PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

Sisa-sisa Ampas dan Anamnese

Sisa-sisa Ampas dan Anamnese

Sewaktu balita aku difoto sedang mengelapi Yamaha “robot” bapak, motor yang dijual ketika adikku bungsu lahir. Ketika remaja, aku difoto seakan-akan memboncengkan kedua adikku naik Suzuki Bravo, yang bapakku namai “Embrio”. Bapak lalu membeli Suzuki “plethuk” milik pakdhe. Pada beberapa kesempatan aku pergi ke SMA mengendarai Suzuki “plethuk” itu, sampai pada hari kematian bapak. Setelah bapak mati, aku menunggangi Honda Win100 bapak, yang kunamai “Puma”. Saat itulah petualanganku dimulai, menjelajah Solo Raya. Lalu, aku mengasingkan diri ke Salatiga. Win100 itu dijual mama, satu-satunya hal yang aku sesali dari keputusanku ke Salatiga. Di Salatiga itu, ketika semua konfraterku harus naik Avanza, magisterku mengizinkanku menaiki GL100-nya. Aku pun kembali ke Solo. Aku meminjam Yamaha Jupiter Z mata owl adikku untuk pergi lagi ke Salatiga, mencari cinta yang tertunda. Saat itulah aku mengalami kecelakaan parah, menabrak tong separator jalan di Ngasem. Pada tahun 2012 aku lulus kuliah. Mama menghadiahiku Honda NewMegapro. Motor pemberian mama itu kuberi nama “Kelelawar Tempur”. Bersamanya aku menjelajahi Pulau Jawa, Bali utara, dan Lampung selatan. Bersama Kelelawar Tempur, motor pemberian mama, itulah aku mengalami “(w)hole-ness”, sebuah keutuhan primordial, justru setelah kematian bapak, orang yang mengajariku bagaimana menunggang roda dua. Adalah sebuah sakramen, di mana seakan-akan aku berkendara bersama para leluhur. Sebuah jouissance lacanian yang tak/belum mampu kuperikan. Raungan suara knalpot itu menentramkan hati, seperti darasan mazmur biarawati.

02 – 03 Februari 2017
Padmo Adi

Comments

  1. Lha d fb ada fotone. Lha d blog kok gk ada ki py critane yo? Berharap paham, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku memberi ruang di sudut blog-ku supaya blog-blog yang aku ikuti nongol, sehingga pembacaku bisa mampir ke blog-blog yang aku ikuti itu. Nah, blog-blog yang nongol di sudut blog-ku itu kadang ada fotonya. Mungkin sewaktu aku menge-share tulisan ini di facebook, ada blog-mu lagi nongol, Mas :D

      Delete

Post a Comment