DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Putra-putra Garuda

Putra-putra Garuda

Hai putra-putra Garuda,
ingatlah tentang sebuah kisah pemerdekaan
yang dilakukan Garuda terhadap ibunya
yang diperbudak oleh para Ular-Naga

Dengan perkasa Garuda melawan mereka
dikocar-kacirkan seratus hulu bisa itu
demi kemerdekaan dan pembebasan
serta kehendak menegakkan keadilan

Dan, sekarang Bunda Pratiwi kita tercinta
hendak diperbudak kembali dan diperkosa
disungsangkan keberadaannya
dan dikoyak keindahannya
oleh Bangsa adharma
yang lupa akan sejarah

Bangkitlah, hai Putra-putra Garuda,
percayalah kepada bentangan sayapmu
yang mampu menyaput Sang Surya,
percayalah kepada kekuatan cakarmu
yang mampu mengoyak bumi dan samudera
Berteriaklah membelah angkasa!!!

Bersama Sang Fajar kita berderap
Dari balik cakrawala kita berteriak lantang
membentangkan sayap, menghunuskan cakar
Mempertahankan kehormatan Bunda Pratiwi
layaknya yang pernah dilakukan Garuda
beribu-ribu tahun yang lalu

Bhumi Mataram, 18 September 2012
Padmo Adi

Comments