PUISIKU IBARAT
CIU BEKONANG YANG DIOPLOS
JUS JERUK DAN DIGOYANG DENGAN DAUN MINT DALAM GALON
AIR MINERAL
Ketika saya mengumpulkan dan menyusun kembali puisi-puisi
saya untuk saya terbitkan ke dalam sebuah buku antologi puisi, saya mengenang
lagi awal-awal saya menulis puisi. Semua berawal tatkala sewaktu remaja dulu
saya jatuh cinta pada seorang gadis. Tentu saja cinta itu kandas. Namun, cinta
yang kandas itu saya syukuri, sebab saya jadi doyan menulis dan membaca puisi.
Pada waktu itu saya mengirimkan karya-karya infantil saya itu ke media-media
masa, hingga beberapa kali puisi saya diterbitkan di Harian Solopos, bahkan
pernah juga diterbitkan di Majalah Horison—Kaki Lagit. Selain puisi, saya juga
menulis cerpen; dimuat juga di Majalah Hidup. Sebuah kegembiraan bagi penulis
remaja dapat kiriman wesel hasil menulis karya sastra di media masa.
Namun, seiring berjalannya waktu, ideologi sastra saya
bergeser. Pada dekade 2000-an mulai berkembang Sastra Siber. Orang-orang mulai
mencari media alternatif untuk mempublikasikan karya sastranya. Saya jadi
ingat, waktu SMA saya pernah bertanya pada Guru Sastra Indonesia, “Bu, apa
batasan puisi saya itu adalah karya sastra dan bukan? Kalau saya menulis puisi
lalu saya simpan di laci, apakah itu karya sastra?” Guru Sastra saya itu
menjawab, “Kalau karya itu sudah dipublikasikan di media masa dan dibaca
khalayak, itu adalah karya sastra. Jika masih di simpan di laci, belum; masih
calon.” Nah, pada dekade 2000-an itulah mulai muncul warnet, laman forum,
milis, blog, dan media sosial. Orang-orang mulai mempublikasikan karyanya
melalui media-media internet sebagai alternatif dari media cetak. Apalagi, saat
itu ada gerakan resistensi terhadap hegemoni sastra Majalah Horison.
Selain itu, pada awal dekade 2010-an mulai berkembang
komunitas-komunitas penyair kafe. Dengan semangat melawan hegemoni panggung
pertunjukan, anak-anak muda ini memanfaatkan ruang-ruang publik sebagai mimbar
sastra alternatif. Mereka menggunakan kafe dan warkop sebagai locus bersastra: berdiskusi, membedah
karya, membaca cerpen/puisi, bahkan performance
art. Ada gerakan desentralisasi sastra! Di Yogyakarta ada Malam
Ngopinyastro. Di Surakarta ada MaSastrO (Malam Sastra Solo). Saya tergabung di
keduanya. Kepenyairan saya menjadi matang bersama Ngopinyastro dan MaSastrO,
membaca dan mendengarkan puisi dari satu kafe ke kafe yang lain, dari satu
warkop ke warkop yang lain. Puisi-puisi saya kebanyakan lahir dari ekosistem
semacam itu. Tentu saja akhirnya kami mengumpulkan karya-karya kami,
mengkurasinya, lalu menerbitkannya secara keroyokan dalam beberapa antologi
puisi, baik dalam buku ber-ISBN maupun dalam buku jilidan fotokopian. Kami
adalah para penyair yang merdeka! Apalagi di Sanata Dharma saya berjumpa dengan
Saut Situmorang dan Katrin Bandel.
Hingga beberapa bulan yang lalu, saya masih berpendapat
bahwa orang harus bisa membaca puisi-puisi saya secara gratis. Kebanyakan
puisi-puisi yang ada di buku ini ada pada www.sarang-kalong.com, sebuah website yang saya sewa
dan kelola untuk memuat seluruh karya-karya saya, baik karya sastra maupun karya
akademis.
“Apakah saya perlu menerbitkan buku puisi saya sendiri,
ketika orang bisa dengan gratis membaca karya-karya saya pada website itu?
Penyair macam apa saya ini yang tidak memiliki buku antologi puisinya sendiri?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya. Saya pun
berdiskusi dengan I Kadek Yudi Astawan, seorang pelukis dan akademisi seni rupa
dari Universitas Brawijaya. Pak Kadek, begitu saya memanggil beliau, saya minta
membaca dua buah puisi saya pada suatu siang tatkala kami istirahat makan siang
bersama di Warung Bali, daerah Wilis, Malang.
“Ini harus diterbitkan, Pak, supaya lebih banyak orang
yang bisa membaca.”
Saya juga berdiskusi dengan Kartika Prativi, kekasih
saya, yang juga adalah seorang editor dan penerjemah buku cerita anak.
“Ya orang-orang memang tetap bisa mengakses puisimu
dengan gratis melalui website-mu;
seperti idealismemu. Tapi, buku puisi itu untuk orang-orang yang memang benar-benar
ingin mengapresiasi puisimu. Mereka akan membeli, untuk ganti biaya ongkos
cetak dan kirim.”
Saya renung-renungkan pendapat mereka. Saya bertanya juga
pada diri saya sendiri. Ada dorongan untuk itu pula rupanya. Selain itu,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, tempat saya berkarya mendampingi
para pemuda calon-calon Sarjana Sastra juga memberi kesempatan. Baiklah, saya
mengiya. Saya kumpulkan puisi-puisi saya!
Memang pada awalnya saya berpuisi untuk mengabadikan
perasaan cinta infantil kala remaja. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu,
saya berpuisi justru untuk berfilsafat. Pemikiran-pemikiran eksistensialisme
Søren Kierkegaard, Jean-Paul Sartre, dan Gabriel Marcel, pemikiran nihilisme
dan Übermensch Friedrich Nietzsche,
serta psikoanalisa Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hampir selalu menjadi
paradigma di dalam puisi-puisi saya. Ketika berpuisi, saya percaya pada
kekuatan kata. Kata bukan hanya penanda dan petanda, melainkan suasana dan
perasaan. Itulah mengapa saya tidak segan memakai kata lugas. Saya tidak ingin nggombal dengan diksi yang mendayu-dayu.
Seni bukan melulu tentang yang indah. Seni juga tentang yang tremendum et fascinosum, tentang hal
yang menggentarkan tapi sekaligus mengagumkan!
Saya buka lagi harddisk
eksternal, saya buka pula drive D
laptop, saya akses lagi arsip www.sarang-kalong.com. Saya kumpulkan
puisi-puisi saya, saya swakurasi. Puisi-puisi dari 2004 hingga 2006 saya
eliminasi. Itu adalah puisi-puisi yang saya buat ketika masih remaja, kala
masih belajar menulis puisi, masih bau-bau Sutardji-wanna-be. Dari proses eliminasi itu, terkumpullah puisi-puisi dari
tahun 2007, yang saya tulis di Salatiga, hingga dari tahun 2024, yang saya
tulis di Singosari. Ada tema yang tidak berubah selama 17 tahun menulis puisi:
eksistensialisme, manusia, hidup, cinta, dan Tuhan. Meskipun demikian, ada hal
yang berubah: style menulis puisi.
Jujur, penyair-penyair Indonesia yang memengaruhi saya adalah Chairil Anwar,
Sutardji Calzoum Bachri, dan tentu saja W.S. Rendra. Secara ideologis tentu
saja saya condong ke ideologi sastra Saut Situmorang. Saya tidak pernah nyaman
dengan puisi-puisi Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan juga Joko Pinurbo.
Namun, jika saya boleh jauh lebih jujur, sebenarnya yang paling besar
memengaruhi gaya puisi saya adalah lirik-lirik lagu Metal, aforisme-aforisme
Nietzsche, serta justru Kitab Mazmur, Kitab Wahyu, dan Kitab Kidung Agung
(terjemahan LAI-LBI). Puisi-puisi dari 2007 hingga 2024 yang ada pada buku ini
tidak saya susun secara kronologis. Saya berusaha menyusunnya secara tematis.
Dari proses itu, terbit kesadaran dalam diri saya, ternyata yang saya omongin selama belasan tahun itu ya cuma
itu-itu saja! Kini, puisi yang cuma itu-itu saja itu saya serahkan kepada para
pembaca. Kiranya pembaca dapat berdialektika.
Selamat membaca... .
Padmo Adi
Comments
Post a Comment