SEMAKIN MALAM

  SEMAKIN MALAM *untuk Arjun   Semakin malam... Mari hadapi hidup, walau pahit. Tidak lagi lari atau cari-cari alasan. Ya, atau tidak sama sekali... selain daripada dua itu, bukan jalan Tuhan. Kalau lelah, berhenti, satu suapan dulu, satu tegukan dulu, dan satu ududan dulu. Lalu lanjut. Sampai jumpa.   06 Januari 2021 Padmo Adi Mampir makan, istirahat. Dokumen pribadi.

Paradoks Eksistensialisme

Paradoks Eksistensialisme

Ketika manusia terbatas, ia justru bebas. Inilah paradoks eksistensialisme. Di dalam keterbatasannya manusia bebas. Ketika Indonesia dijajah Belanda, Indonesia bebas untuk menjadi anjing Belanda atau justru memperjuangkan kemerdekaan. Ketika aku terbatas di Jakarta yang bebas ini, aku bebas. Aku bebas untuk tiduran saja tanpa melakukan apa-apa. Aku bebas membaca. Aku bebas menulis. Aku bebas bercinta. Aku bebas pergi ke Pondok Gede. Atau, aku bebas pulang ke Solo. Jakarta, kota yang bebas ini justru membatasi. Namun, dalam keterbatasan ini aku bebas. Suatu penjara raksasa. Keterbatasan manusia dalam hal ruang, waktu, dan kematian pun sangat memberikannya kebebasan.

Jakarta, 29 Juli 2011
Padmo Adi

Comments