ANGIN SELATAN BULAN JULI

 ANGIN SELATAN BULAN JULI terima kasih atas cinta kita Angin selatan bulan Juli bawa hawa dingin nyayat-nyayat kulit nusuk-nusuk belulang Angin selatan bulan Juli ngingatkanku padamu yang njelma dermaga labuhanku tiap senja Angin selatan bulan Juli bekukan embun pagi erat kau aku peluk hangatmu nunda waktu Angin selatan bulan Juli membawa kenangan Salatiga aku mengungkapkan cinta kau pun tersipu mengiya Malang, 28 Juli 2026 Padmo Adi

ELI... ELI... LAMA SABAKHTANI?!

 ELI... ELI... LAMA SABAKHTANI?!

 


“Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkanku?!” Di tengah situasi semacam ini, teriakan tersebut merupakan suatu teriakan yang sangat manusiawi... sangat manusiawi. Wabah, gunung meletus, gempa bumi, banjir, kecelakaan pesawat, krisis ekonomi... kematian! Seakan-akan kita dikepung oleh kematian. Mau sembunyi di mana? Ditalenana, dikuncenana, nek wis wayahe, ameh ngapa? Di saat kematian terjadi di mana-mana, di hadapan mata, merenggut nyawa orang-orang terdekat kita, sungguh sangat manusiawi ketika kita berteriak, “Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkanku?!”

 

Segala kata-kata filosofis, kata-kata penyemangat, kata-kata puk-puk, rasionalisasi, bahkan ayat-ayat suci penenang hati yang tergesa-gesa dan terlampau dini itu... segalanya itu hanyalah pelarian! Kita melarikan diri kepada kata-kata indah itu, yang sebenarnya cuma mengalihkan kita dari realita yang ada. Kita menipu diri, bahwa kita masih kuat. Kita mendustai diri, bahwa kita tidak ambyar. Kita memalingkan muka dari jurang dalam yang hitam, tetapi dengan demikian, bukan berarti bahwa jurang dalam yang hitam itu lenyap begitu saja.

 

Menangislah jika memang harus menangis. Merataplah jika memang harus meratap. Menggugatlah jika memang harus menggugat. Nggresula’a nek pancen kudu nggresula. Nek perlu, misuh! Itu semua akan membuatmu lebih berani menatap jurang dalam yang hitam itu. Jika sudah merasa cukup menangis, jika sudah merasa cukup meratap, jika sudah merasa cukup menggugat, nek wis rumangsa cukup anggonmu nggresula lan misuh-misuh, jika kamu sudah merasa cukup membahasakan penderitaan itu... tataplah jurang dalam yang hitam itu tajam... setelah itu katakanlah ‘ya’ pada penderitaan itu.

 

Orang yang terlalu mudah melarikan diri pada kata-kata filosofis atau ayat-ayat suci terlalu dini takkan punya kekuatan untuk mengatakan ‘ya’ pada kepahitan semacam itu. Justru orang yang bisa membahasakan ketakutannya adalah orang yang punya cukup keberanian untuk mengatakan ‘ya’ pada derita. Orang yang punya keberanian untuk mengatakan ‘ya’ pada kehidupan komplit dengan segala manis-pahitnya adalah orang yang punya harapan... dan iman. Orang tersebut sungguh sangat manusiawi (sekaligus ilahi) ... sama seperti pemuda 30-an tahun gondrong brewokan yang berseru “Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkan Aku?!” pada tiang salib 2.000 tahun yang lalu. Di balik gugatan dan seruan itu terdapat harapan dan iman pada Allah-Nya. Dia tidak melarikan diri terlalu dini, melainkan menenggak cawan pahit itu hingga tetes terakhir... menghadapi kepahitan itu... hingga paripurna.

 

“Ke dalam tangan-Mu... kuserahkan diriku... ya Tuhan penyelamatku.”

 

Sukoharjo, 17 Januari 2021

@KalongGedhe

Comments