GATOTKOCO

 GATOTKOCO * *Dimuat dalam buku kumpulan Puisi Menolak Korupsi #10 MBGendam Aku melihat seorang aki-aki menari dia tergila-gila ingin tinggal di istana Dijanjikannya makan pesta tiap hari semua turut menari dan bergembira Dikabulkanlah renjana yang sudah menahun Dia kelilingi dirinya dengan para pria rupawan Dibelinya segala mainan perang-perangan Dia kira dia macan yang bikin orang tertegun Oh... lihat! Lihatlah! Aki-aki itu bicara besar diselingi nyinyir bibir nyenyenye lalu berteriak, "Hidup Pria Solo!" kemudian meradang, "Hai, (p)antek-(p)antek asing!" Aih... lihat! Lihatlah! Ribuan anak muntah habis makan nasi jatah Serambi Mekah masih diselimuti lumpur basah Sembilan belas juta tak jua terbuka Tujuh belas trilyun demi gabung Bangsa Wahyu 2:9 Ribuan orang dibatalkan giliran cuci darah Dan... uh... lihat! Lihatlah! Ada bocah akhiri diri tak punya ceban untuk buku Hongib tega lindas mati pemuda pekerja berjaket hijau Ndhas Kothak dapat jatah jaga proyek bangun k...

Kau dan Pelacur Tua

Kau dan Pelacur Tua

Mentari belum juga terbangun
‘kau sudah berhenti terlelap
Bahkan lupa apa mimpi semalam
Ataukah mimpi indah bertemu gadis tetangga
atau mimpi buruk kehilangan pekerjaan

Tidak ada sepuluh menit
‘kau sudah selesai mandi
Lima menit berikutnya
‘kau telah siap kerja

Melompat dari angkot satu ke angkot lain
Berlari mengejar bus kota bersama ratusan lainnya
dan melanjutkan tidur sembari saling himpit di dalam bus
yang menggelinding laju menuju Jakarta

Tak pernahkah kaunikmati indahnya mentari pagi,
kicau burung yang bersahut merdu menggoda hati,
atau tangis bayi tetangga yang merengek minta susu lagi?

Di depan sana Jakarta siap menyambutmu
Gerbang tol menjadi gapura selamat datang
Namun, ‘kau harus antri
Busmu yang tadi laju kini merangkak

Di tengah bising klakson dan kepulan asap knalpot
busmu terus merangkak
berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lain
Semua menuju Jakarta
yang mengangkang selangkang dengan genitnya

Jakarta,
pelacur tua itu masih menawarkan impian
harapan untuk hidup kaya berlimpah harta
menggenggam puncak dunia dan mandi uang berjuta

Takkan habis uang kaukejar
Hanya menghasilkan pilu dan sendu
Dan, tiba-tiba saja ‘kau kehilangan waktumu
menjadi tua dan renta
tanpa pernah semenitpun menikmati hidup
tanpa pernah sedetikpun merasakan cinta
Karena, untuk dapat menyusu dari payudara Jakarta,
‘kau harus terus mengantri sampai mati
dan terkubur tanpa nisan di antara gedung-gedung tinggi

Warung Susu Kayen, 06 Juli 2012

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments