SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

MANUSIA SUBYEK AUTONOM

MANUSIA SUBYEK AUTONOM
-Padmo Adi-

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas. Dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu . Perealisasian kemanusiaan ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya bekerja.

Dalam sistem kapitalisme orang-orang bekerja pada seorang pemilik modal (kapitalis). Sistem kapitalisme sebenarnya adalah sistem yang bebas, bebas dari pembatasan apapun, bebas untuk memproduksi barang sebanyak apapun. Tujuan sistem ini adalah keuntungan sebesar mungkin, uang sebanyak mungkin. Hal ini memberi ruang bagi manusia-manusia egois dan serakah. Para kapitalis itu saling bersaing; yang kuat menang, yang lemah kalah. Untuk bersaing produktivitas produksi harus ditingkatkan, biaya produksi ditekan serendah mungkin . Tentu biaya produksi itu termasuk gaji/upah para pekerja.

Para pekerja yang disebut buruh itu semakin miskin. Mereka merosot ke bawah syarat-syarat eksistensi kelas mereka sendiri [MCP, MEW 4, 473]. Di sinilah letak ketidakadilan itu. Para buruh itu bekerja tidak lagi untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka, tapi semata untuk uang. Mereka kehilangan kebebasan justru oleh sistem yang bebas. Eksistensi mereka tertindas oleh overeksistensi sekelompok kecil orang yang disebut kaum kapitalis. Mereka dieksploitasi oleh kelompok kecil itu.

Kebebasan manusia terletak pada motivasinya. Manusia memutuskan apa yang ingin diperbuatnya, tidak seperti binatang yang ditentukan oleh lingkungannya . Dalam kapitalisme kaum buruh tidak dapat memutuskan apa yang ingin diperbuatnya karena dalam kemiskinan (dan pemiskinan) mereka butuh uang.

Ketika seseorang menyadari kemanusiaannya, dia akan memanifestasikannya. Dia akan mengada sesuai adanya. Dia adalah subyek, tuan atas nasibnya sendiri. Dan, subyek-subyek yang lain pun pasti mengalami hal itu. Maka, eksistensi subyek yang satu dibatasi oleh eksistensi subyek yang lain. Di sinilah letak keadilan itu. Menurut Gabriel Marcel adalah hubungan subyek-subyek (ich-du), bukan subyek-obyek (ich-es). Jadi, sistem kapitalisme adalah sistem yang tidak adil.

Antitesis dari kapitalisme adalah sosialisme. Sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme juga adalah pendiktean orang banyak oleh sekelompok kecil orang, jadi esensinya sama dengan kapitalisme (sama-sama kanan), hanya beda pada eksistensi dan cara. Sosialisme berusaha menghapus penghisapan orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sosialisme, kata Sjahrir, adalah ajaran dan gerakan mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan .

Sosialisme mendorong subyek-subyek untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka masing-masing tanpa terjadi overeksistensi. Sosialisme adalah konsekuensi logis eksistensialisme. Dan, sosialisme adalah solusi keadilan atas ketidakadilan dalam kapitalisme.


Bibliografi
Leahy, Louis,
2007 Siapakah Manusia?, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz,
1999 Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia

Mangunwijaya, Y. B.,
1998 Menuju Republik Indonesia Serikat, Jakarta: Gramedia

Sartre, Jean-Paul
2002 Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Comments