MUG YANG KAUDESAIN DENGAN GAMBAR WAJAHKU

MUG YANG KAUDESAIN DENGAN GAMBAR WAJAHKU * kepada @miki_osanai ( 小山内 美喜 )     Lihatlah, Miki... mug yang kaudesain dengan gambar wajahku telah berisi burakku kohi ! Hidup nambah sehari   Apa yang buat orang terus bertahan tetap hidup walau tanpa makna dan nampak sia-sia? Lihat, Shinigami di malam hari terlihat lebih memesona   Bagaimana aku bisa mengajarkan cara berkata ya pada hidup pada semesta raya dengan segenap gairah, tawa, dan air mata, yang disuling jadi aforisma?   Hidup manusia palingan cuma delapan puluh keliling bumi putari matahari selebihnya sunyi hingga tinggal jagad raya menguap sendiri atau koyak-moyak atau balik mampat untuk kemudian mendentum lagi   Kita cukup beruntung boleh mengada pada ruang-waktu lalu berpuisi ada yang menyanyi ada yang menari ada pula melukis sepi tapi jangan mati jangan dulu mati sebelum delapan puluh kali bumi kelilingi matahari atau kala sel-sel

TERKEPUNG KATA-KATA

TERKEPUNG KATA-KATA

Semua orang tengah berbicara.
Semua orang tengah bersuara.
Walau cuma seratus empat puluh karakter,
semua ingin jadi yang paling banter

Jika semua mulut terbuka,
menggonggong bersahut-sahutan,
memberondong kata tanpa jeda,
siapa yang akan mendengarkan?

Semua bilang, "Aku yang paling benar."
Semua mengeklaim ngomong soal realita.
Mereka lupa, kebenaran bisa saja samar.
Mereka lupa, kebenaran sesuai sudut mata.

Suara dan kata-kata mengepung dari tiap penjuru.
Satu kalimat tertulis pun bisa bikin pekak telinga.
Bahkan, gambar-foto diperkosa caption yang menggebu.
Penanda-petanda dirampok untuk dijejali petanda lainnya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk bereaksi,
di saat banjir kata bikin telinga dan perasaan tuli?
Kita bisa matikan ponsel-televisi lalu tidak peduli!
Buang jauh perangkat yang bawa segala ngeri!

Namun, sering kita butuh hiburan, haus keributan.
Jika noise itu voice, biar mereka saling argumentasi.
Nikmati saja adu bacot itu, kiranya jual beli pukulan.
Sebab, oleh Yang Maya, Realita telah dimodifikasi.

Tirtonadi Surakarta, 18 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments