SATU OKTOBER

  SATU OKTOBER   40 HARI | 135 KORBAN JIWA | 6 TERSANGKA Dua ratus sembilan belas atau seratus dua lima Yang jelas, kami bukan cuma angka! Kami adalah para pecinta Datang ke Kanjuruhan bawa harapan Bersama keluarga, anak-anak, dan sahabat Mendukung para pahlawan kami yang hebat   Gas air mata yang polisi tembakkan di Kanjuruhan Membuat air mata ibu kami berguguran Mayat-mayat kami adalah korban keserakahan Bagi cukong-cukong yang otaknya cuma cuan, Kami hanya dipandang satu tiket satu goban Bukan nama yang punya cerita dan masa depan   Usut! Usutlah! #USUTTUNTAS! Kalian harus jaga solidaritas! Kita ini pecinta, bukan komoditas! Cinta hal yang sama: sepak bola demi peradaban Satu Oktober punya makna beda tahun depan Itu hari akan jadi hari damai dan persaudaraan!   Kini, doakanlah kami... Selalu kenangkanlah kami... Kanjuruhan satu Oktober Adalah #KanjuruhanDisaster Jangan lagi terulang... Kami telah pulang.   Malang, 03 Oktobe

Kisah Si Momo

Kisah Si Momo
 
Ilustrasi oleh Louis Edo Kris Kelana

Sewaktu kecil Momo ingin jadi sastrawan
Teman-temannya sudah jadi cerpenis dan penyair
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh yang mulai mencair

Beranjak remaja, Momo ingin jadi aktor
Teman-temannya sudah nongol di layar lebar
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh dan merasa segar

Lulus SMA, Momo ingin jadi pastor
Teman-temannya sudah memimpin ekaristi
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia mulai mengunyah mendoan dan nasi

Sewaktu kuliah Momo ingin jadi dosen
Teman-temannya sudah mengajar di kampus
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Kali ini dia mengunyah nasi dan tempe gembus

Teman-teman Momo sudah jadi sastrawan
Teman-teman Momo sudah jadi aktor
Teman-teman Momo sudah jadi pastor
Teman-teman Momo sudah jadi dosen

Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Uangnya tinggal dua puluh ribu saja
Kemarin dia melamar kerja
Ternyata ditipu, hilang delapan juta

Momo melahap mendoan, gembus, dan nasi
Lalu dengan segelas es teh dia menutup hari

Surakarta, 15 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments