KATA-KATA KOTA

  KATA-KATA KOTA   Seorang penyair duduk di bangku taman. Puisi dia tak pernah berhasil jadi nasi. Akan tetapi, dia senantiasa mendengarkan kata-kata kota, yang dia suling jadi aforisma. Ah, sedih sekali jadi warga negeri ini. Namun... ya, hidup harus terus diselesaikan.   Singosari, 30 Desember 2025 Padmo Adi

KUMPULAN PUISI PADMO ADI 2007-2024

 KUMPULAN PUISI PADMO ADI 2007-2024



KISAH SI MOMO
kumpulan puisi Padmo Adi

Penulis
Padmo Adi

Gambar Cover
Louis Edo Kris Kelana

2024

kepada
KARTIKA, SANJAYA, dan NAYAKA

PUISIKU IBARAT CIU BEKONANG YANG DIOPLOS JUS JERUK DAN DIGOYANG DENGAN DAUN MINT DALAM GALON AIR MINERAL 

Ketika saya mengumpulkan dan menyusun kembali puisi-puisi saya untuk saya terbitkan ke dalam sebuah buku antologi puisi, saya mengenang lagi awal-awal saya menulis puisi. Semua berawal tatkala sewaktu remaja dulu saya jatuh cinta pada seorang gadis. Tentu saja cinta itu kandas. Namun, cinta yang kandas itu saya syukuri, sebab saya jadi doyan menulis dan membaca puisi. Pada waktu itu saya mengirimkan karya-karya infantil saya itu ke media-media masa, hingga beberapa kali puisi saya diterbitkan di Harian Solopos, bahkan pernah juga diterbitkan di Majalah Horison—Kaki Lagit. Selain puisi, saya juga menulis cerpen; dimuat juga di Majalah Hidup. Sebuah kegembiraan bagi penulis remaja dapat kiriman wesel hasil menulis karya sastra di media masa.

Namun, seiring berjalannya waktu, ideologi sastra saya bergeser. Pada dekade 2000-an mulai berkembang Sastra Siber. Orang-orang mulai mencari media alternatif untuk mempublikasikan karya sastranya. Saya jadi ingat, waktu SMA saya pernah bertanya pada Guru Sastra Indonesia, “Bu, apa batasan puisi saya itu adalah karya sastra dan bukan? Kalau saya menulis puisi lalu saya simpan di laci, apakah itu karya sastra?” Guru Sastra saya itu menjawab, “Kalau karya itu sudah dipublikasikan di media masa dan dibaca khalayak, itu adalah karya sastra. Jika masih di simpan di laci, belum; masih calon.” Nah, pada dekade 2000-an itulah mulai muncul warnet, laman forum, milis, blog, dan media sosial. Orang-orang mulai mempublikasikan karyanya melalui media-media internet sebagai alternatif dari media cetak. Apalagi, saat itu ada gerakan resistensi terhadap hegemoni sastra Majalah Horison.

Selain itu, pada awal dekade 2010-an mulai berkembang komunitas-komunitas penyair kafe. Dengan semangat melawan hegemoni panggung pertunjukan, anak-anak muda ini memanfaatkan ruang-ruang publik sebagai mimbar sastra alternatif. Mereka menggunakan kafe dan warkop sebagai locus bersastra: berdiskusi, membedah karya, membaca cerpen/puisi, bahkan performance art. Ada gerakan desentralisasi sastra! Di Yogyakarta ada Malam Ngopinyastro. Di Surakarta ada MaSastrO (Malam Sastra Solo). Saya tergabung di keduanya. Kepenyairan saya menjadi matang bersama Ngopinyastro dan MaSastrO, membaca dan mendengarkan puisi dari satu kafe ke kafe yang lain, dari satu warkop ke warkop yang lain. Puisi-puisi saya kebanyakan lahir dari ekosistem semacam itu. Tentu saja akhirnya kami mengumpulkan karya-karya kami, mengkurasinya, lalu menerbitkannya secara keroyokan dalam beberapa antologi puisi, baik dalam buku ber-ISBN maupun dalam buku jilidan fotokopian. Kami adalah para penyair yang merdeka! Apalagi di Sanata Dharma saya berjumpa dengan Saut Situmorang dan Katrin Bandel.

Hingga beberapa bulan yang lalu, saya masih berpendapat bahwa orang harus bisa membaca puisi-puisi saya secara gratis. Kebanyakan puisi-puisi yang ada di buku ini ada pada www.sarang-kalong.com, sebuah website yang saya sewa dan kelola untuk memuat seluruh karya-karya saya, baik karya sastra maupun karya akademis.

 

Apakah saya perlu menerbitkan buku puisi saya sendiri, ketika orang bisa dengan gratis membaca karya-karya saya pada website itu? Penyair macam apa saya ini yang tidak memiliki buku antologi puisinya sendiri?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya. Saya pun berdiskusi dengan I Kadek Yudi Astawan, seorang pelukis dan akademisi seni rupa dari Universitas Brawijaya. Pak Kadek, begitu saya memanggil beliau, saya minta membaca dua buah puisi saya pada suatu siang tatkala kami istirahat makan siang bersama di Warung Bali, daerah Wilis, Malang.

 

Ini harus diterbitkan, Pak, supaya lebih banyak orang yang bisa membaca.

 

Saya juga berdiskusi dengan Kartika Prativi, kekasih saya, yang juga adalah seorang editor dan penerjemah buku cerita anak.

 

Ya orang-orang memang tetap bisa mengakses puisimu dengan gratis melalui website-mu; seperti idealismemu. Tapi, buku puisi itu untuk orang-orang yang memang benar-benar ingin mengapresiasi puisimu. Mereka akan membeli, untuk ganti biaya ongkos cetak dan kirim.

 

Saya renung-renungkan pendapat mereka. Saya bertanya juga pada diri saya sendiri. Ada dorongan untuk itu pula rupanya. Selain itu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, tempat saya berkarya mendampingi para pemuda calon-calon Sarjana Sastra juga memberi kesempatan. Baiklah, saya mengiya. Saya kumpulkan puisi-puisi saya!

Memang pada awalnya saya berpuisi untuk mengabadikan perasaan cinta infantil kala remaja. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya berpuisi justru untuk berfilsafat. Pemikiran-pemikiran eksistensialisme Søren Kierkegaard, Jean-Paul Sartre, dan Gabriel Marcel, pemikiran nihilisme dan Übermensch Friedrich Nietzsche, serta psikoanalisa Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hampir selalu menjadi paradigma di dalam puisi-puisi saya. Ketika berpuisi, saya percaya pada kekuatan kata. Kata bukan hanya penanda dan petanda, melainkan suasana dan perasaan. Itulah mengapa saya tidak segan memakai kata lugas. Saya tidak ingin nggombal dengan diksi yang mendayu-dayu. Seni bukan melulu tentang yang indah. Seni juga tentang yang tremendum et fascinosum, tentang hal yang menggentarkan tapi sekaligus mengagumkan!

Saya buka lagi harddisk eksternal, saya buka pula drive D laptop, saya akses lagi arsip www.sarang-kalong.com. Saya kumpulkan puisi-puisi saya, saya swakurasi. Puisi-puisi dari 2004 hingga 2006 saya eliminasi. Itu adalah puisi-puisi yang saya buat ketika masih remaja, kala masih belajar menulis puisi, masih bau-bau Sutardji-wanna-be. Dari proses eliminasi itu, terkumpullah puisi-puisi dari tahun 2007, yang saya tulis di Salatiga, hingga dari tahun 2024, yang saya tulis di Singosari. Ada tema yang tidak berubah selama 17 tahun menulis puisi: eksistensialisme, manusia, hidup, cinta, dan Tuhan. Meskipun demikian, ada hal yang berubah: style menulis puisi. Jujur, penyair-penyair Indonesia yang memengaruhi saya adalah Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, dan tentu saja W.S. Rendra. Secara ideologis tentu saja saya condong ke ideologi sastra Saut Situmorang. Saya tidak pernah nyaman dengan puisi-puisi Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan juga Joko Pinurbo. Namun, jika saya boleh jauh lebih jujur, sebenarnya yang paling besar memengaruhi gaya puisi saya adalah lirik-lirik lagu Metal, aforisme-aforisme Nietzsche, serta justru Kitab Mazmur, Kitab Wahyu, dan Kitab Kidung Agung (terjemahan LAI-LBI). Puisi-puisi dari 2007 hingga 2024 yang ada pada buku ini tidak saya susun secara kronologis. Saya berusaha menyusunnya secara tematis. Dari proses itu, terbit kesadaran dalam diri saya, ternyata yang saya omongin selama belasan tahun itu ya cuma itu-itu saja! Kini, puisi yang cuma itu-itu saja itu saya serahkan kepada para pembaca. Kiranya pembaca dapat berdialektika.

Selamat membaca... .

Padmo Adi


Comments