Wednesday, April 28, 2010

EKSISTENSIALISME SARTREAN

EKSISTENSIALISME SARTREAN
-Padmo Adi-




Eksistensialisme
Eksistensialisme menjadi filsafat yang populer di Prancis, bahkan akhirnya di seluruh dunia. Søren Kierkegaard diakui sebagai Bapak Eksistensialisme. Namun, sebenarnya Sartrelah yang memopulerkan istilah “eksistensialisme”. Eksistensialisme memiliki banyak tokoh antara lain: Søren Kierkegaard tentunya, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Albert Camus, Martin Heidegger, ada yang mengatakan Friedrich Nietzsche juga, Franz Kafka, Miguel de Unamuno, Fydor Dostoievsky, dan tentu Jean-Paul Sartre. Masing-masing tokoh di atas sebenarnya memiliki ide mereka sendiri-sendiri tentang eksistensialisme, maka mustahil merumuskan suatu gambaran umum tentang eksistensialisme yang mencakup seluruh tokoh di atas. Memang dalam beberapa kasus tokoh yang satu memiliki pangaruh pada tokoh yang lain, tetapi akan menjadi lebih jelas jika menelaah eksistensialisme menurut pandangan masing-masing tokoh. Namun, secara umum empat masalah filosofis eksistensialisme adalah eksistensi manusia, bagaimana bereksistensi secara aktif, eksistensi manusia adalah eksistensi yang terbuka dan belum selesai, serta pengalaman eksistensial. Eksistensialisme menurut Sartre memiliki dua cabang yaitu Eksistensialisme Kristiani dan Eksistensialisme Atheis. Sartre menyatakan diri sebagai seorang eksistensialis atheis. Dalam bab ini kita akan membahas Eksistensialisme Sartrean.

L’etre-en-soi dan L’etre-pour-soi
Eksistensialisme adalah filsafat yang menelaah tentang cara ada pengada-pengada, khususnya manusia. Menurut Sartre cara ada itu ada dua yaitu l’etre-en-soi (ada-dalam-diri) dan l’etre-pour-soi (berada-untuk-diri). L’etre-en-soi adalah ada yang an sich, ada yang bulat, padat, beku, dan tertutup. Entre-en-soi menaati prinsip it is what it is. Perubahan yang ada pada benda yang ada-dalam-diri itu disebabkan oleh sebab-sebab yang telah ditentukan oleh adanya, maka benda etre-en-soi terdeterminasi, tidak bebas, dan perubahannya memuakkan (nauseant). Benda yang berada-dalam-diri ada di sana tanpa alasan apa pun, tanpa alasan yang kita berikan padanya.


Sedangkan l’etre-pour-soi (mengada-untuk-diri) adalah cara ada yang sadar. Satu-satunya makhluk yang mengada secara sadar adalah manusia. Etre-pour-soi tidak memiliki prinsip identitas karena adanya terbuka, dinamis, dan aktif oleh karena kesadarannya. Maka, manusia bertanggung jawab atas keberadaanya; bahwa aku adalah frater dan bukan bruder, bahwa aku imam tarekat dan bukan imam diosesan, bahwa aku awam dan bukan klerus, bahwa aku dosen dan bukan mahasiswa, bahwa aku mahasiswa dan bukan pengamen. Manusia sadar bahwa dia bereksistensi.

Kesadaran Prareflektif dan Kesadaran Reflektif
Kesadaran manusia menurut Sartre dibagi menjadi kesadaran prareflektif dan kesadaran reflektif. Kesadaran prafeflektif adalah kesadaran aktivitas harian. Aku bangun pagi, mandi pagi, misa harian, laudes, sarapan, kuliah, on-line facebook, hora media, makan siang, olah raga, mandi sore, vesperae, makan malam, belajar, completorium, dll. Aku mengalami itu semua tanpa kesadaran akan aku mengalami itu. Yang ada dalam obyek kesadaran misalnya adalah jam weker ketika aku bangun, dinginnya air ketika mandi pagi, hosti dan anggur ketika dikonsekrasi, mazmur ketika mendaraskan brevir, nasi dan lauk ketika sarapan, dosen yang menjelaskan di depan kelas ketika kuliah, friends on facebook ketika on-line, bola ketika berolah raga, buku diktat ketika belajar, dll. Menurut Sartre tidak ada “aku” dalam kesadaran prareflektif.


Namun, ketika di malam hari aku mengambil waktu tenang sejenak untuk menulis diary, kemudian mengambil jarak, dan memandang segenap kegiatanku selama sehari itu, memikirkan saat aku hampir terlambat bangun pagi, memikirkan aku kedinginan saat mandi pagi, memikirkan bahwa aku sempat mengantuk waktu misa harian, memikirkan saat aku fals mendaraskan mazmur brevir, memikirkan betapa aku menikmati makananku dan segelas kopi hangat, memikirkan saat aku dan teman-teman tertawa mendengar lelucon dari dosen, memikirkan betapa aku mengagumi kecantikan friends on facebook-ku, memikirkan betapa sakit kakiku saat tertendang kaki lawan, memikirkan saat aku tengah asyik menyelami pemikiran-pemikiran filsafat, pada saat itulah aku mengalami kesadaran reflektif. Pemikiran akan diri sendiri inilah yang Sartre sebut kesadaran reflektif. Selama aku berkonsentrasi dalam kesadaran reflektif, aku menemukan ‘diri’ di dalam kesadaran dan hanya di sini. Ketika konsentrasiku pecah, aku kembali kepada kesadaran prareflektif dan aku tak lagi sadar akan ‘diri’-ku.

Le Neant (Ketiadaan) dan Kebebasan
Kesadaran ini membuat aku mampu membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa aku lakukan. Misalnya, ketika aku sadar bahwa aku adalah seorang frater, aku dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa aku lakukan, aku bisa saja berkelakuan baik, menaati jadwal harian, belajar dengan baik sehingga dapat lulus ujian BA serta ujian ad audiendas dan kemudian layak ditahbiskan, lalu ditempatkan pada Paroki Sumber, sebagai pastor mendampingi para petani, misa setiap pagi, dsb. Atau, bisa saja aku membayangkan bahwa aku jatuh cinta dengan salah satu friend on facebook, kopi darat, PDKT, merasa menemukan panggilan yang lain, lalu melepas jubah dan keluar seminari, lulus S1, susah payah mencari pekerjaan, menikah, dsb. Aku kemudian ketakutan dengan apa yang bisa kulakukan itu, aku ketakutan dengan apa yang mungkin terjadi padaku, aku ketakutan kalau-kalau aku melakukan apa yang salah. Menurut Sartre kesadaran adalah “pusaran kemungkinan”. Hal ini hanya menjelaskan bahwa kita benar-benar bebas, kita dikutuk untuk bebas. “Pusaran kemungkinan ini” adalah “kebebasan yang sangat besar” dan sungguh menakutkanku.


Namun, dalam kesadaran dan kebebasan itu aku memilih suatu keputusan. Bahkan, dengan tidak memilih aku telah memilih. Hidupku terdiri dari rentetan-rentetan pilihan yang telah kuputuskan. Pilihan ini mengantarkanku dari masa lalu ke masa kini. Antara masa lalu dan masa kini terdapat jarak. Jarak ini oleh Sartre disebut le neant (ketiadaan). Dengan le neant, Sartre menolak determinisme universal karena tiada lagi kontinuitas antara masa lalu dengan masa kini. Dalam determinisme kebebasan itu mustahil, sedangkan Sartre menekankan kebebasan. Memang ada “faktisitas” pada masa lalu, ada fakta-fakta pada masa lalu yang tak dapat diubah. Bahwa aku dilahirkan sebagai orang Indonesia dan bukan orang Amerika adalah sebuah fakta pada masa laluku. Aku tak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah fakta historis itu. Suatu beban sejarah. Namun, tidak ada masa laluku yang dapat membuatku terpaksa memutuskan ini atau itu. Tiada tindakan manusia yang merupakan akibat tak terelakkan dari masa lalu.


Kesadaran selalu membuatku menarik jarak. Dalam kesadaran refleksif aku menarik jarak dengan masa laluku. Aku (di masa lalu) adalah obyek bagi aku (di masa kini yang tengah merefleksikan aku di masa lalu). Karena subyek yang menyadari berbeda dengan obyek yang disadari, aku yang sekarang berbeda dengan aku di masa lalu. Kesadaran memisahkan apa yang semula utuh, membuat apa yang semula padat menjadi tidak padat. Maka, kesadaran meniadakan (neantiser).


Contoh: Memang benar bahwa aku dilahirkan dalam keluarga Katolik dan benar bahwa aku dibaptis sejak bayi. Dua hal itu adalah faktisitas, fakta pada masa laluku yang tak dapat kuubah sama sekali. Namun, dengan kenyataan itu aku tidak serta-merta mengimani Allah Tritunggal dan kemudian masuk seminari. Semua faktisitas pada masa laluku itu adalah tanda. Akulah yang menafsirkan tanda itu, akulah yang memberikan makna dan nilai pada tanda itu. Aku bisa saja memaknai bahwa ajaran Katolik tentang Allah Tritunggal itu isapan jempol belaka, lalu aku meninggalkan imanku dan menjadi imam bagiku tidak ada gunanya. Namun, aku pun juga bisa menentukan makna bahwa ajaran Katolik tentang Allah Tritunggal itu benar lalu aku mengimani-Nya dan bahwa menjadi imam itu berharga.

Tanggung Jawab
Eksistensi mendahului esensi. Tidak ada hakikat pada manusia yang menjadikan dia serta-merta adalah manusia. Manusia bukanlah pengada yang etre-en-soi, melainkan pengada yang etre-pour-soi. Sebagai pengada etre-pour-soi, manusia tidak pernah jadi (be/sein) sebagaimana meja yang adalah meja (etre-en-soi), melainkan menjadi (being/werden). Manusia menjadi manusia sejauh dia menciptakan dirinya. Manusia selalu menciptakan dirinya. Manusia menciptakan diri lewat setiap keputusan yang dia pilih, lewat setiap tindakan-tindakan bebasnya. Maka, manusia bebas menjadi apa yang dia kehendaki. Manusia bukan “apa-apa” sampai dia menjadikan dirinya “apa-apa”.


Pengada yang etre-en-soi ada begitu saja, tidak memiliki makna dan nilai. Manusia dengan kesadaran dan kebebasannya dapat memberikan makna dan nilai pada dirinya. Nilai itu diberikan manusia pada saat dia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan atau pada saat dia memilih. Pilihan ini mengandaikan tanggung jawab. Tanggung jawab ini tidak hanya tanggung jawab atas diri kita sendiri atau hanya tanggung jawab atas pilihan kita sendiri, tetapi adalah tanggung jawab atas seluruh umat manusia di dunia karena setiap pilihan yang kita buat memiliki implikasi terhadap orang lain juga, setidaknya orang-orang di sekitar kita.


“Apabila kita mengatakan manusia memilih dirinya sendiri, ini tidak berarti bahwa setiap orang dari antara kita harus memilih dirinya sendiri, tetapi juga bahwa dalam memilih untuk diri sendiri, manusia memilih untuk semua. Karena, efek dari tindakan-tindakan yang ia pilih untuk menciptakan dirinya,” kata Sartre,”Memilih keputusan ini atau itu pada saat yang sama adalah penegasan nilai yang kita pilih, karena kita tidak pernah memilih pilihan yang paling buruk. Apa yang kita pilih selalu pilihan yang paling baik; dan tidak ada satu pilihan pun yang lebih baik bagi kita kecuali pilihan-pilihan yang lebih baik bagi sesama manusia. Labih jauh lagi, jika eksistensi mendahului esensi dan kita ingin mengada dan pada saat yang sama mewujudkan citra kita, citra tersebut valid untuk semua manusia dan semua zaman di mana kita hidup.”


Tanggung jawabku menyangkut semua umat manusia. Apa yang kunyatakan baik bagiku secara logis harus kukatakan baik bagi semua orang. Hal ini mirip dengan “imperatif kategoris” Immanuel Kant. Kant berkata,”Bertindaklah sehingga maksim dari tindakanmu diterima sebagai hukum universal.” Namun, ketika pernyataan ini ditarik sampai ke pada batas oleh Sartre, bahwa ketika aku menghendaki kebebasanku maka aku pun menghendaki kebebasan orang lain, dia mendapati situasi konflik yang tak terpecahkan. Kebebasanmu membatasi kebebasanku.

Hell is Others
Kebebasan orang lain tidak meneguhkan kebebasanku. Contoh: aku tengah duduk-duduk di taman menikmati suasana senja dengan bebas. Pohon-pohon, rerumputan, bebatuan, kursi-kursi, lampu-lampu, suasana senja di taman adalah obyek bagiku. Aku mengada bebas pada duniaku itu. Tiba-tiba datang orang lain mengamatiku. Aku menjadi obyek baginya. Serta-merta duniaku tersedot dunianya. Dia merenggut kebebasanku. Namun, dia tak sepenuhnya mengobyekkanku. Ketika aku menatap balik dia, dia dan segenap dunianya menjadi obyek bagiku. Aku (dan mungkin juga orang lain itu) mungkin merasa malu. Dalam rasa malu aku mengetahui sebuah aspek dari keberadaanku. Aku mendapati diriku sebagai obyek yang diciptakan oleh tatapan orang lain. Sartre menyebut ini “berada-bagi-orang-lain”. Aku dipaksa untuk memberikan penilaian atas diriku sendiri sebagai suatu obyek. Ketika aku menjadi obyek tatapan orang, aku bukan lagi etre-pour-soi, melainkan etre-en-soi. Aku dipaksa bertanggung jawab atas diriku yang sudah dinyatakan padaku oleh tatapan orang lain.

Nasihat Sartre
Dalam hidup kita menemui banyak sekali pilihan. Terkadang pilihan itu sebegitu dilematis sehingga kita mengalami kesulitan untuk membuat keputusan. Seperti kisah nyata seorang pemuda, murid Sartre, yang dicontohkannya dalam Eksistensialisme dan Humansime. Lalu, apa yang dinasihatkan Sartre kepada pemuda tadi? “Kamu bebas, memiliki kebebasan, maka tentukanlah pilihanmu, temukanlah pilihanmu sendiri,” kata Sartre,”Pilihlah, yaitu, ciptakan!” Dalam setiap pilihan akan ada penderitaan, tetapi juga ada penciptaan dunia!


Bibliografi
Hadiwijono, Harun, 2010, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius

Martin, Vincent, 2003, Filsafat Eksistensialisme, Kierkegaard, Sartre, Camus, terj. Taufiqurrohman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Palmer, Donald D., 2007, Sartre untuk Pemula, terj. B. Dwianta Edi Prakosa dan Stepanus Wakidi, Yogyakarta: Kanisius

Sartre, Jean-Paul, 2002, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wednesday, April 14, 2010

METAFISIKA AL-FARABI

METAFISIKA AL-FARABI
-Padmo Adi-




Pendahuluan
Tidak seperti Al-Kindi yang hanya mengulang filsafat Yunani dalam bahasa Arab, Al-Farabi memiliki kekhasan dan warna tersendiri pada filsafatnya. Dia dinyatakan sebagai sebenar-benarnya filsuf Islam, bahkan dialah yang dikenal sebagai peletak fondasi filsafat Islam. Dia dikenal sebagai al-Mou’allim al-Thani, Sang Guru Kedua. Banyak hal menjadi pokok perenungan filosofis Al-Farabi, salah satunya adalah metafisika. Dalam pembahasan mengenai Al-Farabi dalam kuliah kelompok hanya memberikan ulasan selayang pandang secara garis besar dan kurang mendalam. Maka, saya tertarik untuk mendalami salah satu pokok pemikiran Al-Farabi, Metafisika.

Biografi
Abu Nasr Al-Farabi atau Alpharabius atau lebih dikenal sebagai Abu Nashr atau Abunaser lahir di Wasij, Farab (Transoxania), Turki, 872 M/259 H. Ayahnya, Muhammad Auzlagh, adalah seorang panglima perang Persia. Ibunya orang Turki. Al-Farabi belajar tata bahasa, logika, filsafat, musik, matematika, dan ilmu pengetahuan di Baghdad. Dia menguasai Bahasa Arab, Turki, Kurdi, dan Persia, bahkan Bahasa Yunani dan Siria. Maka, tak heran dia mampu menyelami jiwa Plato dan Aristoteles. Dia belajar logika kepada Abu Basyr Matta bin Yunus di Baghdad. Al-Farabi sangat mahir logika, bahkan lebih mahir dari pada gurunya sendiri. Julukannya al-Mou’allim al-Thani (Guru Kedua); Aristoteles adalah al-Mou’allim al-Awwal (Guru Pertama). Dia lalu belajar kepada seorang Nestorian, Yuhanna bin Haylan, di Harran. Pada tahun 943 M/330 H dia pindah ke Aleppo (Halap).

Al-Farabi adalah seorang filsuf humanis, bukan naturalis; pemikiran-pemikirannya lebih kepada pemikiran tentang manusia dari pada tentang semesta raya. Dia menguasai pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles, dan Neo-Platonis. Pemikiran-pemikiran itu dia harmonikan dengan alam pikir Islam (Syi’ah Imamiah) dan Al-Quran. Bahkan, dalam sebuah literatur dikatakan bahwa Al-Farabi memandang Aristoteles dan Plotinos sebagai nabi-nabi yang tidak ditulis dalam Al-Quran sementara ada beberapa orang, termasuk orang zaman post-modern, memandang filsafat menyesatkan.

Masih di usia muda Al-Farabi, yang adalah seorang Islam Syiah Imamiah, memiliki kehidupan spiritual dan dia mempraktikkan sufisme. Ia adalah ahli musik terbesar dalam sejarah Islam dan sekaligus komponis. Musiknya masih dapat didengarkan dalam musik sufi India. Maulawiyah dari Anatolia masih memainkan komposisinya sampai sekarang. Pengetahuan estetika Al-Farabi berjalan seiring dengan pengetahuan logika.

Dia hidup di tengah pergolakan sosial-politik Islam. Meski menulis tentang dan mewariskan karya monumental pada bidang politik, Al-Farabi menjauhi dunia itu. Dia lebih membaktikan diri pada kontemplasi dan renungan filosofis. Dia adalah ahli metafisika Islam yang pertama terkemuka.
Di Aleppo (Halab) dia diangkat oleh Gubernur Aleppo, Saifuddaulah Al-Hamdani, menjadi ulama istana. Namun, kota favoritnya adalah Damaskus (Damsyik). Setelah diajak Sang Gubernur merebut kota itu, Al-Farabi menetap di sana. Dia menghabiskan hari-harinya di sebuah kebun di pinggir kota untuk merenungkan perenungan-perenungan filosofis. Pemikirannya mempengaruhi pemikiran filsuf-filsuf Islam sesudah dia seperti Ibn Sinna dan Ibn Rusyd. Al-Farabi dianggap sebagai pendiri dan seorang wakil paling terkemuka aliran utama filsafat Islam, Masysyai (Peripaterik) filsuf-keilmuan. Pada tahun 950 M dia meninggal pada usia 80 tahun.

Karya-karya Al-Farabi
Karya Al-Farabi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu karya yang membahas masalah logika dan karya yang membahas masalah lain. Al-Farabi berpendapat bahwa filsafat (penggunaan akal) ada lebih dulu dari pada agama. Bangsa Babilonia dan Mesir kuno, jauh sebelum nabi Ibrahim (Abraham) dan Musa mewahyukan kebenaran, telah menggunakan akal-budi mereka untuk menyingkapkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat (akal-budi) dan kebenaran agama (wahyu) bagi Al-Farabi pada hakikatnya sama dan satu. Maka, dia berusaha mengharmonikan filsafat dan agama.

Karya-karya Al-Farabi antara lain adalah sebagai berikut:
1. Maqalah fi Aghradhi ma Ba’da al-Thabi’ah
2. Ihsha’ al-Ulum
3. Kitab Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah
4. Kitab Tahshil al-Sa’adah
5. ‘U’yun al-Masa’il
6. Risalah fi al-Aql
7. Kitab al-Jami’ bain Ra’y al-Hakimain : al-Aflatun wa Aristhu
8. Risalah fi Masail Mutafariqah
9. Al-Ta’liqat
10. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat

Metafisika Al-Farabi
Sejak kuno para filsuf mencari hakikat kebenaran (arkhe). Thales mengatakan bahwa arkhe (prinsip dasariah) adalah air. Anaximenes mengatakan udara. Anaximandros mengatakan arkhe adalah to apeiron (yang tak terbatas); to apeiron bersifat ilahi, tidak dapat diamati panca indera, tak terbatas, tak bergerak, tak terselami, tak tercipta, dan merupakan keadilan total yang menyatukan dan mengarahkan segala sesuatu. Pembicaraan mengenai arkhe kemudian berkembang mengenai pembicaraan antara yang tetap dan yang berubah. Heraklitos menyatakan bahwa hakikat kenyataan adalah Yang Berubah. Parmenides membantahnya, hakikat kenyataan menurutnya adalah Yang Tetap. Plato menyintesiskan dua pendapat ini dengan membagi dua dunia: yang tetap (dunia idea) dan yang berubah (dunia nyata) dengan titik berat pada yang tetap (dunia idea). Aristoteles mengikuti Plato dengan membagi: yang tetap (forma) dan yang berubah (materia) dengan titik berat pada yang berubah; 12 kategori Aristoteles terdiri dari esensi (1 kategori) dan aksidensi (11 kategori).

Al-Farabi yang terpengaruh Aristoteles membedakan materia dan forma (bentuk). Materia adalah potentia, sedangkan forma adalah actus, misalnya kayu adalah materia, maka meja, kursi, lemari adalah forma. Apa yang dibahas Al-Farabi dalam metafisikanya sama dengan apa yang dibahas oleh filsuf-filsuf (Yunani) sebelum dia, bagaimana menjelaskan Yang Esa dan Yang Plural dan bagaimana hubungan antara Yang Esa dengan Yang Plural itu. Para filsuf Yunani seperti Plato menjawab itu dengan Ide Tertinggi, Aristoteles dengan Causa Prima, sedangkan Plotionos dengan To Hen (Yang Mahasatu). Al-Farabi mengambil ide-ide itu dan dengan mudah mengidentikkan dengan Allah meski Plato, Aristoteles, dan Plotinos tidak berpikir ke sana.

Perenungan dan sintesis filosofisnya akan hakikat kebenaran mengantar dia pada persoalan bagaimana eksistensi dan hakikat Tuhan dijelaskan. Namun, sebelum membicarakan Tuhan, dia terlebih dulu membagi wujud dalam dua bagian.

Wujud mumkin, wujud yang nyata karena ada yang lainnya (wajib-ul-wujud li ghairihi). Wujud mumkin adalah sesuatu yang mendapatkan adanya berkat ada yang lain. Contohnya adalah cahaya matahari. Cahaya tidak ada jika tidak ada matahari (atau benda berpijar lainnya). Cahaya sendiri menurut tabiatnya (hakikatnya) bisa merupakan wujud dan bisa bukan wujud. Karena matahari telah merupakan wujud, cahaya menjadi wujud yang nyata (wajib). Wujud mumkin tersebut menjadi dasar pemikiran adanya Causa Prima yang oleh Al-Farabi sangat mudah diidentikkan dengan Allah. Segala yang mumkin harus berakhir pada sesuatu yang pertama kali ada, yang ada pada dirinya sendiri. Sepanjang apapun rangkaian kausalitas wujud mumkin itu, wujud mumkin tetap membutuhkan wujud yang memberi ada kepadanya sebab wujud mumkin tidak dapat ada pada dirinya sendiri.

Wujud yang nyata dengan sendirinya (wajib-ul-wujud li dhatihi). Wajibul-wujud li dhatihi adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujudnya (Ada yang pertama). Wujud yang ada pada dirinya sendiri. Jika wujud ini tidak ada, maka yang ada hanyalah kemuslihatan. Sebab, jika wujud ini tidak ada, yang lain pun tidak akan ada sama sekali. Wujud ini menjadi dasar bagi wujud-wujud mumkin. Wujud ini adalah Causa Prima, Sang Ada Yang Pertama. Al-Farabi dengan mudah menamainya Tuhan (Allah).
Menurut Al-Farabi Tuhan/Ada yang Pertama (Al-Awwal) adalah penyebab dari segala ada. Tuhan adalah sebab yang tidak disebabkan, bebas dari materia dan tanpa forma –karena forma hanya dapat ada dalam materia– dan Ada-Nya tidak memiliki tujuan atau akhir diluar Diri-Nya sendiri sebab Tuhan adalah sempurna dan mahaesa. Tuhan adalah Zat asali, tanpa permulaan, dan yang selalu ada. Karena Tuhan adalah tunggal, sifat Tuhan tidak berbeda dari Zat-Nya. Maka, Tuhan ada pada Diri-Nya sendiri. Karena tidak membutuhkan benda (selain Diri-Nya sendiri) untuk mengada, Tuhan adalah akal/fikiran/rasio murni (‘aql bi’l-fi’l).

Tuhan, tidak seperti wujud-wujud mumkin, tidak terdiri dari zat dan bentuk. Tuhan adalah substansi yang tiada bermula, asali, sudah ada dengan sendirinya, dan akan ada untuk selamanya. Esensi Tuhan begitu sederhana dan tak dapat dibagi. Substansi-Nya sendiri telah cukup menjadi sebab Ada-Nya yang kekal. Karena Tuhan adalah Causa Prima yang ada pada Diri-Nya sendiri, Tuhan mahasempurna. Maka, tiada yang menyamai kesempurnaan-Nya sebab jika ada-Nya ada pada sesuatu selain Tuhan, sesuatu itu adalah sekutu-Nya (partner – sharik) atau bahkan rival-Nya.

Tuhan itu mahaesa, maka Dia sama sekali tidak dapat diberikan definisi-definisi sebab hal itu dapat mereduksi keesaan-Nya. Definisi adalah penggambaran yang berarti pembatasan. Pembatasan berarti suatu penyusunan dengan memakai species dan differentia (an-nau wal-fasl) atau dengan hule dan forma yang hanya dapat diberikan kepada wujud mumkin, padahal semua itu mustahil bagi Tuhan. Jika Tuhan dapat dirumuskan atau didefinisikan sebagaimana makhluk, maka substansi Tuhan terbatas. Jika substansi Tuhan terbatas, Tuhan bukan lagi Yang Mahasempurna dan Yang Mahaesa.

Emanasi (al-faidl)
Al-Farabi mengatakan bahwa ada Hierarki wujud. Hierarki wujud itu adalah sebagai berikut:
• Allah Sang Causa Prima – rasio murni
• para malaikat dengan wujud yang imaterial
• benda-benada langit (celestial)
• benda-benda bumi (terestial)
Dengan hierarki tersebut Al-Farabi hendak melanjutkan Status Questionis metafisika para filsuf (Yunani Klasik) sebelumnya, bagaimana menjembatani Ada Yang Rohani (Intelligible) dengan ada-ada yang material, bagaimana Ada Yang Tunggal itu (dalam bahasa Plotinos To Hen) menjadi ada-ada yang plural, dan bagaimana Ada Yang Kekal (tak berubah) menjadi ada-ada yang temporal (berubah). Dia memakai teori emanasi Plotinos untuk menjawab hal tersebut. Namun, Al-Farabi menambah beberapa hal dalam teori tersebut sehingga teori emanasi Al-Farabi memiliki ciri khasnya sendiri dan pula uraian Al-Farabi lebih ilmiah.


Tuhan adalah Causa Prima dan Tuhan adalah rasio murni. Tuhan adalah esa, maka Tuhan hanya memerlukan Zat/Substansi-Nya sendiri untuk mengetahui Diri-Nya sendiri. Emanasi itu timbul karena pengetahuan Tuhan terhadap Zat/Substansi-Nya yang tunggal itu. Dasar emanasi tersebut adalah karena dalam pemikiran Tuhan (dan pemikiran akal-akal tersebut) terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan, seperti halnya manusia yang berpikir akan menciptakan sesuatu lalu tergerak untuk mewujudnyatakan idenya itu.
• Tuhan adalah Wujud I (wajib-ul wujud li dhatihi) dan dari Wujud I timbul Akal I (al-aql al-awwal).
• Akal I adalah Wujud II, darinya timbul akal II yang memantulkan falak aqsa, dari akal I timbul langit I
• Akal II adalah Wujud III, darinya timbul akal III yang memantulkan bintang tetap (al-kawatib at-tsabitah)
• Akal III adalah Wujud IV, darinya timbul akal IV dan memunculkan Planet Saturnus (Zuhl)
• Akal IV adalah Wujud V, darinya timbul akal V dan memunculkan Planet Yupiter (Mushtari)
• Akal V adalah Wujud VI, darinya timbul akal VI dan memunculkan Planet Mars (Marish)
• Akal VI adalah Wujud VII, darinya muncul akal VII dan memunculkan matahari (Shams)
• Akal VII adalah Wujud VIII, darinya muncul akal VIII dan memunculkan Planet Venus (Zuhrah)
• Akal VIII adalah Wujud IX, darinya muncul akal IX dan memunculkan Planet Merkurius (Utharid)
• Akal IX adalah Wujud X, darinya muncul akal X dan memunculkan Bulan (Qamar)
• Akal X memunculkan manusia, wujud yang mumkin.

Jumlah akal dibatasi sepuluh karena ada sembilan bintang. Diperlukan satu planet untuk masing-masing akal, kecuali akal pertama yang tak disertai suatu planet pun ketika keluar dari Tuhan. Al-Farabi berpendapat bahwa jumlah bintang ada sembilan. Menurut Aristoteles jumlah benda angkasa ada tujuh. Al-Farabi menambah lagi dua benda langit yaitu benda langit terjauh (al-falak al-aqsha) dan bintang-bintang tetap (al-kawatib at-tsabitah) berdasarkan teori Ptolomaeus, seorang ahli astronomi dan ilmu bumi Mesir pada abad II Masehi. Sembilan dari sepuluh akal tersebut mengurus kesembilan benda langit, sedangkan akal X (akal Bulan/Qamar) mengawasi dan mengurangi kehidupan di bumi. Berbeda dari Tuhan yang hanya memiliki satu obyek pemikiran (Zat-Nya sendiri), akal-akal tersebut memiliki dua obyek pemikiran yaitu Tuhan (Zat wajib-ul wujud) dan diri akal-akal itu sendiri.

Dengan teori emanasi secara sistematis dan logis Al-Farabi menjelaskan bagaimana semesta ini (memperoleh) ada. Yang benar-benar ada adalah Tuhan (wajib-ul wujud li dhatihi), sedangkan yang lain mendapat ada dari Sang Ada. Uraian Al-Farabi ini berbeda dengan paham penciptaan tradisional, penciptaan melalui Kun Fayakun (Creatio ex Nihilo).

Penutup
Al-Farabi berkeyakinan bahwa kebenaran filsafat (akal budi) dan wahyu sebenarnya adalah sama. Maka, dia berusaha menyelaraskan keduanya. Dia membahasakan kebenaran wahyu secara rasional dan mengharmonikan kebenaran filsafat dengan wahyu (Al-Quran). Al-Farabi dengan teorinya telah berhasil mempertanggungjawabkan secara rasional ajaran Islam tentang keesaan Allah. Bahkan, dia telah berhasil menyelaraskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani Klasik. Dia berhasil secara sistematis membangun tonggak-tonggak filsafat Islam. Emanasi Al-Farabi kemudian diteruskan oleh Ibn Sinna. Teori pengetahuan, filsafat manusia, serta filsafat kenabian diturunkan pula dari teori emanasi ini.

Namun, Al-Farabi tidak merasa puas. Untuk lebih menjembatani akal budi dan wahyu, dia memakai Tasawwuf/Sufisme. Bagi Al-Farabi, sebagaimana Plato, Kebenaran Utama tidak terperikan dan hanya dapat dijangkau dengan ketajaman batin dan dengan renungan seorang filsuf.


Pemikirannya tentang emanasi dapat menjadi pintu dialog bagi iman Kristiani untuk menjelaskan esensi Yesus (sebagai Firman Allah). Namun, perlu disadari sebelumnya bahwa pemikirannya tak lain adalah pembahasaan secara rasional aliran Islam Syi’ah Imamiah. Sehingga, teori emanasi Al-Farabi baru menjadi batu loncatan pertama dialog sebab aliran Islam mayoritas di Indonesia adalah Sunni.

Bibliografi
Al-Ahwani, Ahmad Fuad
1993 FILSAFAT ISLAM, Jakarta: Pustaka Firdaus

Fakhry, Majid
2002 AL-FARABI, Founder of Islamic Neoplatonism, His Life, Works and Influence, Oxford: Oneworld

Heru Prakosa, J. B. & J. Hadiwikarto
1997 FILSAFAT–TEOLOGI ISLAM, Yogyakarta: Fakultas Teologi USD

Nober, Antonius, dkk.
2009 FILSAFAT ISLAM – Al-Kindi, Al-Farabi, Abu Bkr Al-Razi, Yogyakarta: Fakultas Teologi USD

Nurisman
2004 DINIKA Vol. 3 Januari, Pemikiran Metafisika Al-Farabi, 83-100

Sudarsono
2004 FILSAFAT ISLAM, Jakarta: Rineka Cipta

Tuesday, April 13, 2010

LUDWIG ANDREAS FEUERBACH (Homo Homini Deus)

LUDWIG ANDREAS FEUERBACH (Homo Homini Deus)
-Padmo Adi-


Ludwig Andreas Feuerbach terkenal dengan bukunya “Das Wesen des Christentums/The Essence of Christianity/Inti Kristianitas”. Buku ini oleh Arnold Ruge, Karl Marx, Friedrich Engels, Richard Wagner, dan David F. Strauss dikatakan sabagai “Kebenaran pada Masa Kita”. Thesis dari buku ini sebenarnya hanya sederhana dan berangkat dari filsafatnya yang berlatar belakang Hegelian –Feuerbach adalah seorang Hegelian sayap kiri– tetapi ketika semakin menyelami buku itu, kita akan mendapati pembahasan yang jauh lebih rumit.

Feuerbach menerima dari Hegel suatu konsep tentang bagaimana seorang manusia menjadi diri sendiri. Untuk menjadi diri sendiri, seseorang harus menjadi obyek bagi dirinya sendiri. Ibaratnya, seorang aktor mengetahui dirinya adalah seorang aktor dengan memainkan sebuah naskah drama di atas pertunjukan teater dan diapresiasi oleh penonton. Seseorang memiliki hakikat. Dengan mengobyektivasi hakikatnya itu, seseorang dapat memandang dirinya sehingga mengetahui siapa dia sebenarnya. Dia memproyeksikan hakikatnya itu keluar sehingga menjadi nyata dan dia dapat mengamati dan mengenalinya.

Sejauh ini Feuerbach membicarakan hakikat individual, bagaimana seseorang mengenali dirinya sendiri dengan memproyeksikan hakikatnya itu ke alam obyektif. Namun, Feuerbach tidak hanya berhenti pada pembicaraan itu. Dia mengatakan bahwa,”Aku akan menjadi aku yang sejati berkat adanya kamu. Manusia baru menjadi manusia berkat manusia yang lain.” Hubungan itu tidak hanya terbatas pada hubungan antarindividu, tetapi adalah hubungan bangsa manusia (Gattung).

Manusia sebagai individu itu terbatas. Manusia menyadari dirinya terbatas karena dia melihat bahwa bangsa manusia, sekumpulan besar manusia, adalah tidak terbatas. Feuerbach sepertinya tidak membatasi kumpulan manusia ini (Gattung) dengan waktu, sehingga baik manusia yang hidup di masa prasejarah, masa kuno, masa medieval, masa modern (sezaman dengannya sendiri), dan masa postmodern adalah satu bangsa manusia yang menjadi obyek seorang individu untuk mengenali dirinya sendiri. Feuerbach berkata,”Individu memang dapat dan harus merasakan dan menyadari dirinya terbatas karena ketidakterbatasan bangsa manusia merupakan obyek baginya.”

Karena menyadari dirinya sebagai individu terbatas, manusia melahirkan suatu ideal-ideal tertentu. Misalnya, manusia menyadari bahwa dia adalah makhluk yang terikat pada ruang dan waktu dan kelak suatu waktu dalam hidupnya dia akan mengalami apa yang disebut dengan kematian, maka manusia mengidealkan sesuatu yang tak terikat ruang dan waktu, yang kekal, yang tak dapat mati. Hal itu kemudian menjadi ide tentang kekekalan dan keabadian. Lebih jauh, hal ini kemudian melahirkan ide tentang Allah yang kekal dan yang kemudian disembah dalam agama dan kepada-Nya sang manusia beriman.

Menurut Feuerbach, kepercayaan religius manusia kepada Allah merupakan kepercayaan manusia kepada ketidakterbatasan dan kebenaran hakikatnya sendiri. Sejauh ini Feuerbach menilai positif agama. Agama adalah proyeksi hakikat manusia. Dalam agama manusia dapat melihat siapa dia, misalnya bahwa dia kuasa, kreatif, baik, berbelaskasihan, dapat saling menyelamatkan, penuh cinta-kasih, selalu mencipta, rela berkorban, bijaksana, pemurah, pengampun, dll. Proyeksi itu kemudian dipersonifikasikan dan diberi nama Tuhan, Allah, atau dengan sebutan apapun manusia menyebut-Nya. Maka, sebenarnya bukan Tuhan yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya, melainkan manusialah yang menciptakan Tuhan seturut gambar dan rupanya.

Manusia lupa bahwa itu adalah proyeksi diri mereka sendiri. Mulai titik ini Feuerbach melancarkan serangannya. Proyeksi yang pada akhirnya dipersonifikasikan itu dianggap benar-benar ada dan mandiri, sebagai subyek yang bereksistensi pada Diri-Nya sendiri. Personifikasi yang disebut Tuhan, Allah, atau dengan sebutan apapun manusia menyebut-Nya itu pada akhirnya disembah padahal tidak nyata. Manusia lupa bahwa yang dia sembah sebenarnya tak lain adalah proyeksi dirinya sendiri (dan Trinitas itu tak lain adalah ideal manusia akan budi, kehendak, dan cinta). Manusia sebegitu terpesona oleh sembahannya yang tak terbatas itu, bahkan kemudian dia menjadi takut.

Bukannya manusia berusaha mewujudkan diri sesuai dengan hakikat dan ideal yang dia proyeksikan, manusia malah menyembah dan mengharap berkat dari proyeksinya itu. Sebagai gambaran adalah Bangsa Israel yang membuat patung lembu emas dan kemudian menyembah ciptaannya sendiri. Manusia menjadi pasif. Dengan demikian manusia teralienasi dari hakikatnya sendiri. Agama justru mengasingkan manusia dari kesejatian dirinya sendiri. Dari pada bersusah-susah memanifestasikan kemanusiaannya, dari pada berusaha menjadi kuat, menjadi murah hati, menjadi penuh cinta-kasih, menjadi adil, menjadi baik, manusia justru lebih senang memandangi idealnya tersebut, menyembahnya, dan mengharapakan sifat-sifat itu dianugerahkan kepadanya. Dari pada bersusah-susah mengusahakan kebahagiaan sewaktu masih hidup dalam kini-sini, manusia lebih senang berharap bahwa kelak suatu saat nanti akan ada kehidupan setelah kematian di mana manusia dapat bahagia selamanya.

Secara khusus, penyembahan proyeksi ideal dirinya sendiri itu menghambat manusia memanifestasikan hakikatnya yang adalah makhluk sosial. Maka, tak heran jika manusia beragama dengan agama apapun sering tampak intoleran dan fanatik. Feuerbach yakin bahwa kepercayaan kepada Tuhan, Allah, atau dengan nama siapapun manusia menyapa-Nya, hanya akan menghalangi kedewasaan, kebebasan (mengada) manusia, kemajuan, ilmu pengetahuan, dan pencerahan.

Maka, menurut Feuerbach, agar alienasi itu dapat teratasi dengan baik dan manusia dapat menjadi dirinya sendiri secara utuh-penuh, manusia perlu menihilkan agama. Ia harus menarik agama ke dalam dirinya sendiri. Teologi harus menjadi antropologi. Dan, manusia akan menyadari bahwa yang selama ini dia sembah, yang kepada-Nya manusia berdoa, yang kepada-Nya manusia takut, yang kepada-Nya manusia terpesona, yang kepada-Nya manusia beriman, sebenarnya tak lain adalah hakikat kemanusiaannya sendiri. Homo homini Deus.

Bibliogarfi
Hardiman, F. Budi
2007 FILSAFAT MODERN, Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia

Jacobs, Tom
2006 PAHAM ALLAH, Dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius

L. Tjahjadi, Simon Petrus
2007 TUHAN PARA FILSUF DAN ILMUAN, dari Descartes sampai Whitehead, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz
2006 MENALAR TUHAN, Yogyakarta: Kanisius

Sunday, April 11, 2010

MANUSIA SUBYEK AUTONOM

MANUSIA SUBYEK AUTONOM
-Padmo Adi-

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas. Dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu . Perealisasian kemanusiaan ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya bekerja.

Dalam sistem kapitalisme orang-orang bekerja pada seorang pemilik modal (kapitalis). Sistem kapitalisme sebenarnya adalah sistem yang bebas, bebas dari pembatasan apapun, bebas untuk memproduksi barang sebanyak apapun. Tujuan sistem ini adalah keuntungan sebesar mungkin, uang sebanyak mungkin. Hal ini memberi ruang bagi manusia-manusia egois dan serakah. Para kapitalis itu saling bersaing; yang kuat menang, yang lemah kalah. Untuk bersaing produktivitas produksi harus ditingkatkan, biaya produksi ditekan serendah mungkin . Tentu biaya produksi itu termasuk gaji/upah para pekerja.

Para pekerja yang disebut buruh itu semakin miskin. Mereka merosot ke bawah syarat-syarat eksistensi kelas mereka sendiri [MCP, MEW 4, 473]. Di sinilah letak ketidakadilan itu. Para buruh itu bekerja tidak lagi untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka, tapi semata untuk uang. Mereka kehilangan kebebasan justru oleh sistem yang bebas. Eksistensi mereka tertindas oleh overeksistensi sekelompok kecil orang yang disebut kaum kapitalis. Mereka dieksploitasi oleh kelompok kecil itu.

Kebebasan manusia terletak pada motivasinya. Manusia memutuskan apa yang ingin diperbuatnya, tidak seperti binatang yang ditentukan oleh lingkungannya . Dalam kapitalisme kaum buruh tidak dapat memutuskan apa yang ingin diperbuatnya karena dalam kemiskinan (dan pemiskinan) mereka butuh uang.

Ketika seseorang menyadari kemanusiaannya, dia akan memanifestasikannya. Dia akan mengada sesuai adanya. Dia adalah subyek, tuan atas nasibnya sendiri. Dan, subyek-subyek yang lain pun pasti mengalami hal itu. Maka, eksistensi subyek yang satu dibatasi oleh eksistensi subyek yang lain. Di sinilah letak keadilan itu. Menurut Gabriel Marcel adalah hubungan subyek-subyek (ich-du), bukan subyek-obyek (ich-es). Jadi, sistem kapitalisme adalah sistem yang tidak adil.

Antitesis dari kapitalisme adalah sosialisme. Sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme juga adalah pendiktean orang banyak oleh sekelompok kecil orang, jadi esensinya sama dengan kapitalisme (sama-sama kanan), hanya beda pada eksistensi dan cara. Sosialisme berusaha menghapus penghisapan orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sosialisme, kata Sjahrir, adalah ajaran dan gerakan mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan .

Sosialisme mendorong subyek-subyek untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka masing-masing tanpa terjadi overeksistensi. Sosialisme adalah konsekuensi logis eksistensialisme. Dan, sosialisme adalah solusi keadilan atas ketidakadilan dalam kapitalisme.


Bibliografi
Leahy, Louis,
2007 Siapakah Manusia?, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz,
1999 Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia

Mangunwijaya, Y. B.,
1998 Menuju Republik Indonesia Serikat, Jakarta: Gramedia

Sartre, Jean-Paul
2002 Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Friday, April 9, 2010

EKSISTENSI MANUSIA - Proses Menyempurnakan Cinta

EKSISTENSI MANUSIA - Proses Menyempurnakan Cinta
-Padmo Adi-

1. Pengantar
Apa manusia? Siapa manusia? Dan, bagaimana manusia? Pertanyaan itu adalah pertanyaan eksistensial yang dipertanyakan oleh manusia sendiri dalam kesadarannya. Bahkan, pertanyaan itu sudah dipertanyakan sejak manusia sadar akan keberadaan dirinya. Lewat cerita-cerita mitologi hingga refleksi-refleksi filosofis dari era-era sebelum Masehi hingga abad postmodern ini manusia selalu mencoba menemukan jawab.


Tiga pertanyaan sederhana itu dapat diulas dalam suatu skripsi tebal atau suatu buku beratus-ratus halaman atau dibahas oleh beribu-ribu filsuf dengan beragam refleksi mereka. Akan tetapi, penulis mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan itu dalam paper ini saja. Tidak bermaksud menyepelekan atau menihilkan esensi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tapi semata hendak menjawab kegelisahan penulis sendiri dan merekam dinamika proses keikutsertaan penulis bergulat atas tiga pertanyaan itu; sejauh mana penulis dalam pencariannya. Siapa tahu paper ini dapat menjadi batu loncatan dalam proses pencarian selanjutnya.

2. Kesadaran Akan Ada
Secara empiris manusia merasakan bahwa materi-materi yang ada disekitarnya adalah ada . Manusia kemudian menyadari bahwa materi-materi itu ada. Begitu pula dengan dirinya sendiri, manusia menyadari dirinya ada. Namun, bagaimana? Bagaimana semua materi itu bisa ada? Bagaimana manusia itu bisa ada pula? Mungkinkah adanya materi-materi itu sebenarnya tidak ada, dan berarti adanya manusia itu sebenarnya juga tidak ada? Dari ada-ada itu pastilah ada Ada yang mengatasi, suatu causa prima, suatu Ada yang pertama yang menyebabkan ada-ada yang lain. Maka, tanpa Ada, mustahil ada ada-ada yang lain.

Kita dapat mengenal dan menyadari adanya Ada lewat beradanya ada-ada yang lain (termasuk manusia), secara sederhana lewat pengalaman inderawi. Kita mendengar musik. Jika musik tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada seni. Jika seni tidak pernah ada, dapat dibayangkan tidak pernah ada manifestasi kemanusiaan. Jika manifestasi kemanusiaan tidak pernah ada, dapat dibayangkan manusia tidak pernah ada. Jika manusia tidak pernah ada, dapat dibayangkan dunia di mana manusia ikut ambil bagian membentuknya tidak pernah ada. Jika dunia tidak ada, dapat dibayangkan ruang tempat dunia (seharusnya) ada tidak ada. Jika ruang tidak ada, dapat dibayangkan semesta tidak ada. Jika semesta tidak ada, dapat dibayangkan segalanya tidak ada. Jika segalanya tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan . Dan, itu mustahil sebab ketiadaan tidak pernah sekaligus ada .

3. Kesadaran akan Ada Tidak Bertentangan dengan Materialisme
Warren Shrader dalam jurnal Faith and Philosophy edisi 23 no. 1 Januari 2006 mengkritik argumen William Hasker tetang “A Unity-of-consciousness (UOC) against Materialism”. Dalam pembahasannya Warren Shrader sampai pada kesimpulan,”And, thus the materialist should not feel at all threatened by Hasker’s UOC argument.” Kesadaran adalah hasil paduan antara unsur-unsur apriori dengan aposteriori ; perpaduan antara pengenalan usur fisik dengan metafisik. Jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika .

Ada bukanlah suatu masalah. Masalah adalah suatu obyek di luar aku. Padahal, Ada bukanlah obyek di luar aku. Ada adalah suatu misteri . Aku berproses menjadi ada. Aku ada, tapi belum sempurna. Belum tidak berarti tiada. Belum berarti ada, tapi tidak sempurna. “Menjadi” adalah suatu proses menuju keadaan sempurna. Sedangkan Ada itu sempurna sebab Ada mengatasi dan mengadakan ada-ada yang lain. Ada yang sempurna itu adalah suatu misteri. Namun, Ada dapat dirasakan melalui ada-ada sebab ada-ada berada oleh karena Ada. Sedangkan ada-ada itu dalam adanya adalah materi.

4. Berada adalah Proses “Menjadi” Sesuai Hakikat Diri
Jika manusia adalah ada yang berada oleh karena Ada, bagaimana aku ini berada? Apakah adaku ini hanya sekadar ada begitu saja? Apakah aku tidak bisa berada sesuai dengan cara yang kukehendaki? Adaku adalah proses pencarian dan manifestasi hakikat diri. Hakikat diri adalah suatu kebenaran yang kemudian aku sadari dan aku pilih untuk kuhidupi dengan komitmen sebagai tindakan beradaku .
Bagaimana aku menyadari atau setidaknya mengetahui hakikat diriku? Dalam ketidaktahuan aku mengidentivikasi segalanya ke dalam diriku . Aku melakukan dan menikmati apa saja . Namun, dengan demikian beradaku adalah sekadar ada sebab hakikat diriku tidak tampak. Dalam perjalanan aku menemukan identivikasi yang beresonansi dengan hakikat diriku. Dengan demikian sedikit banyak aku mulai sadar atau setidaknya mengetahui hakikat diriku. Kemudian, aku harus mengambil sikap. Aku bisa memilih untuk tetap angin-anginan mencoba dan menikmati segalanya atau aku memilih satu identivikasi yang beresonansi dengan dan kupercayai adalah hakikat diriku . Dengan memilih aku mengarahkan proses beradaku. Beradaku memiliki tujuan.

Akan tetapi, apa arah dan tujuan beradaku? Arah dan tujuan beradaku adalah berada sesuai dengan kebenaran di dalam diri, hakikat diri. Melalui dan di dalam hakikat diri Ada menuntun bagaimana sebenarnya aku berada. Adaku yang selaras dengan hakikat diri adalah adaku yang selaras dengan tujuan Ada membuatku ada.

5. Ada adalah Cinta
Oleh karena Ada aku ada. Dan, aku memilih untuk berada sesuai dengan hakikat diriku. Aku memanifestasikan diri sesuai hakikat diriku berarti aku membebaskan hakikat diriku. Dengan membebaskan hakikat diri, secara leluasa dan merdeka aku bisa mencinta. Aku berada secara merdeka untuk secara leluasa mencinta, maka hakikat diri adalah cinta. Hakikat diri yang adalah cinta itu kumanifestasikan dengan cara yang kupilih dan yang kupercayai paling sesuai dengan sebenarnya aku ada seperti maksud Ada membuatku ada. Jadi, proses “menjadi”, proses “berada” adalah proses semakin sempurna dalam cinta.

Berada sesuai dengan hakikat diri berarti mencintai diri sendiri. Jika aku bisa mencintai diri sendiri, aku akan mampu mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan egois . Jika aku mau dengan bebas mencintai, aku akan mau dengan bebas dicintai sebab orang lain pun mengalami proses yang sama seperti yang kualami. Di sini terjadi hubungan berada ich-du (subyek-subyek) yang adalah wir dan bukan ich-es (subyek-obyek). Hubungan berada ich-du terjalin jika ada cinta. Jika rasa cinta ditransformasikan menjadi rasa hormat, cinta itu akan semakin dalam menyatukan, tapi tidak meleburkan karena dalam peleburan ada unsur possesive yang adalah hubungan ich-es. Dan pula, hanya dengan pertemuan dan hubungan antarmanusia, seorang manusia dapat menembus sampai pada (citra) hakikat Ada .

Aku merasakan Ada lewat ada-ada yang lain dan yang kualami dengan ada-ada yang lain adalah cinta. Cinta itu hakikat diri. Hakikat diri adalah wahana Ada menuntun proses beradaku, wahana tempat aku pun bisa merasakan Ada; hakikat diriku adalah citra hakikat diri Ada. Namun, Ada sebenarnya jauh lebih dari pada apa yang mampu kita pikirkan. Yang mampu kita kenali hanyalah citra Ada yang Ada sudi tampakkan. Maka, Ada adalah Cinta. Dan, adaku (yang dengan bebas kusadari dan kupilih dengan konsekuensi) adalah proses menuju (kesempurnaan) cinta.

6. Kesimpulan
Manusia ada tidak secara kebetulan. Manusia ada oleh karena Ada sebab manusia adalah salah satu ada yang berada oleh karena Ada. Namun, manusia bebas dalam berada. Manusia dapat seakan-akan ada dengan berada tanpa tujuan. Akan tetapi, manusia mampu memilih untuk berada sesuai dengan hakikat dirinya, bagaimana manusia berada secara sebenarnya sesuai dengan maksud Ada. Dengan berada sesuai hakikat diri, manusia dapat dengan bebas mengalami cinta (mencinta dan dicinta). Proses “berada” ini, proses “menjadi” ini, tidak lain adalah proses menuju ke kesempurnaan cinta.

7. Apendix - Antara Eksistensi dengan Esensi
Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.
Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.



8. Bibliografi
Atkinson, R. L. - R. C. Atkinson - E. R. Hilgard,
1991 Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan, I, Erlangga, Jakarta.

Bertens, K.,
1976 Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta.
1985 Filsafat Barat Abad XX, II, Prancis, Gramedia, Jakarta.
1987 Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta.

Compleston, F.,
1972 Contemporary Philosophy, Search Press, London.

Delfgaauw, B.,
1988 Filsafat Abad 20, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.

Gallagher, K. T.,
1986 The Philosophy of Knowledge, Fordham University Press, New York.

Gardiner, P.,
1988 Past Masters: Kierkegaard, Oxford University Press, New York.

Hamersma, H.,
1983 Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jakarta.

Leahy, L.,
2007 Siapakah Manusia?, Kanisius, Yogyakarta.

Lemay, E. - J. A. Pitts,
2005 Heidegger untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta.

Shrader, W.,
2006 The Unity of Consciousness: Trouble for The Materialist or Emergent Dualist?, Faith and Philosophy vol. 23 no. 1 January 2006, 33 - 44.