SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

Jawa Krama

Jawa Krama

Sudah banyak yang menduga
bahwa struktur Bahasa Jawa
di mana ada Ngoko dan Krama
bukanlah merupakan warisan Jawa Lama.

Akan tetapi, pandangan yang sebaliknya
justru begitu kuat mengakar di Solo-Jogja
bahwa menjadi manusia adalah menjadi “Jawa”
dan, menjadi “Jawa” adalah wajib berbahasa Krama.

Kita bisa mendiskusikan persoalan bahasa ini melalui filologi.
Tetapi, karena bahasa tidak pernah bebas nilai,
kita bisa melihat fenomena ini sebagai suatu hegemoni
agar pandangan dan kuasa Mataram masih mendominasi.

Ke Timur kini aku pergi
tentu dengan membawa kebanggaan seorang Surakarta
juga dengan segala asumsi
bahwa orang-orang Bang Wetan itu tak bisa Bahasa Krama.

Maka, berbicaralah aku dengan Bahasa Ngoko.
Kuharap dengan itu aku bisa menghormati orang Bang Wetan,
sebab berbahasa Krama mungkin adalah sebuah penyiksaan.
Namun, apa yang kudapat?
Dengan Bahasa Krama mereka menjawab!
Juga orang-orang Tengger itu...
walau tentu dengan logat khas setempat.

Apa yang terjadi?
Aku tak mampu memeri.
Jelasnya aku kecut hati
Sebab keliru itu segala asumsi

Malang, 30 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments