DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Paradoks Eksistensialisme

Paradoks Eksistensialisme

Ketika manusia terbatas, ia justru bebas. Inilah paradoks eksistensialisme. Di dalam keterbatasannya manusia bebas. Ketika Indonesia dijajah Belanda, Indonesia bebas untuk menjadi anjing Belanda atau justru memperjuangkan kemerdekaan. Ketika aku terbatas di Jakarta yang bebas ini, aku bebas. Aku bebas untuk tiduran saja tanpa melakukan apa-apa. Aku bebas membaca. Aku bebas menulis. Aku bebas bercinta. Aku bebas pergi ke Pondok Gede. Atau, aku bebas pulang ke Solo. Jakarta, kota yang bebas ini justru membatasi. Namun, dalam keterbatasan ini aku bebas. Suatu penjara raksasa. Keterbatasan manusia dalam hal ruang, waktu, dan kematian pun sangat memberikannya kebebasan.

Jakarta, 29 Juli 2011
Padmo Adi

Comments