Tuesday, November 27, 2012

ADIPATI KARNA


ADIPATI KARNA

(Lagu “Bohemian Rhapsody - Queen” memecah kegelapan panggung.)
(Lampu masuk perlahan pada lirik “I wish I’d never been born at all”.)
(Terlihat Adipati Karna berdiri tegak lengkap, telanjang dada tanpa pakaian perang. Hanya membawa pedang/tombak dan perisai.)
(Musik dibiarkan habis. Setelah musik habis, Adipati Karna mulai berbicara.)

Ibu... atau aku... atau Arjuna yang harus mati. Pandawa itu lima, ibu, bukan enam.
(meletakkan pedang/tombak serta perisainya)

Aku Sutaputra. Aku anak seorang Kusir dari negara Hastinapura. Aku seorang sudra yang menjadi ksatria. Bela negaraku tidak perlu diragukan. Aku mencintai bangsa dan negara ini seutuhnya.
Aku tumbuh besar sebagai seorang anak kusir kereta. Akan tetapi, aku percaya bahwa aku mampu mengatasi keterbatasanku itu, aku bisa menjadi lebih dari pada sekadar kusir kereta. Aku ingin membaktikan hidupku sebagai seorang ksatria yang belapati terhadap negara. Maka, aku belajar dan mencari ilmu.
Tapi, dunia tempat aku berada merupakan dunia yang sombong dan congkak. Dunia tidak sudi membagikan ilmunya kepada seorang anak kusir. Drona hanya mau menjadi guru para ksatria, bukan anak seorang kusir kereta. Baiklah... . Aku menerimanya. Aku tak kehilangan akal. Akan kucari sendiri guruku.
Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam hutan. Aku mencari seorang brahmana bernama Ramaparasu. Ramaparasu adalah Guru Bisma, juga guru Drona. Hanya saja, dia tidak akan pernah mengangkat ksatria sebagai muridnya. Ramaparasu membenci kaum ksatria. Sudah tak terhitung banyaknya ksatria yang meregang nyawa di tangannya. Namun, demi mendalami ilmu, apapun sudi aku lakukan. Aku menyamar sebagai seorang brahmana.
Sebenarnya aku sungguh mengasihi guruku itu. Dia adalah guru terbaik yang ada di semesta raya ini. Dia mengajariku banyak hal, baik ilmu kanuragan maupun kebijaksanaan. Akan tetapi, segala hal yang dimulai dengan dusta, akan berakhir sebagai bencana, betapapun indah perjalanannya. Pada suatu hari kami berlatih dengan dahsyat hingga kelelahan. Aku menyandarkan diriku di bawah pohon yang rindang. Ramaparasu, guru yang kukasihi sekaligus aku hormati tidur dengan pulas. Dia memakai pahaku sebagai bantal. Tiba-tiba, seekor serangga menggigit pahaku dan menyedot darahku. Sakit memang. Akan tetapi, jika aku membunuh serangga itu, pasti Guruku terganggu dan terbangun. Aku tak ingin mengganggu istirahat yang kuhormati. Biarlah aku menahan rasa sakit itu, selama Guruku dapat beristirahat dengan nyaman.
Setelah Guruku bangun, dia mendapati kakiku berlumuran darah. Dia membunuh serangga itu. Kemudian menatapku tajam.
“Kautelah berdusta terhadapku. Kaubukan seorang brahmana. Brahmana takkan mampu menahan rasa sakit yang sedemikian. Kau adalah seorang ksatria sejati! Darah ksatria mengalir di dalam ragamu!”
Alih-alih membunuhku, dia mengusirku serta mengutukku. Kelak ketika aku bertempur dengan musuh bebuyutanku, aku akan lupa semua jurus dan mantra yang telah diajarkannya.

Aku Radeya. Aku anak Radha, seorang perempuan sederhana, istri Adirata. Dia bukan ibu kandungku, tapi mengasuhku dengan kasih yang jauh melebihi kasih rahim yang pernah mengandungku. Dia mengangkatku dari sungai tempat aku dihanyutkan. Dialah yang memberiku sari pati kehidupan hingga aku tumbuh sehat. Aku tahu benar apa itu menjadi jelata, karena aku mengambil bagian darinya. Itulah yang membuatku selalu membantu orang-orang miskin dan sederhana, sebab aku tahu persis bagaimana rasanya.
Aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi papa. Aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi hina. Aku tahu persis bagaimana rasanya dipinggirkan dan tidak diharapkan. Aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi korban kesombongan dunia.
Itulah mengapa aku tak ingin sekadar menjadi kusir seperti ayahku. Aku ingin mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai seorang ksatria, supaya aku dapat membantu sebanyak mungkin rakyat jelata.
Belasan tahun yang lalu Kerajaan Hastinapura mengadakan unjuk kebolehan. Para ksatria berlaga di sana mempertunjukkan kemahirannya. Drona, yang dulu pernah menolakku itu, membanggakan Arjuna sebagai murid terbaiknya. Arjuna mampu memanah burung kayu di dalam sangkar. Benarkah Arjuna merupakan pemanah terbaik di seluruh dunia? Kutarik busur panahku... dan anak panahku melesat... . Suaranya menggemuruh, mengejutkan segenap orang yang berada di alun-alun. Dan, menancap tepat di burung kayu, membelah panah Arjuna. Semua orang memandang ke arahku.
“Izinkanlah aku mengikuti unjuk kebolehan ini.”
Melihat diriku tampil ke muka, Drona untuk kedua kalinya menghardikku.
“Hanya para ksatria yang boleh mengikuti unjuk kebolehan ini!”
Sedangkan yang lain mencemoohku.
“Apa kata dunia? Seorang ksatria beradu tanding dengan seorang anak kusir sepertimu?”
Aku diam. Aku malu. Aku marah. Aku memang hanya seorang anak kusir. Terlebih lagi, aku hanya seorang anak pungut. Aku tidak tahu siapa gerangan diriku. Yang aku tahu, dunia menghardikku selalu. Dunia menolakku. Dunia mencampakkanku. Dunia menepikanku. Sedari bayi aku dicampakkan. Berulang kali aku ditolak. Berkali-kali aku dihardik. Hanya di sudut kecil dunia itu, tempat di mana orang-orang papa bertahan hidup, aku diterima.

Menembus Batas, Adipati Karna ketika menikahi Surtikanti
(karya Herjaka HS)

Aku Karna, Adipati Karna, Raja Angga. Ketika para Pandawa yang konon kabarnya utama dan patut diteladani itu menolak kehadiranku, para Kurawa justru menerimaku, memberiku kehormatan dan harga diri, dan menjadikanku seorang Adipati.
Aku paham sepaham-pahamnya, perilaku Kurawa lebih bejat dari pada Pandawa. Tapi aku ingin mengabdi kepada negaraku, tidak sekadar sebagai seorang kusir seperti ayahku. Dengan menjadi Adipati, aku bisa berbuat jauh lebih banyak bagi bangsaku, bagi negaraku, bagi rakyatku.
Aku adalah Karna yang melampaui sekat-sekat pembatas antara kawula dan bangsawan. Aku adalah Karna yang menyungsangkan tatanan dunia lama. Aku adalah Karna yang membuat segala kasta menjadi sederajat dan sama.
Mungkin karena itulah semesta menaruh murka terhadapku. Atau, memang demikiankah kehendak Tuhan terhadapku?
Aku tidak pernah menyesali keberadaanku di dunia ini. Aku tidak pernah menyesal hidup sebagai manusia, sebagai seorang Karna. Aku bahkan memilih hidup sebagai seorang Karna. Dan, aku memilih mati sebagai seorang Karna, seorang anak kusir yang mampu melampaui batas dan sekat-sekat hingga menjadi seorang Adipati yang belapati terhadap bangsa dan negara.

Aku, Suryaputra, anak dari Sang Bathara Surya, Dewa Matahari, dan mewarisi segenap keagungan dan kesaktian Sang Surya. Walau dibesarkan oleh seorang kusir kereta, aku tak bisa mengingkari darah yang mengalir di dalam tubuh ini. Benar kata Guru Ramaparasu, aku sebenar-benarnya ksatria. Aku tak bisa menyangkalnya. Aku adalah seorang ksatria, anak dewa, yang tinggal di tengah-tengah rakyat jelata. Kehidupan yang semacam itu tidak aku lihat sebagai suatu kutukan, melainkan sebuah anugerah, sebab aku boleh berbagi penderitaan dengan yang paling terpinggirkan.
Beberapa hari yang lalu, ketika aku tengah berdoa di tepi Sungai Gangga, ibu menemuiku. Bukan, bukan Radha... melainkan Kunthi. Ya, ibu para Pandhawa itu menemuiku. Aku adalah sulung dari para Pandhawa. Aku adalah sulung dari mereka yang menepikanku. Aku adalah anak yang lahir dari keisengan Kunthi. Pada masa mudanya, sebelum dia bersuami, Kunthi pernah memanggil Bathara Surya yang kemudian menganugerahkan kepadanya seorang anak. Karena malu belum bersuami, Kunthi melahirkan anak itu melalui telinganya, agar tetap perawan. Itulah sebabnya aku diberi nama Karna, karena lahir melalui telinga Kunthi. Dan, oleh karena rasa malu itu, perempuan yang mengandungku itu membuangku di sungai.
Perempuan yang membuang aku di sungai itu kembali menemuiku di tepian Sungai Gangga. Dia memintaku untuk memanggilnya ‘ibu’ dan memaafkan segala sesuatu yang telah terjadi di antara kami. Dia mengaku terkejut dan pingsan ketika aku pertama kali memperkenalkan diriku di tengah alun-alun saat unjuk kebolehan dulu itu. Dia langsung mengenaliku sebagai putra sulungnya dengan melihat baju perang dan anting-anting pemberian Bathara Surya.
Namun, kenapa tidak pada saat itu saja dia menyelamatkan aku dari rasa malu? Demi menutupi rasa malunya, dia membiarkan darah dagingnya sendiri terjerembab di dalam kehinaan yang sedemikian rupa. Tapi, sudahlah... tanpa keisengannya dulu itu, aku takkan pernah ada di dunia ini. Entah bagaimana, aku justru mensyukuri segala hal yang telah terjadi, sebab semua itu telah mengantarku kepada keberadaanku sekarang. Aku memaafkan perempuan itu.
“Ibu. Ada apa gerangan Ibu menemuiku?”
Perempuan itu pun menangis dan memelukku. Dia memintaku untuk meninggalkan Kurawa dan bergabung bersama Pandhawa. Dia tak kuasa melihat anak-anaknya saling bunuh dan saling bantai. Dia telah menemui Yudhistira, dan Yudhistira merelakan hak sulung dan takhta kerajaan kepadaku jika sekiranya aku sudi bergabung bersama Pandhawa.
Ah... ibu... aku tak ingin mengambil apa yang bukan hakku. Malah aku lebih suka memberikan sebagian milikku untuk membahagiakan orang lain. Aku mensyukuri hidup ini, Ibu. Walau dunia selalu menyingkirkanku sejak lahirku, aku selalu memiliki cara untuk tetap merayakan hidup dan menjalankan semua dharmaku. Aku selalu mengatakan “ya” pada hidup, Ibu, dan tak pernah menyesalinya.
Ibu, kautahu, beberapa hari sebelum kaumenemuiku Bapaku di Surga datang di hadapanku. Dengan kereta perang-Nya yang berkobar Bathara Surya mewahyukan diri-Nya dan memanggilku putera-Nya yang dikasihi. Peristiwa itu membuatku yakin, tidak selamanya dunia menolakku. Sang Surya adalah perwakilan semesta yang menerimaku dan mengakui keberadaanku. Sejak saat itu aku tahu, bahwa Sang Surya selalu menyertaiku sejak lahirku, bahkan ketika aku berada di dalam jurang-jurang nestapa. Hanya saja, dia tidak ingin mengusik dan mencampuri kehidupanku, semata agar aku tumbuh dewasa menjadi aku yang sekarang ini. Akan tetapi, pada banyak peristiwa Sang Surya membantuku untuk memenuhi dharmaku. Bapa memberiku kekuatan untuk menuntaskan dharmaku. Aku ingat, ketika matahari menjadi sedemikian panas, sehingga raksasa yang aku lawan meleleh dan aku menghancurkannya dengan pusakaku. Bapa selalu membantu dengan cara-cara yang tak langsung, agar aku dewasa dan berani menghayati hidup.
Pada saat itulah kali pertama Sang Surya turun langsung kepadaku, untuk menyatakan siapa aku sesungguhnya. Dan, Bapa mewanti-wanti, jika nanti di dalam perjalanan aku bertemu dengan seorang pengemis tua yang meminta baju perang dan anting-antingku, pastilah itu Bathara Indra yang tak ingin putera terkasih-Nya, Arjuna, mati tak berdaya melawan kekuatanku. Dan, benarlah Ibu... di dalam perjalanan itu aku bertemu dengan seorang pengemis tua. Sebelum pengemis itu sempat mengutarakan keinginannya, aku telah melepaskan baju perang dan anting-antingku, lalu menyerahkannya kepadanya, sambil berkata, “Ambillah pusakaku ini, Hai Bathara Indra, pusaka yang telah ada padaku sedari lahirku. Biarlah aku yang menjemput ajal bersama panah-panah putramu Arjuna. Sebab, dengan pusaka ini, Arjuna takkan pernah mampu menggores kulitku. Jika Arjuna yang mati, aku tak bisa membayangkan betapa hancur hati Kunthi. Akan lebih mudah bagi Kunthi jika aku yang mati.” Bathara Indra pun membuka samaran-Nya, menangis terharu, dan memelukku. Dia pun memberkatiku, takkan terluka dan terkalahkan oleh siapapun sebelum bertemu dengan Arjuna.

Ibu, dharmaku adalah membela tanah airku. Inilah perutusan dan panggilan jiwaku. Satu-satunya alasanku untuk hidup adalah membela bangsa dan negaraku. Kini para Pandhawa hendak menyerang bangsa dan negaraku. Sudah kewajibanku untuk melindungi bangsa dan negaraku. Apa yang dihasilkan dari perang selain duka dan penderitaan? Ketika para raja dan ksatria mengangkat senjata, kaum sudra dan rakyat jelatalah yang menderita, Ibu. Maka, biarlah aku turut serta mengambil bagianku untuk segera menyelesaikan konflik saudara berkepanjangan ini.

Aku paham, kelima adikku itu tiada yang mampu menandingi kesaktianku. Maka, aku bersumpah di hadapanmu, Ibu, aku takkan membunuh adik-adikku, terkecuali Arjuna.
(mengangkat pedang/tombak serta perisainya)
Ibu... atau aku... atau Arjuna yang harus mati. Pandawa itu lima, ibu, bukan enam.

Surtikanthi... jelitaku... permata di hatiku... engkaulah cinta sejatiku... . Biarlah seisi dunia menolak keberadaanku, asalkan kau menerimaku dengan lembut dan penuh kasih di dalam pelukanmu. Jika aku harus pulang dengan tanpa nyawa, ceritakanlah kepada dunia, Karna adalah seorang sudra yang menjadi ksatria. Karna adalah seorang Suryaputra yang berani menghadapi kehidupan yang paling getir sekalipun. Karna adalah seorang manusia yang berani melampaui segala keterbatasan yang ada. Karna adalah seorang ksatria yang berani mengatakan ya pada hidup, walau kematian menjadi konsekuensinya. Surtikanthi... pun kakang pamit palastra... .
(Lampu blackout. Diakhiri dengan musik “Die With Honor - Manowar”)
-end-
Sarang Kalong, 27 November 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Monday, November 26, 2012

MANUSIA


MANUSIA

Akhirnya sampailah kita pada hari yang dinantikan. Sebuah hari yang telah dinantikan oleh seluruh makhluk di jagad raya ini. Akan tetapi, yang kita nantikan belum juga tiba. Sudahlah, sembari menanti dia, mari kita duduk sejenak sembari ngopi dan nyamsoe dulu.

(duduk, meminum kopi, dan menyalakan rokok)

Tidak pernah ada orang yang menghubungkan seni dengan rokok dan kopi. Akan tetapi, semua mengalir begitu saja. Seakan-akan kopi dan rokok menjadi teman yang setia untuk mengapresiasi sebuah karya seni atau sekadar untuk membicarakannya. Saya punya seorang teman yang gagap ketika berbicara, tetapi begitu rokok menyelip di mulutnya, tiba-tba saja... magic... kata-kata mengalir dengan mudahnya melalui mulut. Kecanduankah itu? Atau, memang mukjizat? Hahahaha... .

(menghisap rokok)

Saya pribadi tidak begitu sering merokok. Bahkan, saya lebih sering menolak tawaran untuk merokok. Saya merokok ketika saya sedang stress, sedang ingin bersantai seperti sekarang ini, atau ketika sedang menginginkan hubungan yang lebih intim dengan diri saya sendiri. Jika orang-orang Konghucu memakai hio untuk berdoa, para Buddist menjaga ratusan lilin untuk meditasi, orang-orang Katolik memakai ratus dan wirug serta lilin juga untuk berdoa, begitulah kira-kira saya memakai rokok ini... untuk berdoa. Dan, itulah sebabnya saya merokok sekarang... saya sedang berdoa.

(memandang rokok)

Hahahaha... sudahlah... saya tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh. Silakan jika Anda ingin tetap merokok. Tapi tetap harus ada sopan santunnya, tanyakan pada teman sebelah Anda, apa dia keberatan jika Anda merokok. Baik kalau Anda pun menawari teman sebelah Anda tersebut, sebab sering kali rokok dapat menjadi awal mula persahabatan yang heroik. Dan, ingat, siap-siap bertemu Tuhan lebih cepat, hahahahaha... .

(mematikan rokok, meminum kopi)

O iya, saya belum memperkenalkan diri saya. Saya dulu pernah menjadi seorang malaikat di surga. Anda tahu surga seperti apa? Kosong... ya... kekosongan. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada Tuhan. Semuanya hening dalam diam yang dalam. Semua sudah tidak memerlukan apa-apa, tidak menginginkan apa-apa... sebab sudah ada Tuhan. Akan tetapi, entah bagaimana, saya merasa iri dengan Anda, manusia. Anda begitu bebas di dunia ini. Kebebasan, itulah manusia. Kebebasan, itulah kutukan manusia... atau berkat?

Manusia memiliki kehendak bebas. Mereka bebas untuk mencintai, bebas pula untuk membenci. Mereka bebas menentukan nasib mereka sendiri. Tidak, Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya, Tuhan tidak menjadikan manusia wayang-wayang kulit yang bergerak sesuai keinginan-Nya. Tuhan menghormati kebebasan itu. Walau, sering kali Tuhan turut campur, tapi tentu tidak secara terang-terangan.

Walau manusia tidak bersayap, manusia jauh lebih bebas dari malaikat. Itu yang membuat Lucifer memberontak, sebab sebagai malaikat agung yang sejajar dengan Gabriel, Rafael, dan Mikael, dia dan segenap malaikat di surga tidak memiliki kebebasan seperti yang dimiliki manusia. Kebebasan merupakan anugerah kehormatan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Itulah mengapa malaikat pun segan dan menghormati manusia, bahkan terkadang iri.

(meminum kopi dengan tergesa)


Wings of Desire

Manusia bebas karena dia memiliki kesadaran. Kesadaran inilah yang mengantarkan manusia kepada pencapaian-pencapaian tertentu. Banyak capaian manusia yang mengagumkan, mulai dari capaian-capaian yang bersifat fisik hingga capaian-capaian yang bersifat spiritual. Capaian-capaian fisik itu bisa kita lihat dari temuan-temuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Manusia telah sampai di bulan. Manusia mampu mengirimkan satelit utusan hingga ke planet yang jauh di tata surya. Manusia membangun infrastruktur untuk menunjang hidupnya. Sedangkan Anda tahu apa capaian-capaian spiritual manusia? Anda pasti menjawab agama? Apakah saya benar? Hahahaha... agama itu capaian yang tidak seberapa, Saudaraku... . Capaian spiritual yang lain adalah rasa estetika di dalam jiwa manusia sehingga mampu mengapresiasi karya seni dan ciptaan. Sedangkan capaian spiritual manusia yang lebih tinggi adalah cinta. Ketika manusia itu mampu menghormati dan mengasihi sesama manusia sebagai pribadi yang bebas, saat itulah manusia telah sampai pada capaian yang tinggi. Kedengarannya sederhana dan remeh-temeh, tapi berapa manusia yang mampu melakukan hal yang sederhana dan remeh-temeh ini?

(meminum kopi kembali)

Anda mungkin bertanya, apa capaian spiritual yang paling tinggi dari manusia. Saran saya, simpan saja pertanyaan Anda itu. Melakukan yang sederhana dan remeh-temeh saja belum, sudah hendak menjangkau yang paling tinggi, hahahaha... .

Saya sendiri? Saya baru beberapa tahun melepas sayap malaikat saya untuk menjadi manusia. Saya masih belajar menjadi manusia. Saya masih belajar melihat sebagai manusia, belajar mendengar sebagai manusia, belajar merasakan sebagai manusia, belajar berpikir sebagai manusia, dan yang jelas masih pula belajar mencintai sebagai manusia. Ini bukan perkara sederhana, Saudara... hidup saya sebagai malaikat di surga dulu jauh lebih sederhana. Di surga hanya ada Tuhan. Selesai perkara.

(suara pintu diketuk)

Tunggu sebentar... saya ada tamu.

(berjalan ke arah pintu, membuka pintu)

Astaga... kamu ternyata... .

(kepada penonton) Kawan lama yang bertamu.

(kepada kawan lama) Apa kabar, Sahabat? Lama tak berjumpa. Apa kabar di sana? O... ya... ya... . Mari... mari... silakan masuk.

(kepada penonton) Ini, perkenalkan, Mikael, kawan lama saya di surga. Ah... pasti Anda tidak bisa melihatnya. Maklumlah, namanya juga malaikat. Tapi, berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Hidupnya akan tenang, jauh dari rasa gelisah.

(kepada Mikael) ada apa engkau datang ke rumahku ini? Tumben sekali?

(Mikael bicara, mengangguk-angguk)

Ternyata ada hal penting yang hendak kamu sampaikan. Ah, sebelum kamu mengatakan maksud kedatanganmu, izinkan aku menawarimu sesuatu untuk diminum. Mau minum apa? Panas? Dingin? Teh? Kopi? Susu? Atau susu yang lain?

(Mikael berbicara)

Huahahahahahaha... aku lupa... malaikat tidak makan ataupun minum. Sebab tubuh dan darah Tuhan di surga sudah cukup. Maaf... maaf... aku sudah mulai terbiasa menjadi manusia dan aku mulai menikmati hidup sebagai manusia.

(Mikael bicara)

Ya... aku tahu, manusia akan mati... . Justru karena itu, hidup jadi sangat mengasyikkan dan layak untuk disyukuri.

(Mikael bicara)

Iya... aku tahu, bukan hanya sekadar percaya, tapi paham... setelah mati manusia akan bersatu dengan Tuhan di surga seperti kalian para malaikat. Tapi, kan, bentuk kehidupannya lain. Kamu harus sekali-sekali mencoba merasakan hidup sebagai manusia.

(Mikael bicara)

Hahahaha... jangan marah, teman... aku hanya bercanda. Baiklah... sudah terlalu banyak omong kosong aku. Katakan, apa yang ingin kausampaikan?

(Mikael bicara)

Masalah pribadi? Masalah pribadi bagaimana?

(Mikael bicara)

Iya, aku tahu Tuhan akan datang untuk yang kedua kalinya ke dunia. Tapi tak semua ciptaan-Nya di jagad semesta ini tahu, kan, kapan Dia akan kembali.

(Mikael bicara)

Apa? Segera? Akhir tahun ini? Kaubercanda! Dari mana kamu mengetahui semua itu?

(Mikael bicara)

Oke, jadi kemarin seluruh penghuni surga rapat paripurna bersama Tuhan dan akhirnya ditetapkan bahwa akhir tahun ini Tuhan akan datang untuk yang kedua kalinya ke dunia. Berarti petualanganku sebagai manusia hanya akan sampai akhir tahun ini, dan setelahnya aku menjadi malaikat lagi di surga. Oke... tak apa. Berarti sebelum akhir tahun ini, aku harus segera mencari pacar, lalu segerap kami harus menikah.

(Mikael bicara)

Justru itu, katamu? Apa maksudmu?

(Mikael bicara)

Apa? Serius?

(Mikael bicara)

Kalau sampai akhir tahun ini aku masih menjadi manusia, aku takkan pernah lagi merasakan kebahagiaan surga?

(Mikael bicara)

Dan aku akan mengalami kepahitan neraka selamanya? Karena bagi seorang malaikat, melepas sayap dan menjadi seorang manusia ternyata merupakan dosa? Tapi... tapi... bagaimana aku bisa menjadi seorang malaikat kembali ketika aku telah mencampakkan sepasang sayapku dan membakarnya?

(Mikael bicara)

Ikut pergi denganmu malam ini, tepat sekarang ini? Tapi, Mikael, masih banyak manusia yang belum mencapai kesadaran spiritualitas yang cukup sehingga mereka membutuhkan manusia jadi-jadian seperti aku sekadar untuk mengajari mereka cinta. Apakah keputusan rapat paripurna surga itu sudah final?

(Mikael bicara)

Apakah Tuhan sebegitu teganya mencampakkan manusia-manusia yang belum tercerahkan itu ke neraka? Kesadaran itu butuh proses, Mikael. Cinta itu butuh waktu.

(Mikael bicara)

Aku paham dan aku mengerti bahwa manusia itu makhluk yang bebal. Tapi aku percaya bahwa mereka bisa menghindari kesalahan yang sama. Mereka bisa melampaui keterbatasan mereka.

(Mikael bicara)

Mikael, nanti sebelum kaukembali ke surga, coba berkelilinglah sejenak di dunia. Memang kau akan mendapati banyak manusia saling angkat senjata. Kau juga akan mendapati manusia-manusia yang menderita. Tapi, mereka adalah manusia yang masih berproses untuk mencapai pada kesadaran cinta, Mikael. Di dalam perjalanan keliling duniamu itu, kau pasti akan mendapati capaian-capaian manusia yang luhur, kebudayaan-kebudayaan yang mempesona, peradaban-peradaban kasih, dan kau akan merasakan cinta memenuhi atmosfer. Pasti kaupun akan tergerak sepertiku untuk membagi atmosfer cinta itu kepada manusia-manusia yang masih di dalam proses tadi.

(Mikael bicara)

Ya... arogansimu sebagai malaikat jauh lebih kuat. Arogansimu sebagai makhluk yang begitu dekat dengan Tuhan begitu besar. Atau memang engkau adalah malaikat tulen sehingga tidak mampu merasakan hangatnya kemanusiaan beserta capaian peradabannya.

(Mikael marah, mencekik)

Bunuh... bunuhlah aku selagi aku menjadi manusia, Mikael... . Aku akan mati bahagia sebagai manusia... sedangkan kau hanya akan mendapatkan dosa.

(Mikael membanting aku. Mikael lalu berbicara.)

Aku hargai solidaritasmu kepadaku, kawan lamaku. Aku berterima kasih atas ajakan murah hatimu ini. Tapi maaf... keputusanku sudah bulat. Jikapun aku harus berakhir di dalam jurang neraka oleh karena solidaritasku terhadap manusia ini, aku rela, dan aku bahagia. Panggilan jiwaku sudah jelas, aku hendak mengajarkan kesadaran akan cinta, kemanusiaan, dan etika yang estetis. Aku di sini untuk mengantar manusia mencapai kemanusiaan yang seutuhnya. Kegelapan neraka tak menggentarkanku, Mikael, sebab aku mengikuti kata hatiku.

(Mikael bicara)

Baiklah... pulanglah... silakan.

(Membukakan pintu bagi Mikael)

Mikael, tunggu... maafkan kata-kata kasarku... (berpelukan) Teman, kuminta jika memang aku harus menghuni kegelapan jurang neraka karena ngotot menjadi manusia, kelak aku bisa merasa terhormat mati di tanganmu. (melepaskan pelukan) Mari, aku antar sampai ke pagar depan.

-End-

Sarang Kalong, 26 November 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Tuesday, November 6, 2012

Sastra dan Pemuda

Sastra dan Pemuda

Sayang sekali saya tidak dapat menghadiri Malam Ngopi Nyastro XVI ini. Akan tetapi, sebagai wakil dari kehadiran saya, saya titipkan tulisan singkat mengenai pemuda dan sastra ini. Sebelumnya, salam saya kepada Bung Rabu Pagi, Bung Matahun Wirabhumi, Bung Langgeng sugiARTo, dan Bung Stevano Yusuf, serta kepada segenap penyair yang hadir ngopi di kafe Bjong ini.
Dahulu sekali Rendra pernah menggugat pemerintah, “Bagaimana mungkin kebudayaan dapat dibangun di atas revolusi?” Dulu sekali ketika saya masih ingusan dan masih menjadi fans berat marxisme, saya menentang pendapat ini. Akan tetapi, seiring dengan tumbuh dewasanya pemikiran dan pemahaman ini, saya akhirnya sependapat dengan Rendra. Pada abad X kebudayaan kita telah maju. Nenek moyang kita telah mampu membangun monumen-monumen yang agung, menulis kitab-kitab yang masyur, dan membangun peradaban yang dahsyat. Bahkan, nenek moyang kita mampu membangun kapal yang tak mampu ditembus meriam Portugis pada era penjelajahan samudera. Namun, sejak abad XV tanah ini tidak pernah berhenti dari gejolak dan perebutan kekuasaan. Darah senantiasa membasahi tanah subur ini. Selama 500 tahun itu ada berapa dinasti yang silih berganti? Majapahit pindah ke Demak, Demak ke Pajang, Pajang ke Mataram Baru, Mataram memindahkan kekuasaan ke Kartasura, Mataram Kartasura mendapat perlawanan dari Sunan Kuning, akhirnya Mataram Kartasura memindahkan kekuasaan ke Surakarta, Mataram akhirnya pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, Surakarta dan Yogyakarta mendapat perlawanan Sang Sambernyawa, Surakarta akhirnya pecah menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran, sedangkan Yogyakarta pecah menjadi Kasultanan dan Pakualaman. Itu belum disebutkan intervensi Portugis, Spanyol, VOC, Inggris, Belanda, dan Jepang. Juga belum disebutkan peristiwa 17 Agustus 1945 dan peristiwa kudeta Soeharto.
Akan tetapi, bangsa ini mampu bertahan. Bangsa ini bertahan karena masih menyisakan ruang bagi sastra. Walaupun banyak dokumen, kakawin, dan lontar yang diboyong ke Eropa dan kini mustahil kita miliki kembali, bangsa ini masih bersastra walau hanya lewat lisan. Sastra senantiasa mengawal perjalanan bangsa ini. Mulai dari yang mainstream hingga yang kiri seperti Darmogandhul dan Gatholoco. Kadipaten Mangkunegara yang masyur dengan tradisi angkatan bersenjatanya yang dahsyat itu pun turut bersastra. Chairil Anwar mengiringi perjuangan kemerdekaan juga dengan sastra. Bayangkan, Chairil Anwar sempat membaca Nietzsche di tengah-tengah pergolakan bangsa!!! Rendra pun turut mengiringi perjuangan para mahasiswa dengan puisi-puisi pamfletnya. Sastra menjadi penyelamat kebudayaan di tengah-tengah pergolakan. Kalau ingin menghancurkan sebuah bangsa, laranglah pemuda-pemudanya untuk membaca dan bersastra.
Tanah ini masih belum berhenti dari pergolakan panjang 500 tahun itu. Akan tetapi, kebudayaan bangsa ini harus tetap dilestarikan. Sastrawan-sastrawan tua akan cukup usia dan mati. Maka, kita para pemuda inilah yang harus meneruskan menyelamatkan kebudayaan bangsa ini melalui sastra. Pakem dan aturan-aturan, biarlah itu semua menjadi kekayaan sastra klasik. Kita, para pemuda ini, hendaknya mentransvalusai (menilai kembali) sastra dan mengaktualkan di sini dan kini.
Angkat tangan kirimu tinggi-tinggi ke atas dan mari bersajak malam ini di sini.

Surakarta, 31 Oktober 2012
Padmo Adi

BUKAN AGAMA


BUKAN AGAMA

Bumi ini berputar oleh karena gaya gravitasi, bukan agama
Dunia ini berubah menjadi lebih baik oleh karena cinta, bukan agama
Manusia berevolusi menjadi sempurna oleh karena kesadaran, bukan agama

untuk apa agama
jika tanpa kebijaksanaan
jika tanpa cinta dan kasih sayang
jika tanpa penghargaan kepada kemanusiaan
?

Tuhan,
aku mencintaimu
bukan karena takut neraka
bukan karena menginginkan surga
bukan pula karena perintah ajaran agama
tapi karena aku hidup
mencintai kebijaksanaan
dan menghargai kemanusiaan
serta ingin merayakan kehidupan

Amin!!!

tepi Jakal, 06 November 2012
Padmo Adi

AKU MENCINTAIMU... DENGAN...

AKU MENCINTAIMU... DENGAN...

Aku mencintaimu dengan segenap Adaku
Aku mencintaimu dengan segenap diriku
Aku mencintaimu dengan segenap hidupku
Aku mencintaimu dengan segenap kemanusiaanku
Aku mencintaimu dengan segenap kesadaranku
Aku mencintaimu dengan segenap kehadiranku
Aku mencintaimu dengan segenap perasaanku
Aku mencintaimu dengan segenap pemikiranku
Aku mencintaimu dengan segenap ideku
Aku mencintaimu dengan segenap harapanku
Aku mencintaimu dengan segenap imanku
Aku mencintaimu dengan segenap cintaku
Aku mencintaimu dengan segenap kasihku
Aku mencintaimu dengan segenap sayangku
Aku mencintaimu dengan segenap rinduku
Aku mencintaimu dengan segenap karyaku
Aku mencintaimu dengan segenap jantungku
Aku mencintaimu dengan segenap darahku
Aku mencintaimu dengan segenap kelelakianku
Aku mencintaimu dengan segenap nafsuku
Aku mencintaimu dengan segenap spermaku
Aku mencintaimu dengan segenap pesonaku
Aku mencintaimu dengan segenap kromosomku
Aku mencintaimu dengan segenap waktuku
Aku mencintaimu dengan segenap perhatianku
Aku mencintaimu dengan segenap kreativitasku
Aku mencintaimu dengan segenap duniaku
Aku mencintaimu dengan segenap doaku
Aku mencintaimu dengan segenap aku

tepi Jakal, 06 November 2012
Padmo Adi

AKU MENCINTAIMU... TAPI...

AKU MENCINTAIMU... TAPI...

Aku mencintaimu... tapi karena kamu hanya naik pit kebo...
Aku mencintaimu... tapi karena kamu hanya lulusan kelas bahasa, bukan IPA...
Aku mencintaimu... tapi karena kamu menyembah Seorang Gondrong Brewokan...
Aku mencintaimu... tapi karena kamu sendiri juga gondrong...
Aku mencintaimu... tapi karena kamu hanya seorang penyair...
Aku mencintaimu... tapi karena kamu sipit dan kulitmu putih sekali...

Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu naik Marcedes
Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu kuliah di kedokteran, bukan di sastra
Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu berhenti menyembah Si Gondrong Brewokan
Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu potong rambut seperti boy band Korea
Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu mengurungkan cita-citamu itu
Aku mencintaimu... tapi aku mau kamu meninggalkan keluargamu dan margamu

kata seorang gadis kepada seorang lelaki
karena si gadis sungguh mencintai si lelaki

Sarang Kalong, 01 November 2012
Padmo Adi

AKU MENCINTAIMU

AKU MENCINTAIMU

Aku mencintaimu
Aku mencintai kamu
Aku mencintai dirimu
Aku mencintai namamu
Aku mencintai masa lalumu
Aku mencintai masa kinimu
Aku mencintai masa depanmu
Aku mencintai wajahmu
Aku mencintai senyummu
Aku mencintai bibirmu
Aku mencintai suaramu
Aku mencintai pendapatmu
Aku mencintai matamu
Aku mencintai sudut pandangmu
Aku mencintai telingamu
Aku mencintai gerai rambutmu
Aku mencintai otakmu
Aku mencintai pemikiran-pemikiranmu
Aku mencintai cita-citamu
Aku mencintai harapan-harapanmu
Aku mencintai kegelisahanmu
Aku mencintai kecemasanmu
Aku mencintai ketakutanmu
Aku mencintai leher jenjangmu
Aku mencintai payudaramu
Aku mencintai puting susumu
Aku mencintai air susumu
Aku mencintai ketiakmu
Aku mencintai bulu di ketiakmu
Aku mencintai bau badanmu
Aku mencintai lenganmu
Aku mencintai jemarimu
Aku mencintai pekerjaanmu
Aku mencintai hobimu
Aku mencintai kegemaranmu
Aku mencintai perutmu
Aku mencintai kulitmu
Aku mencintai luka-lukamu
Aku mencintai jantungmu
Aku mencintai darahmu
Aku mencintai penyakitmu
Aku mencintai kecenderunganmu
Aku mencintai hatimu
Aku mencintai kepercayaanmu
Aku mencintai perasaanmu
Aku mencintai kegundahanmu
Aku mencintai kebahagiaanmu
Aku mencintai dukamu
Aku mencintai indung telurmu
Aku mencintai sel-sel telurmu
Aku mencintai tuba falopimu
Aku mencintai rahimmu
Aku mencintai vaginamu
Aku mencintai jembutmu
Aku mencintai keperempuananmu
Aku mencintai pahamu
Aku mencintai telapak kakimu
Aku mencintai jejak langkahmu
Aku mencintai perjalananmu
Aku mencintai pergulatanmu
Aku mencintai dirimu
Aku mencintai kamu
Aku mencintaimu

Sarang Kalong, 01 November 2012
Padmo Adi

Monday, November 5, 2012

An Autumn Friday

An Autumn Friday
(special for my Beloved Sweety Tweety)

When the crescent smiles
and the autumn wind blows
you will see me flying
to your arms like arrows

An autumn Friday
is a free-day
to fly away
on the free-way

The curtain of the night
is nothing but alright
for I dread not
Seeing you is my plot

An autumn Friday
is a free-day
to fly away
on the free-way

Miles away we’re apart
Thousand steps I belong to
Yet you’re here in my heart
Burning a single step to do

An autumn Friday
is a free-day
to fly away
on the free-way

Seeing you is a revolution
but it is not a rebellion
and it needs an evolution
that gently we’re in union

bank of Jakal, September 1st, 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi