SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING

 KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING

 


Pada suatu malam Sang Hyang bersabda,

“Pergilah ke Timur,

ke tanah yang Kujanjikan

keluarlah dari kota ayahmu

pergilah dari kota kakek moyangmu

seperti halnya Isyana boyongan

begitulah kamu akan mengenang

moyangmu yang di Medang.”

 

Aku mengiya dalam kedalaman sembah-Hyang,

sembari mengenang para leluhur, bapak dan eyang.

Leluhurku adalah Sang Tiyang Mardika

yang dengan kebebasannya menganggit sastra Jawa.

Sementara eyang adalah pasukan Slamet Riyadi,

ibunya Tumenggung, ayahnya Lurah!

Bapak sendiri adalah pegawai negeri,

guru sekolah menengah di utara Jawa Tengah.

 

Di sinilah aku sekarang, di tanah Wangsa Rajasa

Tidak pernah aku sangka, tidak pernah aku minta

Apa yang Kaumaui, Dhuh Gusti Pangeran mami?!

Apa yang Kaukehendaki kulakukan di tanah ini?

 

Belum genap semua terjawab,

empat kali bumi kelilingi matahari!

Pun baru purna enam purnama,

saat aku tetirah di timur Singhasari,

oh, aku harus beranjak lagi...

mengangsu lagi, menimba lagi!

Namun, ini waktu

aku tak boleh balik ke sumur Ayodya

yang airnya bagai susu payudara Ibu!

Mataram hijau... Mataram biru... .

 

Dhuh, Sang Akarya Jagad,

                ke mana Kaukehendaki aku pergi?

Haruskah aku berlari ke Barat

berdiri di Piazza San Pietro

lalu berbisik...

“Nelle tue mani

rimetto lo spirito mio”?!

Sementara ragaku telah dimiliki negeri ini.

 

Singosari, 10 Oktober 2023

Padmo Adi

Foto Piazza San Pietro, oleh-oleh dari Tengsoe Tjahjono


Comments