Friday, December 20, 2019

Menanti Hujan Reda


Menanti Hujan Reda

Malam Bulan Desember di Surakarta, hujan dan becek. Sebuah keluarga berkumpul di rumah. Ibu duduk cemas. Seorang perempuan, anak dari ibu itu, berdiri, bersandar pada dinding. Dia terus saja menatap pintu kamar orang tuanya yang tertutup. Di balik pintu itu terbaring bapaknya, yang kini tengah berada di dalam sana berdua dengan seorang pastor muda. Hujan di luar telah jadi gerimis, tapi terus saja menangis. Sudah beberapa saat pastor muda itu menemani bapak, lelaki berusia 64 tahun, yang kini hanya bisa berbaring lemah menanti ajal, setelah sekian lama menderita kanker. Pastor muda itu hadir untuk menolong si lelaki secara rohani. Dia memberikan sakramen minyak suci kepada lelaki itu. Keluarga si lelakilah yang memohonkan sakramen pengurapan orang sakit itu, supaya jiwanya dikuatkan. Walau terbaring lemah menanti ajal, si lelaki masih bisa berkomunikasi. Setelah diurapi, dia berkata kepada pastor muda itu,
“Saya boleh mengaku dosa?”
“Iya, Pak. Boleh. Silakan.”

Ini adalah awal-awal bulan Desember. Hujan memang sudah mulai turun sejak November yang lalu, tetapi di Surakarta baru awal-awal Desember inilah hujan turun lebih sering, hampir setiap hari. Hujan, malam, dan Bulan Desember adalah metafora bagi sebuah masa penantian; penantian akan libur panjang, penantian akan Hari Raya Natal, penantian akan malam pergantian tahun, penantian akan Tahun Baru, penantian akan suatu harapan baru, dan adalah sebuah penantian akan momentum kumpul keluarga. Namun, lebih dari pada itu, bagi lelaki tua yang terbaring sakit itu, malam hujan bulan Desember itu adalah metafora penantiannya akan ajal. Hanya saja, dia belum bisa mati, dia belum mau mati, sebelum dia mengaku dosa dan menebus sesuatu hal yang dia rasa adalah kesalahan terbesarnya. Dia merasa tidak akan bisa beristirahat dalam damai jika dia belum mendapatkan ampunan.
Si pastor muda akhirnya keluar dari kamar itu. Si perempuan yang sedari tadi berdiri bersandar pada dinding mendekatinya. Ibu pun berdiri, melihat pastor itu, kembali cemas, lalu duduk lagi.
“Bagaimana, Rom, sudah?” tanya si perempuan basa-basi.
“Sudah. Bahkan bapakmu sempat mengaku dosa juga. Lalu kami berdoa. Namun, ada satu hal yang jadi keinginan bapakmu, dan dia berharap hal itu dapat dikabulkan, sebelum dia tak kuasa lagi menahan deritanya.”
“Apa itu, Rom?”

***

Leonardus Bayu Seta baru saja menyelesaikan suapan terakhir makan siangnya. Sementara itu di sisinya, Ni Luh Anjani Devi masih menikmati segelas es kopi susu. Bayu dan Devi memang janjian untuk makan siang bersama di kantin kampus setelah lama tidak berjumpa meski satu kota. Mereka berdua adalah mahasiswa semester akhir sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Mereka harus segera menyelesaikan skripsi masing-masing, lalu segera lulus, dan beranjak dari kampus mereka itu. Penundaan satu atau dua semester lagi bisa berakibat DO. Status mapala, mahasiswa paling lama, itu sebenarnya hal yang lumrah saja bagi para mahasiswa cum aktivis. Bayu adalah aktivis UKM pecinta alam dengan semboyannya yang gagah per naturam dei amamus, sementara Devi adalah aktivis teater dengan semboyannya yang berani “Jangan sampai kuliah mengganggu teater!” Hanya saja, waktu selalu menepati janji. Mereka tidak bisa jadi mahasiswa abadi. Mereka harus lulus, atau angkat kaki, dan sembilan semester mereka jadi sia-sia.
“Sudah bab berapa, Dev?”
“Tiga. Ini sedang mengumpulkan mood untuk menulis bab IV. Kamu, Bay?”
“Dua.”
“Dua?”
“Iya. Dua.”
“Udah bimbingan?”
“Aku janjian sama dosbing besok jam 11,” kata Bayu sambil menyedot es teh, “Apa aku drop saja ya?”
“Kamu nggak sayang bapak-ibumu?”
“Aku nggak punya motivasi.”
“Aku?”
“Kamu?”
“Iya. Kita.”
“Emang kita nanti bisa kawin, Dev?”
“Kenapa tidak?”
“Aku ke gereja, kamu ke pura.”
“Terus kenapa?”
“Setelah lulus, kamu akan balik ke Singaraja?”
“Untuk beberapa saat, sebelum dapat kerja.”
“Berhenti neater?”
“Bosan jadi seniman seakan-akan, tapi aku juga nggak punya nyali jadi seniman beneran. Kecuali kamu jadi juragan, terus ngawinin aku. Kamu yang nyari duit, aku nyeniman.”
“Aku ingin buka warung kopi aja, Dev, biar ada ruang bagi orang-orang kayak kamu kalau ingin membaca puisi atau performing art.”
“Di mana?”
“Jogja? Atau di Bali saja, ikut kamu? Atau di Solo? Kamu mau ikut aku tinggal di Solo nggak?”
“Ajak aku ke Lawu. Aku ingin sembahyang di Cetha.”
“Setelah kamu pendadaran saja.”
“Setelah kamu pendadaran saja,” kata Devi sembari beranjak pergi.
Bayu diam. Dia memandangi Devi menemui si penjual, membayar, lalu berlalu. Lelaki 22 tahun itu tengah berada di dalam persimpangan hidup. Dia tengah dihantui sebuah kegelisahan eksistensial. Pertanyaan filosofis tentang “siapakah aku”, “mengapa aku hidup”, “apa itu hidup”, “apa makna dari hidup, hidupku”, dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu berlalu-lalang di dalam kepala Bayu. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul pertama kali ketika dia berumur 19 tahun. Awalnya dia mengira bahwa pertanyaan itu akan berlalu begitu saja. Namun, dia salah. Kegelisahan eksistensial itu semakin menguat. Dia pergi mendaki gunung, kemping, bertualang di alam untuk lari dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Akan tetapi, semakin dia melarikan diri, semakin dia dihujani kegelisahan tersebut.
“Haruskah aku masuk seminari saja untuk menenangkan batin?” tanya Bayu kepada dirinya sendiri. “Tapi aku tak pernah ingin menjadi seorang pastor. Jangankan pastor, jadi bruder pun tak ingin. Apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku ini? Aku ingin kuliah di institut seni di Kota Solo. Namun, bapak menentang,
‘Ngapain kamu kuliah di institut seni? Mau jadi ikan?’
“Jadi ikan? Aku hanya ingin jadi seniman. Bapak begitu mendambakan aku bisa kuliah di universitas negeri, apalagi universitas negeri di Yogyakarta—bukan institut, apalagi institut seni, tapi universitas, universitas negeri—sama seperti dia dahulu kala. Untuk melegakan hati bapak, aku ikut SNMPTN dengan prioritas utama universitas negeri ternama di Yogyakarta. Syukurlah, tapi celaka di mata bapak, aku tidak pernah lolos SNMPTN! Aku menawar bapak,
‘Universitas swasta saja, Pak. Aku belajar Sastra Indonesia saja.’
‘Universitas swasta yes, tapi yang Katolik. Berapapun biayanya, Bapak sanggup. Tapi Sastra Indonesia no. Sastra Inggris saja, atau setidaknya Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas swasta di Jogja itu Bahasa Inggrisnya oke. Dosennya juga beberapa pastor Jesuit. Kamu ke sana saja. Ikut ujian, prioritas Sastra Inggris, lalu Pendidikan Bahasa Inggris.’
“Celaka bagiku, aku memang diterima di universitas swasta Katolik itu, tetapi bukan di Sastra Inggris. Aku adalah mahasiswa semester sembilan prodi Pendidikan Bahasa Inggris! Ya, pen-di-di-kan! Secara legal aku adalah seseorang dengan kompetensi guru Bahasa Inggris, calon guru Bahasa Inggris. Bapak tidak ambil pusing dengan studi yang dengan terpaksa aku ambil itu, sebab bapak berpikir bahwa lapangan pekerjaan seseorang dengan kompetensi Bahasa Inggris, entah sastra atau pendidikan, sangat terbuka luas. Bapak pikir kelak aku bisa jadi seorang editor di penerbit dan percetakan ternama di Jakarta sana, atau bekerja di perusahaan asing, atau apesnya ya jadi guru Bahasa Inggris, atau studi lagi biar bisa jadi dosen, atau paling apes ya mencoba mengikuti CPNS. Namun, itu adalah pandangan bapak, harapan bapak, bukan pandangan dan harapanku. Setelah bapak tidak merestuiku menjadi seorang seniman, aku tidak lagi mengenali diriku sendiri, aku tidak mengenali cita-citaku, aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya aku ingin lakukan dalam hidupku, aku tidak mengenali siapa aku.”

Devi akhirnya pendadaran dan lulus semester itu pada Bulan Desember menjelang Natal. Setelah yudisium pada bulan Januari di tahun berikutnya, Devi pulang ke Singaraja, Bali. Sementara, Bayu harus menambah satu semester untuk menyelesaikan skripsinya itu. Mereka menjalin hubungan jarak jauh. Hubungan jarak jauh tidak pernah mudah, apalagi mereka berbeda agama, apalagi Bayu tengah tertekan menyelesaikan skripsi, apalagi Devi mulai kehilangan raison d’etre setelah kembali ke Singaraja. Kegamangan adalah sisi gelap dari keberhasilan. Kegamangan itu bukan pada sebelum mendaki gunung, melainkan setelah sampai di puncak, dan harus menuruni gunung itu kembali, untuk kembali menjalani hari-hari. Kegamangan itu bukan pada saat menyiapkan pentas teater, atau pada malam Hari H pementasan, juga bukan pada saat di atas panggung, melainkan beberapa menit setelah pentas itu usai, lalu kita kembali ke kamar masing-masing, dan kemudian tiba-tiba hari berikutnya sudah tiba. Apa arti dari semua proses itu? Apa arti dari perjuangan mendaki gunung itu? Apa arti dari hari-hari persiapan pementasan teater yang begitu intensif itu? Apa arti dari hari-hari kuliah bersemester-semester dan usaha menulis skripsi yang berdarah-darah itu? Tiba-tiba saja semua terasa hampa.
“Untuk apa ini semua? Apa makna ini semua? Mengapa aku masih hidup? Mengapa aku sekarang kembali ke Singaraja? Mengapa aku masih mencintai Bayu dan masih menjadi kekasihnya?” kata Devi kepada dirinya sendiri.
Kegamangan itu membuat Devi tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Dia belum mampu memaknai kembali. Dia terpenjara di dalam sebuah kebebasan, pascalulus kuliah. Kebebasan adalah kutukan yang menjemukan! Namun, orang harus dibebaskan, justru supaya dia dapat menjadi dirinya sendiri, dan menemukan makna pada kekosongan hidupnya sendiri.

[Dev, masih marah?] Bayu mengirimkan pesan elektronik kepada Devi.
[Masih.]
[Udah makan?]
[Basi! L]
[Yawdah.]
[Bay, I miss you... L]
[Libur Paskah aku ke Singaraja ya, naik motor. J]
[Bab berapa sekarang?]
[Dua.]
[Kok ga da progress? Selesaikan dulu skripsimu!]
[Dev, ada lowongan guru Bahasa Inggris di Surabaya. Wanna try?]
[Kamu mau hidup sama aku di Surabaya?]

***
Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Dokumen pribadi.

Ibu Guru Ni Luh Anjani Devi, S.Pd., seorang Hindhu yang menjadi Guru Bahasa Inggris di sebuah SMA swasta Katolik di Surabaya. Ini adalah semester pertama baginya mengajar di sana. Sementara Leonardus Bayu Seta masih harus menambah satu semester lagi untuk menyelesaikan skripsinya. Dosen pembimbingnya sudah memberi kartu kuning, bahkan bapaknya sudah memaki-maki dia. Jika tidak selesai semester ini, Bayu harus membiayai sendiri kuliah dan hidupnya di Jogja semester depan. Hal itu membuat hubungan Bayu dengan bapaknya renggang, tapi Bayu tak berani membantah.
Di tengah situasi terdesak itu, kegelisahan Bayu semakin menjadi-jadi. Malam-malam dia lari ke Ganjuran. Di depan Candi Hati Kudus Yesus itu dia menangis sejadi-jadinya. Dia menggugat Tuhan,
“Apa yang Engkau kehendaki dariku?! Mengapa Engkau menciptakan aku?! Mengapa aku harus lahir dari rahim ibuku dan menjadi anak lelaki dari bapakku?! Aku hanya ingin menjadi seniman, Tuhan. Aku hanya ingin menjadi seniman. Aku hanya ingin jadi seniman.”
Tuhan diam. Tuhan hanya duduk diam di dalam candi batu hitam. Dingin. Hening. Hanya ada suara angin yang menyentuh dedaunan dan bisik rapal doa yang dipanjatkan oleh orang-orang lain. Tuhan tidak menjawab Bayu malam hari itu. Namun, hati Bayu lega. Dia telah menangis dan menggugat Tuhan. Bayu merasa ringan sekarang. Namun, dia masih belum memiliki jawaban. Bayu memutuskan untuk bermalam di sana.
Keesokan harinya pagi-pagi benar Bayu mandi membersihkan badan, lalu menuju ke Gereja Ganjuran tepat di sebelah Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran untuk mengikuti misa harian. Pada pintu masuk gereja dia mencelupkan tangannya pada wadah tempat air suci, lalu meletakkan tangan di dahi, dada, bahu kiri, dan bahu kanan. Dia duduk di sudut. Misa belum mulai. Dia lihat ada Alkitab di sana. Dia mengambil Kitab Suci itu, kemudian membukanya sembarang. Di sana dia membaca sebuah perikop di dalam Injil Matius, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.
Bayu seperti ditampar. Seakan-akan dia disadarkan akan sesuatu hal. Sepulang dari Ganjuran, Bayu menyelesaikan skripsinya, ala kadarnya. Dia hanya ingin segera lulus saja, memenuhi keinginan bapaknya, lalu pergi. Skripsinya jadi. Bayu pendadaran. Setelah merevisi di sana-sini, Bayu yudisium. Dengan enggan Bayu menuruti keinginan bapaknya untuk wisuda. Pada saat wisuda itulah untuk pertama kalinya Bayu memperkenalkan Devi kepada keluarganya, terutama bapaknya. Bapaknya nampak senang dengan gadis itu, apalagi mengetahui dia adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah SMA swasta Katolik di Surabaya. Hingga sang bapak dengan tak sabar bertanya,
Cah ayu, di Surabaya ikut di paroki apa?”
Devi terkejut dengan pertanyaan itu, tak bisa menjawab. Kedua mata cokelatnya melirik Bayu. Bayu dengan enggan menjawab,
“Devi Hindhu, Pak. Dia Orang Bali, Singaraja.”
“Oo...” sahut bapak dingin.
Raut muka bapak berubah. Senyumnya hilang, tanda tidak suka. Lalu bapak berkata,
“Kami akan segera pulang ke Solo. Kamu langsung balik ke Surabaya? Jam berapa keretamu? Nanti kami antar ke stasiun.”

***
Setelah lulus kuliah, Bayu pulang ke Solo. Namun, dia tidak tahu harus melakukan apa di kota tanah leluhurnya itu. Untuk mengisi dompetnya, bersama seorang drummer dan seorang vokalis, dia bermain gitar dari satu kafe ke kafe lain. Bapak sebal melihat Bayu menjalani hidupnya dengan cara seperti itu. Sebenarnya Bayu ingin ke Surabaya saja, mempertaruhkan hidup. Jika berhasil memenangkannya, luar biasa. Jika kalah, setidaknya dia tidak akan jauh dari kekasih hatinya itu, Devi.
Le, mbok kamu itu kerja yang benar. Sedih aku lihat anak lanang sarjana kok ngamen tiap malam.”
“Iya, Pak. Bayu mau nyoba melamar kerja di Surabaya.”
“Ngapain jauh-jauh ke Surabaya, Le? Di Jawa Tengah saja. Coba kamu melamar ke sekolah bruderan di Semarang itu, siapa tahu ditempatkan di SMA bruderan di Solo. Nanti Bapak kontak bruder kenalan Bapak di sana.”
“Biar dekat sama Devi, Pak. Bosen LDR terus.”
“Cewek Hindhu itu?
“Kenapa emangnya, Pak?”
“Dia mau dibaptis jadi Katolik?”
“Kenapa kalau dia Hindhu, Pak?”
“Bapak nggak akan merestui kalau dia nggak pindah jadi Katolik.”
“Bapak ini keterlaluan. Aku ini lho sudah menuruti semua permintaan Bapak padaku. Aku ingin jadi seniman, kuliah di institut seni, nggak boleh. Bapak mau aku kuliah di universitas negeri, ya sudah kuturuti ikut tes, walau gagal. Bapak mau aku kuliah di Bahasa Inggris universitas swasta Katolik, sudah kuturuti sampai aku punya ijazah dan gelar sarjana pendidikan. Cuma satu ini aja, Pak, mencintai Devi apa adanya. Aku tu cuma cinta sama dia, Pak!”
“Tahu apa kamu tentang cinta?”
“Apa ya harus jadi Katolik ta, Pak? Dia tetap Hindhu gitu dos pundi?”
“Sebaik-baiknya dia, secantik-cantiknya dia, kalau nggak mau ndherek Gusti Yesus, ora! Di paroki kita gadis cantik macam Devimu itu turah-turah, Le!
“Aku yang akan pindah jadi Hindhu kalau gitu, Pak!”
Cangkemmu!
“Aku serius!”
Wani kamu sama Bapakmu dhewe? Mentang-mentang sudah sarjana!”
“Lha kalau Bapak kleru, apa ya aku nggak berhak mengoreksi?”
Bocah kurang ajar!
“Semua keinginan Bapak padaku sudah kulakukan. Cuma satu ini saja, Pak, keinginanku. Satu ini saja. Aku mboten nyuwun warisan. Aku mboten nyuwun neka-neka. Aku cuma nyuwun bisa sama Devi, Pak!”
Ra kena ditata. Minggat!
“Oke!”
Minggat kana sing adoh! Sepet aku nyawang dhapuranmu!
Yoh, dakminggat! Aku ya sepet nyawang kowe, Pak! Ra kena dijak caturan.
Bocah bajingan!

Sejak saat itu, bapak tidak pernah lagi melihat Bayu. Leonardus Bayu Seta angkat kaki dari rumah itu tanpa membawa ijazahnya, tanpa membawa motor pembelian bapaknya, tanpa harta bapaknya. Hari itu adalah hari pada Bulan Desember, menjelang Natal tiba. Bayu pergi dari Surakarta diiringi hujan deras yang mendera.

***

“Hari ini aku mau ke Pura, Bay?”
“Ikut.”
“Kenapa, Bay?”
“Boleh?”
“Boleh.”
Devi dan Bayu pergi ke Pura Segara Kenjeran, Surabaya. Devi membeli bunga dan dupa untuk sembahyang. Awalnya Bayu ragu untuk memasuki bagian dalam pura, apakah seorang bukan Hindhu seperti dia boleh masuk ke dalam pura; apakah kehadiran seorang non-Hindhu seperti dia akan mengotori kesucian sebuah pura. Akan tetapi, dia ingin melihat Devi berdoa, dia ingin melihat Tuhan di sana. Apakah Tuhan di Pura Segara akan sama sehening Tuhan di Candi Ganjuran? Di dekat pintu pura, Devi mengambil air suci dari sebuah gentong dengan ambengan, lalu memercikkannya ke kepalanya tiga kali. Setelah melakukan itu, Devi memandangi Bayu. Bayu tertegun sesaat, lalu segera memahami bahwa dia diizinkan memasuki pura. Oleh karena itu, dalam diam Bayu menunduk, dan Devi memercikkan air suci itu tiga kali ke kepala Bayu.
Bayu dan Devi melepas alas kaki mereka, lalu masuk ke bagian dalam pura itu. Bayu memilih tempat yang teduh untuk bersila, sebab hari itu matahari bersinar cerah. Dari kejauhan itu dia memandangi Devi sembahyang, membakar dupa, menyajikan bunga, dan merapal mantra dari satu padmasari ke padmasari yang lain, hingga terakhir ke padmasana. Seusai melakukan ritual itu, Devi bersila di sebelah Bayu, memejamkan mata, lalu kembali merapalkan mantra. Bayu mencoba memejamkan mata pula, hening, tenang, damai. Bayu merasa tenteram di tempat itu. Tuhan di Pura Segara ternyata memang sehening Tuhan di Candi Ganjuran. Tuhan yang hening itu adalah Tuhan yang siap mendengarkan segala puja-puji, syukur, dan juga tangis lara kita. Tuhan yang hening itu sekaligus mengajak kita untuk juga menjadi hening, tenang, sampai pada titik di mana kita bisa ‘mendengar’ suara-Nya jauh di dalam sanubari. Tuhan memang hening. Mungkin oleh karena itu Tuhan membutuhkan para nabi dan resi untuk menyuarakan seruan-seruan profetis kepada manusia. Tuhan memang hening. Mungkin oleh karena itu kita, manusia, perlu untuk menjadi hening pula, supaya mampu mendengarkan bisik halus sabda-Nya. Dan, dalam keheningan Pura Segara itu, Bayu seakan mendengarkan suatu bisikan, bisikan yang membuatnya yakin untuk melakukan suatu keputusan.
Seusai sembahyang, mereka berdua makan siang di suatu sudut Kota Surabaya. Mereka masih terbawa suasana damai di dalam pura tadi, sehingga belum berbicara satu dengan yang lainnya. Namun, ada satu perihal yang sudah menggedor-gedor tenggorokan Bayu untuk diucapkan. Bayu sudah tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya.
“Dev, orang tuamu nggak punya anak lelaki, ‘kan?”
“Iya. Adik lelakiku mati dalam kandungan.”
“Aku bersedia nyentana.”
“Hush. Ngawur kamu!”
“Aku bersedia jadi Hindhu.”
“Terus orang tuamu bagaimana?”
“Aku sudah ditundhung. Mungkin sudah tidak diakui anak.”
“Kamu akan ikut keluargaku dan jadi pengurus pura keluarga di Singaraja sana kalau nyentana.”
“Iya. Aku sudah paham itu.”
“Enggak!”
“Kok?”
“Aku nggak mau kamu membuang semua yang kamu miliki.”
“Aku hanya ingin sama kamu.”
“Kamu sudah bersamaku, di sini, di Surabaya ini. Nggak cukup?”
“Aku ingin kita berdoa kepada Tuhan yang sama. Kamu nggak akan mau jadi Katolik. Maka, aku jadi Hindhu saja. Toh dulu nenek moyangku pasti juga Hindhu.”
“Yakin kamu tidak akan pernah rindu menyantap Tubuh dan meminum Darah Kristus?! Katakan padaku kamu tidak akan pernah rindu itu! Yakinkan aku!”
Devi mendesak. Bayu diam. Senyap.

“Kita kawin beda agama saja,” sahut Devi tiba-tiba.
“Mana bisa kawin model gitu di negara agamis macam negara kita ini?”
“Bisa.”
“Sok tahu!”
“Kata pastor kepala sekolah di SMA-ku bisa.”
“Bisa?”
“Kita kawin di Gereja Katolik di Singaraja sana saja. Kita minta dispensasi disparitas cultus, kita kawin beda agama. Tapi harus di gereja. Kita urus di Paroki Santo Paulus Singaraja saja. Kita pulang ke rumahku. Sebab, aku pun harus pamit kepada leluhurku untuk kawin sama kamu.”
“Kok kamu tahu hal itu, sementara aku yang Katolik ini malah nggak paham sama sekali?”
“Karena aku pun pernah terpikir untuk minta dibaptis. Namun, aku tidak bisa. Aku lahir sebagai seorang Hindhu. Ketika kecil aku diajari sembahyang, aku diajari sembahyang cara Hindhu. Seumur hidup aku sembahyang, aku sembahyang cara Hindhu. Mati pun aku akan tetap Hindhu. Tapi, di saat yang sama, aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Oleh sebab itu, aku bertanya kepada pastor kepala sekolahku itu. Dia malah melarangku menjadi seorang Katolik, ‘Jadi Katolik itu susah. Kamu harus belajar dulu lama dan ujian sebelum minta baptis. Tidak usah.’”
“Pastor macam apa itu yang melarang seseorang minta dibaptis?”
“Pastor yang paham bahwa aku tidak pernah mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pastor yang paham bahwa aku minta dibaptis bukan karena iman, tapi semata agar bisa kawin sama kamu. ‘Kalian mengurus kawin beda agama saja, disparitas cultus. Tapi harus di gereja, agar perkawinan kalian sah juga bagi Gereja Katolik, dan kekasihmu itu masih boleh menerima komuni, sementara kamu masih tetap Hindhu,’ kata pastor.”
“Oke. Kapan kita ke Singaraja?”
“Liburan semester ini. Kamu tidak menghubungi keluargamu?”
“Gampanglah itu, besok saja. Jadi, do you want to marry me?”
I do.

Leonardus Bayu Seta dan Ni Luh Anjani Devi kawin di Singaraja. Dari keluarga Bayu, hanya adik perempuan Bayu yang menghadiri peristiwa sakral itu; bapak masih murka terhadap Bayu, sementara ibu tidak berani menentang. Pastor paroki Santo Paulus Singaraja mengambil kebijakan pastoral tertentu mengenai keadaan Bayu ini. Teman-teman Bayu sewaktu kuliah di Jogja datang membantu mempersiapkan upacara pemberkatan dan menjadi saksi perkawinan. Sebelum upacara pemberkatan di gereja, Devi dan Bayu sembahyang di pura keluarga bersama segenap sanak-saudara Devi, ayah-ibunya, dan seorang pedanda. Devi harus memohon berkat restu dan pamit kepada leluhur.

Pura Segara Kenjeran. Dokumen pribadi.


***

“Halo. Wuk, kamu sudah bertemu masmu?” kata ibu dari seberang telepon.
“Sudah, Bu. Ini sudah bertemu dia di stasiun.”
“Segera diajak ke sini.”
“Iya, Bu. Sebentar. Kami sedang menanti hujan reda.”
Telepon terputus. Cuaca membuat sinyal ponsel menjadi buruk. Hujan lebat mendera Surakarta malam hari itu. Malam itu malam tanggal 23 Desember, malam sebelum Malam Natal. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali Bayu menginjakkan kaki di Surakarta. Bayu hampir tidak lagi mengenali kota tanah leluhurnya itu.
Hujan tinggal gerimis. Perempuan itu mengantarkan Bayu pulang ke rumah mereka. Ada perasaan aneh menyelimuti dada Bayu. Tak bisa dipungkiri, dia rindu kota ini. Dia rindu nasi liwet di pagi hari. Dia rindu babi kuah Kampung Sewu pada siang hari. Dia rindu susu segar di Sriwedari pada malam hari. Dia rindu hik di pinggir-pinggir jalan. Yang paling dia rindukan dari hik itu adalah teh ginastel-nya. Sudah sepuluh tahun dia tidak lagi meminum teh Solo; itu yang dia rindu. Teh Surabaya lain, rasanya lain. Bagi lidah Solonya, teh Surabaya seperti sirup saja. Bayu juga rindu skubidu goreng garing, tapi dia tidak berani mengatakannya, takut diprotes adik perempuannya itu yang pecinta asu.
“Sekarang Mas ketemu bapak dulu. Besok kuantar ngiras di manapun Mas mau. Mas Natalan di Solo, ‘kan?”
“Iya. Bapak di mana?”
“Di kamar. Langsung masuk saja.”

Bayu menuju kamar bapak. Dibukanya pintu kamar itu perlahan. Di hadapannya terbaring lelaki tua menanti maut menjemputnya. Lelaki tua itu adalah lelaki yang kehendaknya selalu dipatuhi Bayu selama dua puluh tahun pertama hidupnya. Lelaki tua itu adalah lelaki yang menghendaki Bayu kawin dengan seorang perempuan Katolik. Lelaki tua itu adalah lelaki yang mengusir minggat Bayu sepuluh tahun lalu. Lelaki tua itu adalah lelaki yang sama sekali tidak sudi menghadiri upacara perkawinan Bayu dengan Devi. Lelaki tua itu adalah bapak Bayu. Kini dia hanya bisa terbaring. Kanker hampir mengalahkannya, mengonsumsi habis tubuhnya. Kematian adalah satu-satunya jalan pembebasannya dari penderitaan itu. Namun, lelaki itu menanti kematian dengan enggan, sebab ada satu hal yang ingin lelaki itu lakukan sebelum Tuhan benar-benar memanggilnya. Lelaki itu menanti. Dia menantikan sebuah kedatangan. Dia menantikan kedatangan anak lanang-nya yang telah dia usir sepuluh tahun lalu. Dia menanti saat-saat itu. Dia ingin bertemu kembali dengan anak lanang-nya itu, memeluknya, dan meminta maaf kepadanya.
Apurana Bapakmu iki ya, Ngger... .
Kula sudah lama memaafkan Bapak.”
Kowe mrene karo sapa, Ngger?”
Bojo kula di luar, Pak. Dia bersama anak kami.”
“Anak?”
“Cucu Bapak.”
Putuku? Timbalana mrene, Ngger.”
Bayu memanggil anaknya masuk ke kamar itu. Bocah tujuh tahun itu kebingungan. Dia tidak mengenali lelaki tua yang terbaring sakit itu.
“Siapa namanu, Cah Bagus?
“Sanjaya”
“Sanjaya?”
“Iya.”
“Sanjaya, aku kakekmu.”
“Kakek?”
“Iya, aku kakekmu, eyang kakungmu.”
“Iya, Kakek.”
“Kelas berapa, Ngger?”
“Dua.”
“Kamu senang ketemu Kakek, Sanjaya?”
Sanjaya diam. Sebenarnya bocah itu ketakutan. Orang dewasa saja pasti miris melihat kondisi bapak. Sanjaya menatap ayahnya, Bayu membalas tatapan anaknya itu lalu tersenyum, memberikan keberanian.
“Sanjaya senang, Kek.”
“Bayu,” kata lelaki tua itu kepada anak lelakinya.
Nggih, Pak?”
“Sanjaya sudah kamu baptis?”
Dereng.”
“Belum?”
“Biar dia menentukan sendiri kelak ketika dia sudah dewasa. Oleh sebab itulah dia kula beri nama ‘Sanjaya’. Jika kelak dia memilih agama ibunya, nama ‘Sanjaya’ akan terdengar cukup Hindhu di telinga orang-orang. Namun, jika kelak dia meminta dibaptis, dia bisa memakai nama itu sebagai nama baptis.”
“Nama baptis Sanjaya?”
“Seorang beato, martir dari Muntilan.”
“Oh. Romo Sanjoyo.”
Inggih.”

Pada malam hari itu, suatu malam pada Bulan Desember, tiga lelaki dari tiga generasi berbeda bertemu untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya. Beberapa menit kemudian Bayu menggendong Sanjaya berjalan keluar kamar. Bayu menangis, Sanjaya kebingungan. Melihat itu, ibu memeluk adik perempuan Bayu; mereka pun menangis. Devi jadi haru. Hujan telah reda. Malam jadi damai. Tapi tidak ada bintang-bintang gemerlap, sebab mendung masih menggantung. Hujan yang reda digantikan isak tangis yang pecah mendera. Besok malam adalah Malam Natal. Namun, malam ini sebuah kedatangan yang dinantikan bapak telah tiba. Bapak pergi selamanya, setelah berdamai dengan anak lanang-nya. Malam ini malam damai, tapi tiada bintang-bintang gemerlap. Hujan air mata mengantar kepergian bapak menghadap Tuhan yang tetap hening melihat peristiwa itu.

Malang, masa adven, 20 Desember 2019
Padmo Adi

2 comments:

  1. Kang, ijin adaptasi nggo pentas entuk ra??


    Ino

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entuk banget, No. Silakan. Dengan senang hati.

      N.B.: Yen kowe butuh ngobrol-ngobrol luwih adoh, japrinan wae.

      Delete