SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Jawa Krama

Jawa Krama

Sudah banyak yang menduga
bahwa struktur Bahasa Jawa
di mana ada Ngoko dan Krama
bukanlah merupakan warisan Jawa Lama.

Akan tetapi, pandangan yang sebaliknya
justru begitu kuat mengakar di Solo-Jogja
bahwa menjadi manusia adalah menjadi “Jawa”
dan, menjadi “Jawa” adalah wajib berbahasa Krama.

Kita bisa mendiskusikan persoalan bahasa ini melalui filologi.
Tetapi, karena bahasa tidak pernah bebas nilai,
kita bisa melihat fenomena ini sebagai suatu hegemoni
agar pandangan dan kuasa Mataram masih mendominasi.

Ke Timur kini aku pergi
tentu dengan membawa kebanggaan seorang Surakarta
juga dengan segala asumsi
bahwa orang-orang Bang Wetan itu tak bisa Bahasa Krama.

Maka, berbicaralah aku dengan Bahasa Ngoko.
Kuharap dengan itu aku bisa menghormati orang Bang Wetan,
sebab berbahasa Krama mungkin adalah sebuah penyiksaan.
Namun, apa yang kudapat?
Dengan Bahasa Krama mereka menjawab!
Juga orang-orang Tengger itu...
walau tentu dengan logat khas setempat.

Apa yang terjadi?
Aku tak mampu memeri.
Jelasnya aku kecut hati
Sebab keliru itu segala asumsi

Malang, 30 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments