MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com. Kala Kegelisahan melanda Kala Mala melumat purnama Bulan Separuh Bayang! Bawa ... Bawa ... Bawa ... seru orang-orang   Siapa yang tahan mendengarnya?! Kata-katanya membual lalu menyembur laksana bisa   Itu Rahu! Siapa yang tahu?!   Mereka pukul lesung bertalu Wulandari akan kembali Asura tinggal kepala saja Wisnu ada bersama kita   Jika asura itu akhirnya mati atau jatuh dan tergelimpang Cahaya Bulan meraja di bumi Malam muram masih panjang!   Tuhan ... kasihanilah kami ...   Malang, 01 Agustus 2026 Padmo Adi

Kakek Buyutku Seorang Petani


Kakek Buyutku Seorang Petani

Kakek buyutku seorang petani di desa.
Singorejo namanya.
Anak lelaki semata wayangnya merantau ke kota.
Ngadie nama kecil itu anak lelaki.
Tapi, dia tak lagi bertani.
Dia ingin jadi guru.
Sayang, tak kesampaian.
Dia tetap harus beri makan delapan perut kelaparan!
Tapi, dia tak lagi bertani.
Dia cuma jadi sopir taksi.
Hingga suatu malam, di atas Corona itu dia mati.
Salah satu anak lelakinya kini tinggal di Papua.
Di sana dia jadi guru, sembari berternak dan bertani.
Yusniadi, namanya.
Pamanku dia,
yang mengantarku pergi sekolah di TK.
Pintar menggambar dia, dan berkarya seni.
Aku juga gemar berkarya seni.
Tapi, aku tak lagi tega jadi guru.
Tapi, aku tak lagi mampu bertani.

Surakarta, 3 Juli 2018
Padmo Adi

Comments