mengagetkan saya saja. Saya pikir hantu.
Waktu                                  : Hantu? (Menyeringai.) Kamu percaya hantu?
Lelaki                                   : Memang nenek tidak percaya?
Waktu                                  : Aku hanya percaya kepada jiwa-jiwa, Nak, bukan kepada hantu.
Lelaki                                   : Apa bedanya?
Waktu                                  : (Semakin mendekat kepada Lelaki. Duduk di sebelahnya tanpa sedikitpun melihat ke arah Lelaki.) Hantu hanya ada di dalam dongeng yang menakutkan anak-anak kemarin sore. Sedangkan jiwa-jiwa itu selalu hadir. Jiwa-jiwa menggerakkan alam raya ini. Semesta ini bernaung di dalam Jiwa yang Purba. Jiwa Purba itu yang melahirkannya dan sekaligus merawatnya. Namun, di dunia ini tidak sedikit jiwa yang merana dan kesepian. Ada banyak jiwa yang bergentayangan karena kerinduannya tak pernah terpuaskan. Mungkin itulah yang diceritakan orang sebagai hantu. Satu hal yang perlu kamu ketahui, Nak, ragamu yang masih muda itu tiada terpisah dari jiwamu. Kalau jiwamu merana, begitu pula ragamu. Kalau ragamu disakiti, menderitalah jiwamu. Ragamu tak bisa menipu jiwamu. Jiwamu tak bisa menipu ragamu.
Lelaki                                   : Dan, dari ragaku, apa yang kaubisa katakan mengenai jiwaku, Nek?
Waktu                                  : Kausedang dirundung rindu, bukan?
Lelaki                                   : Bagaimana engkau mengetahuinya?
Waktu                                  : Sudah ribuan tahun aku berjalan mengelilingi bumi. Apa yang tidak aku ketahui? Ribuan peristiwa aku saksikan. Aku adalah saksi dari kerinduan-kerinduan purba. Aku adalah saksi dari cinta dan asmara yang abadi. Aku adalah saksi dari kebencian yang mengkristal menjadi peperangan. Aku menyaksikan ribuan kelahiran. Aku pun menyaksikan ribuan kematian. Maka, mengenalimu adalah hal yang paling mudah aku lakukan. (Berbisik) Aku mengenalmu lebih dari pada engkau mengenal dirimu sendiri. Aku telah menyaksikan kelahiranmu. Aku pun telah menyaksikan kematianmu.
Lelaki                                   : Namun, aku belum mati, Nek (Kesal)
Waktu                                  : Hanya yang hidup yang mati. Hanya yang mati yang hidup.
Lelaki                                   : Engkau tahu kapan aku akan mati?
Waktu                                  : Mengapa penasaran akan mati ketika kau masih hidup hari ini?
Lelaki                                   : Ada hal yang ingin aku lakukan sebelum aku mati.
Waktu                                  : Maka, laukanlah seakan-akan besok engkau akan mati.
Lelaki                                   : Jadi, besok aku akan mati?
Waktu                                  : Gajah pun tahu kapan dia akan mati.
Lelaki                                   : Aku tak ingin mati sebelum dia datang. Kalaupun malam ini Waktu menjemputku, aku akan memohon padanya satu malam ini saja. Aku ingin melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya. Aku ingin Waktu tiba di saat aku terlelap di pangkuannya.
Waktu                                  : Kamu pernah menemuinya sebelumnya?
Lelaki                                   : Pernah.
Waktu                                  : Di mana?
Lelaki                                   : (Diam sejenak) ... di mimpi.
Waktu                                  : (Melihat wajah Lelaki itu dalam-dalam, lalu tersenyum memahami.)
Lelaki                                   : Dia selalu datang di dalam mimpiku. Semenjak aku remaja. Anehnya, dia tidak pernah berkata sepatah katapun padaku. Dia hanya datang, hadir di depanku, tersenyum. Pernah dia datang, lalu duduk di sampingku, lalu membelai rambutku. Sejak terbangun dari mimpi itu, aku berjanji takkan pernah memotong rambut ini. Akan kubiarkan gondrong, sehingga dia bisa membelai kapanpun dia kehendaki. (Diam sejenak, menghela nafas, berpikir. Lalu, memandang wajah Waktu) Dia selalu hadir. Dia ada di sini (memegang dadanya). Dia ada di manapun aku berada. Dia hadir kapanpun aku mengingatnya.
Waktu                                  : Dia hadir? Benar-benar hadir? Seperti aku hadir di hadapanmu saat ini?



Lelaki                                   : (Kecewa dengan apa yang baru saja dia ungkapkan sebelumnya) Di dalam angan-anganku, (menghela nafas) hanya di dalam angan-anganku. (Berhenti sejenak. Seakan ingin meronta dari kenyataan yang baru saja dia ungkapkan.) Namun, aku ingin menemuinya, Nek! Aku ingin dia hadir tepat di hadapanku saat aku mengatakan betapa aku sangat merindukannya. Aku ingin dia mengetahui bahwa rambutku kini telah gondrong, dan dia bebas membelainya kapanpun dia kehendaki. Aku ingin dia mengerti... (menghela nafas) aku ingin... (menghela nafas lagi) aku ingin dia tahu bahwa aku mencintainya! Aku ingin bertemu dengannya, setidaknya sekali saja di dalam hidupku, sehingga aku dapat mengungkapkan betapa aku sungguh mencintainya!
Waktu                                  : Mengapa tidak kaulakukan di dalam mimpi ketika dia datang menemuimu? Toh dia hadir, bukan?
Lelaki                                   : Itu hanya mimpi, Nek... hanya mimpi. Dan, semanis apapun mimpi itu, akan berakhir pahit ketika aku terbangun. Sebab, setelah aku bangun, aku menyadari bahwa dia tidak ada di sana, dia tidak ada di sisiku. Senyumnya, belaiannya... semua hanya mimpi! Itu yang menyedihkan hatiku.
Waktu                                  : Mimpi bisa menjadi kenyataan ketika kaumengusahakannya.
Lelaki                                   : Benarkah itu, Nek? Bagaimana?
Waktu                                  : Pernahkah engkau bermimpi meminum secangkir cokelat yang hangat atau semacam itu?
Lelaki                                   : Aku pernah bermimpi bermain yoyo.
Waktu                                  : Lalu?
Lelaki                                   : Setelah bangun, aku menabung beberapa hari, lalu pergi ke pasar dan membeli yoyo. Kemudian, aku bermain yoyo, bukan lagi bermimpi bermain yoyo.
Waktu                                  : Ya, semacam itulah.
Lelaki                                   : Tapi, bagaimana aku mewujudkan mimpiku bertemu dengan dia?
Waktu                                  : Lalu, apa yang kaulakukan di sini? Kuperhatikan sudah tujuh malam ini kau di sini.
Lelaki                                   : Aku sedang menantinya, Nek. Aku ingin bertemu kembali dengannya. Aku merindukannya. Sudah empat puluh malam sejak dia terakhir kali datang ke dalam mimpiku. Sejak malam itu, dia tak lagi datang ke dalam mimpiku. Di dalam mimpiku itu, di sinilah, di taman ini, kami bertemu. Tujuh malam yang lalu aku menemukan taman ini, taman yang persis sama seperti di mimpiku. Sejak malam itu aku menunggunya di sini, berharap dia sudi hadir menemuiku, atau setidaknya hadir di dalam mimpiku. Aku ingin mengatakan kepadanya betapa aku merindukannya, betapa aku mencintainya... walau hanya di dalam mimpi. Namun, dia tak kunjung tiba. Mungkin dia tak pernah tiba. Dia tak pernah tiba. (Berhenti sejenak.) Sudah empat puluh malam aku mencarinya, sudah tujuh malam aku menantinya, dan dia tak pernah tiba. Dan, ini adalah malam ketujuhku. Haruskah aku menambah satu malam lagi? Haruskah aku selalu menambah satu malam terus hingga Waktu menjemputku?
Waktu                                  : Bagaimana kalau ini malam terakhirmu, dan kau tak pernah bertemu dengannya lagi?
Lelaki                                   : Maksudmu, Nek?
Waktu                                  : Bagaimana kalau ini malam terakhirmu? Tepat pada malam hari ini Waktu menjemputmu, dan esok kau tak pernah bertemu dengan Dia yang Tak Pernah Tiba, bahkan tak pernah lagi melihat mentari pagi?
Lelaki                                   : Maka, aku akan memohon kepada Waktu untuk memberiku satu malam lagi untuk menantinya?
Waktu                                  : Bagaimana kalau dia juga tidak tiba pada satu malam lagi itu? Akankah kau meminta satu malam berikutnya?
Lelaki                                   : Aku tak akan sanggup jika demikian. Haruskah aku menanti seribu malam demi bertemu dengannya?
Waktu                                  : Kaubilang kau mencintainya? Cinta itu tidak gratis, Anak Muda.
Lelaki                                   : Semahal itukah Cinta?


Waktu                                  : Kautakkan pernah melihat cinta sejati hingga kauberdarah.
Lelaki                                   : Cinta memang berharga, tetapi bukankah Waktu dapat menyirnakannya?
Waktu                                  : Kematian memang dapat memisahkan dua hati. Namun, Waktu yang membawa serta kematian di dalam perjalanannya takkan pernah mampu memadamkan cinta sejati. Bahkan, cinta sejati tetap hidup, meski kematian telah menyelimuti. Justru oleh karena cinta, Sang Jiwa Purba melahirkan semesta raya dan jiwa-jiwa menggerakkannya.
Lelaki                                   : Jadi, aku akan tetap mencintainya walau telah mati nanti?
Waktu                                  : Sebesar itukah cintamu kepada Dia yang Tak Pernah Tiba?
Lelaki                                   : Aku mencintainya lebih dari pada aku mencintai diriku sendiri. Aku tak pernah sedemikian mencintai seperti aku mencintainya. Cintaku kepadanya adalah bagian dari cinta primordial yang menggerakkan alam raya ini.
Waktu                                  : Kalau memang demikian, aku akan menghentikan waktu untukmu, hingga kaubertemu dengannya. (Berdiri. Memandang jam waker. Melirik purnama di belakang, tersenyum.) Sampai jumpa, Anak Muda. (Berjalan kembali ke arah ke mana dia sebelumnya berjalan sebelum menemui Lelaki tadi. Kembali diiringi bunyi tik-tok.)
Lelaki                                   : Apa maksudmu, Nek? (Berdiri. Menghadap ke arah ke mana Waku berjalan.) Nek?
Waktu                                  : (Tidak menyahut. Terus berjalan keluar panggung.)



Musik melankolis kembali mengalun, menggambarkan suasana hati Lelaki yang dirundung rindu, bahkan diselimuti misteri dan tanda tanya. Cahaya di luar lingkaran menyala biru sendu.

Lelaki                                   : (Memandangi lampu taman. Menyentuhnya.) Sudah berapa masa kauberdiri di sini? Mengapa kaubegitu setia berada di sini? Untuk siapa kauberdiri di sini? Untuk siapa kaubercahaya di malam hari jika aku tidak berada di sini? Bagaimana jika tidak ada seorangpun yang pernah menikmati cahayamu di malam hari, bahkan tidak juga aku? Apakah dengan demikian kaumasih merasa memiliki arti? Lalu, bagaimana jika bohlammu itu putus dan kautak lagi mampu bercahaya di malam hari? Masihkah engkau akan berdiri di sini?
Masa Kecilmu                      : (Berteriak dari luar. Berlari masuk ke dalam.) Aku akan masih berada di sini, berlari, dan bermain... berbahagia!!! (Berlari mengelilingi lingkaran, melompati bangku taman, lalu berbalik, bertiarap, dan merangkak di bawah bangku itu. Mencari di mana Lelaki berdiri, mendekatinya).
Lelaki                                   : (Masih terheran-heran, bertanya-tanya siapakah gerangan anak kecil aneh itu.)
Masa Kecilmu                      : Ayo main sama aku (tersenyum), mumpung malam ini malam abadi. Kita tidak perlu matahari lagi. Ayo main sama aku. Malam purnama adalah malam yang sempurna untuk bermain tanpa paripurna (tertawa). Mau main apa? Bercok jawilan? Delikan? Kontrakol? Betengan? Jamuran? Cublak-cublak suweng? Atau, njuk tali njuk emping? Atau yang sederhana saja, sompyo? Gimana?
Lelaki                                   : Sebentar, kamu ini siapa? Anak kecil malam-malam seperti ini masih keluyuran di luar rumah? Tidak dicari orang tuamu? (Mendekatkan wajahnya kepada wajah anak kecil itu sekadar untuk memastikan.)
Masa Kecilmu                      : (Meringis) he... he... he...
Lelaki                                   : (Mengernyitkan dahi.) he... he... he... ?! Jangan main-main! Aku tak ingin bermasalah dengan dituduh menculikmu atau tuduhan-tuduhan konyol lainnya yang tidak kulakukan atasmu!
Masa Kecilmu                      : Mengapa orang menangkap orang yang sedang main-main sama dirinya sendiri di malam hari? (Menjauh dari Lelaki. Berdendang.) Nanana syubidubidu damdam... .
Lelaki                                   : Hei bocah, jangan mengigau! Kaumabuk ya? Kaupasti mabuk. Kaupasti bocah jalanan yang tengah mabuk. Kalau tidak mabuk ciu kaupasti habis ngelem. Hayo, ngaku. (Mendekati anak kecil itu hendak menangkapnya.)
Masa Kecilmu                      : (Mengelak. Berlari menghindar.) Eits, tidak kena... .
Lelaki                                   : Heh, berhenti kau! Jangan lari... .
Lelaki dan Masa Kecilmu berkejar-kejaran mengelilingi bangku taman itu. Akhirnya, Lelaki dapat menangkap Masa Kecilmu.
Masa Kecilmu                      : Hehehe, kamu mau mainan juga sama aku... .
Lelaki                                   : Siapa kamu? Aku antar pulang kedapa orang tuamu.
Masa Kecilmu                      : Aku? Siapa aku? Siapa kamu? Kamu siapa?
Lelaki                                   : Jangan main-main!
Masa Kecilmu                      : Aku tidak main-main... kamu siapa?
Lelaki                                   : Aku? Aku... (Diam sejenak.) Siapa aku? (Diam lagi.) Tidak penting siapa aku! Jawab aku, siapa kamu?
Masa Kecilmu                      : Aku adalah Masa Kecilmu.
Lelaki                                   : Jangan main-main!
Masa Kecilmu                      : Siapa yang main-main? Kita sudah berhenti bermain sejak kamu menangkapku, bukan?
Lelaki                                   : Siapa namamu?
Masa Kecilmu                      : Bukannya aku sudah bilang ya? Aku Masa Kecilmu.
Lelaki                                   : (Melepas jeratannya terhadap Masa Kecilmu, lalu duduk di bangku.) Masa kecilku?
Masa Kecilmu                      : Aku adalah Masa Kecilmu. Aku selalu bahagia. Hari-hariku tak pernah sepi. Banyak teman selalu ingin bermain bersamaku. Rumahku dipenuhi kehangatan kasih sayang kedua orang tuaku. Aku satu-satunya anak laki-laki mereka, mereka memberi perhatian lebih. Aku senang sekali.
Lelaki                                   : Kaupunya adik?
Masa Kecilmu                      : Kaupunya adik?
Lelaki                                   : (Menggelengkan kepala).
Masa Kecilmu                      : Sama.
Lelaki                                   : Kakak?
Masa Kecilmu                      : Kamu?
Lelaki                                   : Tidak.
Masa Kecilmu                      : Sama.
Lelaki                                   : Tidak kesepian?
Masa Kecilmu                      : Mengapa aku harus kesepian? Aku memiliki dua orang tua yang sangat menyayangiku. Aku selalu bermain bersama teman-temanku. Mainanku banyak. Aku belajar banyak, kecuali matematika. Aku percaya dunia tidak sematematis itu. Tapi, aku suka bernyanyi. Bukankah dunia diciptakan dari sebuah nyanyian? Aku bangun pagi, lalu menikmati kicauan burung. Ketika malam tiba, aku bersiap masuk ke kamar, menerima cium dari orang tuaku, lalu bersiap tidur. Aku dipenuhi cinta! Juga di dalam mimpiku.
Lelaki                                   : Apa cita-citamu?
Masa Kecilmu                      : Kamu?
Lelaki                                   : Menjadi penyair. Kamu?
Masa Kecilmu                      : Menulis banyak syair dan sajak serta puisi. Aku percaya bahwa kata itu memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Aku ingin menghidupkan kata.
Lelaki                                   : Apa artinya kata cinta?
Masa Kecilmu                      : Kamu bertanya cinta pada seorang anak-anak? Apa cinta bagi seorang anak-anak selain kasih sayang orang tua dan kesenangan bermain bersama teman serta rasa takjub akan imajinasinya sendiri?
Lelaki                                   : Punya pacar?



Masa Kecilmu                      : Kaukonyol! Pacar itu untuk orang yang siap mati karena cinta! Dan, cinta yang seperti itu hanya dimiliki oleh para cowboy seperti di film-film itu. Cinta seperti itu hanya untuk mereka yang telah mengarungi tujuh samudera, dan menjejakkan kaki pada lima benua, hanya untuk mereka yang tahu apa itu luka, hanya untuk mereka yang tahu apa itu berjuang demi sesuatu yang berharga. Seperti ayahku. Sedangkan aku, aku belum siap berpetualang seperti itu. Aku belum cukup usia. Aku masih tujuh tahun. Aku masih ingin bermain dengan teman-temanku, menikmati masa kecil ini, menikmati khayalanku. Bukankah kau pun demikian?
Lelaki                                   : (Terdiam. Merenung. Merunduk ke tanah. Sejenak kemudian bersandar ke bangku. Seakan menyadari sesuatu.) Ya, kamu benar, bocah. Masa kecilku begitu indah dan penuh warna. Aku selalu memiliki alasan untuk berbahagia. Hingga pada usia 11 tahun itu aku bermimpi tentangnya. Sejak saat itulah segalanya berubah menjadi sebuah penantian panjang. Kebahagiaanku berubah menjadi kerinduan tak berujung. Pelangi yang selalu mewarnai hati ini sirna, digantikan dengan gerimis melankolia yang senantiasa menyelimuti.
Masa Kecilmu                      : Ah, sudah ah, ga asik main-main sama kamu. Melankoliamu itu bisa melukai kepolosanku! Aku mau pulang.
Lelaki                                   : Kamu tahu jalan pulang?
Masa Kecilmu                      : Kamu pernah pulang?
Lelaki                                   : Kalau hari sudah pagi nanti aku pulang. Tapi, tidak sekarang.
Masa Kecilmu                      : Tidak rindu rumah?
Lelaki                                   : Aku menyewa sebuah kamar sendiri di kota ini. Siapa yang kurindukan selain mimpiku?
Masa Kecilmu                      : Kamu tidak merindukan aku?
Lelaki                                   : Kita baru bertemu sekarang, bagaimana mungkin aku merindukanmu?
Masa Kecilmu                      : Tidak, kamu bukannya tidak merindukan aku, tetapi kamu hanya melupakan aku. Kamu melupakan segala keceriaan dan menggantinya dengan melankolia menyedihkan itu.
Lelaki                                   : Aku tak dapat melakukan apa-apa, Bocah! Kerinduan ini seperti diluar kendaliku!
Masa Kecilmu                      : Dusta! Kaumendustai dirimu sendiri. Kauhanya menikmati segala duka, kau menikmati segala luka. Kaumasokis!
Lelaki                                   : Heh, jaga mulutmu, atau kutamparkau! (Mendekat dengan cepat ke arah Masa Kecilmu.)
Masa Kecilmu                      : (Menghindar, berlari memutari bangku taman, hingga berdiri di belakang Lelaki.) Kaubukannya tidak bisa berbahagia, kauhanya tidak ingin berbahagia! Kauhanya tidak memilih untuk berbahagia! Yang kaulakukan sehari-hari hanyalah meratapi mimpimu yang tak pernah tiba. Dan, kauterluka. Kauberduka karenanya. Namun, kaujustru menikmati luka dan duka itu. Kauberkubang di dalamnya karena hanya dengan demikian kaumerasa aman, kaumerasa nyaman, kaumerasa ada. Kaumasokis! Pemimpi yang menyedihkan!
Lelaki                                   : Tetapi bukankah selama kita masih dapat bermimpi, dan selama kita meyakini dan mencintai mimpi itu, kita masih memiliki harapan untuk hidup?
Masa Kecilmu                      : Mimpi dan kebahagiaan itu dua hal yang berbeda. Aku memiliki mimpi kelak menjadi penyair. Tetapi itu tiada hubungannya dengan aku sekarang bahagia atau tidak. Aku sekarang bahagia karena aku memilih untuk berbahagia.
Lelaki                                   : (Hening)
Masa Kecilmu                      : (Diam sejenak. Memandangi wajah Lelaki, memerhatikan efek dari serangan kata-katanya. Menarik nafas, melanjutkan bicara.) Katakan kaumerindukanku! Katakan kaumerindukan saat-saat bahagiamu! Katakan kaumerindukan saat-saat kautidak dihantui mimpi konyol itu! Katakan... .
Lelaki                                   : (Memotong cepat.) DIAM!!! Diamlahkau! Pergi... pergi... PERGI!!!
Masa Kecilmu                      : (Sambil berlari keluar panggung, berteriak.) Kau Lelaki menyedihkan! Tak pantas disebut laki-laki!!!
Lelaki                                   : (Duduk di tanah, bersandar pada salah satu sisi bangku taman. Mengigau.) Aku tidak merindukan masa kecilku. Masa kecilku telah menjadi faktisitas di dalam hidupku. Masa kecilku tidak berpengaruh apa-apa terhadap keputusanku saat ini. Masa kecilku tidak berarti apa-apa kecuali aku menghendakinya. Aku hanya ingin mewujudkan mimpiku. Aku hanya ingin melangkah, tidak terjerat di dalam romantika masa kecilku. Jika mimpiku itu tiba, aku akan bahagia, aku akan mati dengan bahagia. Tidak, aku sama sekali tidak merindukan kebahagiaan konyol masa kecil itu. Itu kebahagiaan semu bagi diriku sekarang ini. Kenyataanku sekarang adalah aku menanti yang kurindu. Ini pilihanku. Tidak ada sangkut pautnya dengan apapun. Duniaku bukan dunia anak-anak lagi. Tidak... tidak... .
Kegelisahan                          : (Tiba-tiba saja muncul dan berdiri di belakang bangku. Tangannya yang gelap mencengkeram ujung atas sandaran bangku. Kegelapannya menyelimuti diiringi sayatan kegelisahan mendalam. Suaranya memotong kata-kata Lelaki.) Tidak? Apakah engkau yakin dengan semua itu? Bagaimana jika jeritan Masa Kecilmu itu benar adanya? Bagaimana jika engkau sebenarnya tersiksa di dalam penantian yang sia-sia ini?
Lelaki                                   : Jika penantianku sia-sia, begitu juga dengan hidup semua manusia!
Kegelisahan                          : Ahahahahaha... ada manusia yang hingga tua tetap menyimpan sifat manja masa kecilnya agar bahagia, ada manusia yang menjadi realistis dan menjual mimpi-mimpi mudanya semata hanya demi bahagia... . Sedangkan kau? Apa yang kaulakukan di sini? Berkubang di dalam luka oleh karena mimpi? Oleh karena Dia yang Tak Pernah Tiba? Menyedihkan sekali hidupmu ini. Mengapa tidak kauganti saja dengan hal-hal yang lebih sederhana dan realistis?
Lelaki                                   : Semua keputusan manusia berakhir dengan kematiannya. Dan, hanya manusia yang setia kepada mimpi-mimpinya yang akan mati dengan bahagia!
Kegelisahan                          : Bagaimana jika benar bahwa Dia Tak Pernah Tiba? Sedangkan kaukeburu membusuk mati menanti kedatangannya?
Lelaki                                   : Dia bukannya tidak pernah tiba, dia selalu hadir di sini. (Memegang dadanya.)
Kegelisahan                          : Lalu, apa yang kaulakukan di sini?
Lelaki                                   : Aku menantinya hadir dengan segenap jiwa-badannya, dengan segenap adanya.
Kegelisahan                          : Kautakkan mampu... . Kautakkan bisa... . Kauterlalu lemah. Bahkan seorang anak kecil pun meragukan kelelakianmu.
Lelaki                                   : Sebatang penis, sebatang rokok, dan secangkir kopi kental tak cukup untuk membuat seseorang menjadi lelaki. Tetapi, cinta dan harapan, kepercayaan, loyaitas, rasa memiliki satu sama lain, kesetiaan pada cita-cita, keberanian bertanggung jawab atas segala keputusan, harga diri, dan kerelaan berkorban demi mimpi... itu yang membuat laki-laki menjadi Lelaki. Kalau lelaki tak lagi memiliki semua itu, apa lagi yang dapat dia banggakan di dalam hidup?



Kegelisahan                          : Tetapi, bagaimana jika ternyata engkau seorang perempuan? Seluruh lahirmu adalah perempuan? Apakah engkau lesbian sehingga begitu menggebu menanti Dia yang Tak Pernah Tiba?
Lelaki                                   : Kalau memang benar lahirku perempuan, bukan penis yang kumiliki tetapi vagina, dan dadaku montok indah, apakah aku salah tetap meyakini mimpiku? Apakah aku salah tetap memiliki mimpi? Apakah aku salah ingin bertemu dengan dia yang selalu hadir di dalam mimpiku dan mengubah hidupku sejak aku 11 tahun? Bukankah dengan demikian aku tetap tidak kehilangan keperempuananku? Kelembutanku? Rasa welas-asihku? Rasa ingin merengkuh dan menjaga? Rasa ingin merawat kehidupan? Rasa ingin memperindah dunia? Bukankah perempuan memiliki hak yang sama di dalam membangun dunia dan mewujudkan mimpinya?
Kegelisahan                          : Jadi, kaumengaku bahwa kau sebenarnya bukan lelaki, tetapi adalah seorang perempuan, seorang perempuan lesbi yang menanti Dia yang Tak Pernah Tiba?
Lelaki                                   : (Memotong cepat.) Aku laki-laki!!! Aku laki-laki... . Aku laki-laki. Aku selalu bangga mengencingi pohon di dekat rumah. Aku mencuci celanaku ketika mimpi itu sebegitu basah. Aku onani ketika bayangnya begitu menghantui. Aku selalu terlibat di dalam semua permainan laki-laki. Aku membongkar semua mainanku untuk merakitnya kembali. Aku pergi bergerombol dengan teman sebayaku. Aku menggrafiti tembok-tembok kota yang putih bersih. Aku bertelanjang dada ketika hari panas sekali. Aku tidak mencukur bulu ketiak dan jembutku seperti yang dilakukan perempuan pada umumnya.
Kegelisahan                          : Atau, jangan-jangan kauadalah perempuan dengan jiwa laki-laki?
Lelaki                                   : (Terdiam.)
Kegelisahan                          : Hahahahahahahahaha (tertawa menang), lihatlah manusia ini! Diammu itu menjawab segalanya! Hidupmu itu absurd, Anak Muda. Penantianmu sia-sia! Seseorang yang menanti Dia yang Tak Pernah Tiba. Atau, lebih konyol lagi, perempuan yang menyangka dirinya lelaki menanti seorang perempuan yang hanya hadir di dalam mimpinya oleh karena cinta.
Lelaki                                   : Kausama sekali tidak mengenalku. Kausama sekali tidak tahu apa-apa tentangku. Kautidak tahu apa yang dinamakan kegelisahan batin yang terdalam. Kautidak mengenal apa yang dinamakan kerinduan hati yang paling dalam. Kautidak pernah memahami apa itu panggilan jiwa.
Kegelisahan                          : Kegelisahan? Akulah kegelisahan itu. Akulah kegelisahanmu yang paling dalam. Aku yang paling memahami siapa sebenarnya dirimu.
Lelaki                                   : (Diam sejenak. Merunduk. Yakin.) Yang kaupahami adalah gejolak jiwaku yang membadai. Namun, kautak mampu memahami apa itu ketenangan batin, apa itu ketenangan jiwa, apa itu kejernihan hati. Di dalam kejernihan rasa itu, aku melihat dengan jelas siapa aku sebenarnya. Aku merasakan dengan jelas apa kerinduan jiwaku. Aku mendengar dengan jernih apa panggilan jiwaku. (Berdiri, berpaling kepada Kegelisahan.) Dan, di dalam kejernihan itu aku memahami siapa aku dan apa panggilanku. Aku adalah seorang yang dilahirkan sebagai manusia. Di dalam keadaan manusiaku itu aku bukan hanya sekadar laki-laki, tetapi aku memilih untuk menjadi Lelaki. Dan, panggilan jiwaku adalah menanti di sini hingga dia tiba dan menemaniku menemui ajalku. Aku memilih untuk mati di sisinya sebagaimana aku hidup memilih untuk menanti duduk di sisinya. Oleh karena itu, aku berkata kepadamu, enyah kaudari hadapanku!



Lampu panggung black-out. Kegelisahan keluar panggung. Lelaki duduk bersandar di bangku, kedua tangannya terentang dan bertumpu pada sisi atas bangku, kedua kakinya dibiarkan lurus menyilang, kelelahan. Musik romantis mengalun memenuhi panggung. Lampu panggung perlahan menyala, biru.
Angin Sepoi-sepoi                : Oh, jiwa yang merana
                                               apa yang lebih memilukan hati
                                               dari pada penantian panjang tak terperi?
                                               siapa yang lebih celaka
                                               dari pada mereka yang tak pernah menemui mimpi
                                               bahkan ketika ajal sudah di depan mata?
                                              
                                               (Mendekati Lelaki yang terbaring di atas bangku. Memandanginya.)
                                              
                                               Aku ini Angin Sepoi-sepoi
                                               Di bawah bentang sayapku ada selaksa rindu
                                               yang saling dititipkan oleh para pecinta
                                               dan yang kusampaikan kepada pujaan hati mereka

                                               Desauku melipur lara
                                               Lembut sentuhku menghibur duka
                                               Sejuk tatapku mengobati hati yang gulana
                                               Selaksa cinta dititipkan kepadaku
                                               Selaksa cinta kusampaikan setiap waktu
Lelaki                                   : (Masih berbaring.) Angin... .
Angin Sepoi-sepoi                : (Duduk di samping Lelaki.) Kaumemanggilku, Anak Muda?
Lelaki                                   : Aku haus.
Angin Sepoi-sepoi                : Aku hanya memiliki embun pagi.
Lelaki                                   : Hari sudah pagi?
Angin Sepoi-sepoi                : Waktu berhenti untukmu.
Lelaki                                   : Angin, mengapa dia meninggalkan aku?
Angin Sepoi-sepoi                : Dia hanya ingin memastikan kaumerindukannya, kaumembutuhkan kehadirannya.
Lelaki                                   : Yang kubutuhkan di dalam hidup ini, sebelum aku mati nanti, hanyalah dia, bertemu dia, memandang wajahnya dekat-dekat, dan mengatakan betapa aku mencintainya.
Angin Sepoi-sepoi                : Apa yang kauingin aku lakukan untukmu?
Lelaki                                   : Bersajaklah untukku.



Angin Sepoi-sepoi                : Akan kubacakan sajak “Larasati” untukmu... .
                                              
                                               O… Larasati
                                               akankah aku bertemu denganmu?

                                               Aku sibak kau dalam riang
                                               tapi hingar-bingar membawamu pergi
                                               sebelum kucium punggung tanganmu
                                               sebelum kupuji parasmu

                                               Larasati
                                               di manakah gerangan kau?

                                               Kucari dalam malam
                                               di antara gemerlap jahanam
                                               di antara selangkang
                                               di antara rambut kepang
                                               tapi tiada kau, Larasati

                                               Ke mana lagi harus kucari?
                                               segera dan aku tidak muda lagi

                                               Tiada hati rela
                                               jika senja menyapa
                                               kita belum bersua

                                               Haruskah kuhabisi
                                               sisa nafasku tanpamu,
                                               Larasati?

                                               Atau, benarkah kau hanya ada
                                               bersama Pemuda Gondrong
                                               yang mati di Kalvari?

                                               Dalam hening
                                               kudengar kau bernyanyi
                                               Larasati… .

Lelaki                                   : Terima kasih... . Maukahkau kutitipi kerinduan ini? Sampaikanlah padanya, betapa aku sangat merindukannya, betapa aku sangat membutuhkannya, betapa aku sangat mencintainya. Jiwaku akan tenang berada di sisinya.
Angin Sepoi-sepoi                : Dan, kauberistirahatlah. (Bergegas keluar panggung.)
Lelaki                                   : Ke dalam tanganmu, kuserahkan rinduku. (Berbaring di atas bangku.)
Cahaya lampu kembali menyinari bangku taman itu, memotong panggung menjadi lingkaran. Sedangkan sisi lain panggung gelap. Hanya bangku, Lelaki, dan lampu taman itu yang disinari lampu.
Angin Sepoi-sepoi                : Hai mimpi yang selalu menyelinap dalam malam sang perjaka
                                               Datanglah kemari, ada seseorang yang menanti
                                               Ada gelora samudera rindu yang siap menyelimutimu
                                               Datanglah bagai anak rusa berlari kepada induknya
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Apakah dia baik-bak saja?
Angin Sepoi-sepoi                : Dia hanya kelelahan, menanggung rindu yang tak tertahankan.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : (Melihat Lelaki yang terbaring itu dari balik bangku.) Dia masih tampan seperti dulu.
Angin Sepoi-sepoi                : Kaumencintainya?
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Aku mencintainya.
Angin Sepoi-sepoi                : Mengapa kautak pernah tiba? Mengapa kauhanya menjadi mimpi malam yang selalu menghantu, kemudian lenyap tanpa bekas?
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Karena mimpi selalu lebih indah dari kenyataan.
Angin Sepoi-sepoi                : Tetapi kenyataan selalu lebih menggairahkan dari pada impian.



Dia yang Tak Pernah Tiba    : Hanya orang yang masih memiliki mimpi yang mampu bertahan hidup.
Angin Sepoi-sepoi                : Namun, kautelah lama menghilang dari mimpinya. Dan, dia mati-matian menemukanmu di dalam kehidupan nyatanya. Kini dia kelelahan.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Ada mimpi yang menjadi nyata. Ada mimpi yang hanya menjadi mimpi.
Angin Sepoi-sepoi                : Kamu adalah nyata baginya, baik di dalam mimpinya, maupun di dalam sadarnya.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Angin, tinggalkanlah kami. Biarlah kami berdua saja, walau hanya di dalam mimpi, karena mungkin ini untuk yang terakhir kali.
Angin Sepoi-sepoi                : Tugasku telah selesai. Dan aku meminta diri untuk berhembus ke mana aku berhembus. (Keluar).



Dia yang Tak Pernah Tiba    : (Berjalan mengelilingi bangku, dan duduk di bangku. Membaringkan kepala Lelaki di dalam pangkuannya.) Ketika matahari, tanah, dan air bertemu, kehidupan memiliki kesempatan baru untuk tumbuh. Akan tetapi, kehidupan tidak memiliki makna di dalam dirinya sendiri. Semuanya hanyalah absurditas dan sia-sia. Kecuali, bahwa manusia hadir di sana dan memberinya makna. Kebahagiaan, cinta, harapan, kepercayaan... itu semua hanya ada oleh karena manusia.
                                               Kehadiranmu begitu bermakna. Bukan pada siapa kamu, bukan pada apa kamu, melainkan kehendakmu untuk menjadi, itulah yang bermakna. Pilihan bebasmu untuk menghidupi hidup dan mewujudkan mimpi, itulah yang berharga.
                                               Aku mencintaimu, Kekasihku. Ya, bahkan sejak pertama kali aku menemuimu ketika kau 11 tahun itu, aku telah menganggapmu sebagai kekasihku. Maafkanlah aku yang tak pernah mewahyukan diriku secara langsung berhadap-hadapan denganmu. Aku menghargai segala penantianmu, segala perjuanganmu, segala pilihan hidupmu. Aku menghargai cintamu kepadaku.
                                               Kautelah mengarungi samudera sepi. Kautelah melalui jurang-jurang nestapa. Namun, kautak pernah kehilangan kepercayaanmu akan mimpi, kautak pernah kehilangan harapanmu akan terwujudnya mimpi itu, kautak pernah sedikitpun kehilangan cintamu kepadaku. Kini kita telah bertemu kembali, Kasihku. Hanya cinta yang kini tersisa... antara aku dan kau.
Suara tik-tok kembali berdetak. Sang Waktu berjalan, mendekati Lelaki dan Dia yang Tak Pernah Tiba. Sekeliling panggung berwarna hijau pucat.
Waktu                                  : Sudah waktunya bagi Anak Muda itu.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Waktu?! Secepat ini?
Waktu                                  : Waktu seseorang siapa yang sangka? Saat ini waktu baginya. Dia telah bertemu kembali denganmu. Biarlah aku menjemputnya.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Bukankah ketika kita mencintai seseorang, orang itu tidak akan pernah mati?
Waktu                                  : Dia akan selalu hadir di dalam hati kita.
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Aku mencintainya.
Waktu                                  : (Terdiam.)
Dia yang Tak Pernah Tiba    : Kabulkanlah permintaanku ini... .
Waktu                                  : Di dalam cinta ada kehidupan abadi. Di dalam kehidupan abadi, ruang dan waktu tidak ada lagi.



Semua pemain tablo.
Fade-out.
Diiringi musik romantis.
----------{{{{{{{{{{((((((((((END))))))))))}}}}}}}}}}----------




"Pada Malam yang Itu", Teater Seriboe Djendela, 26 April 2012, pk. 19.00, di Aula Universitas Sanata Dharma

tepi Jakal, 13 Januari 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi