MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG

  MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com Aku melihat binatang buas besar dari timur berenang perlahan namun pasti dari kedalaman samudera bergerak hingga ke kepulauan kita yang dijamahnya bakal celaka   Aku melihat matanya merah menyala kepalanya seperti kepala singa aumannya menjelma kegelisahan lidahnya lidah-lidah api napasnya membakar segala   Aku melihat tubuhnya keras laksana kuda nil berwarna jingga terang seperti bara kaki-kakinya seperti kaki mastodon sementara ekornya mirip ekor buaya menyeret maut ke segala penjuru   Aku melihat duburnya menyembur metana Awan basah disapunya lenyap tak tersisa Sumber-sumber mata air jadi kering Sumur-sumur kerontang tak bisa diminum Panenan gagal, paceklik pun mencekik   Wahai ... wahai ... wahai ... bangsa yang dipimpin raja tua dementia yang emasnya tak lebih berharga daripada tembaga yang lumbungnya mlompong dikuras cukong...

Segelas Cokelat Panas

Segelas Cokelat Panas

Segelas cokelat panas kunikmati
Tanpamu

Cokelat panas ini adalah sakramen
Yang menghadirkan kembali hangat senyum terkulum milikmu
Juga anamnese, kenangan akan kelincahanmu serta kegemaranmu pada cokelat

Masihkah kauingat delapan tahun yang lalu?
Aku melirikmu dengan malu-malu...

Izinkanlah aku membawamu pergi
Lalu kita membangun tenda
Di Sekipan
Tempat kita pertama kali bertemu

Lalu, kita bikin dua gelas cokelat panas...

Suatu hari nanti di depan altar itu,
Aku akan berbisik di telingamu
Mengulang kata-kata kramat Anak Domba
"Inilah tubuhku yang kuserahkan bagimu
Inilah darahku yang kutumpahkan bagimu"

20 Agustus 2014
Padmo Adi

Comments