Tuesday, August 28, 2018

Gusti Mboten Sare

Gusti Mboten Sare


Ibu      :Thole, iki wis subuh. Gek ndang mapan turu.
Thole  :Bu ... Gusti mboten sare.

Padmo Adi

Mana yang Lebih Dekat?

Mana yang Lebih Dekat?

Yang satu manggilnya ‘Om’.
Yang satunya manggil ‘Bapa’.
Yang satu lagi manggil pakai toa.
Mana yang paling dekat?
Yang di-whatsapp, “Jangan bilang istriku ya. Besok sekali lagi.”

Surakarta, 24 Agustus 2018
Padmo Adi

Merdeka Adalah

Merdeka Adalah

Merdeka adalah ketika kita bisa saling mencintai dalam untung dan malang, dalam suka maupun duka. Terima kasih sudah mau bertualang bersamaku. Terima kasih atas cintamu. Cinta kita telah menjadi daging, telah menjadi bayi bernama Ramanjaya.

Puisiku memang tak bisa mengenyangkan. Namun, manusia tidak makan dari roti saja. Kehidupan begitu rapuh. Hidup hanya menunda mati. Walau bagaimanapun, hidup yang pahit ini harus terus berjalan, dan dimaknai ... jadi narasi ... jadi puisi ... abadi.

Kartika ... Ramanjaya ... inilah tubuhku yang diserahkan bagimu; inilah darahku yang ditumpahkan bagimu. Mencintai kalian adalah dipecah-ambyarkan dan dibagi.

Denpasar, 17 Agustus 2018
Padmo Adi

dokumen pribadi


Hari Merdeka yang Indah Abadi

Hari Merdeka yang Indah Abadi

Nasionalisme, Hari Merdeka, dan bendera plastik. Indah.
Lalu terbang terhempas angin selatan. Jatuh, terkulai, jadi sampah.
Anakku mau bendera plastik. Dari warung dibawa pulang ke rumah.
Lalu dilempar begitu saja, dicampakkan. Aku melihatnya tergeletak di bawah.
Bendera plastik. Abadi. Tidak akan pernah terdekomposisi. Bahkan oleh tanah.
Nasionalisme. Euforia. Merdeka. Dan bendera plastik yang segera jadi limbah.

Surakarta Utara, 25 Agustus 2018
Padmo Adi

Seorang anak sedang memegang bendera plastik.
Dokumen pribadi.

KISAH SEORANG PETANI DAN ANAK LELAKINYA

KISAH SEORANG PETANI DAN ANAK LELAKINYA

Seorang petani membajak sawah.
Dia memang tidak kaya, tapi dia punya tanah pusaka.

Seorang anak menangis sepulang sekolah.
Dia malu naik pit kebo tua; teman-temannya naik ninja.

Seorang anak merengek, menuntut sang ayah.
Dia minta dibelikan motor, atau lebih baik mati saja.

Seorang petani menjual sawah.
Membawa uang, dia beranjak ke diler demi anak tercinta.

Seorang anak naik ninja, dia tampak gagah.
Kehilangan pusaka, dia kerja jadi kasir swalayan waralaba.

Surakarta, 13 Agustus 2018
Padmo Adi
motor sport di tepi sawah di bawah senja
dokumen pribadi



Friday, August 3, 2018

Kakek Buyutku Seorang Petani


Kakek Buyutku Seorang Petani

Kakek buyutku seorang petani di desa.
Singorejo namanya.
Anak lelaki semata wayangnya merantau ke kota.
Ngadie nama kecil itu anak lelaki.
Tapi, dia tak lagi bertani.
Dia ingin jadi guru.
Sayang, tak kesampaian.
Dia tetap harus beri makan delapan perut kelaparan!
Tapi, dia tak lagi bertani.
Dia cuma jadi sopir taksi.
Hingga suatu malam, di atas Corona itu dia mati.
Salah satu anak lelakinya kini tinggal di Papua.
Di sana dia jadi guru, sembari berternak dan bertani.
Yusniadi, namanya.
Pamanku dia,
yang mengantarku pergi sekolah di TK.
Pintar menggambar dia, dan berkarya seni.
Aku juga gemar berkarya seni.
Tapi, aku tak lagi tega jadi guru.
Tapi, aku tak lagi mampu bertani.

Surakarta, 3 Juli 2018
Padmo Adi

KEDIRI


KEDIRI

Kediri ... di sini tiga lelaki menghibur diri.
Kediri ... di sini dua lelaki melupakan masa lalunya.
Kediri ... di sini seorang lelaki meluapkan marahnya ... dengan foya-foya.
Kediri ... di sini aku memutuskan untuk memeluk erat nama ini, dengan segala dosa adam, berkat, dan kutuknya.
Kediri ... Budhi Mardika namaku, panggil aku Padmo Adi.

Juni 2018
@KalongGedhe

Saint Paul Riders berpose di Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri

CATATAN PROSES BERTEATER - NYANYIAN RIMBAYANA: TENTANG MENJADI MANUSIA


CATATAN PROSES BERTEATER - NYANYIAN RIMBAYANA
TENTANG MENJADI MANUSIA
 Padmo Adi, Sutradara

*Tulisan ini pertama kali dimuat dalam booklet drama musikal Nyanyian Rimbayana, yang dipentaskan oleh siswa-siswi XII Jurusan Bahasa SMA PL St. Yosef Surakarta.

“Berikanlah kepada negara, apa yang menjadi hak negara. Dan, kepada siswa, apa yang menjadi hak siswa,” Y.B. Mangunwijaya, dalam hal pendidikan yang memerdekakan. Dalam proses ini, saya tidak boleh lupa, bahwa konteksnya adalah mata pelajaran sastra, ya pendidikan itu sendiri. Masalahnya adalah, mengajari itu mudah, mendidik yang susah.


Mengapa kita belajar sastra? Supaya kita bisa lebih menghargai kemanusiaan. Manusia. Manusia itu bukan sesuatu yang abstrak. Manusia itu real, yaitu tetanggamu satu RT, tetanggamu satu RW, orang yang serumah denganmu, orang yang berbagi pengalaman hidup yang sama denganmu. Manusia itu real, sereal seorang petani yang menangisi tanaman cabainya yang digilas ekskavator. Penghargaan terhadap manusia, dengan segenap pandangan, cara pikir, kisah, dan sejarahnya ini penting. Makin penting di tengah zaman edan yang semuanya didegradasi menjadi perihal "kemakmuran ekonomi", uang semata. Makin penting, sebab kita semua telah habis diburit oleh kapitalisme. Penghargaan terhadap manusia ini penting, sebab ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang! Apa saja hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang? Paling sederhana adalah memori, nilai sejarah, dan keyakinan. Kapitalisme dewasa ini telah berhasil membuat segala sesuatunya dipandang hanya dari nilai uangnya, nilai ekonomisnya, untung-ruginya. Kita jadi fetis. Semua boleh, selama bikin dapat banyak duit. Padahal, ada hal-hal dalam diri manusia yang tidak hanya melulu perkara untung-rugi. Sayangnya, biasanya hal-hal macam itu hanya menjadi narasi-narasi kecil yang tertelan narasi-narasi besar. Apa itu narasi besar? Wacana pembangunan demi kesejahteraan ekonomi, misalnya. Agama dan politik adalah contoh lainnya. Itu semua narasi besar yang kerap kali menelan narasi-narasi kecil. Justru pada narasi kecil itulah seorang manusia nampak manusiawinya. Mengapa kita belajar sastra? Agar supaya kita mampu menghargai, memberi empati, bahkan menarasikan kembali narasi-narasi kecil tersebut. Sastra adalah bagian dari humaniora. Humaniora ... Human ... yang membuat kita menjadi human, MANUSIA. Saya menyebutnya dengan istilah "Manifestasi Kemanusiaan". Hidup yang pahit ini memang perlu dinarasikan. Seperti pare yang dioseng-oseng. Seperti kopi yang di-V60. Tapi ... itu tidak mudah. Sebab (maha)siswa belajar supaya dapat lekas jadi sekrup sistem yang ada.


Untunglah saya pernah bertemu dengan seseorang bernama Doni Agung Setiawan. Doni Novi nama facebooknya. Dia yang melatihku teater di Teater Seriboe Djendela. Aku masih ingat betul apa yang diajarkannya dulu, soal menjadi aktor, menjadi manusia. Bahwa, manusialah yang bisa bergerak, kursi tidak. Maka, ketika seorang aktor teater terhalang kursi, kursi itu tidak akan jadi penghalang, tetapi bisa direspon. Bisa disingkirkan, bisa diinjak, bisa dilompati, bahkan bisa jadi mobil. Hal sederhana itu yang membuatku luwes dalam berproses teater. Sebab, manusia bisa merespon keadaan, kursi tidak.


Dalam proses ini, karena konteksnya adalah pendidikan, saya mencoba untuk tidak terlalu banyak memakai Wacana Tuan. Saya mencoba memakai Wacana Histeria, supaya para siswa benar-benar menjadi subyek, bukan boneka. Saya mencoba menciptakan kesempatan bagi mereka untuk menemukan “hal itu” sendiri. Beberapa kali saya ingin memakai Wacana Analis, tapi selalu banyak gagalnya. Mungkin karena adik-adik kelas saya ini masih remaja. Dan, akhirnya, dalam beberapa kesempatan yang genting, saya pun memakai Wacana Tuan itu. Proses pendidikan dengan memakai teori Empat Wacana ini (wacana keempat adalah Wacana Universitas), ternyata sangat menyenangkan. Kita adalah subyek-subyek lack yang sama-sama ambyar, dan kemudian sama-sama menemukan “hal itu”. Semoga “hal itu” yang kami temukan ini dapat benar-benar kami narasikan dalam sajian pementasan Sabtu, 28 Juli 2018 ini.

O iya ... by the way ... saya harus meminta maaf kepada Ahmad Jalidu, sebab hepiending-nya saya bikin sedih. Saya ingin ini jadi tragedi. Walaupun demikian, terima kasih kepada Ahmad Jalidu, sebab boleh memainkan naskahnya.