SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

PADMOSOEDARJO, Sang Pejuang dan Pecinta

PADMOSOEDARJO

Sang Pejuang dan Pecinta

 

Padmosoedarjo muda. Foto koleksi pribadi.


Padmosoedarjo, atau yang kupanggil Eyang Daryo, adalah Veteran Perang Kemerdekaan Indonesia. Eyang Daryo berjuang di bawah Ignatius Slamet Rijadi, khususnya pada peristiwa Serangan Umum Surakarta.

Anak-anak Lurah Atmowirogo. Padmosoedarjo muda adalah dua dari kiri. Foto dokumen pribadi.


Dari kiri ke kanan: Siti Nonijah, Hadrianus Denda Surono, Maria Goretti Purwini, dan Padmosoedarjo. Foto dokumen pribadi.


Padmosoedarjo adalah seorang pejuang sekaligus pecinta. Ketika Siti Nonijah, istrinya, mengajukan pilihan sulit, pilih tetap jadi tentara atau pilih dirinya, Eyang Daryo lebih memilih istrinya, kekasih hatinya. Kemudian dia menjalani hidup sederhana di Kauman, Surakarta. Di usia senjanya, dia lebih dikenal sebagai tukang pijat bayi. Antara Thanatos dan Eros, jelas dia memilih Eros.

Padmosoedarjo bersama salah seorang anak menantunya dan salah seorang cucunya, Adita Dyah Padmi Noviati. Foto koleksi pribadi.


Padmosoedarjo bersama salah seorang cucunya, Brigitta Gangga Tribuana. Terlihat pada tembok belakang dipenuhi foto, dan lukisan Siti Nonijah, istrinya. Foto dokumen pribadi.


Padmosoedarjo bersama salah seorang cucunya, Damayanti Dwi Resminingsih, dan besannya, Andreas Ngadie, berfoto di depan Toyota Corona 2000. Foto dokumen pribadi.


Ketika kekasih hatinya itu meninggal dunia, Eyang Daryo tetap mengenangnya; banyak sekali foto, lukisan, dan kolase Eyang Non dipasang memenuhi dinding tembok gandok (rumah satelit dalam rumah tradisi Jawa, tempat Eyang Daryo tidur) ndalem Kauman.

Padmosoedarjo di depan Dalem Kauman, Surakarta. Berdiri di dekatnya adalah menantunya, Rita Supiyani, menggendong Adita Dyah Padmi Noviati. Di dalam becak adalah Maria Goretti menggendong Padmo Adi, di sebelahnya adalah Siti Nonijah. Foto dokumen pribadi.


Hadrianus Denda Surono, anak kedelapan Padmosoedarjo, bersama istri dan anaknya memberikan penghormatan terakhir kepada ayahnya. Dokumen pribadi.


Kini, Eyang Daryo beristirahat abadi, disemayamkan di sebelah pusara Eyang Non, kekasihnya itu. Dan, di ujung makamnya berkibar sang Merah Putih, yang dia bela semasa muda bersama para pejuang lainnya.

Makam Padmosoedarjo (dengan bambu runcing kuning dan bendera Merah Putih) dan istrinya, Siti Nonijah. Bambu runcing dan bendera Merah Putih baru saja selesai dicat ulang oleh Bagus Herry Hardjanto, anak kesembilan Padmosoedarjo. Foto koleksi Bagus Herry Hardjanto



Wahai Padmakarna... wahai Padmasena... wahai para Padma... di dalam darahmu mengalir darah seorang pejuang... mengalir darah seorang pecinta! Tempalah dirimu, menengadahlah... jadilah pejuang... jadilah pecinta... . Perjuangkan cintamu!!!


Terima kasih, Eyang Daryo, atas teladanmu.

MERDEKA!!!

 

Singosari, 17 Agustus 2024

Padmo Adi


Comments