DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SEKUNTUM DOA UNTUK TUHAN DI SURGA

Tuhan kami yang ada di surga
apakah Kaupernah memandang kami di dunia?

Dimuliakanlah Nama-Mu
dengan keadilan dan emansipasi sosial manusia

Datanglah Kerajaan-Mu pada hari ini
sehingga orang miskin dapat sekolah, berobat, dan makan
atau, haruskah kami datangkan sendiri Kerajaan Surga itu
dengan memaksa-Mu hadir di tengah-tengah kami?!

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
namun kami yakin ketimpangan sosial ini bukan salah satunya
dan kami yakin surga tidak sekacau-balau ini

Berilah kami rezeki pada hari ini
atau setidaknya berilah kami jalan untuk mendapatkan sesuap nasi
sebab kami tak butuh makanan melimpah
hanya nasi untuk anak kami yang kelaparan

Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami
karena kami terpaksa memberontak
dan membunuh mereka yang senantiasa menekan dan menindas kami
bukan karena kami benci atau ingin membalas
semata hanya ingin membela diri
setelah sekian tahun tak mendapat keadilan
tapi jika memang salah, kami siap menanggung dengan adil
seperti yang bersalah kepada kami menanggung kesalahannya dengan adil
tidak bersilat lidah dan mengambinghitamkan yang tak bersalah
atau membayar makelar kasus
atau mendapat perlakuan VIP di hotel prodeo
sebab sudah cukup satu Tibo dan sudah cukup tragedi ’65 yang tak selesai
atau penggelapan-penggelapan harta rakyat

Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
sebab kami, manusia, memiliki batas kesabaran
atau haruskah kami membunuh-Mu pula
sehingga dapat memperjuangkan keadilan ini sendiri?
janganlah kami mengulang seruan “Eli, lama sabakhtani?!”

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
sebab manusia sekarang lebih iblis dari pada setan
dan lebih predator dari pada karnivora
atau berilah kami kekuatan untuk melawan mereka yang jahat
atau, akankah Kauberi kami Mesias yang baru?
atau, setidaknya datanglah!
datanglah!
kami merindukan-Mu
dengarkanlah seruan kami
sebagaimana Kaudengarkan seruan Israel saat diperbudak Mesir
datanglah dan bebaskan kami dengan lengan yang teracung...

Izinkan kami mencintai-Mu, Tuhan
dan menghadirkan Kerajaan-Mu di dunia
sebab kami percaya, Kerajaan Surga telah hadir
sejak Pemuda Gondrong itu mati di Kalvari
bahkan sejak lahir di gua yang hina
dan saat hidup di tengah-tengah kami

Kami menanti kepenuhan itu.
Namun, bagaimana kami beriman dan berdoa padamu
serta memuji kebaikan serta keadilan-Mu
di saat hati kami ngilu anak kami hilang diperdagangkan?
di saat anak kami sekarat kelaparan dan menahan pedih sakit?
di saat kami tak bisa menyekolahkan anak kami?
di saat tak sesuap pun nasi dapat mengenyangkan perut anak kami?
sementara tikus-tikus menari dan lepas bebas dengan uang kami?!

Jangan biarkan doa-doa kami hanya menjadi candu yang meninabobokan
dan membuat kami enggan lagi berjuang menghadapi kenyataan

(sela)

Sungguh
kadang aku berharap tak pernah mengenal-Mu
Dengan tak mengenal-Mu bukan berarti aku pasti hidup tak bermoral, bukan?
Aku muak ditanyai tentang misteri Ada-Mu
Mengapa mereka senantiasa menanyakan itu?
Mengapa mereka selalu mempermasalahkan itu?
Kuharap aku tak pernah menyelami misteri-Mu sehingga sama sekali tak tahu jawab

Mengapa mereka tidak bertanya
bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini sedemikian rusak moralnya
compang-camping masyarakatnya
dan menyedihkan kemanusiaannya?!

Sebab aku percaya
verus philosophus amator Dei
amator Dei amator homini
quia homo imago Dei est
et
Gloria Dei vivens homo!!!



Ah, aku hanya pemuda berdosa yang berdoa.

Amin.

Sarang Kalong, 28 Januari 2010
Kalong Gedhe

Comments