DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

NAH...

NAH...

Jaka Kelana:
O… Larasati
akankah aku bertemu denganmu?

Aku sibak kau dalam riang
tapi hingar-bingar membawamu pergi
sebelum kucium punggung tanganmu
sebelum kupuji parasmu

Larasati
di manakah gerangan kau?

Kucari dalam malam
di antara gemerlap jahanam
di antara selangkang
di antara rambut kepang
tapi tiada kau, Larasati

Ke mana lagi harus kucari?
segera dan aku tidak muda lagi

Tiada hati rela
jika senja menyapa
kita belum bersua

Haruskah kuhabisi
sisa nafasku tanpamu,
Larasati?

Atau, benarkah kau hanya ada
bersama Pemuda Gondrong
yang mati di Kalvari?

Dalam hening
kudengar kau bernyanyi
Larasati… .


Larasati:
Diamlah sejenak, Kasihku
mari kita menyelam dalam malam
coba dengar
malam sedang melantunkan sebuah nyanyian

Malam tidaklah selalu sekelam yang kaupikirkan
Ketika malam semakin malam
tidaklah semua kehidupan terpejam
Coba dengar
masih ada anak-anak alam
bermain-main bersama malam
dan malam sedang melantunkan nyanyian
untuk mereka dan kita

Di sanalah bagian yang hilang
Kita terperangkap dalam diri kita sendiri, Kasihku
Waktu yang terus berlari
membuat kita tak sadarkan diri
dan lupa akan apa yang kita cari
Tubuh ini malah menjadi penjara sanubari
dan jiwa yang belum terselami

Lupakanlah sejenak segala gundah risaumu, Kasihku
Mari ikutlah aku berjalan mengarungi malam
Mari kita nikmati dan buat waktu berhenti
Selama purnama masih menyinari
dan bintang-bintang menari
Kita cari kerinduan hati
sesuatu yang hilang, tapi tak kita sadari



*Perkawinan puisi “Larasati” dan “Datanglah Padaku, Kasihku”
untuk TSD dan LC
tanpa babibu
dan sensor sana-sini
Tepi Jakal, 14 Oktober 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments