Sunday, October 28, 2018

Pada Suatu Minggu Pagi

Pada Suatu Minggu Pagi

Pada suatu minggu pagi
seorang Pastor berkhotbah di mimbar gereja
dia bicara tentang cinta Tuhan di surga
dan kasih kepada sesama manusia di dunia
"Bapa kami yang ada di surga ...
... berilah kami rezeki pada hari ini ..."

Di sana ada seorang anak-anak
Dia berjalan menuju ke mimbar gereja
Sesampainya di mimbar, dia berhenti
Ditatapnya sang Pastor yang masih berdiri
Sembari memegang kasula si anak berkata,
"Bapak ... ."

Sukoharjo, 28 Oktober 2018
Padmo Adi

Saturday, October 27, 2018

Bagaimana Jika Tuhan Itu adalah Seorang Pengamen?

Bagaimana Jika Tuhan Itu adalah Seorang Pengamen?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang pengamen
yang tiba-tiba berdiri di depan rumahmu
menyanyikan lagu Bapa Kami gaya Kota Baru?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang ibu
yang membiayai hidup dan kuliah anak gadisnya
dengan berjualan rica-rica dan sengsu?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang asing
yang duduk di sebelahmu pada sebuah warung hik
menyantap sega kucing yang sama denganmu?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang LC
yang pada suatu bilik karaoke menemanimu nyanyi
demi anak lelakinya yang masih bayi?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah orang tua
yang memohon kepadamu, anaknya
untuk mencoba daftar jadi abdi negara?

Yang jelas,
kita takkan pernah mengenal Tuhan yang tak kelihatan
hanya dengan berteriak-teriak memanggil Nama-Nya

Surakarta Utara, 25 Oktober 2018
Padmo Adi

Tuesday, October 23, 2018

DUA MATA KECIL

DUA MATA KECIL
*kepada Ramanjaya

Masih dapat aku ingat dengan jelas
satu setengah tahun lalu kaunangis dengan keras
kemudian kaukencingi baju putih bidan-bidan itu
Seketika pecah pula air mataku memandangmu
Kunamai kau ‘Rama Sanjaya Padmakarna’
anak lelaki yang kudamba dari masa muda

Lekas nian waktu berlalu
Kini kaulari-lari tak kenal waktu
Ketika kupanggil ‘Rama’, “Njaya,” jawabmu
Leleh hati ini saat dengar kaubilang ‘Bapak’ padaku
lalu kaulari lagi menuju ibumu yang ayu
bilang “Nyonyo”, kemudian meringkuk nenen susu

di pendapa TBJT

Ramanjaya, kagol ini lenyap acap kali aku memelukmu
Dengan dua mata kecil itu, dalam-dalam aku kaupandang
Erat kaupegang pundak ini, tak rela kutinggal pergi
Namun sering aku harus pergi, demi nasi untukmu dan ibu
sebab puisi tak tiap hari bisa jadi nasi yang bikin kenyang
Tapi denganku kaucuma mau main ‘Oa’, bukan nasi

Ramanjaya, mbah kakungmu mati belum genap empat lima
Doakan bapak, biar bisa hidup agak lebih lama darinya
biar bisa nemani kamu besok waktu TK main bola
Dan semoga Tuhan Allah sudi mengabulkan satu doa
Permohonanku, aku bisa mengajakmu berkendara berdua
sebagaimana dulu bapakku mengajakku berkendara

Surakarta Utara, 22 Oktober 2018
Padmo Adi

Thursday, October 18, 2018

MATAHARI PAGI

MATAHARI PAGI

Kukira kau akan datang padaku
membawa senyum dan harapan cemas
tentang seorang lelaki yang tak kunjung mapan
hanya karena impiannya jadi seniman.

Ternyata kaudatang padaku
membawa tangis haru penuh kelegaan
dan di dekapanmu terbaring kehidupan baru
yang menyusu dengan terburu.

Aku belum juga selesai dengan masa silamku.
Masih ada satu dua perkara belum lalu.
Namun, kehidupan harus terus berjalan,
walau impian tinggallah kenangan.

Kau pun berjalan menghampiriku
membawa serta kehidupan baru
lalu duduk di sisi
melihat matahari pagi.

Surakarta Utara, 26 Mei 2017
Padmo Adi (@KalongGedhe)

TERKEPUNG KATA-KATA

TERKEPUNG KATA-KATA

Semua orang tengah berbicara.
Semua orang tengah bersuara.
Walau cuma seratus empat puluh karakter,
semua ingin jadi yang paling banter

Jika semua mulut terbuka,
menggonggong bersahut-sahutan,
memberondong kata tanpa jeda,
siapa yang akan mendengarkan?

Semua bilang, "Aku yang paling benar."
Semua mengeklaim ngomong soal realita.
Mereka lupa, kebenaran bisa saja samar.
Mereka lupa, kebenaran sesuai sudut mata.

Suara dan kata-kata mengepung dari tiap penjuru.
Satu kalimat tertulis pun bisa bikin pekak telinga.
Bahkan, gambar-foto diperkosa caption yang menggebu.
Penanda-petanda dirampok untuk dijejali petanda lainnya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk bereaksi,
di saat banjir kata bikin telinga dan perasaan tuli?
Kita bisa matikan ponsel-televisi lalu tidak peduli!
Buang jauh perangkat yang bawa segala ngeri!

Namun, sering kita butuh hiburan, haus keributan.
Jika noise itu voice, biar mereka saling argumentasi.
Nikmati saja adu bacot itu, kiranya jual beli pukulan.
Sebab, oleh Yang Maya, Realita telah dimodifikasi.

Tirtonadi Surakarta, 18 Oktober 2018
Padmo Adi

Kisah Si Momo

Kisah Si Momo

Sewaktu kecil Momo ingin jadi sastrawan
Teman-temannya sudah jadi cerpenis dan penyair
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh yang mulai mencair

Beranjak remaja, Momo ingin jadi aktor
Teman-temannya sudah nongol di layar lebar
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh dan merasa segar

Lulus SMA, Momo ingin jadi pastor
Teman-temannya sudah memimpin ekaristi
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia mulai mengunyah mendoan dan nasi

Sewaktu kuliah Momo ingin jadi dosen
Teman-temannya sudah mengajar di kampus
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Kali ini dia mengunyah nasi dan tempe gembus

Teman-teman Momo sudah jadi sastrawan
Teman-teman Momo sudah jadi aktor
Teman-teman Momo sudah jadi pastor
Teman-teman Momo sudah jadi dosen

Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Uangnya tinggal dua puluh ribu saja
Kemarin dia melamar kerja
Ternyata ditipu, hilang delapan juta

Momo melahap mendoan, gembus, dan nasi
Lalu dengan segelas es teh dia menutup hari

Surakarta, 15 Oktober 2018
Padmo Adi